<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524</id><updated>2011-11-05T08:00:00.429-07:00</updated><title type='text'>Obor Pendidikan</title><subtitle type='html'>Pendidikan manusia seutuhnya memungkinkan terciptanya manusia-manusia berimbang. Obor pendidikan berusaha menjembatani dan memberikan penerangan dan penghangatan dunia pendidikan</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>120</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-1048503394227795032</id><published>2011-08-31T10:54:00.000-07:00</published><updated>2011-10-07T04:59:51.498-07:00</updated><title type='text'>Personal Branding Guru</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-vvOxEn8GE18/To7ppQG4nKI/AAAAAAAAAKQ/1Q8Pw1WAHsU/s1600/buku4.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 142px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-vvOxEn8GE18/To7ppQG4nKI/AAAAAAAAAKQ/1Q8Pw1WAHsU/s200/buku4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5660718676559043746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Personal Branding Guru, Meningkatkan Kualitas dan Profesionalitas Guru adalah buku karyaku yang ke empat terbit.&lt;br /&gt;buku ini membahas mengenai guru dan pendidikan profesi untuk peningkatan kualitas dan profesionalitas guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan profesi merupakan salah satu langkah konkret untuk meningkatkan kualitas guru. Dengan pendidikan profesi, guru dituntut untuk mengembnagkan dan meningkatkan kemampuannya dalam bidang kerjanya.Pengembangan dan peningkatan kemampuan guru tersebut merupakan satu bentuk kesadaran guru ats profesinya. Pendidikan profesi memang merupakan langkah yang harus ditempuh oleh guru agar profesinya menjadi semakin mantap dan benar-benar profesional.&lt;br /&gt;Pendidikan profesi atau peningkatan kualitas kemampuan profesi guru tersebut menjadi prasyarat agar penyelenggaraan kegatan profesi dapat dilaksanakan secara maksimal. hanya dengan melakukan pendidikan profesi, guru dapat meningkatkan kemampuannya dna layak menyelenggarakan proses pendidikan yang berkualitas. Buku ini hadir untuk menjawab semua pertanyaan ihwal pendidikan guru beserta berbagai upaya pengembangan dna peningkatan kualitas guru.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-1048503394227795032?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/1048503394227795032/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=1048503394227795032' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/1048503394227795032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/1048503394227795032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2011/08/personal-branding-guru.html' title='Personal Branding Guru'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-vvOxEn8GE18/To7ppQG4nKI/AAAAAAAAAKQ/1Q8Pw1WAHsU/s72-c/buku4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-185166620611339584</id><published>2011-02-14T22:15:00.000-08:00</published><updated>2011-02-14T23:04:22.710-08:00</updated><title type='text'>Pentingnya Pendidikan Gender</title><content type='html'>Masalah Gender seringkali menjadi hambatan pada saat melakukan kegiatan, termasuk dalam proses pendidikan dan pembelajaran. Tentunya hal ini sangat berpengaruh pada proses komunikasi dalam interaksi edukasi. Dalam hal ini, kita harus menyadari bahwa proses pendidikan dan pembelajaran hanya dapat dilakukan secara maksimal jika komunikasi terjadi secara bagus dalam interaksi personal maupun kelompok belajar.&lt;br /&gt;Tetapi, dalam hal ini pemahaman atas pentingnya komunikasi dalam kelompok belajar sehingga untuk hal tersebut harusnya ada pemahaman atas pentingnya pendidikan gender. Bahwa dalam proses pendidikan dan pembelajaran masalah gender bukanlah hal yang begitu urgen jika harus dipermasalahkan.&lt;br /&gt;Jika dahulu ada anggapan bahwa perempuan adalah orang kedua, maka sekarang anggapan tersebut sudah tidak relevan lagi. Perempuan dan laki-laki pada jaman sekarang sudah menempati posisi yang setara. Artinya apa yang dapat dilakukan oleh kaum laki-laki, maka para perempuan juga dapat melakukannya.&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, maka pendidikan gender seharusnya diberikan kepada anak didik dalam proses pendidikan dan pembelajaran sehingga mereka menyadari peran masing masing dalam kehidupan dan selalu bekerja sama dalam melaksanakan kegiatan hidup.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-185166620611339584?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/185166620611339584/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=185166620611339584' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/185166620611339584'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/185166620611339584'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2011/02/pentingnya-pendidikan-gender.html' title='Pentingnya Pendidikan Gender'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-6507972126268442987</id><published>2011-02-14T08:03:00.000-08:00</published><updated>2011-02-14T08:24:46.388-08:00</updated><title type='text'>Pendidikan Mengembangkan Kreativitas</title><content type='html'>Pendidikan adalah proses berkesinambungan yang harus diikuti oleh setiap orang untuk meningkatkan dan mengembangkan potensi yang dimilikinya. Bahwa, sebenarnya setiap orang sudah mempunyai bekal potensi di dalam diri masing-masing. Tetapi yang sering terjadi adalah potensi tersebut tertimbun dalam diri dan tidak pernah muncul sebagai bentuk aktualisasi diri.&lt;br /&gt;Potensi yang kita miliki seringkali hanya kita jadikan kosa kata dan tidak pernah kita ubah menjadi tindakan konkrit untuk menjalani kehidupan.Ini merupakan satu kelemahan yang selama ini selalu menjadi acuan kita untuk melakukan perubahan hidup. Kita tidak ingin kelemahan tersebut terus melekat dalam diri kita, oleh karena itulah, maka setiap saat kita berusaha melakukan perbaikan dan perkembangan serta peningkatan kualitas diri.&lt;br /&gt;Sementara untuk dapat meningkatkan kualitas diri, maka proses pendidikan dan pembelajaran yang kita selenggarakan haruslah mengedepankan kreativitas dan berbasiskan pada kemampuan diri kita. Dengan pengembangan kreativitas ini, maka anak didik terbiasa mengedepankan potensi dirinya.&lt;br /&gt;Maka, selenggarakanlah proses pendidikan dengan berbasiskan pada kreativitas untuk mengembangkan potensi diri secara maksimal, maka yakinlah tujuan pendidikan dapat tercapai sesuai dengan kebutuhan hidup.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-6507972126268442987?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/6507972126268442987/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=6507972126268442987' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/6507972126268442987'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/6507972126268442987'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2011/02/pendidikan-mengembangkan-kreativitas.html' title='Pendidikan Mengembangkan Kreativitas'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-5651376763739351331</id><published>2011-02-14T07:16:00.000-08:00</published><updated>2011-02-14T07:41:06.745-08:00</updated><title type='text'>Orang Miskin Bukan Orang Bodoh</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-JJcptfVcSHw/TVlL7ifD-xI/AAAAAAAAAJ0/ehsDiCJm2bE/s1600/Scan10056.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 130px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-JJcptfVcSHw/TVlL7ifD-xI/AAAAAAAAAJ0/ehsDiCJm2bE/s200/Scan10056.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5573569500089154322" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi kita harus mengakui bahwa orang miskin bukanlah orang bodoh. Mereka adalah kelompok orang dengan realitas tinggi pada pol apemikirannya. Mereka melangkah dengan pola kesadaran hidup yang snagat tinggi dan secara intensif melakukan perombakan atas diri dan kehidupannya agar menjadi lebih baik.&lt;br /&gt;satu kunci yang snagat mereka butuhkan, berilah kesempatan yang sama dan merata. Jika mereka mempunyai kesempatan yuang sama dan merata dengan orang lain, maka yakinlah bahwa mereka dapat memposisikan diri sebagaimana yang lainnya.&lt;br /&gt;Orang Miskin Bukanlah Orang Bodoh!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-5651376763739351331?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/5651376763739351331/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=5651376763739351331' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/5651376763739351331'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/5651376763739351331'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2011/02/orang-miskin-bukan-orang-bodoh.html' title='Orang Miskin Bukan Orang Bodoh'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-JJcptfVcSHw/TVlL7ifD-xI/AAAAAAAAAJ0/ehsDiCJm2bE/s72-c/Scan10056.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-1379504212460552764</id><published>2010-12-17T17:48:00.000-08:00</published><updated>2010-12-17T17:58:16.784-08:00</updated><title type='text'>Pendidikan Harus Meringankan</title><content type='html'>Selama ini fenomena yang berkembang di masyarakat adalah semakin beratnya biaya pendidikan yang harus ditanggung orangtua. Walaupun sudah banyak program yang dicanangkan pemerintah untuk menangulangi kondisi tersebut. Program program tersebut memang diarahkan untuk memberikan kesempatan kepada semua lapisan masyarakat agar semakin ringan dalam mengikuti proses pendidikan dan pembelajaran.&lt;br /&gt;terkait dengan semua program yang sudah dicanangkan oleh pemerintah, maka setidaknya satu hal yang perlu kita garisbawahi dalam hal ini, yaitu:&lt;br /&gt;a. Pemerintah mengalokasikan dana pendidikan untuk seluruh lapisan masyarakat, terutama kelas menengah ke bawah.&lt;br /&gt;b. Pemerintah berharap semua anak usia sekolah memperoleh kesempatan mengikuti proses pendidikan dan pembelajaran sesuai dengan tingkatannya&lt;br /&gt;c. Masyarakat menyadari bahwa pendidikan itu sangat penting dan harus diikuti semua anak usia sekolah&lt;br /&gt;d. Anak didik harus menyadari bahwa mereka diberi keleluasaan dalam mengikuti proses pendidikan sehingga harus mengkondisikan dirinya agar tidak tertinggal dalam penguasaan pengetahuan maupun keterampilan aplikatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan program pendidikan dan pembelajaran yang dicanangkan pemerintah ini, maka setidaknya jelas bahwa pendidikan diharapkan dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat dengan ringan.&lt;br /&gt;Semoga kondisi ini benar-benar dapat terbukti dan peningkatan kualitas sumber daya manusia benar benar merata untuk setiap lapisan masyarakat&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-1379504212460552764?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/1379504212460552764/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=1379504212460552764' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/1379504212460552764'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/1379504212460552764'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2010/12/pendidikan-harus-meringankan.html' title='Pendidikan Harus Meringankan'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-8029208421620513222</id><published>2010-11-04T09:18:00.000-07:00</published><updated>2010-11-04T09:22:07.964-07:00</updated><title type='text'>Perjalanan Masih Panjang</title><content type='html'>Rasanya hidup ini masihlah sangat panjang. Ujung dunia masih belum terlihat puncaknya, apalagi dasarnya. Maka, teruslah belajar sebab belajar dilakukan sepanjang hayat. Jangan pernah takut dalam belajar sebab rasa takut itu adalah racun.&lt;br /&gt;Jangan pernah sertakan racun dalam proses belajar kita.&lt;br /&gt;perjalanan masih panjang&lt;br /&gt;jangan berhenti hanya karena adanya sebuah tembok&lt;br /&gt;berupayalah terus&lt;br /&gt;sebab dibalik tembok tersebut&lt;br /&gt;ada sebuah kehidupan yang nyaman untuk masa depan kita&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-8029208421620513222?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/8029208421620513222/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=8029208421620513222' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/8029208421620513222'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/8029208421620513222'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2010/11/perjalanan-masih-panjang.html' title='Perjalanan Masih Panjang'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-7011139517174633739</id><published>2010-07-15T19:29:00.001-07:00</published><updated>2010-07-15T19:32:02.909-07:00</updated><title type='text'>Persiapan Tahun Pelajaran Baru 2010 - 2011</title><content type='html'>Tahun pelajaran baru telah datang. Semua personil mulai mempersiapkan diri untuk melaksanakan tugas profesi masing-maisng. Sebagai Guru memang harus mempersiapkan segala hal terkait dengan proses pembelajaran agar berhasil dan anak anak mendapatkan jatah pelajaran yang proporsional.&lt;br /&gt;Semoga tahun pelajaran ini dapat berlangsung sebaik-baiknya dan berhaisl membawa keberhasilan bagi dunia pendidikan. Amin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-7011139517174633739?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/7011139517174633739/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=7011139517174633739' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/7011139517174633739'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/7011139517174633739'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2010/07/persiapan-tahun-pelajaran-baru-2010_15.html' title='Persiapan Tahun Pelajaran Baru 2010 - 2011'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-5385589926061133049</id><published>2010-07-12T19:44:00.000-07:00</published><updated>2010-07-12T19:52:06.381-07:00</updated><title type='text'>Persiapan Tahun Pelajaran Baru 2010 / 2011</title><content type='html'>Syukur alhamdulillah,&lt;br /&gt;Mulai minggu ini, pekerjaan sudah mulai mendatangi dan siap dilaksanakan. Semoga semua rencana dapat terlaksana sebaik-baiknya dan mendatangkan keberhasilan. Amin..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-5385589926061133049?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/5385589926061133049/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=5385589926061133049' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/5385589926061133049'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/5385589926061133049'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2010/07/persiapan-tahun-pelajaran-baru-2010.html' title='Persiapan Tahun Pelajaran Baru 2010 / 2011'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-8698452325593220569</id><published>2010-07-11T19:17:00.000-07:00</published><updated>2010-07-11T19:21:15.147-07:00</updated><title type='text'>Buku Orang Miskin Harus Sekolah</title><content type='html'>Setelah menunggu sekian waktu, kemarin penulis sempat menjenguk toko BUku Salemba di Kota Mojokerto, dan ternyata Buku Orang Miskin Harus Sekolah sudah ada di toko tersebut dan dibandrol Rp. 33.000,00. Teman-teman yang membutuhkan dapat menuju ke toko tersebut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-8698452325593220569?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/8698452325593220569/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=8698452325593220569' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/8698452325593220569'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/8698452325593220569'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2010/07/buku-orang-miskin-harus-sekolah.html' title='Buku Orang Miskin Harus Sekolah'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-4839826967502061622</id><published>2010-06-10T19:34:00.000-07:00</published><updated>2010-06-10T19:36:02.820-07:00</updated><title type='text'>Orang Miskin Harus Sekolah</title><content type='html'>adalah sebuah kenyataan bahwa semua orang berhak dan wajib mengikuti proses pendidikan dan pembelajaran di negeri ini.JIka ada salahs atu anak usia sekolah ternyata terganjal dan tidak dapat mengikuti proses pendidikan dan pembelajaran, seharusnya kita semua memberikan perhatian kepada mereka. Oleh karena itulah Buku Orang Miskin Harus Sekolah ditulis untuk mengingatkan kita....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-4839826967502061622?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/4839826967502061622/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=4839826967502061622' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/4839826967502061622'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/4839826967502061622'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2010/06/orang-miskin-harus-sekolah.html' title='Orang Miskin Harus Sekolah'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-5596251061512862767</id><published>2010-05-23T19:31:00.000-07:00</published><updated>2010-05-23T19:34:07.895-07:00</updated><title type='text'>Pendidikan adalah transformasi</title><content type='html'>Pendidikan diarahkan untuk melakukan perubahan pada peserta didik. Oleh karena itulah maka setiap yang terlibat dalam proses tersebut harus benar-benar dapat menjalankan tugasnya sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;Pendidikan itu transformatif. Jadi bersiaplah untuk mengalami perubahan jika kita mengikuti proses pendidikan. Tentunya dalam hal ini yang kita maksudkan adalah perubahan positif!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-5596251061512862767?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/5596251061512862767/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=5596251061512862767' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/5596251061512862767'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/5596251061512862767'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2010/05/pendidikan-adalah-transformasi.html' title='Pendidikan adalah transformasi'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-390484876496924387</id><published>2010-04-26T20:16:00.000-07:00</published><updated>2010-04-26T20:20:55.249-07:00</updated><title type='text'>Guru dan Sertifikasi Guru</title><content type='html'>Guru adalah sosok panutan yang dijadikan sebagai suri tauladan bagi masyarakat, khususnya anak didiknya, tentunya diharapkan mempunyai kompetensi khusus. Kompetensi khusus inilah yang menjadi bekal utama guru sebagai panutan anak didiknya. Oleh karena itulah, maka perlu adanya kesadaran semua pihak, khususnya para guru untuk memperhatikan dan meningkatkan kompetensi tersebut secara sistematis.  &lt;span class="fullpost"&gt;Peningkatan kualitas kompetensi guru diperlukan sebab di dalam proses pendidikan dan pembelajaran, guru masih memegang peranan sebagai sentral kegiatan.&lt;br /&gt;Sebagai sentral kegiatan, tentunya diperlukan kemampuan unguru harus dapat menyelenggarakan proses pendidikan dan pembelajaran yang efektif. Setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh guru harus dapat mengkontribusi kebutuhan pendidikan anak-anak. Oleh karena itulah, maka seorang guru harus mempunyai kualifikasi dan kelayakan untuk melakukan proses pendidikan dan pembelajaran. Kualifikasi dan kelayakan guru ini sangat terkait dengan kemampuannya melakukan pembimbingan dan pendampingan proses. Disamping itu, kualifikasi dan kelayakan guru dapat menunjukkan eksistensinya sebagai tenaga professional kependidikan.&lt;br /&gt;Guru harus mempunyai kemampuan menjalankan tugas dan kewajibannya secara maksimal. Pemerintah sangat menyadari tuntutan tersebut sehingga secara sistematis para guru harus mengikuti proses sertifikasi untuk mengetahui tingkat kelayakannya. Sertifikasi ini dilakukan dengan berbagai cara, yaitu portofolio dan pendidikan dan pelatihan (diklat). Dengan cara ini, maka setidaknya dapat diketahui guru-guru yang layak dan belum layak menjadi tenaga professional pendidikan. Proses sertifikasi ini dilakukan untuk seluruh guru pada setiap tingkatan satuan pendidikan.&lt;br /&gt;Sebenarnya, selain untuk meningkatkan kualitas kompetensi guru, proses sertifikasi juga diarahkan untuk meningkatkan kualitas hidup guru secara ekonomi. Hal ini karena dengan proses sertifikasi, maka guru dapat menerima kompensasi kelayakan sebesar gaji bulannya. Guru yang sudah dinyatakan lulus proses sertifikasi, mereka menerima gaji tambahan yang besarnya sangat menggiurkan. Oleh karena itulah banyak guru yang berusaha untuk dapat mengikuti proses sertifikasi. Berbagai upaya dilakukan agar proses sertifikasi yang diikutinya dapat lulus, terutama lulus secara portofolio. Portofolio artinya berkas-berkas yang disusun dan dibuat sebagai wujud kegiatan yang sudah dilakukan selama menjalan-kan tugas profesinya. Berkas ini mulai dari kelengkapan pembelajaran, berbagai sertifikat kegiatan ilmiah, berbagai karya tulis pengembangan profesi, kemampuan sosial, berbagai penghargaan yang didapat dari kegiatan ilmiah selama kurun waktu pelaksanaan kegiatan pendidikan.&lt;br /&gt;Dan, pada saat proses penyusunan portofolio inilah yang selanjutnya seringkali terjadi penyimpangan dan perbuatan-perbuatan tidak terpuji oleh oknum guru. Tentunya hal seperti ini tidak boleh terjadi sebab proses sertifikassi dilakukan untuk melakukan seleksi ketat terhadap guru-guru yang memang berkualitas. Jika ternyata guru yang dinyatakan lulus dan pada akhirnya menerima kompensasi, tunjangan ternyata telah melakukan hal tidak terpuji, tentunya tujuan sertifikasi tidak tercapai, justru hal tersebut menjadi pencorengan muka dunia pendidikan. Ketidakjujuran dalam proses penyusunan berkas portofolio mencerminkan sifat guru secara keseluruhan.&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, maka perlu kesadaran bersama, terutama pada guru yang mengikuti proses sertifikasi dan berharap lulus sehingga mendapatkan tambahan penghasilan dari dana kompensasi kelayakan profesi ini. Bahwa kompensasi yang diterima oleh guru bukanlah tujuan utama program sertifikasi, sebab tujuan utamanya adalah meningkatkan kualitas dan mengetahui kelayakan guru pada tugas profesinya. Tetapi, yang terjadi adalah pembiasan, bahkan penyimpangan tujuan yang lebih ditekankan pada upaya mendapatkan tunjangan sertifikasi, sementara kualitas diri sama sekali tidak ada peningkatan yang signifikan.&lt;br /&gt;Penyimpangan pada saat awal proses sertifikasi memang, diakui atau tidak sangat banyak terjadi di dkalangan guru. Ada banyak oknum guru yang ternyata rela melakukan berbagai hal agar berkasnya sesuai dengan kebutuhan lulus proses sertifikasi jalur portofolio. Berbagai sertifikat yang sebenarnya tidak pernah diikuti kegiatannya, dimasukkan ke dalam berkas. Beberapa karya tulis diakui sebagai karya tulisnya, walaupun jelas-jelas bukan hasil tulisnya. Dan, masih banyak lagi hal lain yang dilakukan oleh beberapa oknum guru hanya agar mereka lulus sertifikasi jalur portofolio. Dan, dengan cara-cara seperti ini, ternyata hasilnya sangat menggembirakan. Berkas portofolio sertifikasinya dinyatakan lulus dan tidak perlu mengikuti proses pendidikan dan latihan. Bagi mereka mengikuti proses pendidikan dan latihan (diklat) adalah sesuatu yang memalukan. Dan, lulus sertifikasi jalur portofolio sangatlah membanggakan, walaupun semua berkas yang disusun dalam portofolio tersebut adalah rekayasa semata.&lt;br /&gt;Apalah jadinya dunia pendidikan di negeri ini jika ternyata untuk mengikuti proses sertifikasi ternyata banyak oknum guru yang merekayasa data portofolio agar lulus penilaian portofolio? Dimanakah rasa tanggungjawab terhadap profesi guru yang terhormat? Dan, satu lagi, apa gunanya sertifikasi jika ternyata para guru yang sudah lulus selanjutnya merasa nyaman dan tidak berupaya meningkatkan kemampuan dirinya lagi. Mereka merasa nyaman sebab telah mendapatkan tunjangan sertifikasi dan mengabaikan konsekuensi logis dari tunjangan tersebut. Sangat banyak teman guru yang justru melempem setelah dinyatakan lulus sertifikasi dan menerima tunjangan yang sangat besar itu! Berarti program pemerintah sia-sia, tidak mencapai tujuan utamanya, yaitu meningkatkan kualitas pendidikan. Atau memang tujuan sertifikasi hanya untuk meningkatkan kesejahteraan guru semata. Tapi kalau seperti itu, mengapa harus repot-repot proses pemberkasan atau pendidikan dan pelatihan yang jelas-jelas membutuhkan pembiayaan yang tidak sedikit.&lt;br /&gt;Jika hal seperti ini dibiarkan terus, maka kualitas proses dan hasil pendidikan di negeri ini tidak bakalan mampu mencapai efektivitas tinggi menuju kualitas terbaik. Bahkan dunia pendidikan semakin terpuruk sebab sumber daya manusianya yang tidak jujur, melakukan kecurangan hanya untuk memenuhi hasrat diri pribadi. Sertifikasi yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas guru melalui ujia kelayakan profesi ternyata dimanipulasi dengan data yang aspal (asli tapi palsu) sehingga mereka yang lulus proses sertifikasi sebenarnya tidak mempunyai kompetensi yang layak sebagai pendidik, guru. Bagaimana layak jika ternyata beras portofolio saja harus merekayasa sekedar untuk memenuhi tuntutan nilai minimal untuk lulus.&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, kita perlu mengembalikan persepsi dan jalur pemikiran kita atas program sertifikasi yang dicanangkan oleh pemerintah. Sertifikasi bukan sekedar agar mendapatkan tunjangan profesi melainkan merupakan tambahan tanggungjawab yang harus dilakukan untuk peningkatan kualitas pendidikan di negeri ini. Dan, sebagai guru, sudah seharusnya kita mempunyai kelayakan profesi dengan menyesuaikan kualifikasi pendidikan, melakukan segala kegiatan sendiri secara sistematis dan terekam dalam berkas-berkasnya. Kejujuran adalah satu aspek penting bagi seorang guru.&lt;br /&gt;Sudah cukup banyak kecurangan yang terjadi selama proses sertifikasi dilaksanakan di negeri ini. Walau baru empat tahun, yaitu sejak 2006, proses sertifikasi dilakukan di seluruh negeri dengan alokasi peserta yang sedemikian banyak, mulai dari guru tingkatan Taman kanak kanak hingga guru sekolah lanjutan atas. Sudah sangat banyak guru yang dinyatakan lulus proses sertifikasi, penilaian kelayakan menyandang guru sebagai profesi. Mereka dinyatakan layak sebagai guru, baik yang dinyatakan lulus melalui jalur portofolio maupun dari pendidikan dan pelatihan (diklat).  Mereka mendapatkan sertifikat sebagai tenaga professional, pendidikan dengan kompensasi mendapatkan tunjangan pendapatan satu bulan gaji pokok untuk pegawai setingkat pendidikan dan masa jabatan, pengabdiannya. Dan, hal tersebut menyebabkan penghasilan guru berlipat ganda.&lt;br /&gt;Dan, selanjutnya mereka yang dinyatakan lulus proses sertifikasi dengan sangat berbunga hati, wajah sumringah menyampaikan kepada teman-temannya bahwa mereka sudah tidak perlu lagi ngoyo dalam bekerja. Mereka sudah tidak perlu bersusah payah dalam bekerja sebab gaji mereka sudah berlipat ganda karena tunjangan sertifikat professional yang mereka dapatkan. Mereka menjadi guru guru yang bersikap santai dalam melaksanakan pekerjaan. Kinerja mereka tetap sebagaimana sebelum dinyatakan lulus proses sertifikasi, bahkan tidak jarang yang justru bertambah rendah kinerjanya sebab merasa sudah mendapatkan gaji yang tinggi bagi kehidupannya.&lt;br /&gt;Cukup banyak guru yang merasa nyaman saat dinyatakan lulus proses sertifikasi dan mendapatkan tunjangan sebagai kompensasinya. Mereka merasa nyaman sebab gaji yang mereka terima setiap bulannya sudah meningkat sekian kali lipat. Mereka tidak lagi kesulitan masalah ekonomi sebab gaji yang mereka dapatkan sudah mampu memberikan kemudahan bagi mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup. Padahal, seharusnya saat seorang guru dinyatakan lulus proses sertifikasinya, maka tugas selanjutnya harus diselesaikan untuk peningkatan kualitas hasil proses pendidikan di negeri ini. Jika ternyata mereka merasa nyaman dan tidak melakukan proses peningkatan kualitas dirinya untuk mendukung proses kerjanya, maka program sertifikasi ini hanya menjadiapi bagi para laron semata.&lt;br /&gt;Selanjutnya penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyelesaian naskah buku sehingga menjadi buku yang anda baca ini. Bahwa semua yang penulis  sampaikan merupakan upaya untuk meluruskan kembali program kegiatan dunia pendidikan untuk peningkatan kualitas proses dan hasil proses. Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada penerbit yang telah memberikan kesempatan terbitnya konsep buku menjadi buku ini. Semoga semuanya bermanfaat bagi kita. Amin. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-390484876496924387?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/390484876496924387/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=390484876496924387' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/390484876496924387'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/390484876496924387'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2010/04/guru-dan-sertifikasi-guru.html' title='Guru dan Sertifikasi Guru'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-3238149854767425751</id><published>2010-03-12T17:41:00.000-08:00</published><updated>2010-03-12T17:44:26.348-08:00</updated><title type='text'>Pembelajaran Asistensi untuk Meningkatkan Kompetensi Siswa</title><content type='html'>Proses pembelajaran dilakukan untuk memberikan kesempatan perkembangan 3 (tiga) aspek dasar yang dimiliki oleh anak didik, yaitu normatif, adaptif dan produktivitas. Ketiga aspek dasar ini selanjutnya menjadi nilai diri dan merk diri (brandingself) anak didik dalam tata pergaulan di masyarakatnya. Di dalam proses pembelajaran, anak didik diarahkan agar setiap aspek dasar tersebut dapat dikuasai agar di dalam dirinya terdapat satu keatuan utuh kompetensi diri. Bahwa ketiga apek dasar tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu terhadap lainnya. Sebenarnya di dalam diri anak didik ketiga aspek tersebut sudah mempunyai dasarnya, dan proses pembelajaran adalah langkah atau kegiatan untuk mengelola dan mengembangkan yang ada sehingga menjadi lebih berdaya.&lt;br /&gt;Didalam konsep pembelajaran tradisional, anak didik menerima materi pelajaran dari guru sehingga timbul satu kesan yang sangat tidak bagus yaitu anak didik sebagai obyek pendidikan &lt;span class="fullpost"&gt; dan pembelajaran. Anak didik seakan-akan suatu obyek yang harus dikelola oleh guru, dunia pendidikan dan pembelajaran sebagai institusi formal pendidikan dan pembelajaran. Setiap hari anak didik harus mengikuti proses sejak pukul tujuh pagi hingga pukul satu siang. Duduk tertib di jajaran bangku di dalam ruangan berukuran tujuh kali sembilan meter. Anak-anak harus bersikap tenang dan mendengarkan semua penjelasan guru dan mencatat apa yang diperintahkan guru untuk mencatat. Kemudian, secara bergantian, anak didik harus menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru.&lt;br /&gt;Anak didik harus didik teratur, tenang dan penuh disiplin di bangku masing-masing sambil mendengarkan penjelasan guru yang ‘berakting’ aktif di depan kelas, duduk di kursinya, kadang berjalan berkeliling kelas. Guru begitu aktif dan menguasai kelas pembelajarannya sehingga anak didik hanya mengambil posisi sebagai penonton semua kegiatan yang dilakukan oleh sang guru. Anak didik hanya mendengarkan dan selanjutnya mencatat, seperti petugas pencatat perolehan angka di pertandingan bola volley atau bulutangkis. Mereka harus  penuh konsentrasi dan segera mencatat materi yang diberikan kepadanya.&lt;br /&gt;Tentunya kondisi ini sangat tidak sesuai dengan tujuan pendidikan dan pembelajaran yang sebenarnya. Bahwa, didalam proses pendidikan dan pembelajaran, anak didik adalah sang pelaku kegiatan. Dan, sebagai pelaku kegiatan, tentunya mereka harus mengambil peran secara aktif. Mereka harusnya secara intens melakukan kegiatan-kegiatan terkait dengan proses pendidikan dan pembelajaran. Mereka haruslah belajar secara maksimal. Setiap materi yang diberikan oleh guru harus segera dipelajari dan selanjutnya dipahami sehingga dapat menjadi bagian integral dari dirinya. Dengan demikian, maka tujuan perubahan pada diri anak didik benar-benar dapat dicapai secara maksimal. Dan, kita sangat menyakini bahwa segala hal yang dilakukan atas dasar kesadaran atas tugas dan kewajiban merupakan hal yang paling efektif.&lt;br /&gt;Dan, untuk mengkondisikan hal tersebut, maka kehadiran guru adalah sebagai fasilitator agar anak didik dapat melakukan proses pembelajaran secara maksimal. Setiap kali ada kesulitan, maka anak didik dapat menanyakan kepada guru sehingga terpecahkan. Setiap kali anak didik ingin dan membutuhkan proses pembelajaran, maka guru memfasilitasi kebutuhan tersebut sedemikian rupa sehingga anak didik dapat belajar sebagaimana kebutuhannya. Dalam hal ini eksistensi guru adalah sebagai pendamping dan fasilitator untuk kelancaran proses. Guru bukanlah penguasa kelas dan proses sebab guru hanya pendamping belajar anak didik. bahkan boleh dikatakan bahwa guru adalah pelayan bagi anak didik untuk dapat melakukan proses pembelajaran dengan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;Anak Didik sebagai Subyek Pembelajaran&lt;br /&gt;Proses pembelajaran adalah proses perubahan kondisi kompetensi yang dimiliki oleh peserta didik, dalam hal ini anak didik sedemikian rupa untuk dapat mengimbangi kondisi di luar dirinya. Kondisi di luar dirinya ini selanjutnya kita namakan sebagai kebutuhan hidup di masyarakat. Tentunya, dalam hal ini sangat diperlukan suatu sikap yang mengedepankan kesadaran belajar. Bukankah setiap perubahan hanya dapat dilakukan jika yang bersangkutan berupaya untuk mengubahnya?&lt;br /&gt;Sebagai pribadi, tentunya anak didik membutuhkan proses yang berbeda satu terhadap yang lainnya. Mereka memang sama-sama mengikuti proses pendidikan dan pembelajaran, tetapi untuk mencapai hasil maksimal, setiap anak mempunyai pola masing-masing. Oleh karena itulah, maka perlu kiranya kita menyadari bahwa agar proses dapat berlangsung maksimal, maka anak didik harus terlibat aktif dalam setiap kegiatan  dengan pola seperti ini, maka model pembelajaran learning by doing benar-benar dapat diterapkan maksikaml. Model pembelajaran ini diyakini mempunyai kekuatan yang sangat besar untuk mendukung dan membawa anak pada tingkat keberhasilan belajar yang maksimal juga.&lt;br /&gt;Jika kita memposisikan anak didik sebagai subyek pembelajaran, berarti kita telah memberikan sebuah reward yang sangat besar nilainya bagi anak didik. Anak didik  menjadi sosok-sosok yang berharga sehingga mereka merasa teragungkan dan bersemangat untuk belajar. Bukankah jika seseorang diberikan reward dan dipentingkan dlaam kehidupan ini, maka orang tersebut menjadi sangat senang, bahagia dan bersemangat untuk melakukan segala hal yang dibutuhkannya. Hal ini sangat penting sebab saat seseorang diposisikan sebagai subyek, mereka mempunyai kebanggaan tersendiri, terutama  dihadapan teman-temannya. Kita benar-benar memanfaatkan kondisi tersebut untuk kepentingan anak didik. kita bombong anak didik dengan reward sehingga tanpa sadar mereka melakukan apa yang memang seharusnya mereka lakukan.&lt;br /&gt;Selama ini kesulitan terbesar yang kita hadapi dalam proses pendidikan dan pembelajaran adalah membangkitkan semangat belajar anak didik. Pada jaman sekarang ini, dimana pengaruh kehidupan sangat besar dan mengepung setiap sisi kehidupan anak didik, sangat banyak anak didik yang telah kehilangan semangat belajar dan tenggelam dalam pelukan pengaruh kehidupan. Sangat banyak hasil teknologi yang sekarang ini telah memikat anak didik sehingga melupakan tugas dan kewajibannya untuk mempersiapkan masa depan lebih baik. Mereka menghabiskan banyak waktu berharga hanya dengan melakukan kegiatan yang sebenarnya sangat tidak signifikan dengan tujuan mempersiapkan masa depan yang lebih baik.  &lt;br /&gt;Oleh karena itulah, maka hal pertama dan utama yang harus dilakukan oleh guru sebagai fasilitator dan pendamping belajar anak didik adalah membangkitkan kesadaran anak didik sebagai subyek belajar. Kita harus mampu menanamkan konsep dasar bahwa dalam proses pendidikan dan pembelajaran, anak didik adalah subyek belajar, yaitu sosok yang sedang berusaha melakukan perubahan pada dirinya sehingga menjadi lebih baik. Dan, belajar merupakan upaya perubahan tersebut. Seseorang yang sedang belajar berarti sedang mngubah diri menjadi lebih baik.&lt;br /&gt;Jika kita dapat menanamkan konsep bahwa anak didik adalah subyek belajar, maka mereka harus menyadari posisinya. Hal ini memungkinkan ketercapaian tujuan belajar secara maksimal, sebab anak didik menjalani proses belajarnya dengan penuh semangat. Dan, semangat inilah yang sebenarnya menjadi sumber potensi untuk mencapai keberhasilan belajar. Dan, kita harus berhasil membangkitkan semangat ini jika inginkan keberhasilan proses belajar anak-anak kita. &lt;br /&gt;Pembelajaran Asistensi&lt;br /&gt;Pembelajaran asistensi merupakan proses pembelajaran yang secara langsung melibatkan anak didik dalam proses secara aktif. Konsep pembelajaran diterapkan dengan memberikan kepercayaan kepada anak didik untuk membantu teman-temannya dalam proses belajar. Pada konsep ini, anak didik  diberikan kesempatan untuk memberikan penjelasan dan keterangan tentang materi pelajaran yang belum dipahami teman-temannya.&lt;br /&gt;Anak didik secara aktif memberikan bantuan penjelasan dan keterangan mengenai materi pelajaran yang sedang dipelajari sebagaimana guru. Tentunya hal ini sangat penting sebab anak didik langsung menerapkan kompetensi dirinya dengan mengajari teman-temannya. Ini merupakan proses yang sangat penting bagi anak didik sebab dapat meningkatkan rasa percaya dirinya.&lt;br /&gt;Pembelajaran asistensi merupakan proses pembelajaran yang dilakukan dengan memberdayakan anak didik yang pandai untuk membantu teman-temannya yang kurang pandai. Hal ini tentunya merupakan penghargaan tersendiri bagi anak-anak pandai. Pembelajaran asistensi ini merupakan model pembelajaran yang melibatkan secara langsung anak didik dalam proses. &lt;br /&gt;Setidaknya dengan menerapkan model pembelajaran asistensi ini, maka dapat tercipta kondisi yang kondusif bagi proses pembelajaran sebab mereka belajar dengan teman sebaya. Kndisi kondusif yang kita maksudkan dalam hal ini adalah adanya kebebasan di hati mereka untuk belajar secara maksimal. Anak didik tidak perlu takut, enggan atau bingung saat harus menanyakan sesuatu yang tidak diketahuinya. Anak didik juga tidak perlu malu untuk berinterkasi dalam pendidikannya. Hal ini karena di dalam hati masing-masing anak didik sudah tertanam pola pikir bahwa mereka harus saling membantu agar proses berjalan lancar tanpa hambatan apapun. Tidak ada lagi tekanan batin sebab yang mereka hadapi adalah temannya sendiri.&lt;br /&gt;Pembelajaran asistensi adalah metode pembelajaran sebaya, hal ini mendasarkan pada pemikiran bahwa proses pembelajaran lebih efektif jika antara nara sumber dan anak didik ada kesamaan persepsi dan mental. Dengan pembelajaran asistensi, anak didik tidak terbebani oleh banyak hal sebab yang mereka hadapi ada teman yang setiap hari bersama mereka. Kondisi pembelajaran asistensi tidak berbeda jauh dengan sebuah diskusi di dalam kelas. Anak-anak harus berdiskusi di kelas dengan teman yang mampu memberikan pencerahan untuk materi yang dirasakan sulit. Dengan demikian, maka mereka tidak enggan untuk bertanya dan sebagainya. Proses pembelajaran menjadi enjoy sebab mereka sudah terbiasa berdiskusi sesamanya.&lt;br /&gt;Selama proses pembelajaran, anak didik yang memegang peran aktif. Mereka berdiskusi mengenai materi pelajaran dan ketika mereka mentok, tidak mampu memecahkan masalah, pada saat itulah guru tampil sebagai pelayan untuk membantu menyelesaikan masalah. Hal ini karena fungsi guru hanyalah sebagai pendamping dan fasilitator pembelajaran. Guru mendampingi anak-anak yang sedang belajar dan selalu siap sedia membantu dan memfasilitasi anak-anak yang mengalami kesulitan saat belajar. Peranan guru sedemikian rupa sehingga seacara teknis hanya berperan pada awal proses, pada saat ada permasalahan dan diakhir proses untuk memberikan apresiasi atas hasil prosesnya.&lt;br /&gt;Peningkatan Kompetensi Siswa&lt;br /&gt;Bahwa kompetensi anak didik di dalam proses pebelajaran sangatlah variatif dan berbeda. Hal ini mengakibatkan penanganan yang berbeda-beda untuk setiap anak didik. ada anak didik yang begitu mudah mengikuti proses pembelajaran, tetapi pada sisi lainnya ada anak didik yang begitu sulitnya sehingga tidak pernah berhasil dalam proses belajarnya. Tentunya hal seperti ini merupakan hambatan tersendiri pada proses pembelajaran.&lt;br /&gt;Bagai anak-anak yang mempunyai kompetensi tinggi, hal ini tentunya sangat menjemukan dan menumbuhkan sikap negative pada proses pembelajaran. Kejenuhan yang mereka alami dapat menurunkan semangat sehingga mereka tidak konsen pada proses dan justru menumbuhkan keisengan semata. Mereka yang merasa sudah menguasai materi pelajaran akhirnya bersikap seenaknya di dalam proses pembelajaran. Mereka berkeliaran di dalam kelas, bahkan seringkali bersikap merendahkan teman-temannya yang belum menguasai materi pelajaran. Mereka menjadi kelompok anak yang sok dan mengganggu teman-temannya. &lt;br /&gt;Dengan memperhatikan kondisi tersebut, tentunya kita harus memberdayakan potensi dan kompetensi yang dimiliki anak didik sekaligus mengembangkan dan meningkatkan kemampuan tersebut. Anak didik dilatih untuk memberikan penjelasan dan penerangan kepada teman-temannya sehingga kompetensi yang dimilikinya menjadi semakin bertambah. Kita menerapkan konsep bahwa ilmu itu tidak pernah habis, walaupun kita berikan kepada orang lain. Justru ilmu akan semakin bertambah pada saat kita memberikan kepada orang lain.&lt;br /&gt;Pembelajaran asistensi diharapkan dapat meningkatkan kompetensi siswa sebagai bentuk peningkatan kompetensi secara langsung. Anak-anak yang mendapat tugas asistensi secara langsung mengembangkan kemamuan yang dimilikinya sebagaimana sebuah pisau yang setiap saat diasah agar mempunyai ketajaman maksimal. Ketika anak didik memberikan asistensi kepada temannya, maka pada saat itu mereka sebenarnya sedang mengasah kemampuan yang dimilikinya. Hal ini karena mereka ikut memberikan penjelasan dan pemecahan masalah yang dihadapi teman-temannya. Pada saat inilah mereka mengasah kemampuan secara efektif.&lt;br /&gt;Dengan demikian, seharusnya metode pembelajaran asistensi dapat dijadikan sebagai langkah efektif untuk meningkatkan kemampuan anak didik secara signifikan. Disamping itu dengan program asistensi ini, maka setidaknya anak didik mempunyai kesadaran atas kemampuannya dan kewajibannya untuk memberikan bantuan kepada temannya. Ini merupakan kompetensi sosial anak didk.&lt;br /&gt;Sebenarnya metode pembelajaran asistensi merupakan program pembelajaran lama yang dahulu pernah diterapkan oleh para guru. Pada saat itu, para guru menugaskan anak-anak yang pandai untuk mendampingi teman-temannya atau secara langsung anak yang pandai memberikan penjelasan di depan kelasnya.  Saat ada anak didik yang kesulitan mengikuti dan memahami materi pelajaran, maka pada saat itulah, guru memberikan tugas pada anak yang pandai untuk menjelaskan kesulitan tersebut.&lt;br /&gt;Pada saat-saat tertentu guru menugaskan anak-anak yang pandai untuk membentuk kelompok dengan anak-anak yang kurang pandai agar dapat menjadi tutor. Anak-anak yang kurang pandai belajar berkelompok dengan anak-anak yang pandai sehingga pada saat mengalami kesulitan, maka mereka segera dapat mendiskusikannya dan menemukan pemecahannya. Dan, umumnya anak-anak yang memberikan pendampingan, bimbingan kepada teman-temannya semakin pandai dan mampu membantu teman-teman yang kesulitan. Hal ini merupakan wujud dari upaya memberikan bekal seutuhnya bagi anak didik, tidak hanya teori melainkan juga aplikasi dalam kehidupannya.&lt;br /&gt;Tentunya kita perlu memberikan apresiasi positif pada program penerapan metode pembelajaran asistensi sehingga tujuan peningkatan kompetensi anak didik benar-benar dapat dicapai secara maksimal. Anak didik tidak hanya menguasai materi belajar melainkan dapat memberikan materi tersebut kepada teman-temannya yang belum mampu sehingga proses pembelajaran lebih efektif. Dan, anak didik dapat mengikuti proses belajar secara nyaman sebab mereka berdiskusi dengan teman sebaya dalam kegiatan diskusi kelas mengenai materi pelajaran.&lt;br /&gt;Pada sisi lainnya, metode pembeljaaran asistensi memberikan kesempatan bagi guru untuk mengembangkan banyak metode dalam proses pembelajarannya. Guru tidak diributkan dengan berbagai kegiatan yang sebenarnya dapat dialihkan pada kegiatan yang lebih efektif. Misalnya guru tidak lagi diributkan memberikan materi secara lesan dan menyeluruh dengan system monolog, melainkan dapat berinteraksi secara langsung saat asistensi menghadapi masalah. Hal ini lebih efektif sebab apa yangd ijelaskan oleh guru merupakan materi yang benar-benar tidak dipahami oleh anak didik dan membutuhkan penjelasan yang lebih fokus pada pokok bahasan.&lt;br /&gt;Dengan pola seperti ini, maka tidak ada pembuangan energy yang sebenarnya dapat diefektifkan pada kegiatan lainnya. Anak-anak-pun tidak perlu kebingungan mengikuti proses belajar sebab pada saat mereka belajar bersama dengan teman yang pandai, maka pada saat itulah mereka berkembang tanpa mereka sadari. Kemampuan anak didik berkembang sebab pada saat menyelesaikan masalah yang dihadapi temannya, saat itulah mereka mengasah kemampuan sehingga lebih tajam.&lt;br /&gt;Ada banyak orang pandai yang selanjutnya menjadi bebal sebab kepandaian yan mereka miliki hanya diperuntukkan bagi dirinya sendiri. Mereka enggan membagi dengan orang lain, sehingga ilmu tersebut berdiam saja di dalam dirinya. Akibatnya  ilmu tersebut menggumpal dan mengeras sehingga tidak dapat lagi diterapkan dalam kehidupan. Seperti bubuk semen yang terlalu lama dibiarkan di udara bebas, maka pada saatnya mengeras dan semakin mengeras sehingga tidak dapat lagi dipergunakan untuk kebutuhan hidup. Begitulah halnya dengan ilmu, jika dibiarkan pasti mengeras dan membeku. Sementara kita sama sekali tidak ingin ilmu membeku hanya karena tidak pernah dimanfaatkan atau diasah dalam sebuah kegiatan signifikan dalam kehidupan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-3238149854767425751?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/3238149854767425751/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=3238149854767425751' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/3238149854767425751'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/3238149854767425751'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2010/03/pembelajaran-asistensi-untuk.html' title='Pembelajaran Asistensi untuk Meningkatkan Kompetensi Siswa'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-8078192472020609283</id><published>2010-02-08T22:24:00.001-08:00</published><updated>2010-03-11T18:46:33.420-08:00</updated><title type='text'>Setiap Anak mempunyai Kemampuan dalam Dirinya</title><content type='html'>Anak didik yang mengikuti proses pendidikan, sebenarnya bukanlah sebuah gelas kosong yang harus kita isi dengan air sebanyak-banyaknya. Setiap anak didik yang datang dan bergabung dalam proses pendidikan sebenarnya sudah mempunyai bekal pengetahuan, sikap, maupun keterampilan. Hal ini dapat kita lihat kenyataannya, bahwa seumpana mereka adalah sebuah wadah, maka saat mereka kita isi, pada saatnya tumpah, artinya tidak dapat tertampung lagi di dalam wadah tersebut.Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya dalam diri anak didik sudah terdapat isi dan karena keterbatasan tempat, maka isinya tidak dapat terus tertampung. &lt;br /&gt;Anak didik kita bukanlah wadah sekedar wadah sebagaimana yang kita maknakan di atas. Anak didik adalah wadah dengan tingkat elastisitas sangat tinggi sehingga berapapun banyak ilmu yang kita berikan, maka semua meresap ke dalam wadah tersebut. Anak didik seperti hamparan pasir kering, &lt;span class="fullpost"&gt;ketika air kita tumpahkan ke permukaan pasir tersebut, maka dengan segera air terhisap dan tersimpan di dalamnya. Anak didik adalah tanah berporus yang mampu menerima dan menyimpan setiap apa yang kita masukkan ke dalamnya. Apapaun yang kita berikan kepada anak didik, maka semua itu bakal diterima dan masuk ke dalam diri anak didik, tersimpan di memori otaknya. Dan, pada setiap anak didik mempunyai bekal terkait dengan proses pendidikan dan pembelajaran yang diikutinya. Walau kemudian bekal ini tidak aktif sebab belum diasah secara baik, setiap saat.&lt;br /&gt;Bahwa anak didik berangkat ke sekolah, berasal dari lingkungan tertentu dengan pengkondisian khusus. Dengan demikian, maka sebenarnya anak didik telah mempunyai kondisi tertentu pada dirinya untuk mengikuti proses yang kita selenggarakan. Hal ini signifikan dengan kenyataan bahwa semua materi yang kita berikan kepada anak didik merupakan proses lanjutan dari proses yang sebelumnya sudah dijalani oleh anak didik. Bahwa, saat anak didik memasuki dunia pendidikan tingkat sekolah dasar, sebelumnya mereka sudah mendapatkan bekal dari lingkungan keluarganya. Begitulah seterusnya setiap kali kita membimbing anak-anak menjalani proses pendidikan dan pembelajarannya.&lt;br /&gt;Pendidikan adalah Proses Berkelanjutan&lt;br /&gt;Pada dasarnya pendidikan adalah upaya untuk memfasilitasi setiap kondisi yang dibutuhkan dalam kehidupannya. Dan, kondisi kehidupan terus mengalami perubahan sebab kehidupan adalah sesuatu yang sangat dinamis. Setiap saat mengalami perubahan dan setiap perubahan menuntut konsekuensi logis berupa keharusan kita untuk memenuhi dan mengikuti kondisi tersebut. Sementara kita menyadari bahwa untuk menjawab setiap perubahan tersebut kita tidak dapat secara langsung. Kita hanya dapat memenuhi konsekuensi tersebut secara bertahap.&lt;br /&gt;Tahap tahap pemenuhan konsekuensi logis kehidupan tersebut selanjutnya diwujudkan dalam proses formal, yaitu pendidikan dan pembelajaran. Di dalam proses pendidikan dan pembelajaran, setiap materi pelajaran disusun sedemikian rupa sehingga setiap materi dibagi dalam beberapa kompetensi. Kompetensi ini selanjutnya dialokasikan secara sistematis dalam sebuah kurikulum dan diterjemahkan dalam silabus untuk setiap tingkatan.&lt;br /&gt;Untuk setiap jenjang pendidikan terbagi atas beberapa tingkatan yang mempunyai pembagian materi pelajaran yang proporsional dengan tingkatan kemampuan anak didk. Hal ini merupakan apresiasi atas kemampuan anak yang tidak sama untuk setiap tingkatan usia anak didik. Setiap anak mempunyai kemampuan yang sesuai dengan usianya. Oleh karena itulah, maka guru juga perlu menyadari dan membimbing anak untuk belajar sesuai kemampuannya. Artinya, materi yang diberikan oleh guru dalam proses pendidikan dan pembelajaran diberikan secara perlahan bertahap, dari yang mudah ke yang menengah dan selanjutnya ke materi yang sulit.&lt;br /&gt;Pendidikan adalah proses berkelanjutnya artinya apa yang kita berikan pada saat sekarang menjadi dasar atau landasan untuk materi selanjutnya. Begitu sebaliknya, apa yang kita berikan pada saat sekarang merupakan kelanjutan dari materi sebelumnya. Dengan demikian, maka materi yang dipelajari anak didik berproses dari negatif menuju positif secara perlahan dan sistematis. Artinya anak didik tidak akan terbebani oleh proses pendidikan dan pembelajarannya. Mereka akan belajar sesuai dengan kemampuan dirinya dan tidak dipaksa pada kondisi yang dituju proses pendidikan.&lt;br /&gt;Pendidikan adalah proses berkelanjutan sehingga anak-anak yang mengikuti proses pendidikan merasakan bahwa belajar merupakan kegiatan yang mengasyikkan.  Anak merasa bahwa proses pendidikan mampu memberikan suasana yang berbeda dan mengikat perhatian serta konsentrasi tinggi. Model pembelajaran yang bertahap mmbuat anak-anak nyaman pada saat mengikuti proses. Mereka tidak terancam oleh kondisi materi pelajaran sebab setiap saat mereka memperoleh dasar untuk mempelajari materi lanjutnya.&lt;br /&gt;Tentunya dengan konsep pembelajaran seperti ini, maka setiap anak sudah mempunyai bekal untuk setiap materi pelajaran yang diajarkan oleh guru. Mereka sebenarnya sudah mengetahui, bahkan memahami konsep dasar materi pelajaran, tetapi tentu saja yang diberikan di sekolah adalah kelanjutan dari apa yang sudah dimilikinya. Oleh karena itulah, konsep bahwa anak didik sebagai kertas putih sungguh tidak relevan sebab di dalam proses pendidikan dan pembelajaran, guru hanyalah melanjutkan proses yang sedah dijalani oleh anak didik sebelumnya. Pada proses pembelajaran lanjut, guru selain melanjutkan materi pelajaran, juga mengembangkan materi yang anak didik miliki.&lt;br /&gt;Anak Didik Mempunyai Kompetensi Dasar&lt;br /&gt;Setiap anak mempunyai kompetensi dasar yang berbeda dan khas. Hal ini merupakan bekal alami yang diperoleh anak sebelum mengikuti proses pendidikan. Kita mengetahui bahwa sebelum memasuki lingkungan sekolah, anak didik sudah berada di lingkungan yang bagi mereka nyaman dan merupakan tempat pertama mereka mengikuti proses pendidikan. Di lingkungan keluarga, sejak kecil anak didik sudah mendapatkan pembimbingan dari kedua orangtua.&lt;br /&gt;Proses pembimbingan dari orangtua adalah pendidikan pertama yang diikuti oleh anak didik dalam upaya mempersiapkan diri menghadapi kehidupan lebih baik. Lingkungan keluarga merupakan lingkungan teraman dan ternyaman bagi anak didik untuk mengikuti proses awal pendidikan dan pembelajaran. Sangat tidak benar jika kita mengatakan bahwa anak didik itu bagaikan selembar kertas putih, bersih dan siap kita bimbing untuk menulisi setiap halaman putih dengan berbagai tulisan yang kita berikan. Anak didik adalah sosok istimewa yang dengan keistimewaannya dapat mengembangkan diri secara maksimal jika diberi bimbingan secara tepat.&lt;br /&gt;Tugas utama guru di dalam proses pendidikan dan pembelajaran sebenarnya adalah membantu anak didik untuk mengembangkan potensi yang ada di dalam dirinya secara maksimal. Dengan berbagai teknik, guru mencoba untuk membangkitkan kembali potensi, kompetensi yang dimiliki oleh anak didik melalui pembelajaran berkelanjutan. Pembelajaran berkelanjutan memungkinkan anak didik mengaktif-kan kembali memori di otaknya untuk memunculkan pengalaman belajar yang sudah dialami sebelum-nya. Seharusnya proses seperti itulah yang terjadi dalam proses pendidikan dan pembelajaran.&lt;br /&gt;Dan, berdasarkan pada bekal yang sudah tertanam di dalam memorinya, maka guru mengembangkan dengan tambahan pengetahuan, keterampilan maupun nilai positif dalam hidup sebagai pengalaman belajar yang baru bagi anak didik. Kita tambahkan beberapa pengalaman baru, yang sebenarnya merupakan pengulangan dan penambahan kompetensi yang dimiliki oleh anak didik. dengan demikian, maka kompetensi anak didik selalu mengalami peningkatan setiap kali mengikuti proses pendidikan dan pembelajaran. Dan, hal inilah yang sesungguhnya kita harapkan setiap kali kita melaksanakan proses pendidikan dan pembelajaran. &lt;br /&gt;Dengan bekal yang sudah dimiliki, maka anak didik mempunyai kesempatan lebih banyak untuk meningkatkan kompetensi yang sebenarnya sudah mereka miliki dari pengalaman belajar sebelumnya. Muali dari lingkungan keluar, sekolah kelas bawah hingga sampai pada tingkatan belajar tinggi, materi pelajaran yang diterima oleh anak didik adalah kelanjutan dari kompetensi dasar yang sudah dimilikinya. Jika ternyata didalam proses pendidikan dan pembelajaran, pada akhirnya anak didik tidak mengalami perubahan kompetensi secara signifikan, berarti anak didik tidak melakukan kegiatan belajar. Atau guru belum mampu memberikan bimbingan dan fasilitasi pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan anak didik. Hal ini yang seringkali menjadi penyebab menurunnya kualitas hasil proses pendidikan di negeri ini.&lt;br /&gt;Tugas utama guru di dalam proses pendidikan dan pembelajaran memang mengembangkan potensi, kompetensi yang dimiliki oleh anak didik sehingga dapat dijadikan sebagai bekal hidup. Setiap anak memang mempunyai kemampuan spesifik mereka dan aspek ini menjadi tanggungjawab guru untuk proses pengembangannya. Sejak berangkat dari lingkungan keluarga, anak didik berharap bahwa pengalaman hidupnya bertambah secara signifikan dengan mengikuti setiap proses pembelajaran sesuai dengan tingkatan masing-masing.&lt;br /&gt;Guru Harus Mampu Mengembangkan Kompetensi Anak Didik&lt;br /&gt;Pendidikan dan pembelajaran merupakan usaha sadar yang dilakukan oleh seseorang untuk mengubah kompetensi yang ada dalam dirinya. Perubahan yang diinginkan adalah dari kondisi negative menjadi kondisipositif, artinya dari tidak mampu menjadi mampu, dari kemampuan rendah menjadi ber-kemampuan tinggi.  Semua kegiatan ini dilakukan dalam pembimbingan dan fasilitasi orang yang lebih berpengalaman dan itu adalah guru.&lt;br /&gt;Di dalam proses pendidikan dan pembelajaran, peranan guru memang masih sentral, walaupun sudah seringkali dikatakan bahwa guru tidak harus menguasai proses secara mutlak. Guru bukanlah penguasa ruangan, proses belajar. Guru hanyalah fasilitator pendidikan dan pembelajaran anak didik. Posisi dan tugas guru di dalam proses pendidikan dan pembelajaran sedemikian rupa sehingga setiap tindakannya adalah cerminan dari tujuan pendidikan secara umum.&lt;br /&gt;Orangtua mengirimkan anak-anaknya kesekolah karena mereka yakin dan percaya bahwa kompetensi yang dimiliki anak-anaknya dapat lebih berkembang di tangan yang benar. Orangtua merasa kurang mampu membimbing anak-anaknya untuk peningkatan kompetensi karena mereka disibukkan oleh tugas dan kewajiban untuk keluarga. Ayah harus bekerja untuk mencari nafkah agar roda kehidupan keluarga terus bergerak dan tingkat perekonomian keluarga terjaga stabil. Sementara sang ibu sibuk berbenah di rumah, mempersiapkan segala hal untuk keluarga dan pada jaman sekarang tidak sedikit para ibu yang ikut bekerja di luar rumah sebagai wanita karier atau sebangsanya. Dengan demikian, praktis masalah pendidikan dan pembelajaran kurang mendukung bagi anak-anak. Bahkan, ketika mereka berada di rumah-pun urusan belajar anak-anak belum mempunyai jatah. Mereka kelelahan setelah seharian bekerja sehingga butuh refreshing dan televisi menjadi pilihan utama penghiburan diri.&lt;br /&gt;Dan, guru sebagai orang yang dipercaya untuk membimbing dan mengarahkan anak-anak untuk proses pendidikan dan pembelajaran menerima amanat untuk mendidik dan mengajar anak agar menjadi sosok-sosok yang kompeten. Guru harus melakukan perubahan, pengadaptasian diri pada anak didik sehingga anak didik menjadi sosok yang berbeda dari sebelumnya. Oleh karena itulah, maka guru harus mempunyai kemampuan untuk melihat dan memahami kompetensi dasar yang dimiliki oleh anak didik. guru harus dapat mengklasifikasikan anak didik berdasarkan ragam kompetensi dirinya. Jika hal ini dapat dilakukan oleh guru, maka selanjutnya tugas guru menjadi lebih ringan sebab guru hanya mengikuti kegiatan anak.&lt;br /&gt;Guru sebagai sosok yang, dianggap mempunyai pengalaman hidup lebih banyak dan beragam membimbing anak didiknya sehingga mampu menyerap pengalaman tersebut dan menduplikasikannya pada dirinya. Proses duplikasi inilah yang sebenarnya menjadi salah satu aspek penting dalam proses pembelajaran. Kita belajar, menimba pengalaman hidup dari proses duplikasi ini. Selain itu kita dapat menambah pengalaman belajar dengan cara menemukan sendiri konsep-konsep terkait dengan materi pelajaran yang dipelajari, dengan learning by doing. Dan, guru adalah pembimbing utama pada saat anak didik melakukan proses di sekolah. Oleh karena itulah, maka guru harus mampu mengembangkan kompetensi anak didik secara maksimal.&lt;br /&gt;Sebagai pembimbing, pengarah, fasilitator pendidikan dan pembelajaran, maka sudah seharusnya guru mempunyai kemampuan yang kontributif bagi setiap kebutuhan belajar anak didiknya. Dengan pengalaman hidup dan pengalaman belajar yang sudah dimiliki, maka guru mempunyai kemampuan untuk melakukan tugas dan kewajibannya secara maksimal. Dan, tentunya dalam hal ini anak didik mendapatkan penanganan oleh tangan yang tepat. Guru memang bertugas dan berkewajiban untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan yang dimiliki anak didik agar dapat mengubah kondisi menjadi lebih baik.&lt;br /&gt;Buka Kesempatan untuk Anak Didik&lt;br /&gt;Sebagai sosok yang mempunyai bekal kompetensi dalam dirinya, maka hal paling utama yang dibutuhkan oleh anak didik adalah kesempatan. Dan, sebenarnya kesempatan merupakan sesuatu yang sangat diharapkan oleh semua orang. Dengan kesempatan yang dimiliki, maka seseorang dapat mengembangkan dan meningkatkan kompetensi dirinya secara maksimal. Dan, hasil dari proses tersebut selanjutnya diharapkan dapat menjadi  nilai plus bagi kehidupannya.&lt;br /&gt;Dan, proses pendidikan dan pembelajaran yang diselenggarakan di sekolah mendasarkan kegiatan pada upaya perubahan kondisi. Memang anak didik datang dan mengikuti proses pendidikan dan pembelajaran dengan bekal yang dimiliki sebagai pengalaman belajar sebelumnya, tetapi hal ini dapat menjadi sia-sia jika ternyata mereka tidak mempunyai kesempatan untuk mengaktualisasi diri. Ini merupakan tuntutan logis dari kehidupan.&lt;br /&gt;Setiap orang butuh mengaktualisasi dalam kehidupan untuk menjaga eksistensi dirinya. Dan, untuk hal tersebut, maka mereka berharap dapat berarti bagi masyarakatnya. Ada pepatah mengatahkan, sekali berarti selanjutnya mati. Bahwa, didalam kehidupan kita, agar masyarakat mengakui keberadaan kita, maka kita harus mengaaktualisasikan diri. Kita harus berperan aktif dalam kehidupan ini agar terus tertanam kenangan dan pengetahuan atas diri kita oleh masyarakat. Eksistensi kita akan tetap dikenang, berarti bagi masyarakat jika kita mengambil peran secara aktif.&lt;br /&gt;Untuk dapat berperan aktif dalam kehidupan, maka satu hal paling penting adalah kesempatan. Dengan kesempatan yang kita miliki, maka kita dapat bebas mengaktualisasikan kompetensi kita dalam kehidupan agar terekam sebagai pengalaman hidup bagi semua orang. Hanya dengan kesempatan yang terbuka, maka kita dapat menunjukkan kepada masyarakat atas kompetensi yang kita miliki. Kesempatan itu bagaikan ruangan luas yang memungkinkan kita untuk melakukan berbagai kegiatan, bahkan improvisasi kegiatan tanpa takut salah menuju kondisi terbaik pada kehidupan kita.&lt;br /&gt;Begitu juga halnya dengan anak didk pada saat mengikuti proses pendidikan dan pembelajaran. Sebagai subyek belajar, tentunya anak didik harus berperan aktif pada setiap kegiatan pendidikan dan pembelajaran.  Apalagi jika kita berbicara mengenai learning by doing, dimana anak diidk memang harus melakukan setiap aspek pendidikan dan pembelajaran agar memperoleh pengalaman belajar maksimal, maka mereka harus mempunyai banyak kesempatan melakukan kegiatannya. Tanpa kesempatan yang terbuka, tentunya mereka tidak dapat mengaktualisasikan ataupun berusaha untuk mendapatkan pengalaman belajar yang dibutuhkannya.&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, untuk dapat membimbing, mengarahkan dan memfasilitasi kegiatan pendidikan dan pembelajaran anak didik, maka perlu kesempatan seluas-luasnya untuk beraktivitas. Guru harus memberikan kesempatan belajar dan melakukan kegiatan belajar anak didik. Kita tidak boleh mengekang anak didik agar mengikuti apa yang kita inginkan. Justru kita harus mengikuti apa yang anak didik inginkan dan harapkan dari proses pendidikan dan pembelajarannya. Kita harus memasuki dunia anak-anak pada saat proses belajar dan bukan membawa dunia mereka ke dalam dunia kita. Sangat tidak sesuai! Anak-anak mempunyai dunia tersendiri, tidak sama dengan dunia kita. Anak-anak adalah sosok yang berbeda dengan kita, ada yang mengatakan bahwa anak-anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk mini, kecil. Mereka mempunyai spesifikasi dan kualifikasi yang berbeda dengan kita, jadi tidak dapat kita samakan dengan kita. Kita harus memberi kesempatan anak didik untuk berperan aktif dalam proses pendidikan dan pembelajarannya.&lt;br /&gt;Beri Kepercayaan Kepada Anak Didik&lt;br /&gt;Selain kesempatan untuk mengaktualisasikan diri, kepercayaan merupakan salah satu penting dalam proses pendidikan dan pembelajaran. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, kepercayaan merupakan satu bentuk kondisi yang harus diberikan kepada anak didik agar mereka dapat maksimal dalam menjalani tugas dan kewajiban belajarnya. Bagaimanapun kita harus meyakini bahwa seseorang yang mendapatkan kepercayaan pasti dapat all out untuk setiap kegiatan yang dilakukannya.&lt;br /&gt;Kepercayaan memang sebuah reward paling efektif untuk mengarahkan dan membimbing sukses pada banyak orang. Dengan memberikan kepercayaan pada seseorang, maka sebenarnya kita telah memberikan perhatian yang begitu besar padanya. Dan, perhatian merupakan satu kondisi terbaik yang dapat diperoleh seseorang saat mereka mampu berperan aktif dan bermanfaat bagi masyarakatnya. Jika seseorang mendapatkan kepercayaan dari orang lain, berarti ada nilai plus yang dimiliki sehingga orang lain mengapresiasi bagus.&lt;br /&gt;Kepercayaan menjadi salah satu tujuan yang hendak dicapai oleh setiap orang agar peranannya dalam kehidupan dapat dilaksanakan. Hal ini karena kepercayaan memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk membuktikan segala hal terkait dengan kompetensi dirinya dalam kehidupan. Dan, anak didik adalah sosok dengan tingkat kebutuhan perhatian yang sangat tinggi sehingga untuk dapat membawa anak didik pada tingkat kesuksesannya, maka kita perlu memberikan penghargaan kepada mereka.&lt;br /&gt;Selama ini yang terjadi adalah ketidakseimbangan antara reward dan punishment yang diterima anak didik dalam setiap kali kegiatan. Anak-anak telah menjadi korban ketidakadilan, ketidakseimbangan tersebut sehingga yang mereka dapatkan hanya punishment saja. Di mata semua orang, apa yang dilakukan oleh anak didik adalah sebuah kesalahan. Anak telah dijadikan sebagai tumpuan kesalahan untuk setiap kejadian dalam interaksi edukasi, bahkan dalam interaksi social di masyarakatnya. Kita seringkali tidak memahami, mengapa hal tersebut dapat terjadi.&lt;br /&gt;Sebagai sosok yang sedang mencari jati diri, anak didik memang sangat rentan atas berbagai pengaruh kehidupan. Apalagi dengan peningkatan perkembangan teknologi yang begitu pesat, berbagai pengaruh muncul dan membelit setiap langkah kegiatan hidup anak didik. Mereka tidak dapat mengelak dari keharusan untuk menjawab tantangan perkembangan hidup tersebut. Mereka tidak dapat melarikan diri dari kondisi yang tercipta dalam kehidupannya. Dan, sebagai sosok yang sedang mencari jati diri, maka yang tejadi kemudian adalah banyaknya kesalahan selama mereka menjalani kehidupan.&lt;br /&gt;Mereka membutuhkan kepercayaan untuk melakukan setiap kegiatan hidupnya. Tetapi, mereka juga perlu pembimbingan, pengarahan dan pemfasilitasian sehingga dapat meminimalisir kesalahan yang terjadi. Berikan mereka kepercayaan dan lakukan pembimbingan atau pengarahan dan fasilitasi proses, maka mereka pasti dapat memaksimalkan hasil proses pendidikan dan pembelajaran mereka. Hal inilah yang terpenting dalam proses pengembangan dan peningkatan kemampuan yang dimiliki anak didik.&lt;br /&gt;Setelah kita memperhatikan uraian di atas, setidaknya kita menjadi sadar bahwa sebenarnya anak didik yang mengikuti proses pendidikan dan pembelajaran di kelas kita bukanlah kertas putih kosong atau gelas kosong, melainkan sosok dengan bekal kompetensi yang siap dikembangkan dan ditingkatkan. Oleh karena itulah, sebagai seorang guru kita harus memberikan bimbingan, arahan dan fasilitasi maksimal untuk mereka.&lt;br /&gt;Untuk dapat mengembangkan dan meningkatkan kompetensi, kemampuan yang dimiliki oleh anak didik, maka kita harus membantu mereka secara maksimal. Kita kondisikan mereka sehingga merasa nyaman dalam menjalankan proses pendidikan dan pembelajaran. Kita harus memberikan bimbingan, arahan dan fasilitasi yang tepat sesuai dengan kebutuhan mereka. Ketetapatan bimbingan, arahan dan fasilitasi ini adalah untuk menghindarkan kesalahan langkah dan proses bagi anak didik.&lt;br /&gt;Guru hanyalah sebagai fasilitator pada proses pendidikan dan pembelajaran di jaman sekarang ini. Oleh karena itulah, guru hanyalah memberikan bantuan kepada anak didik agar mampu mengembangkaan dan meningkatkan kemampuan yan dimilikinya. Dan, proses pendidikan dan pembelajaran dipercaya mempunyai kemampuan yang sangat besar dalam pengkondisian anak didik. Oleh karena itulah, maka kita perlu memaksimalkan proses tersebut.&lt;br /&gt;Kita memang yakin dan percaya bahwa proses pendidikan dan pembelajaran dapat menjadi jembatan untuk mengantar anak-anak menjadi sosok-sosok yang kompeten pada bidangnya. Dengan demikian, maka pertambahan angka pengangguran terdidik dapat dikurangi sebab anak-anak dengan kemampuan di bidangnya adalah tenaga-tenaga kerja yang siap bekerja, tidak hanya memasuki lapangan pekerjaan melainkan juga menciptakan lapangan pekerjaan. Dan, konsep tersebut merupakan visi pendidikan di jaman sekarang ini. Orientasi pendidikan dan pembelajaran sekarang ini telah mengalami perubahan atau pergeseran paradigma (paradigm shift). Perubahan atau pergeseran paradigma inilah yang selanjutnya arah kebijakan pendidikan, baik dari pusat maupun guru sebagai petugas lapangan. Jika tidak, maka proses pendidikan hanya akan menciptakan robot-robot teknologi tanpa jiwa.&lt;br /&gt;Paradigm shift yang terjadi dalam segala aspek kehidupan harus dihadapi dengan persiapan kondisi diri yang seimbang. Keseimbangan kondisi di dalam diri dengan kondisi di lingkungan memungkinkan sebuah interaksi maksimal, khususnya interaksi edukasi. Dan, kemampuan yang dimiliki oleh anak didik hasil pengalaman belajar pada saat sebelumnya telah menjadi jembatan penghubung terbaik untuk setiap upaya perubahan pengalaman belajar selanjutnya. Oleh karena itulah, maka guru harus benar-benar dapat memanfaatkan bekal kemampuan anak didik ini sehingga proses pembelajarannya dapat efektif. Kita bukanlah memberikan materi baru pada anak didik, melainkan menambah dan mengembangkan materi yang sebenarnya sudah anak didik miliki. Konsep inilah yang harus kita jadikan acuan setiap kali kita melaksanakan tugas pendidikan dan pembelajaran sehingga tidak menjadi beban tersendiri di hati kita.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-8078192472020609283?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/8078192472020609283/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=8078192472020609283' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/8078192472020609283'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/8078192472020609283'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2010/02/setiap-anak-mempunyai-kemampuan-dalam.html' title='Setiap Anak mempunyai Kemampuan dalam Dirinya'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-698065432279913363</id><published>2010-02-08T22:19:00.000-08:00</published><updated>2010-03-10T22:06:52.149-08:00</updated><title type='text'>Mengelola Sekolah Plus untuk Pendidikan Berbasis Kecakapan Hidup</title><content type='html'>Ada 3 (tiga) aspek dasar yang menjadi bidang garapan dunia pendidikan, sekolah, yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Ketiga aspek ini didalam proses pendidikan dan pembelajaran dijalankan dalam sebuah kegiatan yang memberikan materi pengetahuan, sikap dan keterampilan. Dan, ketiga aspek ini merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu terhadap yang lainnya. Ketiga aspek ini saling mendukung sehingga didapatkan lulusan yang kompeten dalam kehidupannya. Dan, setiap tahun konsep pendidikan melakuan reformasi pada pembelajaran &lt;span class="fullpost"&gt;dengan skala prioritas yang berbeda, khususnya pada aspek psikomotor. Dinamisasi sebuah sekolah dapat kita lihat pada tingkat keberhasilan proses pembelajaran psikomotor ini.&lt;br /&gt;Pada saat itu, masing-masing aspek diberikan secara terpisah sehingga idapatkan hasil maksimal. Artinya, pada saat itu anak-anak mempunyai kemampuan intelek yang mumpuni dengan perimbangan sikap hidup yang positif serta keterampilan hidup yang aplikatif. Dan, hasil pendidikan saat itu dapat kita rasakan saat ini, yaitu sekitar 20 (dua puluh) tahun kemudian. Orang-orang yang mengikuti proses pendidikan saat itu telah menjadi orang-orang dengan tingkat kemampuan yang proporsional. Mereka dapat memerankan peranannya dalam kehidupan tanpa kesulitan.&lt;br /&gt;Tetapi, pada dekade selanjutnya, ternyata ahsi pendidikan terasa begitu mengecewakan semua pihak. Anak-anak hasil proses pendidikan dekade ini ternyata belum, bahkan dapat dikatakan tidak dapat mencerminkan hasil sebuah proses pendidikan yang dibilang sudah maju. Justru, kemunduran merupakan hasil dalam segala bidang pendidikan. Tiga aspek dasar pendidikan yang diberikan dalam proses pendidikan belum dapat diserap dan dijadikan bagian integral diri anak didik. Pengetahuan tidak maksimal, sikap mengalami perubahan yang drastis, begitu juga keterampilan hilang dari diri anak. Ini meurpakan sebuah kenyataan yang tidak dapat kita pungkiri.&lt;br /&gt;Hasil proses pendidikan dan pembelajaran memang tidak dapat dilihat untuk waktu yang singkat. Kita membutuhkan waktu yang relative lama untuk dapat mengetahui keberhasilan proses pendidikan dan pembelajaran. Tetapi hal tersebut dapat kita lihat secara sampling dari lulusan sekolah di sekotar kita yang ternyata sudah tidak mencerminkan orang-orang berpendidikan. Sikap mereka dalam kehidupan bahkan tdiak sedikit yang seperti barbar. Pengetahuan mereka ternyata belum menjangkau untuk kondisi sekarang dan keterampilan yang mereka miliki ternyata sama sekali tidak dapat diajdikan sebagai satu kecakapan untuk hidup.&lt;br /&gt;Untuk mengkondisikan sekolah sebagai sekolah plus, memang cukup rumit dan membutuhkan banyak aspek pendukung. Aspek pendukung inilah yang diharapkan dapat memberikan dukungan motivasi, baik mental maupun fisik. Dengan dukungan ini, maka pada setiap lini terdapat kesatuan kinerja yang diharapkan dapat memicu dan memacu setiap program yang dicanangkan sekolah.  Sekolah plus memang merupakan sekolah dengan berbagai muatan yang diharapkan dapat membedakannya dengan sekolah lainnya, sejenis maupun tidak. Pada sisi lainnya, label plus yang kita pasang adalah merupakan apresiasi atas visi dan misi yang kita gotong pada saat memutuskan sekolah sebagai sekolah plus.&lt;br /&gt;Visi adalah gambaran yang akan kita capai pada masa tertentu yang bersifat positif untuk kondisi setelah sekarang. Visi merupakan tujuan yang hendak dicapai oleh manajemen sekolah dengan kesepakatan bersama dewan guru untuk menciptakan suatu inovasi sehingga selanjutnya proses pendidikan dan pembelajaran yang dilakukan dapat memberikan bekal plus bagi anak didik. Bekal plus yang kita maksud adalah terintegrasinya setiap aspek pendidikan di dalam diri anak didik, artinya setelah mengikuti proses pendidikan, maka anak didik memperoleh bekal kognitif, afektif dan psikomotor secara integral dalam dirinya. Mereka tidak hanya intelek, tetapi sopan dan mempunyai keterampilan aplikatif bagi kehidupannya.&lt;br /&gt;Sementara untuk dapat menjalankan program pendidikan plus bagi anak didik dan berharap dapat mencapai hasil maksimal, maka perlu kiranya kita memperhatikan 3(tiga) K aspek dasar ini:&lt;br /&gt;a. Komitmen&lt;br /&gt;Komitmen adalah kesepakatan kita untuk melakukan sebuah kegiatan. Komitmen ini merupakan dasar pelaksanaan kegiatan. Dengan komitmen ini, maka setiap orang yang terlibat dakan kegiatan mempunyai tanggungjawab untuk menjaga eksistensi kesepakatan yang sudah dibuat. Hal ini sangat penting sebab dengan komitmen yang tinggi, maka keterlaksanaan program dapat maksimal.&lt;br /&gt;Untuk itulah, maka setiap elemen terkait dengan setiap program yang disusun dan dicanangkan oleh sekolah harus benar-benar mendukung. Hal ini karena elemen terkait dengan kegiatan adalah sosok-sosok penentu tingkat keberhasilan. Jika mereka tidak sepenuh hati mengikuti komitmen kegiatan, maka mereka akan menjadi pembeban kegiatan.&lt;br /&gt;Komitmen ini memegang peranan penting dalam setiap program kegiatan, khususnya program pendidikan dan pembelajaran yang ditetapkan oleh pengelola sekolah. Dengan komitmen ini, maka setiap elemen harus ikut mengembangkan program. Jika hal ini tercipta, dinamisasi program dan kegiatan lebih terarah dan pasti.&lt;br /&gt;Misalnya kita membuat komitmen untuk menyelenggarakan proses pendidikan dan pembelajaran plus, missal SMP Plus, SMA Plus dan sebagainya, maka setiap personil yang membuat komitmen harus dapat menjaga keteguhan hatinya dalam mengembangkan kesepakatan menjadi hal nyata. Setiap pembuat komitmen harus berusaha agar berperan maksimal.&lt;br /&gt;b. Konsisten&lt;br /&gt;Konsisten adalah keajegan, kesetiaan kepada komitmen yang sudah disetujui bersama. Di dalam pelaksanaan program kegiatan, semua elemen yang telah membuat komitmen kegiatan berkewajiban dan bertanggungjawab atas kelancaran proses. oleh karena itulah, maka keteguhan-nya terhadap komitmen benar-benar menjadi taruhan untuk kedepannya.&lt;br /&gt;Ketika sekolah, pengelola sekolah dan semua civitas akademik sekolah membuat kesepakatan untuk menerapkan satu program baru, maka selanjutnya setiap elemen harus benar-benar yakin dan teguh atas pelaksanaan peran masing-masing dalam kegiatan. Selain itu, arah dan bentuk serta aspek kegiatan harus dijaga agar tidak mengalami pembiasan selama proses perjalanannya. Hal ini agar visi dan misi yang sudah diputuskan, disepakati bersama benar-benar dapat direalisasi. &lt;br /&gt;Konsistensi atas segala komitmen bersama merupakan bentuk keteguhan kita atas keputusan yang sudah kita buat. Bagaimana-pun kita memang harus konsisten dengan segala yang sudah kita putuskan bersama.  Jika kita konsisten dengan apa yang sudah kita putuskan, maka hal itu berrati separuh tujuan sudah tercapai.&lt;br /&gt;Dalam proses penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran plus, artinya kita sudah memutuskan untuk mencapai sesuatu yang lebih dibandingkan kondisi pada umumnya. Jika pada umumnya hasil proses pendidikan hanya anak-anak dengan tingkat intelektualitas dan sikap serta keterampilan minimal, maka setelah kita membuat komitmen sekolah plus, kita harus tetap pada jalur tersebut. Kita tidak boleh mengubah arah dan menghapus komitmen tersebut.&lt;br /&gt;c. Konsekuen&lt;br /&gt;Konsekuen adalah kemampuan dan kemauan untuk menerima segala akibat kegiatan dengan lapang hati dan besar jiwa. Setiap orang dalam kehidupan ini mempunyai tanggungjawab dan kewajiban terhadap segala hal yang sudah, sedang dan akan dilakukan untuk kelancaran hidupnya. Dalam proses pendidikan dan pembelajaran, setiap program yang telah dicanangkan memberikan dan menuntut tanggungjawab dan kewajiban &lt;br /&gt;Untuk keterlaksanaan setiap program yang sudah dicanangkan bersama, maka setiap orang harus berani menghadapi setiap akibat dari kesepakatan yang dibuat. Pada penyelenggaraan proses pendidikan dan pembelajaran plus, maka setiap orang yang terkait dalam kegiatan harus berani menghadapi setiap akibat dari kebijakan yang sudah disepakati.&lt;br /&gt;Artinya, mereka harus menyadari bahwa setiap kali kegiatan yang sudah disepakati memberikan tuntutan logis. Dan, mereka harus selalu siap menghadapi tuntutan tersebut dan memberikan solusi atas setiap permasalahan. Setiap orang harus menyadari dan menindaklanjuti setiap program dengan langkah konkrit untuk mewujudkan isi program. Dan, selanjutnya jika ternyata kesalahan, maka setiap orang harus berani bertanggungjawab atas semuanya.&lt;br /&gt;Selain itu sebaiknya semua elemen menyadari bahwa program pembelajaran yang dilakukan di sekolah plus bukanlah menambahkan aspek pendidikan begitu saja ke dalam proses. Penyelenggaraan sekolah plus lebih ditekankan pada pemberdayaan keterampilan yang ada pada setiap aspek pendidikan dan mengintegralkan dalam sebuah proses terpadu. Sekolah plus bukan hanya menempelkan satu atau beberapa aspek pendidikan pada pembelajaran yang sudah ada, melainkan mengintegralkan setiap elemen pembelajaran sehingga 3 (tiga) aspek pembelajaran tersebut tersinergiskan dalam setiap mata pelajaran. Kita tidak perlu menambah jumlah mata pelajaran sebab jumlah mata pelajaran selama ini sudah termasuk sangat banyak sehingga menyebabkan anak didik kurang dapat berkonsentrasi sebab terlalu banyak yang harus dipelajari. &lt;br /&gt;Jumlah pelajaran yang berjubel telah menjadi sesuatu yang sangat memberatkan bagi anak didik. Mereka seringkali melakukan protes atas jumlah pelajaran berjubel, tetapi tidak ada hasilnya. Oleh karena itulah, untuk penyelenggaraan sekolah plus perlu mempertimbangkan jumlah mata pelajaran yang diberikan kepada anak didik. kita tidak boleh terbius oleh visi kita semata dan mengabaikan kondisi anak didik yang kelelahan atau kelabakan dengan materi pelajaran sangat banyak.&lt;br /&gt;Pendidikan dan pembelajaran plus sebaiknya diarahkan untuk mengembangkan kemampuan anak didik berdasarkan kemampuan yang ada pada dirinya atau sebagai pengembangan aspek psikomotor dari setiap mata pelajaran yang sudah ada. Dan, pada umumnya penerapan aspek psikomotor ini merupakan upaya agar pendidikan dan pembelajaran anak didik utuh.&lt;br /&gt;Fenomena sekolah plus memang tidak dapat kita hindarkan sebab tuntutan jaman sudah sedemikian besarnya. Walau sebenarnya, tambahan nama plus tersebut tidak perlu dilakukan sebab sejak dahulu setiap sekolah sebenarnya sudah menerapkan konsep plus dalam proses pembelajarannya. Hanya saja pada saat itu respon anak sangat besar sehingga tingkat keberhasilannya cukup tinggi. Disamping itu, hambatan dari lingkungan masyarakat masih kecil sehingga tingkat konsentrasi anak pada proses belajar sangat tinggi. Sementara, sekarang ini, gangguan dari lingkungan masyarakat sedemikian besar dan kuatnya sehingga anak didik harus melawan banyak sekali tantangan dan menyita konsentrasi belajarnya.&lt;br /&gt;Sekolah-sekolah sekarang harus dapat memberikan pelayanan prima kepada masyarakat agar eksistensinya terjaga dalam kehidupan masyarakat dan selanjutnya hal tersebut merupakan bentuk kesadaran tugas dan kewajiban sebagai institusi penyelenggara pendidikan dan pembelajaran. Sekolah harus selalu mengikuti setiap pola kehidupan masyarakat. Sekolah harus dapat membaca setiap peluang yang dapat memberikan kemudahan kepada anak didik untuk survive dalam kehidupannya. Kita harus selalu berpikir bahwa input yang kita dapat dalam proses pendidikan dan pembelajaran harus dapat menjadi output yang berkualitas. Lulusan sekolah kita harus ‘terpakai’ dalam kehidupan masyarakat.&lt;br /&gt;Lulusan yang kita hasilkan dari proses pendidikan dan pembelajaran haruslah dapat menjadi outcome, tidak sekedar output sebagaimana selama ini. Mereka hanya memperbanyak jumalh lulusan yang tidak berarti bagi masyarakat. Pendidikan plus yang kita selenggarakan mempunyai konsekuensi logis seperti itu. Anak didik yang telah menyelesaikan masa pendidikan dan pembelajaran di sekolah kita harus mempunyai kompetensi lebih baik dari lulusan sekolah lain. Jika anak didik harus meneruskan masa pendidikannya, maka kompetensi tersebut dapat memberinya kemudahan dalam mengikuti ujian masuk ke perguruan tinggi. Jika ternyata anak didik harus memasuki dunia kerja, maka dengan kompetensi plus yang didapatkan dari proses pendidikan dan pembelajaran, maka anak didik tidak perlu bersaing ketat dengan calon tenaga kerja dari sekolah lain. Bahkan, hal terpenting yang selalu kita tekankaan kepada anak didik adalah kemandirian. Kita selalu menekankan kepada anak didik agar mereka berani mandiri dalam hidup sehingga tidak mempunyai ketergantungan pada orang lain.&lt;br /&gt;Dan, proses pendidikan kita memang seharusnya menggarap kembali aspek kemandirian pada jiwa anak didik agar mereka menyadari bahwa sebenarnya mereka mempunyai kemampuan. Kemampuan tersebut tinggal mengasah dan mereka mempunyai kemampuan untuk menghadapi kehidupan dengan baik.&lt;br /&gt;Pendidikan Berbasis Kecakapan Hidup (Life Skill)&lt;br /&gt;Di dalam UU Sisdiknas Bab II, pasal 3 dituliskan, “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak………berakhlak mulia, sehat, cakap, kreatif, mandiri…”. Selanjutnya dilengkapi pada Bab III pasal 4 ayat 3, : Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran”.&lt;br /&gt;Jelas bagi kita bahwa sebenarnya pendidikan yang kita selenggarakan telah dibuatkan sebuah koridor yang jelas yaitu kreativitas dan kemandirian. Anak-anak diberikan satu bimbingan agar kreatif sehingga tumbuh suatu kemandirian dalam kehidupannya. Kreativitas dan kemandirian merupakan satu kesatuan integral yang sinergis. Hal ini sangat penting sebab tuntutan kehidupan atas kedua hal tersebut memungkinkan kemampuan survive terhadap kehidupan ini.&lt;br /&gt;Kreativitas dan kemandirian merupakan dua sisi mata uang. Ketika kreativitas tumbuh dengan suburnya, maka pada saat itu pula kemandirian mengiringi sebagai follow up dari segala hal yang dihasilkan oleh kreativitas tersebut. Pada jaman sekarang, kreativitas dan kemandirian sangat penting sebab pola kehidupan memang menuntut untuk bersikap seperti itu. Kreativitas dan kemandirian menjadi brandingself bagi setiap orang dalam kehidupan bermasyarakat.&lt;br /&gt;Persaingan hidup yang serba ketat dan sedikitnya lapangan kerja menyebabkan setiap orang harus berusaha untuk dapat survive dengan kemampuan yang dimilikinya. Mereka harus dapat menciptakan sesuatu yang berguna untuk dirinya dan masyarakat. Hal ini mengingat semakin lama kebutuhan masyarakat atas kreasi atau barang-barang semakin beragam. Barang-barang tersebut  untuk memenuhi kebutuhan estetis ataupun untuk meringankan beban kehidupan. Kita berkecenderungan untuk hidup serba ringan, mudah sehingga dibutuhkan alat-alat penunjangnya. &lt;br /&gt;Pendidikan berbasis kecakapan hidup merupakan satu program pendidikan yang mengedepankan upaya pembekalan anak atas beberapa keterampilan khusus sehingga mempunyai kemampuan menghadapi hidup. Dengan program ini, maka diharapkan anak didik mempunyai kemampuan yang dapat dijadikan sebagai bekal hidup. Bekal tersebut diarahkan agar anak didik dapat melakukan sesuatu yang berguna untuk dirinya dan masyarakatnya.&lt;br /&gt;Pada jaman sekarang, dimana pola kehidupan global telah menguasai setiap lapisan masyarakat, maka setiap elemen masyarakat harus mempunyai keterampilan khusus untuk bertahan hidup. Kita harus mempunyai nilai plus pada diri kita agar dapat menjalani hidup sebaik-baiknya. Untuk itulah, maka bekal yang kita miliki-pun harus plus, bekal plus tersebut dapat kita peroleh dari proses pendidikan dan pembelajaran yang mengedepankan pendidikan berbasis kecakapan hidup, life skill. Dengan pendidikan berbasis kecakapan hidup ini, maka anak didik mempunyai kemampuan untuk menghadapi kehidupan ini. Program pendidikan berbasis kecakapan hidup merupakan program yang memberikan muatan khusus pada mata pelajaran sehingga dengan muatan khusus tersebut, maka mereka tidak hanya menerima pengetahuan, sikap, tetapi yang terpenting adalah keterampilan aplikatif dari materi pelajaran mereka.&lt;br /&gt;Pengertian berbasis kecakapan hidup tidak lain adalah setiap materi pendidikan dan pembelajaran diberikan muatan aplikatifnya untuk kehidupan. Dengan muatan aplikatif inilah sebenarnya kita mencoba untuk mengantisipasi kondisi anak setelah menyelesaikan masa pendidikannya. Kita tidak ingin anak-anak menjadi kelompok pengangguran terdidik, melainkan menjadikan mereka sebagai sosok-sosok kreatif yang mandiri. Hal ini karena untuk jaman sekarang ini kreativitas merupakan sumber penghasilan yang paling aplikatif bagi kehidupan.&lt;br /&gt;Sudah saatnya kita mengembangkan pola pendidikan dan pembelajaran yang menggarap kreativitas dan kemandirian sebagai muatan utamanya. Sudah saatnya kita mengembalikan proses pendidikan dengan mendekatkan anak didik pada kebutuhan hidup. Kita melihat bahwa kesempatan anak untuk langsung berperan dalam kehidupan masyarakat jauh lebih efektif dibandingkan kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Jaman persaingan global mengharuskan setiap orang untuk selalu siap menghadapi berbagai kondisi kehidupan. Dan, guru atau sekolah melakukan proses pendidikan dengan mengkolaborasikan pengetahuan, sikap dan psikomotor secara sinergis dalam sebuah pembelajaran.&lt;br /&gt;Memang, proses pendidikan dan pembelajaran merupakan proses pengantaran anak didik menuju kondisi terbaik bagi kehidupannya. Hal ini merupakan amanat penting bagi sekolah, guru dan dunia pendidikan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Kita meyakini bahwa dunia pendidikan telah menjadi menara api, menara air, dan menara emas yang mampu memikat setiap orang untuk berkerumun di sekitarnya. Mereka berusaha untuk mendapatkan manfaat bagi setiap menara tersebut dan selanjutnya menebarkannya sebagai sumber penghasilan hidupnya.&lt;br /&gt;Begitulah yang hendak kita capai ketika memutuskan untuk menerapkan program pendidikan berbasis kecakapan hidup. Oleh karena itu, maka diperlukan komitmen dan konsistensi serta kemauan dan kemampuan menerima konsekuensi dari semua program yang sudah disepakati. Jika kita mampu memposisikan diri sebagaimana seharusnya, maka tentunya program dapat dilaksanakan dan berhasil mencapai visi dan misi yang diusung bersama.&lt;br /&gt;Mngelola sekolah plus untuk pendidikana berbasis kecakapan hidup merupakan bentuk kesadaran dan apresiasi positif kita kepada dunia pendidikan dan kehidupan pada umumnya. Hanya dengan menyelenggarakan sekolah plus, maka bekal anak didik dapat seutuhnya. Dan, dengan bekal seutuhnya ini, maka hal tersebut memungkinkan anak didik survive dalam kehidupannya. Selanjutnya hal tersebut mencegah terjadinya penambahan jumlah pengangguran terdidik secara signifikan. Sehingga kedepannya anak didik kita mampu bersaing dengan anak dari negara lainnya. Dan, anak didik kita menjadi sosok-sosok panutan bagi anak lainnya. Semoga.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-698065432279913363?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/698065432279913363/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=698065432279913363' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/698065432279913363'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/698065432279913363'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2010/02/mengelola-sekolah-plus-untuk-pendidikan.html' title='Mengelola Sekolah Plus untuk Pendidikan Berbasis Kecakapan Hidup'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-4280001330211439449</id><published>2010-01-31T04:50:00.000-08:00</published><updated>2010-03-10T22:10:29.350-08:00</updated><title type='text'>Mendidik dengan Emosi</title><content type='html'>Pendidikan dan pembelajaran merupakan kegiatan dengan ranah yang terkait dengan kondisi kejiwaan. Setiap peserta didik mempunyai dasar yang berbeda sehingga perlu penanganan yang berbeda pula. Setiap guru harus mampu memfasilitasi anak didik dalam belajar sesuai dengan kondiri anak didik, termasuk dalam hal ini kejiwaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pendidikan dan pembelajaran tidak terlepas dari keberperanannya emosi para pelakunya. Hal ini karena konsep dasar pendidikan dan pembelajaran adalah mengelola emosi dan attitude sehingga dapat menjadi lebih baik dari sebelumnya. Tidak heran jika seseorang telah mengikuti dan menjalani proses pendidikan, maka kualitas emosi dan attitudenya lebih baik dari yang tidak berpendidikan.&lt;br /&gt; Pada awal proses pendidikan dilaksanakan, tingkat kualitas emosional seseorang masih labil sehingga mudah mengalami pergeseran, friksi &lt;span class="fullpost"&gt;dan hal tersebut menyebabkan masa tersebut sangat riskan bagi kehidupan. Kita tidak menutup mata, bahwa peranan pendidikan memang sangat menentukan tingkat kualitas emosional seseorang. Kestabilan kondisi seseorang tergantung pada kemampuannya mengelola emosionalnya. Semakin mampu mengelola, maka semakin stabil kondisinya.&lt;br /&gt;Dan, dunia pendidikan telah menjadi harapan utama setiap orang, bahkan masyarakat menyerahkan proses peningkatan kualitas emosional pada dunia pendidikan. Orang tua begitu percaya pada institusi sekolah untuk mendidik anak-anak mereka agar lebih baik. Mereka menyerahkan proses pendidikan kepada sekolah, khususnya para pendidiknya.&lt;br /&gt;Menyadari bahwa dunia pendidikan telah mendapatkan kepercayaan yang begitu besar dari masyarakat, maka berbagai upaya dilakukan untuk dapat menjalankan tugas dan kewajiban tersebut dengan sebaik-baiknya. Berbagai inovasi diterapkan agar peserta didik benar-benar mendapatkan segala hal yang menjadi jatah pembelajarannya.&lt;br /&gt;Pada posisi ini, peranan guru sebagai fasilitator memang sangat menentukan sebab konsep pembelajaran yang berpusat pada anak didik sangat signifikan dengan kondisi saat sekarang. Dahulu memang, guru dijadikan sebagai pusat kegiatan belajar sebab dianggap sebagai sumber belajar satu-satunya. Tetapi pada saat sekarang, hal tersebut sudah tidak relevan lagi sebab untuk dapat memperoleh materi pelajaran, anak didik dapat memperoleh dari berbagai sumber. Ada banyak sumber yang dapat dijadikan sebagai ‘guru’ untuk pengembangan dan peningkatan kualitas SDM.&lt;br /&gt;Dalam konteks seperti inilah, maka peranan guru di dalam proses pendidikan tidak hanya terbatas pada proses yang bersifat fisik, melainkan juga bersifat emosional. Bagi anak didik, eksistensi guru sedemikian rupa sehingga selalu menjadi sosok panutan untuk setiap kegiatan dan kata-kata yang disampaikan oleh guru. Oleh karena itulah, maka proses pendidikan tidak cukup hanya dilandasi oleh sikap komunikasi fisik semata. Mereka membutuhkan kondisi interaksi antar personal yang lebih spesial dengan kedekatan emosional yang lekat sehingga menumbuhkan kenyamanan pada saat belajar.&lt;br /&gt;Kenyamanan pada saat belajar dapat tercipta jika guru dapat menyelami emosional anak didik dan menyeimbangkan emosional dirinya dengan kondisi tersebut. Emosional bukan berarti kemarahan, melainkan secara kejiwaan guru lebur dengan anak didik. Guru secara emosional, secara psikis lebur dengan jiwa anak didik sehingga dapat menyeimbangkan posisi emosional dan membentuk jembatan penghubung antara jiwa anak didik dengan jiwa sang guru. Oleh karena itulah, pada saat melaksanakan proses pendidikan dan pembelajaran, guru harus melakukannya dengan menyertakan emosionalnya secara utuh sehingga proses pembelajaran dapat tuntas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru dan Emosi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kenyataannya bidang garapan yang harus dilaksanakan oleh guru adalah memberi bimbingan dan arahan kepada anak didik di dalam proses pendidikannya. Guru harus dapat memberikan bantuan, baik berupa bimbingan, arahan ataupun fasilitasi kepada anak didik sehingga tidak mengalami kesulitan dalam proses belajarnya.&lt;br /&gt;Proses pembelajaran adalah suatu interaksi personal yang dilakukan secara sadar dan sistematis untuk melakukan perubahan kompetensi diri. Interaksi personal terjadi antara guru – guru, guru - anak didik, dan anak didik – anak didik. sementara kita menyadari bahwa setiap personal mempunyai latar belakang yang berbeda.&lt;br /&gt;Perbedaan latar belakang ini tentu saja memberikan konsekuensi logis pada upaya penyamaannya, penyesuaiannya. Setiap personal dituntut untuk dapat menyesuaikan diri pada kondisi yang terjadi ataupun yang ingin dicapai dalam proses belajar tersebut. Hal ini merupakan konsep daar dari proses pembelajaran, yaitu berusaha untuk menyesuaikan kompetensi diri dengan kompetensi yang dipelajari.&lt;br /&gt;Terkait dengan interaksi personal ini, maka agar proses penyesuaian diri dapat dicapai, maka perlu kesadaran diri dalam melakukananya. Dan, kesadaran tersebut melibatkan emosi diri. Emosi diri dapat kita artikan secara bebas sebagai bentuk atau perwujudan diri secara utuh, yaitu fisik maupun psikis seseorang. Seseorang yang sedang belajar, maka dia harus melibatkan dirinya secara utuh, baik fisiknya maupun psikisnya.&lt;br /&gt;Dan sebagai fasilitator belajar, maka penguasaan emosi bagi guru sangatlah penting. Dengan penguasaan emosi ini, maka setidaknya guru dapat mengelola emosi tersebut untuk tujuan memberikan pendampingan dan arahan pada anak didik serta memberi bantuan secara utuh saat anak didik mengalami kesulitan belajar.&lt;br /&gt;Pada saat melaksanakan tugas dan kewajibannya, guru berhadapan dengan anak didik yang mempunyai bekal kepribadian yang beragam. Anak didik dengan kepribadian yang beragam ini juga menuntut guru menyesuaikan dirinya sehingga dapat memahami tingkat kemampuan anak didiknya. Hal ini sangat penting sehingga pada saat mengajar, guru tidak menjadi sosok yang kaku atau menakutkan bagi anak didik.&lt;br /&gt;Interaksi personal yang tercipta antara guru dan anak didik dalam proses pembelajaran memang satu bentuk interaksi yang unik. Ada satu aspek penting yang harus tercipta di dalam interaksi tersebut sehingga bukan sekedar interaksi semata. Jenis interaksi yan terjadi pada saat proses pembelajaran adalah interaksi edukatif, yaitu interaksi yang berisi proses pendidikan dan belajar. Interaksi ini bersifat edukatif, artinya interaksi tersebut diutamakan pada segala aspek yang terkaiat dengan proses pendidikan dan belajar bagi anak didik dan juga guru.&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, maka eksistensi emosi dalam proses pendidikan dan belajar sangat penting dan menentukan keberhasilan proses. Dengan tingkat pengelolaan emosi yang baik oleh guru, maka proses yang dijalankan diyakini dapat maksimal.&lt;br /&gt;Peranan Emosi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pembelajaran diarahkan untuk menciptakan atau mengkondisikan sikap dan pola hidup anak didik sehingga selaras dengan kehidupan masyarakat secara luas. Dengan belajar, maka seseorang dapat melakukan penyesuaian kondisi diri. Di dalam proses belajar, setiap saat anak didik mendapatkan materi pembelajaran terkait dengan hdiupnya.&lt;br /&gt;Sementara proses pembelajaran dilaksanakan di dalam suatu interaksi yang berisi proses pendidikan atau disebut juga interaksi edukasi. Dalam interaksi edukasi inilah beberapa aspek diajarkan kepada anak didik secara sistematis sehingga terjadi perubahan yang signifikan.&lt;br /&gt;Bahwa proses belajar merupakan proses perubahan. Seseorang yang mengikuti proses belajar sebenarnya berusaha untuk melakukan perubahan pada dirinya. Perubahan ini diarahkan agar terjadi penyesuaian dan keseimbangan dunia dalam diri dengan dunia di luar diri. Terkait dengan dunia dalam diri merupakan satu kondisi khusus yang secara alami sudah disiapkan pada diri masing-masing. Bahwa setiap orang mempunyai kemampuan untuk mengelola dirinya.&lt;br /&gt;Pengelolaam terhadap diri sendiri dapat dilakukan selama proses kehidupan setiap orang. Selama kehidupan, seseorang selalu melakukan proses belajar sehingga dirinya mempunyai kemampuan mengendalikan dirinya sehingga dapat menumbuhkan sikap hidup yang lebih baik. Bahwa proses perubahan pada diri merupakan tanggungjawab dan secara alami sudah dimiliki oleh semua orang. Setiap orang selalu berusaha agar dirinya mempunyai kompetensi yang melebih orang lain.&lt;br /&gt;Proses belajar yang dilaksanakan oleh manusia pada dasarnya diimbangi oleh penyiapan kondisi diri dalam segala aspek, termasuk dalam hal ini aspek emosi. Aspek emosi berperan saat melakukan proses adaptasi terhadap setiap hal baru yang dihadapi oleh diri. Hal ini merupakan peleburan diri sehingga proses penyerapan pengetahuan, sikap dan keterampilan dapat terjadi secara maksimal.&lt;br /&gt;Peranan emosi di dalam proses pembelajaran memang sangat penting sebab proses belajar diarahkan untuk pengkondisian diri peserta didik. Dan, pengkondisian inilah sebenarnya prinsip dasar pembelajaran. Pada saat guru mengajar, mendidik, maka pada saat tersebut dia berusaha untuk mengkondisikan peserta didik agar sesuai dengan yang diharapkan oleh proses tersebut.&lt;br /&gt;Emosi adalah bagian dasar dari proses pembelajaran. Tanpa kesertaan emosi, maka proses tidak dapat terjadi. Bahkan, dalam segala kegiatan, Peranan emosi sangat penting sebab setiap kegiatan adalah bentuk interaksi personal dengan dunia luarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendidiklah dengan Emosi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak didik adalah subyek belajar di dalam proses pembelajaran. Mereka mengikuti proses pembelajaran karena ingin melakukan reformasi atas kondisi yang ada di dalam dirinya. Kondisi yang dimaksudkan adalah ketidakbisaan menjadi penguasaan maksimal pada satu atau beberapa kompetensi.&lt;br /&gt;Setiap kompetensi yang diajarkan oleh guru kepada anak didik didasarkan pada tujuan yang hendak dicapai oleh anak didik dan proses pendidikan secara umum. Kompetensi inilah yang sebenarnya merupakan aspek penting pembelajaran pada saat sekarang ini. Kita harus menguasai satu atau beberapa kompetensi jika ingin menghadapi kehidupan dengan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt; Untuk dapat memberikan kompetensi yang benar-benar sesuai, maka seorang guru harus mempunyai kemampuan untuk memfasilitasi proses pembelajaran. Hal ini karena, sampai sekarang posisi guru belum dapat melepaskan konsep lama, yaitu bahwa pusat pembelajaran ada di guru. Konsep ini jelas sangat bertentangan dengan konsep dasar pembelajaran sebab sebenarnya yang sedang melakukan proses belajar adalah anak didik sehingga guru hanyalah memfasilitasi kebutuhan belajar bagi anak didiknya. Guru adalah fasilitator pendidikan dan bukan sentral dari proses pembelajaran.&lt;br /&gt; Oleh karena kondisi tersebut, maka seorang guru harus dapat menyesuaikan dirinya dengan kondisi anak didik. Sebagai fasilitator, maka guru tidak boleh membawa situasi dirinya kepada anak didik. Artinya guru tidak boleh memaksa mmbawa anak didik ke dalam kondisi dirinya, melainkan guru yang harus memasuki kondisi anak didiknya. Seperti konsep quantum teaching, bahwa di dalam proses pembelajaran, kita harus membawa dunia anak ke dalam dunia kita dan bukan membawa dunia kita ke dunia anak-anak. Sebab anak-anak bukanlah orang dewasa dalam ukuran kecil! Gaya mengajar guru adalah gaya belajar anak didik. Kita, guru yang harus menyesuaikan diri dengan kondisi anak didik dan bukan anak didik yang dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan kondisi guru.&lt;br /&gt;Ya. Kita harus dapat berposisi sebagaimana posisi anak didik dan tidak memaksa anak didik untuk memasuki dunia kita. Jika hal tersebut kita lakukan, maka anak didik masih belum mempunyai kemampuan untuk beradaptasi dengan dunia kita. Kita yang harus selalu beradaptasi dengan dunia anak-anak. Kita yang harus selalu mengikuti kondisi anak didik dan tidak memaksa anak-anak untuk mengikuti kondisi diri kita.&lt;br /&gt; Kita yang mendidik kita, maka kita yang harus memasuki dunia mereka dan melakukan perombakan dari dalam dunia mereka. Hal tersebut yang seharusnya dilakukan dan bukan memaksa anak didik mengikuti dunia kita. Sangatlah sulit jika kita harus memposisikan anak didik sebagaimana posisi kita sebab dunia anak didik sangat berbeda dibandingkan dengan dunia orang dewasa.&lt;br /&gt;Sudah seharusnya guru di dalam melaksanakan proses pembelajaran menyertakan emosinya, perasaannya sehingga terjalin satu ikatan atau interaksi yang sinergis antara guru dan anak didik. Selama ini yang terjadi adalah adanya jarak yang membentang di antara guru dan anak didik sehingga komunikasi yang dibangun tidak dapat efektif. Tanpa kehadiran emosi, perasaan, maka interaksi yang terbangun hanyalah interaksi umum. Sementara kita menyadari bahwa interaksi guru dan anak didik adalah interaksi edukasi, yaitu interaksi yang didasarkan pada tujuan pendidikan sehingga terjadi perubahan signifikan pada pengetahuan, keterampilan dan pola hidup anak didik. Jika seorang guru mampu membangun satu interaksi edukasi dikelas pembelajarannya, maka secara langsung tercipta satu interaksi yang melibatkan emosi secara utuh.&lt;br /&gt;Interaksi antara guru dan anak didik memang satu bentuk interaksi yang spesial (special interaction), dimana pelibatan emosi sangat menentukan kualitas interaksinya. Bahwa interaksi guru dan anak didik merupakan upaya peleburan dua kondisi sehingga didapatkan satu kondisi khusus, yaitu terciptanya kemudahan bagi anak didik untuk belajar. Jika salah satu pihak tidak melibatkan emosinya, maka hasil proses interaksi tidak dapat dicapai. Bahkan kegagalan proses pendidikan isebabkan oleh ketiadaan emosi di dalam pelaksanaan proses.&lt;br /&gt;Emosi adalah jiwa dan perasaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam proses pendidikan, dua elemen penting berinteraksi langsung untuk dapat mencapai tujuannya. Interaksi yang terjadi adalah interaksi personal sehingga seringkali menimbulkan konflik atau friksi yang tidak diinginkan. Hal ini karena masing-masing personal mempunyai pola pemikrian dan sikap yang berbeda sehingga pada saat interaksi dapat menimbulkan perbedaan pendapat atau misunderstanding. Kondisi ini sangat rawan bagi sebuah interaksi positif seperti proses pendidikan.&lt;br /&gt;Jika antara guru dan anak didik terjadi misunderstanding, tentunya hal tersebut berdampak negatif terhadap proses belajar yang dilaksanakan. Sementara kita menyadari bahwa di dalam proses pembelajaran eksistensi guru dan anak didik adalah sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan dan keduanya berinteraksi sebagai sosok yang saling membutuhkan. Jika ternyata diantara keduanya terbentang jarak akibat misunderstanding, tentunya hal tersebut tidak mendukung eksistensi mereka.&lt;br /&gt;Interaksi antara guru dan anak didik memang suatu interaksi khas. Interaksi tersebut terjalin sedemikian rupa sehingga komunikasi mereka tidak hanya secara fisik melainkan secara psikis juga. Di dalam proses pembelajaran, anak didik dan guru berinteraksi sebagai pribadi dengan kegiatan nyata secara fisik, tetapi pada saat itu pula terjadi proses interaksi secara psikis sebab guru menggarap aspek psikis anak didik. Bahwa guru tidak hanya mengajar, yaitu memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada anak didik, melainkan juga memberikan pendidikan sikap dan nilai-nilai positif kehidupan bermasyarakat.&lt;br /&gt;Pada setiap kegiatan yang dilakukan oleh guru dan anak didik, terpancar sebagai bentangan benang merah yang menghubungkan antar pribadi sebagai sosok-sosok yang unik. Untuk keunikan tersebut, perlu ditangani dengan penuh perasaan. Kita tidak hanya mengarahkan anak-anak dalam koridor mengejar pengetahuan dan keterampilan, melainkan juga nilai-nilaipositif kehidupan atau norma-norma kehidupan. Dan, guru mempunyai tanggungjawab dan kewajiban untuk membimbing, memfasilitasi kebutuhan tersebut.&lt;br /&gt;Dalam koridor inilah, kita dapat mengetahui bahwa untuk dapat memfasilitasi kebutuhan belajar dan pendidikan anak didik, maka kehadiran guru tidak hanya sebatas fisik, melainkan juga psikis. Dan, komunikasi secara psikis merupakan pendekatan seutuhnya dalam proses pendidikan. Dengan melakukan pendekatan psikis, sebenarnya kita sudah memasuki dunia paling pribadi pada anak didik. Jika kita berhasil memasuki dan menguasai dunia paling pribadi pada anak didik, tentunya anak didik menjadi sosok yang menyadari tugas dan kewajibannya dalam proses belajar.&lt;br /&gt;Sebagai pembimbing belajar, maka peranan perasaan sangat menentukan keberhasilan proses pendidikan dan pembelajarannya. Guru yang menyertakan perasaannya pada saat melaksanakan proses pendidikan memungkinkan keberhasilan menyentuh kesadaran anak didik. Dalam hal ini, guru harus dapat memasuki jiwa dan perasaan anak didik agar keberhasilan proses belajar dapat maksimal.  Kondisi ini memungkinkan tumbuh dan berkembangnya kesadaran dari dalam diri anak didik. kesadaran dari dalam diri anak didik dipercaya dapat menjadi motivator terbaik untuk pengembangan kompetensi dirinya.&lt;br /&gt;Guru memang harus mengedepankan emosi, perasaan saat pembimbingan anak didik belajar sebab dengan cara seperti ini, maka proses pendekatan dan pendampingan belajar dapat maksimal sebab tercipta benang merah antara guru dan anak didik. Benang merah perasaan ini merupakan penghubung efektif dalam sebuah interaksi, apalagi interaksi edukasi. Edukasi adalah kegiatan terkait dengan perasaan, sehingga untuk hal tersebut berarti kita harus menyertakan perasaan saat menjalankan semua itu. Obyek kerja pendidikan adalah adaptif dan normative, maka setiap guru harus menyertakan perasaannya saat melaksanakan proses pendidikan dan pembelajaran. Hal ini sangat penting sebab bidang garapan guru adalah anak didik yang tentunya mempunyai kondisi kejiwaan yang berbeda. Dengan melaksanakan proses pendidikan dan pembelajaran berbasis jiwa dan perasaan, maka diyakini terjalin ikatan batin dan tercipta interaksi aktif yang mengalir lancar. Artinya, proses pembelajaran berlangsung sebagaimana program yang sudah disusun oleh guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emosi bukanlah emosional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks pembelajaran, basis emosi yang kita maksudkan dalam hal ini adalah perasaan yang dilandasi oleh rasa kasih sayang dan cinta. Guru yang mengajar dengan berlandaskan emosi artinya mengajar dengan penuh kasih sayang dan cinta kepada anak didiknya. Dengan demikian, maka terjalin ikatan batin yang kuat antara guru dan anak didik yang selanjutnya mampu menjadi jembatan penghubung antar pribadi agar ada saling peduli. Rasa saling peduli inilah yang selanjutnya diharapkan menjadi tenaga pendorong semangat belajar anak didik dan semangat mengajar guru.&lt;br /&gt;Sementara emosional kita artikan sebagai kondisi penuh emosi negative yang meledak-ledak. Emosi yang meledak-ledak ini selanjutnya kita katakan sebagai kemarahan sehingga aspek yang muncul adalah negative. Guru tidak boleh emosional saat membimbing anak didiknya. Emosional berarti emosi yang berlebih dan bersifat negative ini merupakan racun yang mematikan kreativitas dan kemampuan belajar anak didik. Guru yang emosional adalah para algojo yang dengan kapak tajamnya siap membantai para pesakitan yang mengerang kesakitan dan sesambat kesakitan.&lt;br /&gt;Tentunya sebagai pelaku pendidikan, yang dalam hal ini berusaha untuk mempositifkan kondisi anak didik, maka guru harus bertindak positif untuk anak didiknya. Guru harus melaksanakan tugas dan kewajibannya secara proporsional. Apapun yang dilakukan oleh guru harus dapat menggambarkan sikap sosok yang melindungi dan mengarahkan anak didiknya. Bukan malah sebaliknya, menghancurkan anak didiknya.&lt;br /&gt;Maka, guru yang melaksanakan proses pembelajaran di kelas jangan dibarengi apalagi dilandasi oleh kondisi emosional yang negative. Bidang garapan guru adalah mengubah hal-hal negative yang ada dalam diri anak didik sehingga dapat menjadi hal-hal positif yang berguna bagi kehidupan masa depan anak didik. Proses pendidikan adalah proses positif untuk menghapus hal negative yang berkembang di lingkungan hidupnya.&lt;br /&gt;Proses pendidikan memang harus melibatkan emosi kedua pihak seutuhnya, artinya mereka yang terlibat secara langsung dalam proses seharusnya melaksanakan tugas dan kewajibannya secara proporsional, tidak hanya terbatas secara fisik, melainkan juga secara psikis. Dan, inilah yang sesungguhnya menjadi landasan untuk dapat menyelenggarakan proses pendidikan dengan sebaik-baiknya. Hanya dengan pelibatan aktif emosi dalam proses pendidikan, maka terjalin sebuah interaksi social yang bermanfaat bagi proses pendidikan anak.&lt;br /&gt;Mengajar dengan emosi bukanlah mengajar dengan emosional. Kita harus dapat membedakan kedua hal tersebut dengan sebaik-baiknya agar tidak terjebak pada kesalahan persepsi dan akhirnya menjadikan kita menyesalinya. Emosi yang kita maksudkan dalam hal ini adalah upaya menyertakan perasaan dalam kegiatan pembelajaran sehingga terjalin sebuah jembatan. Jembatan inilah yang diharapkan dapat menjadi penghubung rasa antara guru dan anak didik.&lt;br /&gt;Dalam proses pendidikan dan pembelajaran, jembatan penghubung rasa ini sangat penting sebab yang terjadi adalah interaksi antar personal. Interaksi antar personal ini dapat terjadi dengan sebaik-baiknya jika antar personal dapat tercipta satu perasaan. Kita menyadari bahwa setiap personal mempunyai dasar sikap dan perasaan yang berbeda sehingga jika keduanya berinteraksi, maka seharusnya mereka mempunyai persepsi yang sama.&lt;br /&gt;Agar proses pendidikan dan pembelajaran dapat berlangsung maksimal, tentunya harus ada keterikatan rasa antara pendidik dan pedidik. Keterikatan rasa inilah yang selanjutnya menjadi jembatan penghubung terbaik. Bahwa keterikatan rasa ini memungkinkan terciptanya satu interaksi yang benar-benar edukatif.&lt;br /&gt;Sekali lagi dalam hal ini yang kita maksudkan emosi bukanlah emosional. Pada saat kita membimbing belajar anak didik, maka yang terutama harus kita kedepankan adalah emosi (rasa), bukan emosional. Dengan rasa, maka kita dapat melakukan pendekatan kepada anak didik, tetapi jika kita melakukannya dengan emosional, tentunya hasilnya bertolak belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memeprhatikan berbagai hal yang terjadi pada saat kita melakukan proses pendidikan dan pembelajaran, maka setidaknya kita sangat menyadari bahwa untuk mencapai keberhasilan dalam proses pendidikan dan pembelajaran, maka kita harus menciptakan jembatan penghubung antar rasa, guru dan anak didik. Jembatan inilah yang selanjutnya dapat mengantar pada keberhasilan. Mendidiklah dengan emosi berarti mendidiklah dengan perasaan dan jangan dengan emosional.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-4280001330211439449?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/4280001330211439449/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=4280001330211439449' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/4280001330211439449'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/4280001330211439449'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2010/01/mendidik-dengan-emosi.html' title='Mendidik dengan Emosi'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-5840198003421413724</id><published>2010-01-31T04:49:00.001-08:00</published><updated>2010-03-10T22:11:38.251-08:00</updated><title type='text'>Menerapkan Kompetensi Keahlian dalam Kehidupan</title><content type='html'>Salah satu aspek penting yang diharapkan dapat menjadi bekal kehidupan anak setelah menyelesaikan pendidikan di sekolah adalah keterampilan yang aplikatif. Hal ini sangat erat dengan kenyataan bahwa anak-anak yang mengikuti proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah kejuruan mempunyai visi untuk menjadi tenaga kerja yang kompeten pada bidangnya. Visi ini sejalan dengan konsep penyelenggaraan  pendidikan kejuruan, yaitu menciptakan sumber daya manusia &lt;span class="fullpost"&gt;yang terampil dan siap bekerja sebagai tenaga kerja kelas menengah. Anak-anak yang bersekolah di sekolah kejuruan memang diarahkan menjadi pribadi-pribadi mandiri sebagai tenaga kerja, baik sebagai tenaga di bengkel-bengkel orang atau di bengkel miliknya sendiri, berwirausaha.&lt;br /&gt;Pentingnya Kompetensi Keahlian Anak Didik&lt;br /&gt;Sumber daya manusia merupakan sosok-sosok penting yang secara langsung menangani setiap masalah kehidupan.  Sementara permasalahan hidup semakin hari semakin krusial dan rumit sehingga perlu orang-orang yang mempunyai kemampuan untuk menyelesaikannya. Kesulitan ini jika tidak segera diselesaikan, tentunya berdampak negative atas seluruh tatanan kehidupan. Jika jumlah orang-orang yang mampu banyak, tentunya dapat menyelesaikan masalah sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;Dan, sekolah sebagai institusi formal penyelenggara proses pendidikan dan pembelajaran mempunyai peranan yang sedemikian rupa sehingga kebutuhan sumber daya manusia yang kompeten harus segera dipenuhi. Sekolah harus menyelenggarakan proses pendidikan dan pembelajaran yang memungkinkan anak-anak menjadi orang-orang yang kompeten dalam, bidangnya. Kompeensi ini terutama dalam aspek keahlian yang mereka pelajari. Kompetensi keahlian inilah yang selanjutnya menjadi brandingself bagi anak didik dalam menghaapi kehidupan. Dengan brandingself inilah, maka eksistensi anak diakui oleh masyarakat dan selanjutnya hal tersebut memberikan kesempatan bagi anak mendapatkan pekerjaan dari masyarakat. Pekerjaan inilah yang menjadi sumber income kehidupan mereka dan keluarga.&lt;br /&gt;Kompetensi keahlian yang dimiliki anak didik memang sangat penting bagi proses survive anak dalam kehidupannya di masyarakat. Dengan kompetensi yang dimiliki, maka anak didik dapat melakukan berbagai kegiatan yang memberikan income financial bagi kehidupannya. Dengan demikian, maka anak tidak perlu kebingungan bekerja setelah menyelesaikan masa belajarnya di sekolah. Kompetensi keahlian inilah yang menjadi jembatan bagi anak untuk menyeberangi sungai kehidupan yang penuh gejolak. Kalaupun jembatan itu rusak, maka kompetensi tersebut dapat mengantarkan anak hingga keseberang sebab anak mempunyai kompetensi untuk berenang. Anak didik tidak perlu kebingungan mencari pekerjaan sebab dengan kompetensi yang dimiliki, maka banyak perusahaan yang membutuhkan keahlian tersebut atau anak-anak menerapkan konsep kerja mandiri, wirausaha dengan kompetensi keahlian yang dimilikinya tersebut.&lt;br /&gt;Setiap saat, banyak anak-anak yang menyelesaikan masa pendidikan dan pembelajarannya, itu berrati mereka secara serentak terjun ke masyarakat untuk bekerja, mencari pekerjaan atau menciptakan pekerjaan. Dua hal terakhir inilah yang selanjutnya menjadi pilihan akhir untuk anak-anak, berperan sebagai pencari pekerjaan ataukah menciptakan pekerjaan untuk dirinya dan atau orang-orang di sekitarnya. Semakin besar kompetensi keahlian anak didik, kesempatan untuk survive dalam hidup lebih besar pula. Semakin kompeten, berarti semakin terbuka kesempatan berperan aktif dalam kehidupan masyarakat. Dan, kondisi inilah yang sebenarnya kita harapkan dimiliki oleh anak didik sebagai hasil proses pendidikan dan pembelajaran.&lt;br /&gt;Menerapkan Kompetensi Keahlian dalam Kehidupan&lt;br /&gt;Permasalahan yang selanjutnya dihadapi oleh anak adalah setelah mereka menyelesaikan masa pendidikannya. Apa yang harus mereka lakukan setelah menyelesaikan amsa pendidikannya? Hal ini seringkali menjadi sesuatu fenomental bagi masyarakat. Dalam hal ini, jalan yang dituju oleh anak didik dapat dibedakan atas meneruskan pendidikan ke jenjang lebih tinggi ataukah langsung terjun ke masyarakat sebagai tenaga kerja.&lt;br /&gt;Untuk mereka yang melanjutkan masa pendidikan ke jenjang lebih tinggi, mungkin tidak begitu bermasalah sebab selanjutnya tugas mereka adalah belajar dan belajar. Tetapi, bagi mereka yang memutuskan langsung terjun ke dunia kerja, mungkin karena orangtua tidak mampu membiayai atau mereka merasa tidak mampu secara intelektualitas, maka kompetensi keahlian menjadi sesuatu yang sangat penting. Mereka harus dapat melakukan kegiatan  produktif yang memberikan income bagi kehidupannya.&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, maka hal terpenting yang harus dilakukan oleh anak didik, bahkan jauh sebelum mereka menyelesaikan masa pendidikannya adalah menerapkan kompetensi keahlian dalam kehidupannya. Penerapan kompetensi keahlian ini merupakan perwujudan dari upaya pemberdayaan sumber daya manusia secara maksimal. Hal ini sangat memungkinkan sebab segala aspek pendidikan dan pembelajaran yang diikuti oleh anak didik merupakan keterampilan yang secara langsung dapat diterapkan dalam kehidupan.&lt;br /&gt;Dan, kegiatan ini dijadikan sebagai satu keharusan atau program bersama antara pemerintah, sekolah, orangtua , anak didik, dan masyarakat. Dengan menjadikan hal ini sebagai program bersama, maka secara langsung tertanamkan kesadaran bahwa mereka memang harus melakukan hal tersebut jika ingin proses pendidikannya seutuhnya, artinya anak didik tidak hanya menguasai teori melainkan juga praktik dari materi pelajarannya. Anak didik benar-benar menjadi kelompok intelektualis muda (young inteligentsia) sekaligus sebagai ahli muda (young practised). Intelektualis muda memebrikan kesempatan untuk belajar lebih jauh, praktikan muda memberikan kesempatan anak untuk berkiprah dalam dunia kerja secara langsung.&lt;br /&gt;Sekolah kejuruan sebagai institusi penyelenggara  pendidikan, pembelajaran, sekaligus pelatihan keterampilan bagi anak didik memang mempunyai tanggungjawab yang besar dalam memberikan kesempatan anak untuk berkiprah aktif dalam kegiatan produktif. Kegiatan produktif inilah yang merupakan langkah penerapan kompetensi keahlian anak didik. Jika hal ini dilakukan, maka proses pembelajaran yang dilakukan di sekolah benar-benar memfasilitasi kesempatan anak didik untuk eksis dalam kehidupannya di masyarakat. Sekolah harus melaksanakan hal ini jika menginginkan anak didiknya menjadi sosok-sosok kreatif dan inovatif untuk kehidupannya. Menerapkan kompetensi keahlian dalam kehidupan menjadi cermin keberhasilan dunia pendidikan dalam mengelola proses mempersiapkan anak didik menjadi orang-orang yang berdaya bagi kehidupan.&lt;br /&gt;Pentingnya Kompetensi Keahlian Bagi Hidup&lt;br /&gt;Tingkat persaingan hidup semakin lama semakin ketat. Hal ini dapat kita ketahui dari kenyataan bahwa jumlah pencari kerja semakin banyak. Tingkat persaingan untuk mendapatkan pekerjaan terasa semakin sulit. Jika pada beberapa waktu lalu, kesulitan itu dialami oleh mereka yang berpendidikan rendah, sekarang ternyata berkembang hingga mereka yang berpendidikan tinggi.&lt;br /&gt;Jika pada jaman dulu, orangtua selalu mendorong anak-anaknya untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya dengan asumsi bahwa dengan semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka semakin terbuka kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang ringan tetapi memberikan hasil besar. Dan, pada saat itu hal tersebut memang sangat signifikan. Bakan pada saat tersebut, orang-orang dapat berpindah tempat kerja dengan begitu mudahnya. Mereka tidak perlu susah-susah mencari pekerjaan sebab tidak sedikit dari mereka yang bekerja karena panggilan dinas dari instansi tertentu. Mereka tidak perlu membuat lamaran kerja dan menawarkan kesana kemari. Saat itu pekerjaan yang mencari pekerja.&lt;br /&gt;Tetapi, untuk saat sekarang hal tersebut tidak menjamin bagi kita. Bahwa untuk saat sekarang ini kondisi mengalami perubahan yang sangat drastic sebab konsumen dan produsen sudah tidak seimbang. Lapangan pekerjaan dengan jumlah para pencari pekerjaan sudah sangat tidak seimbang. Satu lapangan pekerjaan harus direbut ribuan calon pekerja. Dengan demikian persaingannya semakin ketat. Mereka yang tidak siap untuk ikut bersaing, maka tersingkirkan dari antrian panjang para pencari pekerjaan. Dan, yang muncul sebagai pemenangnya adalah mereka yang mempunyai kemampuan, baik kemampuan intelektual, keterampilan dan mereka yang mempunyai kemampuan dalam sisi finansialnya.&lt;br /&gt;Dengan memperhatikan gambaran sederhana tersebut, setidaknya kita mengetahui bahwa tingkat persaingan di dunia kerja memang sangat ketat dan tidak semua orang mendapatkan kesempatan. Oleh karena itulah, maka perlu ada langkah-langkah konkrit untuk memberikan bekal aplikatif bagi kehidupan ini. dengan perubahan pola hidup menuju globalisasi dalam segala aspek, tentunya dibutuhkan orang-orang yang selalu siap dalam kondisi apapun. Kita tidak membutuhkan orang pandai tetapi hanya secara teoritis semata, tidak mempunyai keterampilannya terkait dengan kepandaiannya tersebut. Begitu juga, kita tidak butuh orang yang mampu secara praktik tetapi tidak mempunyai bekal teorinya. Sedapat mungkin, kita harus mengkondisikan adanya perimbangan antara teori dan praktik.&lt;br /&gt;Kompetensi keahlian untuk saat sekarang sudah menjadi satu kondisi yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Ada banyak contoh yang mengalami kegagalan dalam hidupnya sebab pada dirinya tidak ada kompetensi yang mampu dijadikan sebagai bekal kehidupannya. Mereka boleh pandai, tetapi sama sekali tidak mempunyai kemampuan, kompetensi sesuai dengan keahlian yang dibutuhkan oleh masyarakat. Akibat yang terjadi adalah mereka tersingkir dalam persaingan tenaga kerja. Cukup banyak calon pekerja yang gugur dan terjerebab dalam ketidakberdayaan saat harus bersaing dengan yang lainnya. Mereka mempunyai tingkat kepandaian yang tinggi tetapi, tidak didukung keterampilan yang memadai sehingga tidak dapat survive dalam kehidupannya.&lt;br /&gt;Tetapi hal tersebut sangat berbeda jika yang kita bicarakan adalah orang-orang dengan tingkat kompetensi diri yang tinggi. Walaupun mereka tidak pandai tetapi keterampilan yang mereka miliki merupakan bekal yang tidak ternilai harganya. Orang-orang dengan tingkat kompetensi tinggi masih mempunyai kesempatan untuk bekerja walaupun mereka tidak mendapatkan pekerjaan dari orang lain. Dengan kompetensi yang dimiliki, maka mereka dapat melakukan kegiatan-kegiatan produktif. Mereka tetap survive walaupun tidak perlu melamar pekerjaan. Mereka dapat menerapkan kompetensi dirinya untuk bertahan hidup.&lt;br /&gt;Disinilah pentingnya eksistensi kompetensi keahlian dimiliki oleh anak didik, sebab sebenarnya kehidupan ini hanya dapat berlangsung jika ada orang-orang yang mempunyai kemampuan untuk melakukan kegiatan produktif bagi masyarakatnya. Oleh karena itulah, maka kita sebagai pembimbing, fasilitator pendidikan dan pembelajaran anak didik seharusnya mulai mengarahkan kerangka proses pada pembekalan kompetensi keahlian bagi anak didik. berikan keterampilan sebanyak-banyaknya kepada anak didik agar mereka dapat survive dalam kehidupannya.&lt;br /&gt;Kompetensi Keahlian untuk Hidup&lt;br /&gt;Kompetensi keahlian adalah keistimewaan yang dimiliki seseorang dan menjadi brandingself. Kompetensi keahlian ini berbeda untuk setiap orang sebab semua tergantung pada kemampuan menyerap dan memahami aspek keahliannya. Semakin bagus tingkat pemahamannya, maka smakin bagus tingkat kompetensinya.&lt;br /&gt;Di dalam kehidupan, tuntutan atas kemampuan istimewa sangatlah penting sebab tingkat persaingan hidup semakin ketat.  Dengan pola kehidupan yang dinamis dan konsekuensi logis atas setiap kondisi yang dihadapi, maka setiap orang harus mempunyai ‘kartu As’ yang dapat dipergunakan untuk menghadapinya. Kartu As inilah yang menjadi cirri khas untuk setiap orang sehingga membedakannya dengan orang lain. Perbedaan inilah yang selanjutnya menjadi penentu posisi seseorang dalam kehidupan.&lt;br /&gt;Tentunya dalam hal ini, orang-orang yang mempunyai kompetensi tinggi menempati posisi baik dalam kehidupan sedangkan mereka yang tidak mempunyai kompetensi tersisih dan terpinggirkan. Selanjutnya hal ini membuka kesempatan bagi dirinya untuk bersaing mendapatkan segala hal yang dibutuhkan dlaam kehidupan.&lt;br /&gt;Jadi sebenarnya, kompetensi keahlian adalah sarana untuk hidup. Dengan memanfaatkan kompetensi keahlian yang kita miliki, maka kita dapat menghadapi kehidupan dengan sebaik-baiknya. Setiap permasalahan hidup dapat kita hadapi dan selesaikan dengan kompetensi keahlian yang kita miliki. Walaupun kompetensi keahlian sedemikian kecil, tetapi jika diterapkan sebaik-baiknya dan proprosional, maka hal tersebut dapat meningkatkan survive hidup. Misalnya menulis, jika kita mempunyai kompetensi menulis, maka menulis dapat kita jadikan sebagai sumber income kehidupan kita. Dengan menulis, maka banyak orang yang mampu bersaing dalam hidupnya dan bertahan dari kesulitan yang ada. Begitu juga dalam hal yang lain. Kompetensi keahlian yang kita miliki adalah untuk menghadapi hidup dan menyelesaikan setiap permasalahan yang ada dalam kehidupan. Itulah urgensinya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-5840198003421413724?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/5840198003421413724/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=5840198003421413724' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/5840198003421413724'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/5840198003421413724'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2010/01/menerapkan-kompetensi-keahlian-dalam.html' title='Menerapkan Kompetensi Keahlian dalam Kehidupan'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-5742512758102489481</id><published>2010-01-31T04:47:00.000-08:00</published><updated>2010-03-10T22:15:02.886-08:00</updated><title type='text'>Menciptakan Entrepreneur Muda dari Sekolah</title><content type='html'>Sekolah dalam bahasa Yunani dikatakan sebagai waktu luang. Selanjutnya pengertian ini mengalami sebuah perkembangan arti sebagai upaya untuk mengisi waktu luang dengan kegiatan-kegiatan positif untuk kehidupan. Bahkan selanjutnya sekolah dapat diartikan sebagai bangunan yang didirikan untuk menyelenggarakan proses atau kegiatan-kegiatan positif. Dan, yang terakhir kita dapat mengartikan bahwa sekolah adalah proses belajar, yaitu proses penyesuaian diri dengan lingkungan luar. Dengan memperhatikan pengertian-pengertian tersebut, maka kita mendapatkan informasi bahwa sekolah mencoba mengkondisikan anak didik agar siap menghadapi kehidupan &lt;span class="fullpost"&gt;dengan sebaik-baiknya. Untuk hal tersebut berarti anak didik harus membekali diri tidak hanya dengan pengetahuan dan sikap positif, tetapi juga dengan keterampilan aplikatif bagi kehidupannya.&lt;br /&gt;Efektifitas pemanfaatan waktu luang dalam proses belajar memang diarahkan agar anak didik mengisi dengan kegiatan positif. Kegiatan positif ini sudah seharusnya dilakukan oleh semua orang agar kehidupannnya benar-benar berarti. Dengan demikian, maka terkurangi kemungkinan bertambahnya para pengangguran terdidik di negeri ini. Sudah cukup banyak pengangguran di negeri ini, setiap tahun terus mengalami perkembangan sebab setiap tahun sekolah meluluskan sekian banyak anak yang belum siap untuk mengisi lapangan pekerjaan. Banyak anak didik yang sudah menyelesaikan masa belajarnya dan belum mampu survive dalam kehidupannya dengan   mengimplementasikan bekal yang didapatkan dari proses belajar. Tentunya hal ini sangat merugikan sebab masa belajar dengan biaya yang tidak sedikit ternyata tidak kontributif untuk kehidupan yang lebih baik.&lt;br /&gt;Menyadari kondiri tersebut, maka sekolah menerapkan berbagai konsep program yang mengedepankan upaya memberikan bekal life skill kepada anak didik. hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan dan pembelajaran di sekolah kejuruan, yaitu membimbing anak didik agar menjadi tenaga kerja kelas menengah yang siap bekerja. Sekolah kejuruan memang mengedepankan proses pembelajaran yang aplikatif dengan kompetensi keahlian bagi anak didiknya. Dan, yang lebih nyata adalah adanya program-program kewirausahaan yang dilaksanakan secara integral dengan program pembelajaran. Program ini disusun dan dilaksanakan sebagai satu kesatuan kegiatan yang mempersiapkan anak didik sebagai bagian dunia secara aktif.&lt;br /&gt;Spesifikasi Program di Sekolah Kejuruan&lt;br /&gt;Program pembeljaaran di sekolah kejuruan memang berbeda dengan sekolah umum. Hal ini karena tujuan pembelajaran di sekolah kejuruan memang tidak sama dengan sekolah umum. Hal yang paling utama adalah pembelajaran praktik, yaitu pembelajaran yang bertujuan memberikan bekal keterampil-an aplikatif. Pendidikan kejuruan memanag mempersiapkan anak didik sebagai tenaga kerja kelas menengah yang siap bekerja di masyarakat. Oleh karena itulah, maka program pembelajaran yang diterapkan adalah pembelajaran dengan konsep learning by doing.&lt;br /&gt;Pembelajaran dengan konsep learning by doing merupakan program yang meletakkan konsep bahwa sebenarnya efektivitas pembelajaran dapat dicapai jika anak didik mengalami secara langsung aspek yang dipelajarinya.  Dengan mengalami sendiri segala hal terkait dengan aspek belajar, maka setidaknya anak didik mempunyia pengalaman psikis dan fisik yang utuh. Dengan menerapkan konsep learning by doing, maka terjadi keseimbangan pengalaman psikis dan fisik. Kondisi ini memungkinkan tertanamnya pengalaman sebagai sesuatu yang sangat berharga bagi kehidupananak didik sekarang dan masa depan.&lt;br /&gt;Untuk dapat melakukan proses pembelajaran dengan konsep learning by doing, maka pengelola sekolah melakukan kolaborasi antar mata pelajaran dan selanjutnya menyusun sebuah garis besar pembelajaran yang spesifik. Kolaborasi mata pelajaran ini disesuaikan dengan kebutuhan hidup sehingga pada saatnya nanti, anak didik dapat menerapkannya untuk kehidupannya. Hal ini sangat penting agar tujuan pembelajaran di sekolah kejuruan bukan sekedar wacana semata.&lt;br /&gt;Spesifikasi program di sekolah kejuruan ini dapat kita lihat dari materi pembelajaran yang salah satunya adalah pembelajaran produktif, yaitu pembelajaran yang membimbing anak didik agar dapat menghasilkan barang atau jasa. Aspek inilah yang tidak kita dapati di sekolah umum. Pembelajaran produktif ini merupakan implementasi dari konsep learning by doing. Anak didik dibimbing untuk melakukan kegiatan belajar dengan melakukan secara langsung dalam bentuk praktik. Pada saat inilah anak didik diberikan pembelajaran untuk menghasilkan barang atau jasa.&lt;br /&gt;Program pembelajaran di sekolah kejuruan memang sangat spesifik. Hal ini karena tujuan pembelajarannya berbeda jika dibandingkan dengan pembelajaran pada umumnya. Anak didik harus terbiasa melakukan kegiatan praktik agar mereka menguasai konsep dan sekaligus cara mengaplikasikan konsep dalam pekerjaan nyata. Anak didik dapat langsung bekerja setelah menyelesaikan masa belajarnya atau jika ada dana, maka mereka dapat melanjutkan masa belajar di perguruan tinggi.&lt;br /&gt;Bekal keterampilan teknis untuk entrepreneur muda&lt;br /&gt;Entrepreneur adalah orang-orang yang mempunyai visi dan misi kuat untuk melakukan kegiatan-kegiatan nyata dengan menciptakan dan mengembangkan sendiri semua sumber daya diri tanpa bergantung pada bantuan orang lain. Orang-orang dalam kelompok ini mengefektifkan semua potensi yang dimilikinya untuk mewujudkan visi hidup dan didukung kegiatan nyata. &lt;br /&gt;Ada banyak kegiatan hidup yang sebenarnya dapat dipersiapkan sejak dini sehingga pada akhirnya, saat dibutuhkan, maka kita tinggal mengaplikasikannya. Persiapan yang kita lakukan merupakan kegiatan pengembangan potensi yang ada dalam diri dan memunculkannya sebagai keahlian khususnya. Hal ini untuk mengantisipasi kebutuhan hidup atas orang-orang yang kreatif dengan tingkat keterampilan yang memadai. Hidup ini membutuhkan orang-orang kreatif yang dengan kreativitasnya mampu melakukan perubahan pola kehidupan, khususnya pada dirinya.&lt;br /&gt;Program pembelajaran di sekolah kejuruan yang mengedepankan produktivitas membutuhkan proses pembekalan yang memadai. Dan, sebenarnya hal paling utama adalah bekal keterampilan bagi anak didik. Bekal keterampilan ini ssecara sistematik dan berkesinambungan  harus diberikan kepada anak didik sehingga bekal tersebut utuh. Artinya sejak tingkat pertama anak didik sudah diberikan landasan keterampilan dan secara berjenjang mereka menerima kelanjutan dari keterampilan tersebut. Bekal keterampilan ini diberikan secara teoritis maupun praktis, terutama dititikberatkan pada keterampilan praktis.&lt;br /&gt;Untuk menciptakan entrepreneur muda dari sekolah, maka bekal keterampilan merupakan modal utama bagi anak didik. Tanpa bekal keterampilan yang memadai, maka segala keinginan, visi tidak mungkin dapat terwujudkan. Keterampilan adalah modal untuk berkarya. Hal ini karena untuk menjadi entrepreneur, maka kita harus dapat memanfaatkan kemampuan kita secara maksimal dan tidak bergantung pada orang lain. Artinya anak harus melakukan kegiatan berdasarkan keterampilan yang dimilikinya secara maksimal dan tidak berharap bantuan secara langsung dari orang lain.&lt;br /&gt;Keterampilan teknis ini merupakan bekal untuk melakukan kegiatan produksi atau menghasilkan barang atau jasa yang dibutuhkan masyarakat. Bekal inilah yang sesungguhnya digarap secara intens dalam proses pembelajaran. Dengan proses pembelajaran ini, maka setiap saat dapat ditingkatkan kemampuan anak sehingga pada saatnya mereka menjadi orang-orang yang ahli dalam bidangnya. Jika kondisi ini sudah tercapai, maka selanjutnya anak didik mengaplikasikan dalam kehidupannya.&lt;br /&gt;Keterampilan Usaha atau Entrepreneur skill&lt;br /&gt;Setelah anak didik diberi keterampilan teknis untuk melaksanakan kegiatan produksi barang atau jasa, maka selanjutnya keterampilan ini didukung dengan bekal keterampilan usaha atau entrepreneurship sesuai bidangnya. Anak-anak dibimbing dengan berbagai kegiatan, bahkan kiat untuk dapat melakukan kegiatan usaha yang efektif.&lt;br /&gt;Keterampilan usaha ini merupakan follow up dari kegiatan produksi yang sudah dilakukan oleh anak didik dalam proses pembelajaran. Dalam proses ini, anak didik diberikan berbagai pengetahuan dan keterampilan untuk dapat memasarkan  hasil kerjanya kepada masyarakat, konsumen. Pada proses pembelajaran keterampilan usaha ini, anak didik dihadapkan secara langsung dengan pekerjaan dan upaya memasarkan hasil pekerjaan tersebut.&lt;br /&gt;Dalam pembelajaran keterampilan usaha, anak didik dikondisikan untuk dapat menerapkan konsep-konsep usaha yang mengedepankan kemampuan dirinya. Oleh karena itulah, anak didik dibimbing untuk mengembangkan diri dengan interaksi pada masyarakat secara aktif. Anak-anak diberikan kebebasan untuk melakukan kegiatan keterampilan yang diarahkan pada pelayanan masyarakat.&lt;br /&gt;Tentunya dalam hal ini anak didik dapat memperoleh pekerjaan dari masyarakat dan selanjutnya, mengerjakannya di bengkel sekolah. Dengan melakukan kegiatan ini, maka anak didik memperoleh income dari jasa kerja dan sekaligus menciptakan jejaring kerja dengan masyarakat. Inilah yang sesungguhnya sedang kita kerjakan bagi perkembangan dan peningkatan kualitas anak didik.&lt;br /&gt;Dengan memberikan keterampilan usaha kepada anak didik, maka sebenarnya kita telah menciptakan entrepreneur muda dari sekolah. Anak-anak yang telah menyelesaikan masa belajar dapat secara langsung masuk ke dunia kerja dengan bekerja sendiri berdaarkan bekal keterampilan yang dimilikinya. Dalam hal ini anak didik tidak harus bergantung pada orang lain, pabrik untuk dapat survive dalam hidupnya. Inilah yang sesungguhnya proses mendidik entrepreneur muda dari sekolah.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-5742512758102489481?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/5742512758102489481/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=5742512758102489481' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/5742512758102489481'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/5742512758102489481'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2010/01/menciptakan-entrepreneur-muda-dari.html' title='Menciptakan Entrepreneur Muda dari Sekolah'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-4267782139376144802</id><published>2010-01-23T17:45:00.000-08:00</published><updated>2010-03-10T22:17:58.983-08:00</updated><title type='text'>Program Pembelajaran Berbasis Produksi</title><content type='html'>Program pembelajaran di sekolah kejuruan merupakan program khusus yang diarahkan untuk menjadi-kan lulusannya sebagai tenaga kerja ataupun young entrepreneur berbasis sekolah. Dengan mengikuti proses pembelajaran di sekolah kejuruan, maka goal yang ingin dicapai adalah kemudahan dalam mendapatkan pekerjaan atau bekerja. Terlalu banyak lulusan yang gagal menghadapi kehidupan. Para lulusan pendidikan ternyata hanya menjadi pengangguran terdidik,&lt;span class="fullpost"&gt; yaitu kelompok orang-orang yang mempunyai tingkat inteletualitas tinggi tetapi tidak dapat berperan aktif dalam kehidupan nyata.&lt;br /&gt;Orangtua mengirim anak-anak belajar di sekolah kejuruan adalah untuk mempermudah anak-anak mendapatkan pekerjaan tersebut. Hal ini sebagai wujud kesadaran masyarakat bahwa harus ada spesifikasi dan kualifikasi kemampuan anak untuk dapat bertahan hidup dalam kehidupan ini. Mereka sangat menyadari bahwa tingkat persaingan tenaga kerja ataupun pendidikan sangat ketat sehingga kemungkinan masuk menjadi semakin kecil. Apalagi ketika menyadari bahwa semakin hari kualitas calon tenaga kerja semakin bagus dan hal tersebut semakin meningkatkan kualitas persaingan.&lt;br /&gt;Pilihan  orangtua jatuh pada sekolah kejuruan sebab di dalam proses pembelajarannya, sekolah kejuru-an mempunyai muatan pembelajaran keterampilan aplikatif, yaitu keterampilan yang banyak digunakan oleh masyarakat. Kondisi ini menjadi alasan utama para orangtua untuk mengirimkan anak-anaknya ke sekolah kejuruan. Bagi orangtua, program dan proses pembelajaran di sekolah kejuruan merupakan program aplikatif. Setiap hal yang diajarkan disekolah kejuruan adalah hal-hal yang memungkinkan anak didik mampu bertahan hidup dengan segala hal yang didapat dari proses pendidikan dan pembelajaran.&lt;br /&gt;Sekolah Kejuruan = Sekolah Keterampilan&lt;br /&gt;Satu hal yang perlu kita sadari dari proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah kejuruan adalah pembelajaran keterampilan. Program pembelajaran ini meurpakan ciri khas sekolah kejuruan. Oleh karena itulah, maka sekolah kejuruan disebut juga sekolah keterampilan.&lt;br /&gt;Tetapi dalam hal ini kita harus dapat membedakan antara sekolah kejuruan dengan sekolah umum. Di sekolah umum, keterampilan memang diberikan sebagai salah satu mata pelajaran, tetapi isi dan tujuannya tentu saja berbeda. Keterampilan di sekolah umum diberikan agar anak didik mempunyai keterampilan pendamping untuk kehidupannya. Di sekolah kejuruan, keterampilan ini adalah kompetensi dasar yang harus dimiliki anak didik.&lt;br /&gt;Keterampilan yang dimaksudkan disekolah kejuruan adalah keterampilan yang secara langsung dapat diterapkan dalam kehidupan dan menjadi brandingself. Selnajutnya brandingself ini adalah nilai plus dan nilai jual bagi anak didik. keterampilan yang didapatkan di dalam pembelajaran sekolah kejuruan adalah bagian integral dan diarahkan sebagai aplikasi keahlian anak didik.&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, maka perlu kiranya disadari oleh semua pihak bahwa sekolah kejuruan adalah institusi pendidikan yang sekaligus mengadakan proses pelatihan bagi anak didik. sekolah kejuruan adalah sarana diklat, pendidikan dan pelatihan untuk mempersiapkan anak didik sebagai sosok terdidik dan terlatih untuk bekerja. Dengan proses pelatihan, maka anak-anak lulusan sekolah kejuruan dapat langsung berperan dalam kehidupan. Anak-anak dapat langsung bekerja pada orang lain atau lebih khusus mempergunakan keterampilannya sebagai modal kerja mandiri.&lt;br /&gt;Sekolah kejuruan memberikan bekal keterampilan keahlian yang dapat menjadi bekal kehidupannya. Keterampilan ini adalah alat hidup. Dengan keterampilan ini, anak didik dapat bekerja agar survive dalam kehidupannya. Hal inilah yang paling penting dari konsep kerja sekolah kejuruan. Mencetak anak-anak menjadi tenaga kerja atau orang-orang yang produktif.  Dengan cara atau program ini, maka setelah anak didik menyelesaikan masa pendidikan dan pembelajarannya, mereka tidak perlu bingung mencari pekerjaan, Mereka dapat menerapkan bekal keterampilannya untuk memperoleh penghasilan bagi kehidupannya.&lt;br /&gt;Dengan demikian secara luas, sekolah telah melakukan pembatasan atas pertambahan jumlah pengangguran terdidik. Keterampilan yang dimiliki oleh anak didik dari proses pendidikan dan pembelajaran telah menjadi jembatan penghubung yang efektif anak dengan kehidupan masyarakat. Anak didik mampu melakukan kegiatan produktif dalam kehidupan sebab keterampilan yang dimilikinya.&lt;br /&gt;Pembelajaran Praktik Berorientasi Produk&lt;br /&gt;Proses pembelajaran di sekolah kejuruan memang salah satu aspeknya adalah pembelajaran produktif. Pembelajaran produktif merupakan perwujudkan dari upaya memberikan kesempatan kepada anak didik untuk mengaplikasikan pembelajaran keterampilan atau psikomotorisnya. Seperti kita ketahui, sekolah kejuruan memberikan keterampilan aplikatif kepada anak didik adalah agar dapat berjuang hidup dengan bekal keterampilan tersebut. Keterampilan itu adalah nilai-nilai positif yang dimiliki lulusan SMK dan tidak dimiliki oleh lulusan SMU. Dengan demikian dapat meningkatkan kesempatan dalam persaingan tenaga kerja ataupun penciptaan lapangan pekerjaan.&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, maka program pembelajaran praktik yang dilaksanakan di sekolah kejuruan tidak hanya terbatas agar anak didik praktik membuat benda kerja tetapi secara nyata anak didik harus membuat benda kerja. Program pembelajaran harus sudah diarahkan untuk memperoduksi barang yang dibutuhkan masyarakat. Dengan cara seperti ini, maka efektivitas program dapat tercapai maksimal, yaitu penguasaan keterampilan oleh anak didik sesuai standar kebutuhan masyarakat.&lt;br /&gt;Program pembelajaran praktik sudah saatnya diarahkan untuk dapat menghasilkan barang layak pakai, bukan barang yang hanya bakal disimpan di gudang. Dengan demikian, bahan yang digunakan untuk praktik dapat memberikan income yang selanjutnya dijadikan sebagai dana untuk pengadaan bahan berikutnya. Hal ini merupakan sala satu teknik manajemen keuangan untuk kegiatan pembelajaran praktek. Tentunya dengan demikian, maka ada penghematan pada sisi keungan untuk kegiatan praktik.&lt;br /&gt;Pembelajaran berorientasi produksi artinya setiap kegiatan praktik yang dilaksanakan di bengkel sekolah diarahkan untuk memproduksi barang atau jasa. Anak-anak dikondisikan untuk dapat membuat barang-barang atau jasa yang dibutuhkan masyarakat, baik karena memperoduksi sendiri atau melayani pesanan dari masyarakat. Dengan demikian, maka rasa tanggungjawab anak didik dapat tumbuh dan berkembang dengan sebaik-baiknya sehingga menjadi seorang professional muda. Anak didik dapat menjadi young entrepreneur yang mumpuni sejak sekolah.&lt;br /&gt;Program pembelajaran praktik di sekolah kejuruan sudah seharusnya diarahkan untuk memberikan bekal kemampuan hidup. Dan, belajar membuat, menghasilkan barang atau jasa yang dibutuhkan masyarakat. Dengan cara seperti ini, anak didik terbiasa menghasilkan barang dan jasa sehingga dapat memperoleh income dan sekaligus langganan untuk pekerjaannya. &lt;br /&gt;Di samping itu semua, dengan mengarahkan proses pembelajaran kearah produksi, maka aspek pembiayaan proses dapat ditutup oleh hasil penjualan barang atau jasa dari bengkel sekolah. Barang-barang yang diproduksi dalam proses pembelajaran di bengkel sekolah dapat dijual ke masyarakat dan dana yang diperoleh dapat diarahkan untuk membeli bahan baru pembelajaran praktik selanjutnya. Dengan demikian, maka kesinambungan proses pembelajaran praktik dapat ditingkatkan tanpa harus mengganggu pos lainnya, atau setidaknya dapat menjadi dana sharing untuk proses pengadaan bahan dan alat yang dibutuhkan untuk pembelajaran praktik.&lt;br /&gt;Program pembelajaran yang diorientasikan pada produk memberikan kesempatan kepada semua pihak terkait untuk ikut berperan dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas pembelajaran. Dan, yang paling penting dalam hal ini adalah terbukanya kesempatan bagi anak didik untuk secara aktif melakukan kegiatan produksi berbasis sekolah.&lt;br /&gt;Perlu Kurikulum Khusus untuk Implementasi Program&lt;br /&gt;Sebenarnya, proses pembelajaran di sekolah kejuruan sudah diarahkan untuk memberikan bekal keterampilan kepada anak didik. Dalam hal ini, acuan untuk proses pendidikan dan pembelajaran sebenarnya sudah diterapkan oleh sekolah. Acuan ini adalah kurikulum yang setiap tahun mengalami perubahan disesuaikan dengan kondisi atau kebutuhan masyarakat.&lt;br /&gt;Setiap tahun kurikulum mengalami perubahan sebab kondisi masyarakat yang dinamis. Sebagai institusi dan kegiatan yang mengarah pada pemenuhan kebutuhan masyarakat, maka proses pendidikan dan pembelajaran harus selalu menyesuaikan diri agar setelah lulus anak-anak mempunyai kemampuan untuk melakukan kegiatan produktif. Dengan kemampuan inilah, maka selanjutnya anak didik berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat. Mereka langsung bergiat dalam kehidupan dan bukan menajdi pengangguran yang meresahkan masyarakatnya.&lt;br /&gt;Kurikulum khusus yang kita maksudkan dalam hal ini adalah kurikulum yang disusun berdasarkan kesepakatan antara sekolah dengan dunia usaha/dunia industry atau masyarakat secara umum. Sekolah dan dunia usaha/dunia industry harus membuat kesepakatan untuk materi pelajaran yang signifikan dengan kebutuhan masyarakat. Dengan kurikulum yang merupakan hasil penyusunan bersama inilah, maka setidaknya aspek pembelajaran yang diberikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Setiap aspek yang dibutuhkan masyarakat sedapatnya dialokasikan dalam jatah pembelajaran yang harus diberikan di sekolah. Dengan demikian, anak didik benar-benar mendapatkan hal-hal yang dibutuhkan dalam kehidupan ini. Artinya anak-anak benar-benar mempelajari dan melatih diri dengan materi yang memang dibutuhkan dalam hidup.&lt;br /&gt;Perlu guru yang kompeten di bidangnya&lt;br /&gt;Untuk dapat mewujudkan semua program yang sudah dicanangkan oleh pemerintah dan sekolah pada khususnya, maka diperlukan kerjasama  dari setiap elemen terkait. Hal ini mengingat bahwa proses pendidikan merupakan kegiatan kompleks dengan berbagai aspek kegiatan. Oleh karena itulah, maka perlu kesinergisan langkah sehingga program kerja tidak timpang dalam pelaksanaannya.&lt;br /&gt;Khususnya dalam aspek pembimbing atau guru yang akan mendampingi anak didik dalam proses pendidikan dan pembelajarannya. Bagaimana-pun guru masih menjadi sentra kegiatan pembelajaran bagi anak didik. Hal ini karena sifat anak didik yang masih labil, gampang mengalami perubahan jiam terpengaruh oleh sesuatu di luar dirinya.&lt;br /&gt;Dalam hal pembelajaran berbasis produksi, gruu memegang kunci keberhasilan proses sebab guru tidak hanya mendidik dan mengajar, melainkan juga melatih anak didik agar menguasai teknik dan aplikasi keterampilan. Dengan posisi sebagai pelatih, instruktur, peranan guru menjadi sentral kegiatan, artinya anak didik membutuhkan eksistensi guru dalam kegiatannya.&lt;br /&gt;Dengan posisi guru sebagai sentral kegiatan, tentunya dibutuhkan guru-guru yang benar-benar menguasai, kopeten dalam bidang tersebut. Jika tidak, maka proses pelatihan menjadi pelatihan sastra, banyak omong tetapi sedikit kegiatan nyata. Padahal seharusnya sedikit omong tetapi banyak bekerja. Dalam bidang teknik, yang dibutuhkan  adalah orang-orang yang suka giat bekerja, bahkan maniak kerja agar pekerjaan dapat segera diselesaikan dan memberikan hasil berupa income financial dan penghargaan masyarakat atas hasil pekerjaan kita.&lt;br /&gt;Guru-guru harus kompeten dalam bidangnya agar semua aspek pembelajaran tersampaikan kepada anak didik secara maksimal. Semua waktu yang digunakan secara efektif untuk proses pelatihan dan setiap kemampuan yang dimiliki oleh guru dapat tersampaikan untuk anak didik. dengan kompetensi yang dimiliki oleh guru, maka setidaknya anak didik dapat memiliki kemampuan yang sama dengan sang guru.&lt;br /&gt;Program pembelajaran berbasis produksi memang menuntut semua elemen terkait berperan aktif untuk pelaksanaan terbaik bagi anak didik. Hal ini karena hanya dengan kerjasama, maka segala sesuatu dapat dicapai secara maksimal. Dengan menerapkan pola program pembelajaran berbasis produksi, berarti sekolah sudah mengarahkan anak didik sebagai sosok-sosok produktif dengan keterampilan yang memadai. Dan, hanya guru-guru yang kompeten dapat memberikan pelatihan maksimal bagi anak didik.&lt;br /&gt;Selanjutnya jika hal tersebut benar-benar terwujud, maka sekolah-pun mendapatkan keuntungan sebab hasil kegiatan anak-anak yang memproduksi barang atau jasa untuk  masyarakat telah memposisikan sekolah di hati masyarakat. Dan, pada akhirnya, kegiatan ini dapat menjadikan sekolah sebagai pusat kegiatan keterampilan bagi masyarakat. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-4267782139376144802?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/4267782139376144802/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=4267782139376144802' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/4267782139376144802'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/4267782139376144802'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2010/01/program-pembelajaran-berbasis-produksi.html' title='Program Pembelajaran Berbasis Produksi'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-7571240151073107211</id><published>2010-01-17T05:28:00.000-08:00</published><updated>2010-03-11T18:39:28.352-08:00</updated><title type='text'>Guru sebagai Agen Pendidikan</title><content type='html'>Proses pendidikan diarahkan untuk melakukan perubahan konsep pemikiran anak sehingga tercipta dinamisasi sikap yang bermuara pada upaya peningkatan kualitas diri secara maksimal. Dengan perubahan konsep ini, maka selanjutnya diharapkan dapat mengarahkan pola pemikiran yang benar – benar mampu menunjukkan jati dirinya &lt;span class="fullpost"&gt;di antara lingkungan kehidupan yang serba ketat dalam persaingan global.&lt;br /&gt;Untuk dapat mengembangkan konsep pemikiran ini, maka pendidikan dilaksanakan secara berjenjang dari tingkat dasar hingga menengah dan pada akhirnya ke jenjang tinggi. Di setiap jenjang dibutuhkan orang-orang yang mempunyai kemampuan sesuai dengan kebutuhannya sehingga apa yang dipelajari, apa yang dididikkan kepada anak didik benar-benar sesuai dengan kondisi yang dihadapi di masyarakat.&lt;br /&gt;Dalam konteks ini, guru adalah sosok yang secara langsung meng-ambil atau mendapatkan tugas dan kewajiban untuk mendampingi anak-anak yang belajar sehingga benar-benar mendapatkan materi pelajaran yang tepat. Hal ini karena guru adalah sumber pengetahuan dan keterampilan yang mampu ditransfer ke anak didik.&lt;br /&gt;Guru adalah sosok yang dianggap mempunyai kemampuan lebih dalam upaya melakukan perubahan konsep pemikiran pada anak didik sehingga tercipta dinamisasi secara signifikan dengan kondisi kehidupannya. Dengan demikian, maka anak didik benar-benar melakukan proses pendidik-an yang dibimbing oleh guru.&lt;br /&gt;Terkait dengan upaya peningkatan kualitas diri dengan perubahan konsep pemikiran anak terhadap setiap permasalahan hidup, maka keberada-an guru memang merupakan keniscayaan. Dengan adanya guru, maka anak dapat memperoleh berbagai hal yang dipercaya dapat meningkatkan kualitas dirinya serta merubah konsep pemikirannya terhadap segala hal.&lt;br /&gt;Tugas guru di dalam proses perubahan konsep pemikiran dan pening-katan kualitas diri secara maksimal sangatlah berat sebab terkait dengan pola pemikiran yang nilainya sangat relatif antara satu dengan yang lainnya. Kita tidak dapat mengevaluasi secara pasti tingkat penguasaan konsep pemikiran yang dimiliki oleh seseorang setelah mengikuti proses pendidikan dan pembelajaran.&lt;br /&gt;Di dalam proses pendidikan dan pembelajaran, tugas dan kewajiban guru adalah sebagai agen pendidikan (agent of education). Dalam hal ini guru berperan sebagai agen yang mengatur distribusi pengetahuan jatah anak didik. Sekaligus di dalam hal ini guru adalah pelaku pendidikan yang secara aktif memberikan materi pelajaran yang menjadi jatah pembelajaran anak didik.&lt;br /&gt;Secara umum peranan guru sebagai agen pendidikan adalah untuk menyelenggarakan proses pendidikan untuk anak didik agar terjadi proses transfer pengetahuan, sikap dan keterampilan secara proporsional dan mampu dijadikan sebagai bekal kehidupan anak didik. Sebagai agen pendidikan, maka seorang guru harus dapat memposisikan diri secara tepat dalam kegiatan pendidikan dan pembelajaran yang relevan dengan kebutuh-an hidup di masyarakat.&lt;br /&gt;Sebenarnya sejak dahulu, saat orang mulai melakukan dan membutuh-kan proses belajar telah terjadi proses transfer yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain sehingga terjadi perubahan yang signifikan atas kondisi sebelum dan sesudah mengikuti proses belajar. Disinilah pentingnya seorang agen agar proses pendidikan dan pembelajaran dapat berjalan lancar. Tanpa adanya agen, tentunya terjadi kesulitan saat proses berjalan. Akan terjadi kesimpangsiuran proses yang berlanjut pada ketidak berhasilan proses mencapai tujuan yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;Berbagai macam bahan pendidikan dan pembelajaran dapat diberikan oleh guru untuk kebutuhan belajar anak didiknya. Anak didik tidak perlu kebingungan saat membutuhkan materi untuk proses pendidikan dan pembelajaran yang diikutinya. Datang saja ke guru, atau ikuti saja ketentuan yang diberikan oleh seorang guru, maka proses pendidikan dan pembelajaran yang diikuti anak didik dapat berlangsung lancar dan tidak terhambat oleh berbagai kesulitan belajar.&lt;br /&gt;Hal ini identik ketika kita membutuhkan barang-barang kebutuhan hidup dengan harga yang lebih murah, maka kita datang ke seorang agen yang dapat menyediakan barang yang kita inginkan tersebut. Di agen, maka semua barang yang kita inginkan tersedia dan kita mendapatkan beberapa rupiah sebagai diskon atas pembelian kita tersebut.&lt;br /&gt;Di dalam proses pendidikan, peranan agen pendidikan tidak jauh berbeda dengan agen barang di toko. Tetapi dalam hal ini tingkat penyediaan barang yang dimaksudkan lebih istimewa dan perlakuan yang lebih khusus. Begitu juga dengan guru sebagai agen pendidikan. Mereka harus memberi-kan pelayanan pendidikan dan pembelajaran yang sebaik-baiknya kepada anak didik sehingga proses perubahan konsep pada anak didik benar-benar tercapai dan menghasilkan anak-anak dengan tingkat kualitas diri yang terbaik dan maksimal bagi sebuah proses.&lt;br /&gt;Proses pendidikan merupakan proses yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan sehingga dibutuhkan orang-orang yang mempunyai komitmen tinggi terhadap proses tersebut. Dengan komitmen tinggi terhadap upaya peningkatan dan pengembangan kualitas, tentunya program peng-entasan dunia pendidikan dari keterpurukannya dapat segera diwujudkan secara nyata.&lt;br /&gt;Memang, peningkatan kualitas pendidikan dan pembelajaran sebenar-nya sangat terkait dengan eksistensi guru sebagai agen pendidikan. Sebab dengan posisi sebagai agen pendidikan, maka guru berkewajiban untuk memberikan yang terbaik bagi anak didik sehingga tujuan pendidikan dapat dicapai secara maksimal.&lt;br /&gt;Bagaimanapun, proses pendidikan dan pembelajaran membutuhkan orang-orang yang memahami secara baik konsep pendidikan dan pembelajar-an yang dilakukan. Kita tidak mungkin mempercayakan proses pendidikan dan pembelajaran pada orang-orang yang tidak mempunyai kemampuan sebagaimana yang dituntut sebagai guru.&lt;br /&gt;Tuntutan agar guru benar-benar dapat menempatkan diri sebagai agen pendidikan merupakan aktualisasi dari tugas dan kewajiban guru itu sendiri. Hal ini menunjukkan betapa sebenarnya profesi sebagai guru adalah profesi khusus yang tidak semua orang dapat menjalaninya secara baik. Tidak semua orang dapat menjadi guru yang agen pendidikan, walaupun siapapun dapat saja menjadi guru, pengajar.&lt;br /&gt;Ya, sebenarnya tidak semua orang dapat menjadi guru secara utuh sebab tuntutan profesi yang sedemikian rupa sehingga kemampuan diri merupakan salah satu kondisi yang harus dimiliki oleh orang-orang yang berkeinginan menjadi guru. Boleh saja orang - orang yang mempunyai kemampuan intelektual tinggi mengambil profesi sebagai guru, tetapi tidak semua orang intelek dapat menjadi guru. Ada syarat atau kondisi khusus yang harus dimiliki oleh seseorang ketika memutuskan menjadi seorang guru. Kondisi khusus yang dimaksudkan adalah kemampuan pada penguasaan emosional diri, kemampuan mengelola proses dan tentunya saja kemampuan penguasaan konsep-konsep pendidikan itu sendiri.&lt;br /&gt;Untuk hal tersebut, maka seseorang yang memutuskan untuk menjadi seorang guru harus selalu meningkatkan kemampuan dirinya dengan secara terus menerus dan sistematis. Dengan peningkatan kemampuan diri ini, maka proses pembelajaran yang dilakukannya dapat maksimal.&lt;br /&gt;Kemampuan yang dimiliki oleh seorang guru adalah bekal yang paling utama dalam pelaksanaan tugas dan kewajiban secara nurani. Bahwa proses pendidikan dan pembelajaran sebenarnya merupakan proses transfer kemampuan yang dimiliki oleh seseorang (guru) kepada orang lainnya (anakdidik).  Transfer hanya dapat dilakukan jika guru mempunyai kelebihan dibandingkan anak didik. Hal ini terkait pada kenyataan bahwa aliran hanya dapat terjadi jika ada perbedaan di antara dua pihak atau banyak pihak. Seperti air sungai, hanya dapat mengalir karena adanya prbedaan tinggi permukaan tanah. Listrik hanya dapat mengalir jika terdapat perbedaan potensial dari sumber listrik dan yang lainnya. Tanpa perbedaan tersebut, maka akan terjadi keseimbangan sehingga menjadikan segala tenang.&lt;br /&gt;Proses pendidikan sebenarnya upaya untuk mengubah dan itu artinya kita selalu berusaha menghilangkan keseimbangan antara sumber dan pemakainya. Dengan ketidakseimbangan kondisi anak didik tersebut, maka kita dapat melakukan proses pendidikan pada anak didik. Dan, disinilah peranan guru sebagai agen pendidikan akan terasa lebih dan memegang peranan tertinggi. Dengan ketidakseimbangan tersebut, maka akan terjadi upaya secara terus menerus untuk menyeimbangkan kondisi dengan melalui proses belajar. Dan, guru adalah agen utama yang menjadi pelaku utama proses dan anak didik adalah subyek belajar yang menerima dan memiliki semua yang diberikan oleh guru untuk dimanfaatkan sebagai bekal hidupnya.&lt;br /&gt;Sebagai agen pendidikan, maka guru sudah seharusnya menyadari posisinya secara baik dan melaksanakan tugasnya sebaik-baiknya&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-7571240151073107211?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/7571240151073107211/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=7571240151073107211' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/7571240151073107211'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/7571240151073107211'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2010/01/guru-sebagai-agen-pendidikan.html' title='Guru sebagai Agen Pendidikan'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-5246391850767572999</id><published>2010-01-10T21:58:00.001-08:00</published><updated>2010-03-11T20:10:51.689-08:00</updated><title type='text'>Jiwa Kewirausahaan Perlu Ditanamkan secara Integral</title><content type='html'>Setiap saat, dunia pendidikan selalu menjadi sasaran tembak bagi ketidakpuasan masyarakat atas  hasil prosesnya. Hal ini dapat kita  temukan di setiap akhir tahun pembelajaran ataupun setelah anak didik dinyatakan tamat pembelajaran dan lulus ujian. Anak-anak memasuki dunia kehidupan di masyarakat sehingga mereka dituntut untuk dapat menjaga eksistensi dirinya dengan kemampuan yang didapatkan dari proses pendidikan dan pembelajaran. Tetapi, yang dihadapi oleh masyarakat sungguh sangat berlainan dengan kenyataan. &lt;span class="fullpost"&gt;Anak-anak belum dapat memenuhi keinginan masyarakat, apalagi kebutuhan masyarakat atas sosok-sosok yang mampu berperan untuk peningkatan kualitas kehidupan masyarakat.&lt;br /&gt;Seperti kita ketahui bersama, salah satu hal yang menjadi cerminan atas ketidakberhasilan proses pendidikan, setidaknya ini adalah anggapan masyarakat, adalah tidak terserapnya lulusan sekolah dalam dunia pekerjaan. Masyarakat melihat bahwa banyak anak-anak yang lulus dari sekolah tidak mampu melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya, apalagi untuk masyarakat. Akibatnya, banyak anak-anak yang menjadi pengangguran terdidik di masyarakat. Hal ini oleh masyarakat dianggap sebagai proses yang sia-sia. Proses pendidikan yang sudah dijalani oleh anak didik, mulai dari sekolah dasar hingga sekolah lanjutan atas membutuhkan waktu sekitar dua belas tahun ternyata belum mampu menjadikan anak-anak sebagai sosok yang mampu menangani kegiatan hidup secara ekonomis.&lt;br /&gt;Tentunya kita tidak menyalahkan masyarakat, tetapi juga tidak dapat menghakimi sekolah sebagai institusi pendidikan yang gagal menjalankan perannya. Dalam konteks ini kita harus dapat berpikir dan bertindak bijak sebab proses pendidikan merupakan tanggungjawab dan kewajiban bersama. Dengan demikian, ketika proses pendidikan dan pembelajaran dianggap mengalami kegagalan, maka seharusnya bukan hanya guru dan sekolah yang menjadi kambing hitam kesalahan proses. Untuk itulah, maka kita perlu melakukan repersepsi dan rekonstruksi, bahkan reorientasi terhadap proses pendidikan terkait dengan kebutuhan masyarakat.&lt;br /&gt;Repersepsi terhadap proses pendidikan memberikan kesempatan kepada semua pihak untuk memahami secara utuh segala hal yang dilaksanakan dalam proses tersebut. Dengan demikian, maka diharapkan setiap pihak benar-benar memahami konsep dasar pendidikan terkait dengan tanggungajwab dan kewajiban penyelenggaraan proses pendidikan. Repersepsi memungkinkan tumbuhnya kesadaran atas tujuan pendidikan yang hendak dicapai secara pribadi, lokal, nasional, maupun internasional. Diharapkan hal ini dapat mengurangi sikap negative terhadap hasil proses pendidikan terhadap satu pihak semata.&lt;br /&gt;Rekonstruksi terhadap proses pendidikan memungkinkan setiap orang yang terlibat mampu dan mau mengambil peran secara aktif dalam proses sehingga konstruksi proses dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Jika semua pihak berjibaku secara bersama-sama dalam upaya membentuk kembali (rekonstruksi) bangunan pendidikan di negeri ini, maka kemungkinan pencapaian tujuan sesuai dengan kebutuhan.&lt;br /&gt;Reorientasi terhadap proses pendidikan memberikan kesempatan kepada semua pihak untuk mengatur ulang orientasi pendidikan yang diharapkan dapat dicapai oleh proses pendidikan. Setiap pihak dapat mengatur kembali orientasi pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Reorientasi diharapkan dapat membangkitkan semangat baru dalam pengelolaan dan penyelenggaraan proses pendidikan.&lt;br /&gt;Memperhatikan ketiga konsep tersebut, maka salah satu kegiatan konkrit untuk kegiatan yang kontributif adalah pemantapan jiwa kewirausahaan. Kita harus melakukan repersepsi, rekonstruksi, dan reorientasi proses pendidikan sehingga pada saat anak didik menyelesaikan proses, maka mereka benar-benar menjadi sosok-sosok yang mampu berkiprah dalam kehidupannya. Dan, pemantapan jiwa kewirausahaan merupakan langkah konkrit untuk mewujudkan ketiga langkah reposisi pendidkan kita.&lt;br /&gt;Jiwa kewirausahaan harus kita tanamkan kepada anak didik sehingga aspek tersebut benar-benar menjadi bagian integral dalam diri anak didik. Kita harus dapat menjadikan jiwa kewirausahaan ke dalam diri anak didik sehingga hal tersebut menjadi kebiasaan. Jiwa kewirausahaan yang sudah menjadi suatu kebiasaan sangat memungkinkan bagi anak untuk mengaplikasikannya secara langsung dalam kehidupannya, kapan saja. Dengan demikian, maka setidaknya anak didik yang sudah menyelesaikan amsa pendidikannya benar-benar mempunyai bekal berwirausaha dalam hidupnya dan tidak menjadi  kelompok pengangguran terdidik. Hal ini juga untuk menggugurkan statement yang sudah ditanamkan masyarakat terhadap dunia pendidikan, yang dikatakan mengalami kegagalan dan proses yang sia-sia. Masyarakat segera terkondisikan apresiasinya terhadap proses pendidikan sebagai proses positif yang mempersiapkan anak didik sebagai sosok kreatif dan siap bekerja. Hal itulah yang terpenting untuk memperbaiki citra dunia pendidikan kita.&lt;br /&gt;Pembiasaan usaha sebagai pemicu semangat kewirausahaan&lt;br /&gt;Sebenarnya, jiwa kewirausahaan dapat kita tanamkan sejak anak-anak mengikuti proses pendidikan di tingkat dasar. Bahkan, masa ini merupakan masa yang paling penting dalam proses pendidikan. Masa menempuh pendidikan di sekolah dasar adalah masa-masa penanaman konsep knowledge dan sikap yang terbaik. Pada usia ini, anak-anak mempunyai daya tanggap yang sangat baik terhadap segala stimulus yang masuk ke dalam dirinya. Anak-anak usia ini mempunyai kemampuan merekam dan menyimpan setiap stimulus dan menjadikannya sebagai bagian integral dari dirinya. Termasuk dalam hal ini jika mereka kita stimulasi dengan kegiatan kewirausahaan. Keterampilan aplikatif yang diharapkan dapat mengarahkan mereka sebagai sosok-sosok mandiri yang mampu menjaga eksistensi dirinya dalam masyarakat, bahkan mengembangkan kondisi kehidupan masyarakatnya secara prima.&lt;br /&gt;Untuk itulah, maka program penanaman jiwa kewirausahaan seharusnya sudah kita lakukan sejak anak didik masih di tingkatan dasar. Pada saat inilah, kita sudah mulai menanamkan konsep-konsep terkait dengan kegiatan kewirausahaan pada anak didik. Kita berikan kepada mereka hal-hal yang terkait dengan kegiatan kewirausahaan, walau hanya pengenalan minimalis. Kita kondisikan anak-anak sehingga melakukan kegiatan dasar kewirausahaan, misalnya kegiatan ekonomi dikelas, kebiasaan usaha, yaitu warung kelas.&lt;br /&gt;Sejak sekolah dasar, anak didik dapat kita latih untuk menanamkan jiwa kewirausahaan agar menjadi bagian integral dalam dirinya. Warung kelas merupakan satu kegiatan ekonomis yang dikelola dan dibiayai oleh anak didik. Warung kelas diselenggarakan di ruang kelas dan dibuka hanya pada saat proses belajar istirahat.  Dengan demikian, maka anak-anak tidak perlu keluar kelas jika ingin jajan. Hal ini memudahkan guru untuk memonitor anak-anak saat istirahat. Pada sisi yang lain, warung kelas dapat menghindarkan anak didik dari jajan yang kurang sehat.&lt;br /&gt;Warung kelas dapat kita jadikan sebagai dasar penanaman jiwa kewirausahaan sebab pada kegiatan ini, semua hal dari anak didik, untuk anak didik dan oleh anak didik.  Warung kelas ini adalah milik anak-anak sehingga setiap anak mempunyai tanggungjawab dan kewajiban yang sama dalam upaya peningkatan dan kelancaran penjualan jajan yan ada. Setelah jajan habis, maka beberapa orang secara bergantian bertugas untuk belanja makanan dan jajan untuk periode jualan ke depan. Pada saat ini, anak dapat mengetahui apakah warung kelasnya mendapatkan untung ataukah tidak. Dan, nilai keuntungan tersebut ditambahkan untuk belanja untuk membesar atau memperbanyak barang dagangan.&lt;br /&gt;Dengan cara ini, maka tumbuh kesadaran dalam jiwa anak didik bahwa mereka dapat melakukan kegiatan usaha. Kesadaran ini diyakini dapat memicu semangat kewirausahaan anak-anak. Dalam konteks ini yang paling dibutuhkan adalah bimbingan guru agar kegiatan ini tidak mengganggu proses pendidikan anak. Artinya, warung kelas hanya dibuka pada saat sebelum masuk waktu pembelajaran dan pada saat jam istirahat. Diluar kedua jam tersebut, maka secara tegas guru melarang adanya transaksi jual beli.&lt;br /&gt;Memang, pembelajaran kewirausahaan tidak dapat dilakukan secara teoritis. Kita harus mengkondisikan agar anak didik melakukan pembeljaaran kewirausahaan dengan menerapkan learning by doing. Anak didik harus dibiasakan untuk melakukan secara langsung kegiatan terkait dengan penanaman jiwa kewirausahaan sehingga hal tersebut menjadi sebuah kebiasaan anak beriwrausaha.&lt;br /&gt;Pembelajaran berkesinambungan&lt;br /&gt;Tentunya, proses pendidikan kewirausahaan tidak hanya diberikan pada saat anak di sekolah dasar, melainkan diberikan secara berkesinambungan sejak anak bersekolah di sekolah dasar. Dalam hal ini kegiatan yang dilakukan di sekolah dasar adalah basis dari seluruh kegiatan pembelajaran kewirausahaan. Hal ini karena, selanjutnya pembelajaran kewirausahaan diberikan kepada mereka di sekolah lanjutan pertama dan dilanjutkan pada saat mereka di sekolah lanjutan atas.&lt;br /&gt;Tentunya dengan cara seperti ini, kita dapat meningkatkan kegiatan kewirausahaannya sehingga setiap saat anak didik merasakan bahwa kegiatan kewirausahaan sangat penting bagi mereka. Di setiap tingkatan sekolah, anak didik kita berikan konsep sekaligus praktik kewirausahaan. Dengan konsep pembelajaran berkesinambungan ini, maka anak selalu berada pada situasi dimana mereka harus melakukan kegiatan ekonomi untuk kelompoknya. Bahkan, untuk anak-anak yang berada di sekolah lanjutan, kegiatan kewirausahaan dapat secara individual. Anak-anak secara individual diberikan kepercayaan untuk menjalankan kegiatan kewirausahaan ini.&lt;br /&gt;Pembelajaran kewirausahaan diberikan kepada anak didik, baik secara konsep maupun praktik. Hal ini agar kompetensi anak didik semakin lengkap. Kegiatan usaha yang dilakukan oleh anak didik dilengkapi dengan konsep-konsep teoritik sehingga langkah mereka mempunyai dasar dan dapat menjadikan mereka sebagai wirausahawan yang paham lapangan dan landasan kegiatan. Hal ini memungkinkan anak didik tidak sekedar sebagai pelaku kegiatan, melainkan juga sebagai innovator dan creator kegiatan. Kegiatan praktik menjadikan mereka pelaku sedangkan konsep-konsep menjadikan mereka sebagai orang-orang yang selalu memikirkan hal-hal baru berdasarkan konsep yang mereka ketahui.&lt;br /&gt;Setelah di sekolah dasar mereka melakukan langsung kegiatan kewirausahaan dengan konsep sederhana yaitu kegiatan dari, oleh dan untuk mereka sendiri, maka di sekolah lanjutan, konsep tersebut dikembangkan semakin luas untuk melayani orang-orang di sekitar mereka, tidak hanya mereka. Mereka dikondisikan untuk mengembangkan kemampuan usaha ke masyarakat. Mereka harus dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat secara maksimal terkait dengan bidang usahanya.&lt;br /&gt;Pembelajaran kewirausahaan secara berkesinambungan dilaksanakan dengan monitoring dan evaluasi (monev) ketat, artinya secara periodek anak-anak harus melakukan pelaporan atas setiap kegiatan mereka. Mereka harus melaporkan setiap perkembangan usaha yang dilakukan kepada guru pembimbing yang ditugaskan mendampingi kegiatan mereka. Kegiatan monev merupakan kegiatan wajib bagi setiap usaha agar secara dini terpantau perkembangan ataupun kemerosotan usaha, terutama kemerosotannya agar segera dapat diambil kebijakan untuk memperbaiki kondisi.&lt;br /&gt;Memang, kegiatan kewirausahaan yang dilakukan oleh anak didik selama proses pembelajarannya ini diarahkan sebagai proses pendidikan.  Tetapi sebenarnya semua itu merupakan kegiatan yang membekali anak didik dengan keterampilan dan kemampuan aplikatif untuk kehidupannya. Dengan demikian, maka setelah mereka menyelesaikan masa pendidikan dan pembelajarannya, sudah siap melanjutkan kegiatan wirausaha yang sudah mereka rintis sejak sekolah tersebut.&lt;br /&gt;Jadikan kegiatan kewirausahaan sebagai kegiatan enjoy&lt;br /&gt;Banyak orang bilang bahwa kegiatan wirausaha adalah kegiatan yang sangat sulit diwujudkan. Hanya mereka yang mempunyai bakat dan keturunan wirausaha yang dapat mewujudkan semua itu. Tentu saja ini hanya memoir atau wacana yang sangat menyesatkan sehingga banyak orang yang mundur sebelum merealisasikan usaha yang mereka inginkan. Mereka termakan oleh wacana tersebut sehingga tidak berani maju hanya karena tidak ada darah keturunan usahawan atau dianggap tidak bakat dalam bidang usaha.&lt;br /&gt;Benarkah opini atau wacana seperti ini? Tentunya kita harus menanggapi hal tersebut secara bijak. Bahwa opini bahwa orang-orang yang berasal dari keluarga usahawan lebih pas jika melakukan kegiatan wirausaha lebih dikarenakan mereka sudah terbiasa pada kondisi usaha. Mungkin sejak kecil mereka sudah melakukan kegiatan usaha walau mereka tidak menyadarinya. Mereka tidak sadar bahwa selama ini mereka telah belajar berwirausaha sebab setiap hari mereka melakukannya. Pada saat waktu luang, mereka ikut melayani transaksi dengan konsumen. Kadang mereka juga ikut melakukan transaksi saat orangtua harus menambah jumlah barang di gudang toko. &lt;br /&gt;Sementara bagi mereka yang tidak mempunyai keluarga atau orangtua yang bergerak di dunia usaha, sejak kecil mereka tidak pernah merasakan bagaimana situasi berwirausaha itu. Mereka tidak mempunyai pengalaman batin untuk kegiatan wirausaha. Akibatnya, mereka harus mengawali kegiatan sejak dari nol. Hal inilah yang seringkali membuat mereka wegah, malas. Mereka merasa berat dan sulit untuk babat alas hutan kewirausahaan. Mereka merasa begitu beratnya langkah saat harus memulai kegiatan kewirausahaan. Tetapi, mereka harus mempertahankan hidup dalam kehidupan ini.&lt;br /&gt;Jika kita sempat berkunjung dan berbaur dengan orang-orang yang menggeluti dunia kewirausahaan kelas menengah kebawah, maka kita akan melihat kenyataan bahwa mereka melakukan semuanya dengan lapang hati. Mereka begitu enjoy saat melakukan kegiatannya. Setiap hari mereka isi dengan keceriaan, kelakar dan sebagainya merupakan hiasan terindah bagi mereka. Mereka adalah kelompok wirausahawan yang tidak hanya mengandalkan bakat, apalagi modal financial untuk pengembangan dan perkembangan usahanya. Mereka melakukan kegiatan usaha dengan enjoy, tanpa beban. Mereka meyakini bahwa yang mereka lakukan anak memberikan kondisi terbaik bagi mereka. Seperti yang disampaikan oleh menteri pendidikan, kegiatan kewirausahaan harus diposiiskan sebagai hobi.&lt;br /&gt;Begitulah, seharusnya kegiatan wirausaha yang kita berikan kepada anak-anak. Kita arahkan dan kondisikan anak-anak sehingga mereka mempunyai apresiasi dan persepsi yang benar terhadap kegiatan wirausaha. Dan, salah satu aspek yang perlu kita tanamkan kedalam hati mereka adalah perasaan senang terhadap kegiatan wirausaha. Anak-anak memang harus diarahkan agar menyenangi kegiatan wirausaha sehingga memposisikan kegiatan ini sebagai kegiatan tanpa beban. Anak-anak harus merasakan bahwa kegiatan wirausaha bukanlah kegiatan yang berat, melainkan kegiatan yang mampu membuat hati nyaman.&lt;br /&gt;Jika anak didik sudah mempunyai perasaan suka dan enjoy saat melakukan kegiatan kewirausahaan, maka itu berarti kita telah menanamkan jiwa kewirausahaan secara integral dalam diri anak didik. Memang  kita harus mampu mengkondisikan anak didik sedemikian rupa sehingga secara intens dan terintegrasi dalam diri anak didik.&lt;br /&gt;Lulusan sekolah memang sudah seharusnya adalah sosok-sosok yang mempunyai kemampuan untuk survive. Kemampuan survive tersebut adalah implementasi dari kemampuan wirausaha yang dimiliki anak didik, baik konsep maupun praktiknya. Jika anak didik mampu survive dalam hidupnya, maka hal tersebut mengurangi jumlah pengangguran yang ada. Dengan kemampuan wirausaha yang dimiliki, maka anak didik tidak hanya sebagai sosok-sosok secara umum, melainkan sosok-sosok produktif untuk kehidupan.&lt;br /&gt;Sekolah memang sudah seharusnya melakukan proses pembekalan kemampuan kewirausahaan untuk anak didiknya. Sudah waktunya kita menunjukkan kepada masyarakat bahwa selain memberikan bekal pengetahuan dan sikap kepada anak didik, kita juga memberikan keterampilan kewirausahaan kepada anak didik sehingga saat lulus mereka sudah siap bekerja. Bagi yang mempunyai kesempatan melanjutkan pendidikan dapat melanjutkan ke perguruan tinggi, sedangkan bagi mereka yang tidak, mereka dapat menerapkan kemampuan kewirausahaan untuk kehidupannya. Tidak menjadi pengangguran terdidik, melainkan sebagai wirausahawan muda yang berhasil. Anak-anak siap menjalani kehidupan dengan usaha yang sudah dirintis sejak sekolah. Pasti dapat!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-5246391850767572999?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/5246391850767572999/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=5246391850767572999' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/5246391850767572999'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/5246391850767572999'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2010/01/jiwa-kewirausahaan-perlu-ditanamkan.html' title='Jiwa Kewirausahaan Perlu Ditanamkan secara Integral'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-3020207832805542582</id><published>2010-01-10T21:54:00.000-08:00</published><updated>2010-03-11T20:12:10.884-08:00</updated><title type='text'>Proposal Kerja untuk Proses Pembelajaran Keterampilan</title><content type='html'>Latar Belakang &lt;br /&gt;Pendidikan kejuruan merupakan satu bentuk proses perubahan yang dilakukan untuk memberikan keterampilan kepada anak didik. Hal itu sebagai bentuk kesadaran atas kondisi yang harus dihadapi anak didik di dalam kehidupan masyarakat. Kita menyadari bahwa cukup banyak anak didik yan sukses dalam proses pendidikan tetapi mengalai kegagalan dalam kehidupannya. Mereka mengalami kesulitan saat harus menghadapi kehidupan.&lt;br /&gt;Perubahan pola kehidupan memang menjadi satu hal penting yang harus dapat dihadapi dan diselesaikan sebaik-baiknya. Setiap orang harus mempunyai kompetensi sesuai dengan bidang pekerjaan atau kegiatan yang menjadi tanggungjawabnya. &lt;span class="fullpost"&gt;Untuk hal tersebut, maka salah satu aspek pendidikan dan pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah kejuruan, pendidikan kejuruan adalah memberikan keterampilan aplikatif. &lt;br /&gt;Selama ini yang terjadi pada proses pendidikan kejuruan, terutama proses pembelajaran keterampilan dilakukan sebagai paket yang sudah tersusun sedemikian rupa sehingga ada keseragaman keterampilan pada setiap lulusan. Akibatnya, tingkat persaingan tidak berkurang, bahkan semakin meningkat. Jumlah lulusan tetap maksimal, tetapi daya tampung kerja mengalami minus. Sementara untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, banyak yang terbentur pembiayaan yang sangat tinggi.&lt;br /&gt;Sebenarnya, pembelajaran keterampilan yang diberikan kepada anak didik dalam praktek sekolah sudah cukup memadai bagi penambahan keterampilan bagi anak diidk. Tetapi, pada saat anak harus menerapkannya dalam kehidupan ternyata masih belum mencukupi. Masih cukup banyak keterampilan hasil praktek sekolah yang belum signifikan dengan kebutuhan di masyarakat. Disamping keseragaman materi keterampilan diberikan kepada anak didik saat praktek sekolah. Hal ini karena materi tersebut sudah disusun dalam sebuah kurikulum sentralistik. Kalaupun kurikulum tersebut desentralistik, ternyata silabusnya masih sentralistik.&lt;br /&gt;Tentunya, dengan kondisi seperti ini seringkali terjadi gap antara materi pembelajaran dengan kebutuhan di masyarakat. Bahkan, tidak jarang materi pembelajaran jauh berbeda dengan materi yang dibutuhkan dalam kehidupan. Akibatnya, anak-anak yang sudah lulus tidak dapat menerapkan keterampilan yang didapatkan dari proses pembelajaran di sekolah. Sangat berbeda antara materi pelajaran dengan keterampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan masyarakat. Keterampilan yang dipelajari di sekolah, ternyata sama sekali tidak berguna dalam kehidupan. Tidak salah jika kemudian tumbuh anggapan bahwa proses pembelajaran sia-sia saja.&lt;br /&gt;Jika anggapan seperti ini tumbuh terus dan menjadi sesuatu yang fenomental, maka peran sekolah dalam kehidupan menjadi sesuatu yang diabaikan oleh masyarakat. Masyarakat tidak lagi memberikan respon positif terhadap proses pendidikan, bahkan pendidikan dianggap sebagai sarana untuk pembodohan anak didik. Pendidikan dianggap sebagai sarana untuk menciptakan barisan pengangguran terdidik. Dan, sebagai pencipta citra negatif atas eksistensi bangsa yang besar ini. Pendidikan memang telah menjadi aspek penting untuk membangun karakter dan citra diri suatu bangsa.&lt;br /&gt;Wajib menyusun Proposal Kerja&lt;br /&gt;Pendidikan kejuruan memberikan program pelatihan keterampilan kepada anak didik dalam proses pembelajaran praktek di bengkel sekolah. Pada setiap tingkatan, anak didik diberikan pembelajaran keterampilan, bahkan jatah pembelajarannya lebih banyak dibandingkan dengan materi pelajaran lainnya. Keterampilan adalah citra sekolah kejuruan sebagai wujud  penjagaan eksistensi diri dalam kehidupan masyarakat.&lt;br /&gt;Untuk melaksanakan  proses pembelajaran keterampilan, maka guru mengacu pada isi silabus yang didapat dari pusat. Silabus ini diterjemahkan menjadi sebuah kerangka pendidian dan pembelajaran yang disusun dan diberikan kepada anak didik. kerangka pendidikan dan pembelajaran ini selanjutnya kita namakan sebagai kurikulum. Dengan kurikulum ini, maka anak didik menjalani proses pembelajaran yang diselenggarakan guru di kelas. Proses pembelajaran merupakan kegiatan implementasi dan aplikasi isi kurikulum.&lt;br /&gt;Seharusnya, jika kita melaksanakan proses adaptasi, maka kurikulum yang dipergunakan oleh setiap sekolah disesuaikan dengan hasil yang hendak dicapai. Sementara hasil yang hendak dicapai didasarkan pada kebutuhan masyarakat atas lulusan terdidik yang mempunyai kompetensi sesuai kebutuhan masyarakat. Seharusnya lulusan tiap sekolah mempunyai kompetensi yang berbeda walaupun program keahlian dan kompetensi keahliannya sama. Tetapi kerana yang terjadi adalah copy paste, maka yang terjadi adalah seluruh sekolah menghasilkan lulusan yang kondisinya sama.&lt;br /&gt;Terkait dengan pembelajaran praktek di bengkel, maka seharusnya ada ketentuan khusus bagi anak didik agar dapat mengikuti proses belajar praktek keterampilan di bengkel sekolah. ketentuan khusus ini meurpakan upaya untuk menciptakan citra khusus ada anak didik, lulusan setiap tahunnya. Ketentuan khusus ini diterapkan sejaka anak didik berada di tingkat dua dan berlanjut di tingkat tiga. Dan, ketentuan khusus ini adalah paspor bagi anak didik agar dapat mengikuti proses pembelajaran praktek.&lt;br /&gt;Pada saat anak didik di tingkat satui semester dua, ketentuan khusus harus sudah dipersiapkan oleh anak didik sehingga pada saat mereka naik ke tingkat dua, mereka sudah mempunyai pekerjaan yang harus dilakukan pada proses pembelajaran praktek di bengkel sekolah. pada sisi lainnya, ketentuan khusus yang dilakukan oleh anak didik adalah untuk menyediakan dan pengadaan sarana prasarana untuk mendukung kelancaran proses pembelajaran praktek.&lt;br /&gt;Ketentuan khusus yang kita maksudakan dalam hal ini adalah proposal kerja. Proposal kerja merupakan bentuk pengajuan permintaan kerja yang disusun oleh anak didik kepada sekolah dan dilaksanakan dalam proses pembelajaran. Proposal kerja ini merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh anak didik dan tanpa proposal kerja, maka mereka tidak dapat mengikuti proses pembelajaran praktek pada tingkat selanjutnya, khususnya untuk tingkat dua dan tingkat tiga. Mereka harus menyusun proposal kerja yang nantinya menajdibahan atau pekerjaan yang harus dilakukan saat pembelajaran praktek.&lt;br /&gt;Tentu saja dalam hal ini, proposal kerja yang disusun oleh anak didik harus dinilai oleh satu trim khusus yang berkompeten pada bidangnya. Hanay proposal kerja yang layak saja yang dapat disetujui dan dilaksanakan pada kegiatan pembelajaran praktek di tingkat berikutnya. Jika anak didik belum selesai menyusun proposal, maka selama itu mereka tidak boleh mengikuti proses pembelajaran praktek. Mereka harus menyelesaikan proposal kerja hingga layak diterapkan dan selanjutnya mengikuti proses pembelajaran praktek.&lt;br /&gt;Dengan demikian, maka proses pembelajaran praktek yang dilaksanakan anak didik adalah pekerjaan yang didapatkan dari masyarakat. Artinya, pekerjaan praktek anak didik adalah barang-barang yang memang dibutuhkan oleh masyarakat. Dan, selanjutnya, jika hasil pekerjaan seleai, berarti anak didik sudah mempunyai konsumen untuk satu pekerjaan yang dilakukan. Ini merupakan  awal dari kegiatan kewirausahaan anak didik.&lt;br /&gt;Bagi sekolah, proposal kerja yang dikumpulkan dan disetujui untuk dilaksanakan sebagai materi pekerjaan dalam program pembelajaran praktek merupakan alat untuk menentukan pengadaan bahan dan alat praktek. Berdasarkan isi proposal, khusus aspek bahan yang dibutuhkan untuk pekerjaan tersebut, maka sekolah dapat belanja bahan. Dengan cara seperti ini, maka efektivitas belanja benar-benar dapat dicapai. Artinya, bahan yangd ibeli memang sesuai dengan bahan yang dibutuhkan anak didik dalam proposalnya. Dengan demikian, tidak ada pembelian yang melebihi batas kebutuhannya.&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, program proposal kerja harusd iajdikan program wajib bagis emua anak didik, sejak awal tingkat dua dan diawali pada tingkat atu semester dua. Anak didik yang tidak mengumpulkan proposal atau proposalnya setelah dinilai masuk dalam kelompok atau kategori tidak layak kerja, harus memperbaiki atau segera menyusun proposal. Jika tidak menyusun, berarti mereka tidak dapat mengikuti pembelajaran praktek.&lt;br /&gt;Manfaat yang lain, yang didapat dari proposal kerja ini aalah tumbuhnya kompetensi anak didik dalam proses penyusunan proposal kerja. Proposal kerja sangat dibutuhkan saat hidup di masyarakat. Dalam bidang teknik, proposal kerja adalah permintaan untuk mendapatkan pekerjaan dan selanjutnya mengerjakananya. Semakin pandai, kompeten dalam penyusunan proposdal kerja, maka semakin mudah bagi kita untuk mendapatkan pekerjaan.&lt;br /&gt;Bekerja lebih Konsen&lt;br /&gt;Ketika anak didik menyusun dan mengumpukan proposal kerja dan dinyatakan layak untuk dilaksanakan, maka berarti anak didik mendapatkan pekerjaan yang diharapkan. Penyusunan proposal didasari pada penentuan pilihan pekerjaan yang didapatkan di masyarakat. Pada saat menusun proposal, anak didik terlebih dahulu menyeleksi berbagai barang yang dibutuhkan amsyarakat. Artinya, pekerjaan yang dilakukan oleh anak didik adalah pilihannya sendiri.&lt;br /&gt;Tentunya, pada saat penyusunan proposal, anak didik telah menentukan tujuan pembuatan proposal, tujuan dan manfaat barang, membuat gambar kerja, bahan dan alat yang dipakai, biaya pekerjaan dan tidak kalah pentingnya adalah perhitungan ekonomi, penjualan sehingga didapatkan keuntungan dari pekerjaan tersebut. Inilah hal yang diharapkan dapat menjadi daya tarik bagi anak didik terhadap proses pendidikan.&lt;br /&gt;Pada sisi anak didik, kegiatan ini merupakan nilai plus bagi keterampilan dirinya. Dengan memuat proposal, maka secara teknis mereka mempunyai pengalaman dalam proses penyusunan proposal sehingga dapat menjadi keterampilan khusus bagi kehidupannya. Tidak banyak orang-orang dengan kemampuan penyusunan proposal yang aplikatif dan efektif. Oleh karena itulah, maka orang-orang yang kompetns dalam penyusunan proposal menjadi sosok-sosok yang dibutuhkan masyarakat.&lt;br /&gt;Sebagai orang-orang teknik, maka keterampilan-keterampilan aplikatif memang menjadi satu tuntutan yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Dengan keterampilan aplikatif ini, maka pekerjaan dapat dilakukan dengan lebih mudah. Dan, dengan keterampilan aplikatif ini, maka tingkat konsentrasi kerja terjaga maksimal sehingga benar-benar efektif. Hal ini karena pekerjaan yang dikerjakan merupakan permintaannya sendiri. Dan, karena permintaannya sendiri, maka asumsi dalam hal ini adalah mereka benar-benar menguasai segala aspek terkait dengan pekerjaan tersebut.&lt;br /&gt;Jika kita sudah familiar dengan segala yang kita kerjakan, maka segalanya berjalan lancar. Kita tidak kesulitan saat harus mengerjakan pekerjaan sebaba kita sudah mengetahui hal-hal yang harus dikerjakan. Selain itu, pekerjaan ini adalah pengajuan, permintaan kita dan itu berarti kita sangat memahami segala hal yang kita ajukan. Tentunya kondisi ini sangat kondusif untuk melakukan pekerjaan agar hasilnya maksimal.&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;Pembelajaran keterampilan memang seharusnya dipolakan sedemikian rupa sehingga secara teknis anak didik mempunyai pengalaman maksimal. Pengalaman maksimal ini pada akhirnya menjadi citra diri dalam mempersiapkan masa depan. Apalagi jika kita melihat kondisi yang berlaku dalam kehidupan, dimana keterampilan merupakan prasyarat untuk dapat survive, maka pembelajaran keterampilan merupakan satu keharusan.&lt;br /&gt;Dan, untuk memaksimalkan peran serta anak didik dalam proses pembelajaran keterampilan, maka salah satu aspek penting yang harus dilakukan oleh anak didik adalah menyusun proposal kerja. Dengan proposal kerja ini, maka menunjukkan bahwa anak didik siap untuk melakukan kegiatan belajar. Mereka sudah mempunyai materi yang harus dikerjakan dan sekolah memfasilitasi kegiatan tersebut dengan menyediakan segala hal terkait dengan pekerjaan tersebut. Sekolah dapat mempersiapkan bahan dan alat untuk bekerja bagi anak-anak.&lt;br /&gt;Proposal kerja menjadi sesuatu yang sangat penting dan menentukan proses dan hasil proses yang diharapkan bersama. Bagi pihak sekolah, proposal kerja ini digunakan untuk menyusun rencana anggaran sekolah, khususnya dalam alokasi penyediaan barang dan alat kerja. Dengan proposal kerja ini, maka sekolah tidak perlu lagi belanja untuk hal-hal yang kurang efektif. Sekolah hanya belanja untuk hal-hal yang memang diperlukan untuk pekerjaan anak diidk.&lt;br /&gt;Sementara bagi anak didk, proposal kerja ini merupakan alur jalan yang harus dilalui untuk memperoleh pengalaman belajar keterampilan secara utuh. Dengan proposal, maka langkah kerja anak didik semakin sistematis dan teratur.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-3020207832805542582?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/3020207832805542582/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=3020207832805542582' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/3020207832805542582'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/3020207832805542582'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2010/01/proposal-kerja-untuk-proses.html' title='Proposal Kerja untuk Proses Pembelajaran Keterampilan'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-1780196656506852562</id><published>2010-01-10T21:51:00.000-08:00</published><updated>2010-03-11T20:13:28.212-08:00</updated><title type='text'>Jika Anak Melakukan Pelanggaran Sekolah</title><content type='html'>Latar belakang&lt;br /&gt;Diakui atau tidak, dalam dunia pendidikan formal, cukup banyak anak didik yang kehilangan semangat belajarnya. Mereka tidak bersemangat untuk menjalani tugas dan kewajibannya sebagai pelajar. Justru, mereka banyak yang meninggalkan  ruang belajar untuk melakukan kegiatan lain, misalnya kongkow di taman sekolah atau di kantin sekolah. Walau seringkali diobrak, tetapi kegiatan tersebut tetap terjadi dan dilakukan. Bahkan tidak jarang mereka yang sengaja meninggalkan ruang belajar, tentunya dengan pamit pada guru untuk ke ‘belakang’. &lt;span class="fullpost"&gt;Tentu saja itu hanya alasan semata. Mereka tidak betul-betul ke ‘belakang’, melainkan hanya duduk-duduk di kantin atau di tempat lain yang tersembunyi dari pemantauan guru.&lt;br /&gt;Jika kita selidiki, maka ada banyak alasan yang sesungguhnya membuat mereka bersikap seperti itu. Mereka memang melakukan hal tersebut secara sengaja sebab semangat belajar yang runtuh. Mereka kehilangan semangat belajar pada saat proses belajar sedang berlangsung, bahkan sebelum proses belajar berlangsung. Oleh karena itulah, maka mereka meninggalkan kelas belajarnya. Mereka merasa enggan untuk belajar dan pergi ke belakang adalah untuk mengalihkan pikiran dan kejenuhan yang dihadapi. Hal ini sebenarnya merupakan fenomena yang terjadi di hampir seluruh sekolah yang ada. Tidak hanya di sekolah swasta, melainkan terjadi juga di sekolah negeri, yang notabene sering dijadikan sebagai acuan atas kedisplinan belajar.&lt;br /&gt;Kita memang tidak dapat memberikan cap kondisi ini kepada sekolah begitu saja. Sebagai sebuah fenomena, maka kita menyadari bahwa semua ini merupakan kejadian umum. Semua sekolah dapat saja mengalami hal seperti ini. Oleh karena itulah, maka kita harus mampu mengantisipasi agar sekolah kita tidak mengalami hal yang sama, setidaknya mengurangi kuantitas pelanggaran jenis tersebut. Hal ini karena kita menyadari bahwa sebenarnya ada banyak aspek yang menyebabkan anak didik bersikap seperti itu.  Dan, semua itu bukan semata-mata kesalahan anak didik.&lt;br /&gt;Semua bukan kesalahan anak didik&lt;br /&gt;Selama ini yang terjadi setiap kali ada anak didik yang melakukan pelanggaran adalah mayoritas kesalahan ditimpahkan pada anak didik. vonis salah selalu jatuh ke anak didik sebagai pesakitan ataupun kambing hitam atas segala hal yang terjadi. Ini merupakan hal yang lazim dilakukan, bhakan oleh para orangtua saat menyadari bahwa anaknya melakukan pelanggaran kedisiplinan sekolah.&lt;br /&gt;Kita memang harus mau mengakui bahwa sebenarnya, pada saat terjadi pelanggaran kedisiplinan oleh anak dididik, semua itu bukan secara otomatis menunjukkan bahwa anak didik melakukan suatu kesalahan. Tidak semua kejadian yang melibatkan anak didik merupakan akibat kesalahan anak didik. hal tersebut harus kita pahami betul sehingga kita dapat bertindak proporsional dan tidak salah langkah.  Apa jadinya jika apa yang kita lakukan ternyata salah?&lt;br /&gt;Anak didik adalah sosok manusia yang sedang mencari jati diri. Mereka sedang membangun sebuah gedung untuk kehidupan masa depannya. Mereka mengikuti proses belajar di sekolah adalah untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Mereka adalah sosok pribadi sehingga pada saatnya mereka harus bertanggungjawab atas kehidupan pribadinya. Untuk hal tersebut, maka mereka harus mepunyia kemampuan. Oleh karena itulah, maka mereka harus bersekolah, menempuh pendidikan dan belajar banyak hal agar kehidupan di masa depan menjadi lebih baik dari yang selama ini mereka alami bersama keluarganya.&lt;br /&gt;Sebagai pribadi yang sedang mencari jati diri, tentunya kondisi kejiwaan mereka masih labil. Artinya, mereka masih gampang mengalami perubahan sikap dan pola kehidupan. Bahkan karena kelabilannya, maka mereka gampang sekali terpengaruh oleh lingkungannya. Dan, umumnya pengaruh yang gampang sekali dicerna dan dimiliki adalah pengaruh negative. Oleh karena itulah, maka tidak salah jika setiap kali ada permasalahan yang terjadi dalam kehidupan anak didik, maka yang muncul adalah penghakiman terhadap anak didik.&lt;br /&gt;Sungguh, hal ini merupakan satu sikap yang kurang proporsional. Dalam dunia hukum kita mengenal istilah praduga tidak bersalah sehingga anak didik juga berhak mndapatkan kondisi tersebut. Jika ada kejadian dan hal tersebut melibatkan anak didik, seharusnya anak didik tidak begitu saja mendapatkan perlakuan sebagai pesakitan. Anak didik seharusnya diperlakukan secara proporsional dan didasari oleh rasa kasih sayang serta langkah-langkah edukatif.&lt;br /&gt;Semua kejadian bukan semata kesalahan anak didik. sikap dan pola pikir ini harus kita tanamkan dalam hati kita sebagai upaya positif thinking terhadap segala hal yang terjadi. Di samping itu, kita juga harus meyakini bahwa pada dasarnya anak didik adalah pribadi yang baik. Oleh karena itulah, mereka dikirim ke sekolah untuk meningkatkan nilai-nilai positif dalam dirinya pada tingkat perkembangan yang signifikan dengan kebutuhan hidupnya.&lt;br /&gt;Persepsi positif terhadap setiap  kondisi memungkinkan terciptanya satu interaksi positif diantara guru dan anak didik. Anak didik akan merasa sangat diperhatikan oleh guru dan selanjutnya guru akan mendapatkan sikap terbaik dari anak didik. Dengan demikian, maka anak didik dapat menjadi sosok-sosok yang penurut pada setiap ucapan yang kita tujukan untuk mereka. Begitulah, kita sebagai guru tidak seharusnya menjatuhkan vonis bersalah begitu saja kepada anak didik sebelum mengetahui secara pasti pokok permasalahannya. Kita harus meyakini bahwa tidak semua masalah merupakan kesalahan anak didik.&lt;br /&gt;Beberapa hal penyebab anak didik melakukan pelanggaran.&lt;br /&gt;Pada saat kita menghadapi anak didik yang bermasalah, maka seharusnya pada saat itu kita menganalisa segala kemungkinan yang dapat menyebabkan kejadian tersebut. Guru harus secara arif melakukan analisa terhadap permasalahan dan tidak secara langsung membuat keputusan bahwa anak didik bersalah telah melakukan pelanggaran. Dan, selanjutnya pelanggaran tersebut Jika kita telaah disebabkan oleh banyak hal, misalnya pola pembelajaran yang kurang tepat, pendidik yang kurang memahami kondisi dan pola pendidikan, atau proses pendidikan dan pembelajaran yang menjemukan.&lt;br /&gt;Proses pendidikan dan pembelajaran merupakan proses panjang yang dilakukan secara sistematis. Proses secara sistematis ini seringkali menghadirkan situasi yang berbeda pada para pelaku kegiatan. Dengan pola yang tersistematis tersebut, maka ada satu kondisi yang harus dilakukan dan tidak boleh diabaikan atau ditinggalkan oleh para pelakunya jika ingin mencapai keberhasilan. Di dalam proses pendidikan dan pembelajaran, anak didik memang harus mengikuti proses yang sudah tersistem dan berlangsung secara terus menerus, berkesinambungan dalam sebuah interaksi edukatif dengan seorang guru sebagai fasilitatornya.&lt;br /&gt;Sebagai kegiatan yang dilakukan secara berkesinambungan, tentunya dapat menyebabkan situasi negative di hati anak didik. situasi yang terus menerus terjadi secara berkesinambungan, apalagi monoton, tentunya menyebabkan pesertanya disergap kejenuhan. Mereka dapat kehilangan sense untuk mengikuti proses belajar dan menumbuhkan kebosanan dan keengganan untuk mengikuti proses yang dilakukan atas dirinya. Kehilangan sense inilah yang selanjutnya ditengarai menjadi salah satu penyebab anak didik melakukan pelanggaran kedisiplinan di sekolah. Anak didik kehilangan rasa terhadap proses yang seharusnya mereka jalani secara maksimal.&lt;br /&gt;Sense terhadap proses belajar menjadi sangat penting sebab dengan sense tersebut, maka anak didik merasakan bahwa proses belajar begitu menarik dan harus diikuti. Tetapi, ketika sense tersebut hilang, maka yang tertinggal hanyalah sebuah proses yang sangat menjemukan dan memancing mereka untuk melakukan sesuatu diluar pakemnya sebagai pelajar. Mereka merasa enggan mengikuti proses belajar dan justru lebih suka dan enjoy saat meninggalkan proses belajar tersebut. Jika anak didik lebih suka meninggalkan proses pendidikan, maka sebenarnya pada saat tersebut proses belajar dalam posisi diujung tanduk.&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, maka seorang guru harus memahami eksistensi sense belajar ini sehingga terus terjaga kualitas dan seangat belajar anak didik. guru hartus dapat menjaga agar sense belajar yang dimiliki anak didik tetap berkobar. Guru harus dapat melakukan hal tersebut agar proses belajar yang dibimbingnya dapat berjalan lancar. Hal ini karena jika sense belajar anak didik bagus, maka tingkat kualitas konsentrasi dan keterlibatan anak dalam proses pendidikan dan pembelajaran dapat maksimal. Tentunya jika kondisi seperti ini, maka tingkat keberhasilan proses sangat tinggi.&lt;br /&gt;Terkait dengan berbagai pelanggaran yang sering kita jumpai di sekolah-sekolah, maka dapat kita jelaskan satu persatu agar dapat kita hadapi setiap masalah secara proporsional. Hal ini sangat penting agar kita tidak lagi menjadi hakim yang begitu saja memvonis anakdidik hanya karena telah melakukan satu pelanggaran disiplin sekolah, tanpa mau mengorek latar belakang anak didik melakukan hal tersebut. &lt;br /&gt;a. Pola pembelajaran yang kurang tepat&lt;br /&gt;Bahwa proses pembelajaran dilaksanakan mengikuti pola-pola tertentu sehingga memberikan hasil sebagaimana yang diharapkan. Pola-pola ini merupakan langkah taktis yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan dan ketertarikan anak didik terhadap materi pelajaran. Proses pembelajaran memberikan kesempatan bagi anak didik untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan untuk bekal kehidupannya. Pengetahuan dan keterampilan inilah yang diharapkan dapat memposisikan anak didik secara proporsional di masyarakat.&lt;br /&gt;Dan, setiap materi pelajaran mempunyai cirri khas di dalam proses transferring ke anak didik. Setiap materi membutuhkan cara-cara yang berbeda pada saat menyampaikan kepada anak didik. Kita tidak dapat menerapkan cara secara sembarangan sebab hal tersebut justru dapat menjadi penghalang tersampaikannya materi pelajaran ke anak didik. Seharusnya, setiap materi tersampaikan kepada anak didik secara baik, jelas dan mudah diterima oleh anak didik. Bahkan, didalam satu mata pelajaran, setiap materinya disampaikan dengan cara yang berbeda agar dapat diterima anak didik secara maksimal. Misalnya, ada materi yang dapat disampaikan dengan cara ceramah, tetapi materi yang lain menuntut kegiatan berupa praktek. Tentunya, jika kedua materi ini disampaikan dengan cara yang sama, maka hasilnya tidak dapat maksimal.&lt;br /&gt;Tentunya, jika proses pembelajaran yang diterapkan tidak tepat, maka hal tersebut berdampak pada hilangnya semangat anak didik untuk mengikuti proses tersebut. Anak didik merasa sulit saat harus beradaptasi dengan proses pembelajaran yang diikutinya. Mereka tidak dapat mengikuti, apalagi dituntut untuk memahami setiap aspek yang diajarkan oleh guru. Akibatnya, mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung. Akhirnya, mereka menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan diluar proses pembelajaran. mereka kehilangan konsentrasi dan sibuk dengan kegiatannya masing-masing atau berkelompok.&lt;br /&gt;Jika kondisi ini tidak disadari oleh guru, maka anak menjadi semakin jauh dari kegiatan belajar dan tenggelam dalam kegiatan yang diciptakannya sendiri. Ada anak didik yang tenggelam dalam pikirannya sendiri sehingga tidak memperhatikan semua penjelasan guru. Ada juga anak didik yang sibuk bergurau dengan teman-temannya  sehingga suasana kelas menjadi ramai dan rebut. Dan, yang lebih tragis lagi adalah anak-anak yang tidak betah berada di dalam ruangan kelas, mereka akhirnya pamitan ke belakang pada sang guru.&lt;br /&gt;Anak-anak memang pamitan ke belakang, artinya mereka mau kekamar kecil untuk buang hajat kecil ataupun hajat besar. Tetapi, jika kita telusuri yang mereka lakukan di belakang, kita pasti mengurut dada sebab mereka ternyata kongkow di kantin atau taman sekolah. Mereka memang sengaja neinggalkan ruang kelas untuk menghindari proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh sang guru. Mereka merasa tersiksa dengan pola pembelajaran yang dilaksanakan oleh sang guru. Mereka merasa bahwa guru tidak dapat melaksanakan proses pembelajaran sebab proses tersebut ternyata justru membuat mereka bingung dan sulit menerimanya.&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, maka pada saat melaksanakan proses pembelajaran, guru harus mampu menentukan pola pembelajaran yang diterapkan untuk anak didiknya, disesuaikan dengan tipe materi pelajaran yang saat itu harus diberikan kepada anak didik. guru harus dapat memilah dan memilih pola belajar yang sesuai dengan materi pelajarannya. Jika tidak, maka hal tersebut menyebabkan anak didik melakukan pelanggaran kedisiplinan yang sebenarnya dipicu oleh pola pembelajaran yang dilaksanakan oleh sang guru. Lantas jika hal seperti ini terjadi, siapa yang patut disalahkan? Salahkah anak didik jika mengalami kejemuan saat belajar dan mencari solusi dengan bermain atau berbincang dengan temannya atau pergi ke kantin sekolah?&lt;br /&gt;b. Pendidik yang kurang memahami kondisi dan pola pendidikan&lt;br /&gt;Di dalam proses pembelajaran, posisi guru sebagai fasilitator memungkinkan guru memberikan pelayanan dan bimbingan serta pendampingan anak didik saat mengikuti proses pembelajaran. Dengan pelayanan guru, maka anak didik dapat memeproleh aspek pendidikan dan pembelajaran yang diharapkannya. Dalam konteks ini, guru menjadi sosok yang selalu siap memberikan bantuan kepada anak didik pada saat mengalami kesulitan. Dalam hal ini, kita berasumsi bahwa anak didik masih dalam tahap mengembangkan diri sehingga seringkali menghadapi kesulitan dan berhak mendapatkan bantuan edukasi.&lt;br /&gt;Guru memang bertugas melayani masyarakat, anak didik dalam upaya peningkatan kualitas diri. Guru melayani anak didik dalam hal melakukan perubahan kemampuan yang dimilikinya. Kita menyadari bahwa pada awalnya anak didik adalah sosok yang belum dapat melakukan sesuatu atau belum mempunyai sesuatu dan ingin mendapatkannya dari proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Oleh karena itulah, guru bertugas membantu melayani anak didik agar mereka dapat menggapai keinginan tersebut. Memang, untuk dapat memiliki suatu kemampuan dapat dilakukan secara autodidak, tetapi eksistensi guru tetap menjadi acuan untuk dapat mencapai kesuksesan tersebut.&lt;br /&gt;Terkait dengan tugas dan kewajiban tersebut, maka hal penting yang harus dimiliki oleh guru adalah pemahaman atas segala kondisi yang terjadi di lingkungannya. Guru harus memahami kondisi kelasnya, kondisi anak didiknya dan berbagai kondisi lain yang terkait dengan peningkatan kualitas dirinya. Hal ini karena kondisi lingkungan mempunyai kontribusi yang sangat besar terhadap proses pengembangan dan peningkatan kualitas diri tersebut. Tidak heran jika pada saat melaksanakan proses pendidikan dan pembelajaran guru dituntut untuk dapat memahami kondisi dan pola pendidikan terkait dengan kondisi tersebut.&lt;br /&gt;Bahwa kondisi seseorang ataupun lingkungan pada saat melaksanakan proses pendidikan dan pembelajaran ikut menentukan keberhasilan proses, merupakan sesuatu yang sudah kita pahami. Jika kondisi tidak mendukung, maka proses pendidikan dan pembelajaran tidak dapat terlaksana sebaik-baiknya. Walau kita menyadari bahwa proses belajar dapat dilakukan kapan saja, dimana saja dan dengan siapa saja, tetapi pemahaman terhadap kondisi pada saat proses berlangsung merupakan hal penting bagi semua guru. Jika tidak, maka anak didik sangat mungkin melakukan tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan kriteria hasil proses pendidikan dan pembelajaran yang kita lakukan.&lt;br /&gt;Pelanggaran anak terhadap kedisiplinan yang diterapkan di sekolah sebenarnya merupakan satu kondisi yang tercipta sebagai dampak. Sesungguhnya tidak ada anak yang ingin melanggar aturan kedisiplinan yang sudah diterapkan, apalagi aturan tersebut sudah disosialisasikan secara luas di seluruh civitas akademika. Ketika mengetahui tata aturan yang diberlakukan, biasanya setiap sekolah menerbitkan buku yang berisi tata tertib, tata aturan yang harus diterapkan dalam pola interaksi, maka sejak itulah mereka sudah bertekad untuk mengikuti dan mematuhi semua aturan itu. Masalahnya, kenapa tetap saja ada, banyak anak didik yang melanggar kedisiplinan sekolah?&lt;br /&gt;Dalam hal ini, kita memang harus melihat masalah secara prporsional. Kita harus membuang jauh-jauh subyektivitas kita dan mengedepankan obyektivitas agar hasil penilaian proporsional. Jika kita masih menyertakan subyektivitas dikawatirkan apa yang kita lakukan masih penuh dengan tendensi pribadi atau tuntutan yang bersifat pribadi. Melihat masalah secara proporsional berarti kita harus melakukan segala hal sesuai dengan haknya dan tidak menyertakan keperluan pribadi di dalamnya. Begitu juga pada saat melaksanakan proses pendidikan dan pembelajaran.&lt;br /&gt;Pemahaman guru terhadap kondisi dan pola pendidikan ditengarai menjadi salah satu aspek yang dapat meningkatkan keberhasilan proses. Hal ini juga dapat mengikat anak didik untuk tetap berada di tempat, ruang kelas pada saat proses dilaksanakan. Guru yang tanggap terhadap kondisi lingkungan memungkinkan untuk tetap mengkondisikan anak-anak pada situasi belajar dan mengarahkan anak-anak yang menimpang pada proses belajar.&lt;br /&gt;Pemahaman guru terhadap kondisi dan pola pendidikan merupakan wujud dari kemampuan respon, kemampuan menanggapi guru terhadap kondisi lingkungan belajar. Semakin bagus kemampuan respon guru, tentunya kondisi pembelajaran semakin bagus juga. Guru segera mengetahui setiap kejadian atau indikasi akan terjadinya sesuatu di dalam ruang pembelajarannya. Dengan kemampuan ini, maka guru dapat melakukan langkah-langkah preventif terhadap kondisi yang dapat mengancam proses.&lt;br /&gt;Kemampuan guru untuk merespon atau mengantisipasi kondisi seperti ini memungkinkan bagi guru untuk mencegah terjadinya hal-hal negative dalam interaksi personal. Guru dapat segera menyelesaikan permasalahan sebelum masalah itu sendiri muncul ke permukaan. Dengan demikian, maka kondisi pembelajaran yang diampuhnya tetap terjaga dan terkontrol sepanjang waktu serta mampu mengarahkan anak didik ada jalur yang seharusnya mereka lalui. Eksistensi dan kemampuan guru menjadi kendaraan yang bakal membawa anak didik dalam kondisi yang kondusif untuk belajar dan menghindarkan anak didik melakukan hal-hal yang menyimpang dari seharusnya.&lt;br /&gt;Seharusnya, pelanggaran kedisiplinan yang dilakukan oleh anak didik dapat dicegah oleh para guru. Mereka seharusnya sudah mengetahui adanya indikasi pelanggaran jauh sebelum pelanggaran terjadi sehingga tidak menimbulkan kesulitan. Tentunya dengan demikian, kondisi interaksi terjaga bahkan dapat dikembangkan sebagai proses pembelajaran inovatif dengan peran aktif anak didik. pola pendidikan dan pembelajaran seperti ini sudah saatnya diterapkan sebagai upaya peningkatan kualitas hasil pembelajaran. Oleh karena itulah, guru harus mempunyai pemahaman terhadap kondisi lingkungannya. Guru tidak boleh acuh apalagi tidak respon pada lingkungannya.&lt;br /&gt;c. Proses pendidikan dan pembelajaran yang menjemukan&lt;br /&gt;Kegiatan pembelajaran menuntut tersedianya kondisi yang kondusif. Kondisi kondusif yang kita maksudkan dalam hal ini adalah kondisi yang benar-benar mampu menumbuh kembangkan kesadaran anak didik dalam mengikuti proses pendidikan dan pembelajaran. Bahwa setiap peserta didik harus terlibat secara aktif dalam kegiatan pembelajaran sebab mereka yang seharusnya melakukan proses belajar. Anak didik mengikuti proses pembelajaran sebab ingin melakukan perubahan atas kompetensi yang ada pada dirinya. Oleh karena itulah, maka mereka harus menyadari tugas dan kewajibannya dalam proses pembelajaran.&lt;br /&gt;Sementara untuk kelancaran proses pembelajaran, maka ada seseorang yang bertugas untuk memfasilitasi dan membimbing serta mendampingi agar proses berlangsung maksimal. Dengan fasilitasi, bimbingan dan pendampingan ini, maka apa yang seharusnya dipelajari anak didik akan dimiliki secara maksimal. Anak didik tidak melakukan pembelajaran secara acak melainkan sudah disistematis. Hal ini sangat penting sehingga pengalaman anak didik sesuai dengan tingkatannya.&lt;br /&gt;Dalam hal pendampingan dan pembimbingan, anak didik berharap mendapatkan sosok yang benar-benar mampu memberikan segala yang diharapkannya. Anak didik berharap agar guru pembimbingnya benar-benar sosok yang mengerti kebutuhan anak didiknya. Guru haruslah sosok yang mempunyai kemampuan untuk membimbing, memfasilitasi dan mendampingi anak didik pada saat proses pembelajaran. Oleh karena itulah, maka guru harus mempunyai kemampuan untuk mengelola dan melaksanakan proses pembelajaran.&lt;br /&gt;Guru yang mampu mengelola dan melaksanakan proses pembelajaran secara baik adalah guru yang mampu menciptakan kondis terbaik bagi proses pembelajarannya. Guru harus menerapkan konsep PAIKEM agar proses pembelajarannya menjadi sesuatu yang berarti bagi anak didik. Penerapan konsep ini sangat berarti agar tidak meumbuhkan kejemuan di hati anak didik. Selama ini yang terjadi adalah kebosanan anak didik terhadap situasi pembelajaran yang dilaksanakan oleh para guru. Anak didik menganggap bahwa proses pembelajaran yang dilaksanakan guru begitu menjemukan sehingga mengurangi atensi mereka pada kegiatan belajar. Dan, secara keseluruhan, anak didik beranggapapan bahwa proses pendidikan menjadi sebuah penjara bagi kehidupannya.&lt;br /&gt;Kita perlu mengakui bhawa pada saat sekarang, sekolah dan proses belajar telah dianggap sebagai penjara bagi anak didik. Mereka merasa bahwa proses pembelajaran telah membatasi aktivitasnya. Anak merasa terkungkung di dalam ruang ukuran enam puluh tiga meter persegi, tujuh meter kali sembilan meter. Selama empat jam atau 4 kali empat puluh lima menit mereka harus berada di ruangan kelas dan mendengarkan atau menyaksikan segala hal yang dilakukan oleh guru. Alasan klasik yang mereka dapatkan adalah untuk kepentingan amsa depan. Bahwa mereka mengikuti proses pendidikan dan pembelajaran adalah untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Dan, hal tersebut harus mereka lakukan sejak sekolah dasar hingga sekolah lanjutan. Mereka harus mengikuti berbagai tata aturan yang kadangkala sangat bertentangan dengan keinginannya, bahkan kebutuhannya. Anak didik dikondisikan agar melakukan sesuatu tidak sesuai dengan konsep hdupnya, tanpa dapat melawan atau memberontak untuk melepaskan diri.&lt;br /&gt;Jika kemudian mereka memberontak, maka pada saat itu dianggap sebagai pelanggaran kedisiplinan. Tentunya, anak didik tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka telah dikondisikan untuk mengikuti segala aturan yang dusah disusun. Mereka juga harus mengikuti berbagai kegiatan yang diprogramkan untuk proses belajar, mereka tidak dapat menolak atau dianggap telah melanggar kedisiplinan. Tentunya kondisi ini menciptakan persepsi negative di hati anak didik. Apalagi jika proses pembelajaran dilaksanakan dalam kondisi yang tidak menarik, tidak memikat hati. Anak didik gampang mengalami kejenuhan dan akhirnya jemu dengan proses belajar, yang akhirnya membuat mereka ingin keluar kelas.&lt;br /&gt;Guru yang tidak kreatif pada umumnya melaksanakan proses pembelajaran secara konvensional. Mereka mempertahankan pola pembelajaran tersebut dengan asumsi bahwa pola tersebut telah terbukti efektif dalam upaya peningkatan kompetensi anak didik. Sementara kita menyadari bahwa kondisi setiap tahun mengalami perubahan. Pola pemikrian anak didik terus mengalami perubahan, bahkan apresiasi terhadap proses pembelajaran-pun mengalami perubahan. Anak didik jaman sekarang mempunyai penilaian berbeda terhadap proses pembelajaran.&lt;br /&gt;Anak didik jaman sekarang adalah generasi instan, artinya mereka ingin segala hal yang diikutinya sudah siap dan memang terposisikan untuk mereka. Mereka ingin proses pembelajaran sudah dalam bentuk jadi, tidak menuntut mereka terlalu banyak menerima. Mereka sangat perlu berpikir dan juga menganalisa materi pelajaran. Tentu saja hal ini dalam konsep pendidikan dan pembelajaran merupakan tujuan proses belajar, tetapi kenyataan yang ada di lapangan seperti itu. Anak didik tidak siap belajar tetapi siap digerojok dengan pengetahuan dan keterampilan. Setidaknya, mereka berharap mengikuti proses pembelajaran yang menuntut secara aktif peran serta mereka dan tidak memposisikan mereka sebagai obyek semata.&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, tidak aneh jika guru menguasai kelas, maka anak didik merasa sebagai sosok yang tidak aktif. Mereka menjadi sosok pendengar atau penyalin materi yang dicatatkan oleh guru di papan tulis atau didiktekan di lembaran kertas tulis. Dalam konteks kita sekarang ini, penguasaan guru di dalam pengelolaan kelas bukanlah diartikan sebagai penguasaan tunggal atas kelas tersebut. Konteks ini memberikan informasi pada kita bahwa penguasaan guru dalam pengelolaan kelas adalah pada bagaimana guru mengorganisir kelasnya sehingga anak didik yang aktif melaksanakan proses pembelajaran, guru hanyalah fasilitator dalam proses tersebut. Guru bukan penguasa tunggal dalam kelas belajar, justru guru adalah pelayan bagi anak didik agar proses belajarnya dapat maksimal.&lt;br /&gt;Anak didik harus berperan dalam proses pembelajaran sehingga mereka menyadari bahwa proses tersebut adalah tugas dan kewajiban. Dengan demikian, maka mereka terbebaskan dari kondisi jemu sebab harus ikut terlibat aktif dalam proses belajar, bukan sekedar memperhatikan atau mendengarkan segala penjelasan guru. Justru pada saat-saat tertentu, mereka harus menjelaskan kepada teman-temannya tentang materi pelajaran yang sedang mereka pelajari bersama. Berarti, tidak ada waktu bagi mereka untuk bersikap seenaknya atau mengabaikan proses pembelajaran. Artinya, anak didik dapat berperan sebagai pembimbing temannya sebagai asisten guru dalam proses pembelajaran.&lt;br /&gt;Memang, jika anak melakukan pelanggaran disiplin sekolah, kita tidak dapat langsung menjatuhkan vonis kesalahan kepada anak didik. Kita perlu menganalisa dan mengambil kesimpulan atas analisa tersebut. Kita harus mengembalikan pokok permasalahan pada setiap aspek penting dalam proses pembelajaran. Pelanggaran disiplin anak didik pada kenyataannya bukan semata-mata karena kesalahan anak didik. Ada banyak hal yang dapat menjadi penyebab anak didik melakukan kesalahan, yang selanjutnya kita katakan sebagai pelanggaran disiplin sekolah.&lt;br /&gt;Untuk itulah, maka seharusnya kita segera melakukan langkah evaluasi ataupun introspeksi atas segala yang kita lakukan pada saat melakukan proses pembelajaran. Kita harus mengevaluasi pola pembelajaran yang kita terapkan dalam proses dan segera melakukan langkah antisipasif ataupun rehabilitasi dan kuratif jika ternyata ada langkah yang tidak signifikan terhadap proses belajar anak didik. Guru harus menyadari bahwa di dalam proses belajar, yang melakukan proses adalah anak didik sehingga guru perlu memberi kesempatan seluas-luasnya kepada anak didik untuk melakukan proses pembelajaran dibawah pembimbingannya.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, jika kita mendapati anak didik melakukan pelanggaran disiplin sekolah, kita setidaknya menerapkan konsep praduga tak bersalah kepada anak didik.  Kita harus yakin bahwa jika anak didik melanggar disiplin sekolah bukan berarti anak didik melakukan suatu kesalahan. Sebab pelanggaran yang dilakukan oleh anak diidk tersebut dapat saja merupakan satu bentuk protes terhadap kondisi yang dihadapi saat belajar. Anak diidk merasa tidak nyaman dengan kondisi pembelajaran yang dijalaninya, maka mereka berharap ada perubahan dengan melakukan hal-hal yang melawan kenyamanan guru. Dan, guru seharusnya segera tanggap terhadap setiap perubahan sikap anak didik pada saat mengikuti proses pembelajaran dan selanjutnya dapat memikat atensi belajar.&lt;br /&gt;Pemahaman atas kondisi, kebutuhan dan pola pembelajaran yang sesuai dengan tingkatan apresiasi dan persepsi anak didik atas materi pelajaran sangat mendukung atensi anak didik. Guru harus mempunyai kemampuan tersebut jika menginginkan anak didiknya tetap bertahan tinggal di dalam kelas pembelajarannya. Jika tidak, maka sampai kapanpun anak didik tetap berlaku seperti itu karena mereka merasa kecewa dengan proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru tetapi guru tidak memahaminya sehingga tidak dapat segera melakukan langkah konkrit penyelesaiannya. Bagi anak didik, sikap guru yang tidak merespon sikap mereka merupakan satu sikap negative dan harus dihilangkan dari seorang guru. Guru harus responsib terhadap setiap kondisi di kelasnya atau anak didiknya. Guru tidak hanya menyampaikan materi pelajaran melainkan membimbing dan memfasilitasi anak didik untuk belajar lebih baik.&lt;br /&gt;Jika kita ingin mencegah anak didik dari tindakan pelanggaran kedisiplinan sekolah, maka guru harus responsib dan segera melakukan langkah-langkah antisipasi atas kondisi negative yang dapat tercipta dalam proses pembelajaran yang dilaksanakannya. Hal ini karena anak didik sangat mungkin terpengaruh hal-hal negative dalam kehidupan dan guru bertugas membimbing anak didik.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-1780196656506852562?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/1780196656506852562/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=1780196656506852562' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/1780196656506852562'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/1780196656506852562'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2010/01/jika-anak-melakukan-pelanggaran-sekolah.html' title='Jika Anak Melakukan Pelanggaran Sekolah'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-3991598650056542627</id><published>2010-01-08T21:20:00.000-08:00</published><updated>2010-03-11T20:14:26.501-08:00</updated><title type='text'>Ujian Nasional, perlukah diperdebatkan lagi?</title><content type='html'>masalah Ujian nasional sampai sekarang maish menjadi polemik tak berujung. Steiap kali mendekati amsa ujian, maka selalu muncul suara genderang perang terhadap eksistensi ujian nasional. Cukup banyak pihak yang kontra terhadap penerapan ujian ini. Hal ini mengingat berbagai hal terkait dengan pelaksanaan ujian akhir-akhir ini, katakan dua tiga tahun sebelumnya, dimana masih banyak cacat yang muncul sebagai konsekuensi dari penerapan ujian ini.&lt;br /&gt;Setidaknya kontra tersebut terkait dengan dipakainya ujian nasional sebagai satu-satunya penentu kelulusan anak didik.&lt;span class="fullpost"&gt;Kekontraan ini timbul akibat signifikansi ujian dengan proses pendidikan yang dijalani oleh anak didik. Bahwa anak didik menjalani proses pendidikan selama tiga tahun berturut-turut dan ternyata ketentuan dan penentuan kelulusan hanya selama dua hari saja atau tiga hari saja. Akibatnya, segala hal yang terjadi selama proses pendidikan dan pembelajaran sama sekali tidak mempunyai pengaruh atas keberhasilan anak didik.&lt;br /&gt;Akhirnya, faktor nasib dan keberuntungan serta keberanian anak didik dalam mengiokmenjadi faktor penentu keberhasilan dalam menjalani ujian. Anak-anak yang berani mencari contekan atau bertanya ke kiri dan kekanan ternyata lebih prospek untuk lulus daripada anak-anak yang percaya pada kemampuannya sendiri. Anak-anak yang sering tidak masuk, anak-anak yang nekat seringkali mempunyai kesempatan lulus lebih besar daripada yang jujur.&lt;br /&gt;Dipercaya atau tidak, dengan Ujian nasional kita dapat mengetahui tingkat kualitas ahsil proses pendidikan di setiap daerah dinegeri ini. Dan, memang sebenarnya, ujian nasional adalah untuk mengetahui sampai seberapa tingkat kemampuan anak didik dan guru memahami konsep-konsep materi pembelajarannya jiak diterapkan pada standar kompetensi nasionalnya. Tetapi, ketika ujian nasional dijadikan sebagai satu-satunya penentu kelulusan anak didik, maka tumbuhlah permasalahan sebab hal tersebut berarti menghilangkan peranan guru-guru mata pelajaran yang tidak diuji nasionalkan.&lt;br /&gt;Oleh karena, sebaiknya kita mengembalikan proses ini kepada sekolah dan guru-guru. Merekalah yang lebih mengetahui bagaimana kondisi anak didiknya. Tidka perlu lagi diperdebatkan eksistensi ujian nasional sebab sebenarnya ujian ini hanya untuk mengukur tingkat kemampuan guru dan anak didik dalam memahami konsep yang terkandung dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar yang diterapkan oleh pusat. Sekali lagi, ujian nasional tidak perlu diperdebatkan, justru disyukuri sebab dengan demikian kita dapat mengetahui tingkat kemampuan guru dan anak didik dalam proses pendidikan dan pembelajarannya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-3991598650056542627?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/3991598650056542627/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=3991598650056542627' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/3991598650056542627'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/3991598650056542627'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2010/01/ujian-nasional-perlukah-diperdebatkan.html' title='Ujian Nasional, perlukah diperdebatkan lagi?'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-8508969920048747707</id><published>2010-01-02T19:05:00.000-08:00</published><updated>2010-03-11T20:15:20.297-08:00</updated><title type='text'>Belajar Membutuhkan Keberanian</title><content type='html'>Belajar adalah proses pengadaptasian diri terhadap kondisi di sekitar diri dan selanjutnya menjadikan kondisi tersebut bagai bagian integral diri. Dalam hal ini ada sebuah proses memasukkan konsep dan keterampilan ke dalam diri kita.&lt;span class="fullpost"&gt;Tentunya dalam kondisi seperti ini sangat dibutuhkan suatu keberanian sebab kita harus merombak segala hal yang ada di dalam diri kita dan menyisipkan beberapa bagian aspek baru ke dalam diri.&lt;br /&gt;Sama seperti saat kita masih bayi, saat kita belajar untuk berjalan. Pertama kita merangkak, kemudian melangkah satu satu...jatuh satu... dua... bahkan banyak kali, sampai kaki berdarah darah...Tetapi semua itu adalah proses belajar. Coba kita bayangkan seandainya kita tidka mempunyai keberanian untuk melakukan hal tersebut? Mungkin sampai sekarang kita tidak dapat berjalan.&lt;br /&gt;Sama juga ketika kita hendak belajar mengendarai sepeda,jika pada saat itu kita tidak mempunyai keberanian, maka sampai sekarang kita pasti tidak dapat mengendarai sepeda.&lt;br /&gt;Proses belajar memang sangat membutuhkan keberanian agar kita dapat menguasai se gala aspek yang sedang kita pelajari. Tanpa keberanian, tentunya segala hal tersebut menjadi sesuatu yang mengeras, seperti tanah lempung yang menjadi batu cadas.&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, maka sebaiknya jika kita sedang dalam proses belajar, maka keberanian harus kita kedepankan sebagai ujung tombak. Seperti peluru, saat pemicu sudah ditekan, maka meluncur deras tanpa melihat kiri ataupun kanan.&lt;br /&gt;Dan, ketika kita belajar kita harus berani meluncur dengan tingkat keberanian tinggi menuju pada sasarabn kita, yaitu keberhasilan!&lt;br /&gt;Hanya yang berani yang dapat berhasil dalam proses belajarnya!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-8508969920048747707?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/8508969920048747707/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=8508969920048747707' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/8508969920048747707'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/8508969920048747707'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2010/01/belajar-membutuhkan-keberanian.html' title='Belajar Membutuhkan Keberanian'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-2254300864683009102</id><published>2010-01-01T17:43:00.000-08:00</published><updated>2010-01-01T17:52:55.720-08:00</updated><title type='text'>Tahun Baru. POla Baru</title><content type='html'>Tahun Baru 2010 sudah datang mengganatikan tahun 2009. Tentunya semalanan kita sudha melakukan introspeksi atas segala hal yang susah kita lakukan selama tahun 2009 dan mencoba untuk membuat sebuah perencanaan strategis untuk tahun 2010.&lt;br /&gt;Perencanaan strategis sangat penting mengingat bahwa kehidupan, khususnya dalam dunia pendidikan sangatlah dinamis. Hal ini sangat signifikan dengan pola kehidupan yang memang sangat dinamis. Pendidikan adalah bagian integral dari kehidupan, maka sduah seharusnya selalu mengetahui dan beradaptasi serta mengadaptasi sebagian besar kondisi di kehidupan dan membawanya ke dunia pendidikan sebagai upaya menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan.&lt;br /&gt;Pada tahun 2010 pendidikan memang sudah harus benar-benar all out terhadap kondisi kehidupan, jika tidak tentunya hal tersebut menyebabkan terperangkapnya pendidikan dalam kurungan yang bernama out of date, kadaluwarsa!&lt;br /&gt;Semoga di tahun 2010 seluruh elemen pendidikan benar-benar mampu mewujudkan program yang sudah disusun. Amin...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-2254300864683009102?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/2254300864683009102/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=2254300864683009102' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/2254300864683009102'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/2254300864683009102'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2010/01/tahun-baru-pola-baru.html' title='Tahun Baru. POla Baru'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-2561480431270228815</id><published>2009-12-29T19:05:00.000-08:00</published><updated>2010-03-11T20:16:17.237-08:00</updated><title type='text'>Peranan Masyarakat dalam proses pendidikan</title><content type='html'>JIka kita telaah secara mendetail, sebenarnya, selama ini masyarakat di dalam proses pendidikan dan pembelajaran anak-anaknya hanya mengambil posisi sebagai donatur dan evaluator, bahkan kritikus terhadap proses pendidikan. &lt;span class="fullpost"&gt;Padahal, jika kita kembalikan pada konsep pembeljaaran, masyarakat adalah stakeholder untuk pelaksanaan proses pendidikan dan pembelajaran. &lt;br /&gt;Oleh karena itulah, ketika permasalahan muncul di sekolah dan kemudian masyarakat menghakimi sekolah sedemikian rupa, seharusnya ita perlu menanyakan kebenaran masyarakat sebagai stakeholder pendidikan dan berarti kita harus membenarkan konsep bahwa amsyarakat adalah sekedar donatur dan evaluator bahkan kritikus untuk proses pendidikan, tanpa memberikan solusi terbaik bagi perkembangan ke depan yang lebih baik.&lt;br /&gt;Masyarakat menghujat pendidikan sebenarnya menunjukkan bahwa tingkat pendidkan yang rendah. Jika mereka merasa kurang cocok dengan kegiatan yang ada di sekolah atau kejadian yan ada di sekolah, seharusnya mereka menyelesaikannya sebaik-baiknya, dengan mendatangi sekolah dan melakukan proses mediasi sehingga masalah tersebut kelar. Bukan malah mengompori sehingga masalah menajdi tambah panas.&lt;br /&gt;Peranan masyarakat sangat penting bagi proses pendidikan dan bukan hanya sekolah yang bertangungjawab selanjutnya menjadi kambing hitam untuk setiap permasalahan yang timbul pada anak-anak dan proses pendidikannya.&lt;br /&gt;Jika mengingat peranan masyarkat di dalam proses pendidikan,seharusnya sejak awal dan di dalam proses perjalanan pendidikan anak, masyarakat harus mengambil peran aktif. Tetapi yang selama ini adalah sikap masyarakat yang begitu acuh terhadap pola laku anak sekolah di dalam lingkungan masyarakat. Bagaimanapun, dampak yang ditimbulkan oleh lingkungan masyarakat terhadap anak didik adalah jauh lebih besar dibandingkan pengaruh di sekolah. Waktu yang dimiliki anak didik maish banyak di lingkungan masyarakat daripada di sekolah. Tetapi yang kita dapati adalah masyarakat yang acuh terhadap tugas dan perannya, tetapi pada saat ada masalah mereka yang berteriak paling lantang.&lt;br /&gt;Coba kita telusuri, pada saat anak harus mengikuti proses pendidikan dan ternyata mereka berada di lingkungan amsyarakat, ternyata masyarakat sama sekali tidak melakukan tindakan yang proporsional untuk mengkondisikan anak didik agar belajar lebih baik.&lt;br /&gt;Ketika anak-anak banyak yang mangkir di lingkungan masyarakat saat jam-jam belajar, masyarakat diam saja, bahkan sebagian amsyarakat melengkapinyay dengan memberikan fasilitas seperti play station ataupun game online... Begitulah... masyarakat hanya menghakimi pihak sekolah...&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-2561480431270228815?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/2561480431270228815/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=2561480431270228815' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/2561480431270228815'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/2561480431270228815'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2009/12/peranan-masyarakat-dalam-proses.html' title='Peranan Masyarakat dalam proses pendidikan'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-8561783491791006489</id><published>2009-12-25T17:08:00.000-08:00</published><updated>2009-12-25T18:00:39.853-08:00</updated><title type='text'>Introspeksi Diri</title><content type='html'>Manusia adalah makhluk sosial, yaitu makhluk yang senantiasa membutuhkan eksistensi makhluk yang lainnya, khususnya sesama manusia. Sementara setiap manusia mempunyai sikap dan sifat dasar yang berbeda. Padahal mereka harus berinteraksi antar sesama sehingga kehidupan berjalan lancar.Akibatnya, setiap kali mereka berinteraksi terbuka peluang untuk terjadinya friksi antar personal. Friksi ini jika tidak segera diselesaikan secara bijak, tentunya membuahkan benturan yang dapat merusak pondamen interaksi tersebut.&lt;br /&gt;Disamping hal tersebut diatas, interaksi antar personal menjadikan setiap person harus dapat menahan diri dan dapat segera melakukan introspeksi terhadap setiap hal yang sudah, sedang dan akan dilakukan dalama kehidupannya. menahan diri dan introspeksi diri merupakan satu sikap positif yang harus dikembangkan oleh setiap personal sehingga berhasil dalam membina hubungan antar pribadi dalam masyarakat.&lt;br /&gt;Terkait dengan dunia pendidikan,menahan diri dan introspeksi menjadi bagian penting dan kegiatan penting sebab segala yang diajarkan dalam proses pendidikan dan pembelajaran adalah hal-hal positif yang menuntut setiap orang untuk berlapang hati dan berbesar jiwa setiap kali menghadapi kondisi yang terjadi dalam kehidupan. Kegiatan pendidikan dan pembelajaran adalah kegiatan positif, artinya mengarahkan seluruh aktivitas pelakunya dalam koridor nilai positif kehidupan.&lt;br /&gt;Untuk hal tersebut, maka dunia pendidikan membutuhkan sikap tegas dan tegar agar dapat menumbuh kembangkan kedisiplinan kepada anak didik. Kedisiplinan dipercaya merupakan satu-satunya jalan agar kehidupan kita dapat mengalir pada jalur positif.Sementara, salah satu metode yang efektif untuk proses pendisiplinan adalah pemaksaan agar terbiasa bersikap sebagaimana yang diharapkan. Untuk dapat disiplin, pada awalnya memang harus dipaksakan, setelah hal tersebut terjadi, maka dapat menajdi satu kebiasaan dan pola hidup.&lt;br /&gt;Disiplin adalah pola hidup dan semua itu harus dikondisikan.&lt;br /&gt;Sebagai institusi penyelenggara pendidikan, yang salah satunya mendisiplinkan anak didik, maka setidaknya ada dua hal yang dapat dilakukan yaitu memberi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;reward&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;punnishment&lt;/span&gt; terhadap segala hal yang dilakukan oleh anak didik. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Reward&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;punnishment&lt;/span&gt; merupakan metode efektif untuk dapat mendisiplinkan anak didik.Hal ini untuk mengimbangi kebiasaan yang diberlakukan di lingkungan keluarga dan masyarakat. dan, memang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;reward&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;punnishment&lt;/span&gt; harus diberikan sebagai konsekuensi tindakan setiap orang. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Reward&lt;/span&gt; adalah hadiah yang diberikan kepada seseorang yang dianggap telah melakukan sesuatu yang berarti bagi komunitasnya, sedangkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;punnishment&lt;/span&gt; merupakan hukuman yang diberikan karena seseorang telah melakukan kesalahan atau pelanggaran terhadap tata aturan yang berlaku. Hal ini merupakan sesuatu yang wajar.&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, maka seharusnya kita selalu melakukan introspeksi terhadap diri sendiri jika menghadapi permasalahan terkait dengan upaya pendisiplinan diri. Jadi disiplin tidak dapat tercipta tanpa adanya pemaksaan, pada awalnya dan menjadikannya sebagai sebuah kebiasaan. Dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;reward&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;punnishment&lt;/span&gt; adalah hal biasa dalam proses pendisiplinan. Yang terpenting adalah kita harus memahami situasi yang sesungguhnya sedang terjadi. Setidaknya, jika kita ingin menciptakan suatu kondisi penuh kedisiplinan, maka kita perlu mendukung segala langkah untuk itu. Sangatlah tidak bijak jika kita memojokkan seseorang yang berupaya mendisiplinkan karena memberi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;punnishment&lt;/span&gt; kepada orang dekatnya,justru membombong orang dekatnya sebagai sosok positif jika di lingkungannya, di rumah. Ini hanyalah sebuah aroganisme,harusnya jika kita sudah mempercayai seseorang untuk membimbing anak kita menjadi disiplin dan bersikap positif dalam hidupnya, maka kita dukung semua langkah yang diambil untuk mewujudkan hal tersebut.&lt;br /&gt;Mari kita introspeksi terhadap segala hal......Jangan termakan oleh gembosan yang tidak bertanggungjawab...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-8561783491791006489?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/8561783491791006489/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=8561783491791006489' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/8561783491791006489'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/8561783491791006489'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2009/12/introspeksi-diri.html' title='Introspeksi Diri'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-7715426917927979781</id><published>2009-12-21T20:35:00.000-08:00</published><updated>2009-12-21T21:01:24.486-08:00</updated><title type='text'>Perlu Peranan Aktif dan POsitif Orangtua</title><content type='html'>Dalam proses pendidikan dan pembelajaran, ada 3 (tiga) elemen utama yang bertanggungjawab atas kesuksesan program dan pelaksanaan kegiatan. Ketiga elemen utama ini harus bersinergi jika mengingnikan hasil maksimal dari proses pendidikan dan pembelajaran. Tanpa kemauan dan kemampuan bersinergi, tentunya akan terjadi silang pendapat, bahkan perbedaan pesrepsi yang memungkinkan terjadinya friksi dan benturan yang seharusnya tidak perlu terjadi. ketiga elemen tersebut adalah pemerintah (sekolah), Orangtua, dan masyarakat. Ketiga elemen ini harus menjadi satu bagian yang integral agar tujuan pendidikan dan pembelajaran tercapai.&lt;br /&gt;Bahwa, ketiga elemen tersebut bertanggungjawab atas proses, tetapi terbatas oleh kapasitas dan waktu yang dimilikinya. Proses pendidikan secara formal memang diselenggarakan di sekolah, selanjutnya harus ditopang secara aktif dan positif oleh orangtua dan masyarakat. Artinya, kita tidak boleh hanya mengandalkan proses yang dilaksankaan di sekolah sebab proses tersebut hanya berlangsung selama 5 (lima) jam saja setiap harinya, sementara sisanya, yaitu sekitar 19 jam anak ada di lingkungan keluarga dan masyarakat. Tentunya hal ini perlu mendapatkan perhatian dari ketiga elemen terkait proses pendidikan.&lt;br /&gt;Walaupun sekolah sebagai institusi formal pendidikan, tetapi kenyataan waktu yang tersedia sangatlah terbatas dan terkalahkan oleh lingkungan keluarga dan masyarakat. Boleh jadi sekolah sudah mengarahkan, membimbing anak agar berlaku positif dan mempunyai pengetahuan serta keterampilan, tetapi jika tidak didukung oleh orangtua dan masyarakat tentunya semua yang dilakukan oleh sekolah sama sekali tidak bermanfaat. Percuma saja semua hal positif yang sudah diberikan oleh sekolah jika ternyata anak didik tidak mendapatkan hal yang sama saat berada di lingkungan keluarga, apalagi dimasyarakat.&lt;br /&gt;Sementara kita sangat menyadari bahwa peranan lingkungan keluarga dan masyarakat sangatlah menentukan keberhasilan dalam membimbing anak untuk menjadi sosok-sosok yang berkepribadian positif serta mampu survive dalam hidupnya.&lt;br /&gt;Selanjutnya yang menjadi permasalahan, dan seringkali hal ini terjadi sehingga sangat menyudutkan eksistensi sekolah sebagai lembaga menyelenggara pendidikan, nilai-nilai positif untuk kehidupan adalah peranan orangtua yang tidak mendukung program dan proses pendidikan anak-anaknya, justru menyudutkan sekolah sebagai institusi yang negatif.&lt;br /&gt;Seringkali kita mendengar berita bahwa ada guru yang memberikan penanganan kepada anak didiknya karena telah melakukan sebuah kesalahan atau beberapa kesalahan, tetapi selanjutnya ornagtua tidak melihat hal ini sebagai upaya positif untuk mengarahkan anaknya menjadi sosok positif, mala memojokkan sekolah sebagai institusi negatif sebab melakukan hal yang salah.&lt;br /&gt;Pada saat sekarang eksistensi guru dalam proses pendidikan memang sangat riskan, bahwa apa yang dilakukan oleh guru tidak pernah keluar dari program pendidikan anak-anak, termasuk dalam hal ini ketika guru menangani anak-anak bermasalah. Mereka melihat hal tersebut sebagai penganiayaan, bahkan mereka tega memberitakan secara besar-besaran di media massa, yang lucu lagi media massa tidak menanggapi secara imbang, malah membuat kejadian kecil menjadi sangat besar, bombamtis!&lt;br /&gt;Peranan orangtua di dalam proses pendidikan anak memang sangat diharapkan sebagai sebuah kerjasama mutualisme sehingga anak merasa benar-benar mendapatkan proses yang benar. Oleh karena itulah, maka bentuk kerja sama  atau peran aktif dan positif orangtua adalah mendukung setiap kegiatan yang dilakukan oleh sekolah dan bukan mementahkannya, apalagi sampai menyerang sekolah hanya karena sekolah atau oknum guru memberikan penanganan atas pelanggaran yangd ilakukan oleh anak-anak.&lt;br /&gt;Bagaimanapun, setiap yang dilakukan oleh sekolah adalah amsih berada di dalam koridor pendidikan dan pembelajaran, oleh karena itulah, setidaknya perlu konfirmasi dan hati dingin saat menghadapi persoalan seperti ini. Kita tidak boleh mengedepankan emosi.&lt;br /&gt;Oleh karean itulah, perlu peran aktif dan positif orangtua saat menghadapi permasalahan anak di sekolah. TUjuan kita adalah mengarahkan agar anak kita emnajdi sosok-sosok yang mengerti tanggungjawab dan kewajiban hidupnya, kita tidak perlu membombong anak sebagai sosok yang mengerti dans ebagainya. Ketika kita mendapati anak kita bermasalah, maka dalam hal ini kita tetapkan tujuan agar anak dapat lebih baik. Kita tdiak perlu membesar-besarkan masalah melainkan memahami masalah dengan bijak dan kebijakan yang tinggi.&lt;br /&gt;Guru di sekolah adalah sebagaimana ibu dan bapak di rumah, tidak ada yang berlaku diluar kendali saat menangani anak bermasalah. Yang dilakukan oleh guru adalah standar perlakuan terhadap anak-anak.&lt;br /&gt;Di masa ke depan, peran aktif dan positif orangtua sangat menentukan keberhasilan anak-anak kita,dukung kegiatan sekolah selama semua itu sesuai dengan koridor pendidikan yang diselenggarakan olehs ekolah.&lt;br /&gt;semoga semua ebrjalan lancar. Amin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-7715426917927979781?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/7715426917927979781/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=7715426917927979781' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/7715426917927979781'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/7715426917927979781'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2009/12/perlu-peranan-aktif-dan-positif.html' title='Perlu Peranan Aktif dan POsitif Orangtua'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-6011115679884324963</id><published>2009-12-10T04:26:00.000-08:00</published><updated>2009-12-10T05:00:30.836-08:00</updated><title type='text'>Meningkatkan Brandingself dengan Keterampilan Aplikatif</title><content type='html'>Sekolah kejuruan merupakan sekolah yang diharapkan dapat memberikan bekal kepada anak didik sehingga setelah menyelesikan masa belajarnya, mereka dapat bekerja. Tentunya hal ini merupakan sesuatu yang ideal sebab sekolah kejuruan itu sekolah lanjutan, setingkat SMA yang dalam hal ini lulusannya masih belum cukup dewasa untuk langsung bekerja. Kita harus mengakui bahwa anak-anak lulusan SLTA sebenarnya belum layak terjun ke dunia kerja. Mereka memang masuk dalam masa transisi,diam sudah gak pantas tetapi bekerja juga masih kecil. Tetapi, bagaimanapun mereka harus siap untuk melakukan hal tersebut.Hal ini karena tujuan bersekolah di sekolah kejuruan memang agar siap bekerja setelah selesai masa belajar.&lt;br /&gt;Sementara kita mengetahui bahwa tingkat persaingan di dunia kerja sangatlah ketat. Setiap orang yang memutuskan untuk memasuki dunia kerja harus siap berhadapan, bersaing dengan sekian banyak pesaing dengan kemampuan yang mungkin sama, bahkan lebih dari mereka. Oleh karena itulah, agar anak didik dapat memenuhi kebutuhannya, yaitu memasuki dunia kerja setelah menyelesaikan masa pendidikan, belajarnya, maka sekolah harus benar-benar dapat menyelenggarakan pembelajaran yang benar-benar mamapu mengkontribusi kebutuhan anak didik.&lt;br /&gt;Sekolah harus dapat menyelenggarakan proses pendidikan yang memungkinkan anak didik mendapatkan bekal yang langsung dapat diterapkan dalam kehidupannya. Dan, proses yang memungkinkan untuk kondisi tersebut adalah pada sisi keterampilan, artinya anak didik harus diberikan keterampilan yang benar-benar merupakan refleksi atas kebutuhan masyarakat atas tenaga-tenaga kerja yang mempunyai kompetensi pada bidang kerjanya. Dan, kebutuhan masyarakat sangatlah banyak. Setiap saat selalu ada bertambah atau mengalami perubahan tingkat kualiats dan kuantitasnya.&lt;br /&gt;Proses pembelajaran yang dibutuhkan adalah pembelajaran aplikatif terhadap dunia kehidupan, masyarakat. Sekolah yang mampu menyelenggarakan proses pendidikan yang aplikatif sehingga anak didiknya mempunyai keterampilan aplikatif pada akhirnya menjadi rebutan amsyarakat dan hal ini tentunya sangat menguntungkan sebab &lt;span style="font-style:italic;"&gt;brandingself&lt;/span&gt; sekolah naik dan hal tersebut membuat masyarakat banyak menyekolahkan anak-anaknya di sekolah tersebut.&lt;br /&gt;JIka, anak-anak dapat diserap maksimal oleh kehidupan masyarakat, berarti outcome sekolah sangat bagus. Dan, tanpa promosi apapun,masyarakat datang mempercayakan anak-anaknya dididik di sekolah tersebut. Tentunya,jika sebuah sekolah sudah pada taraf seperti itu, maka keberlanjutan sekolah tersebut tetap eksis.&lt;br /&gt;Memang, sudah saatnya sekolah meningkatkan kualitas proses pembelajaran, pelayanan kepada masyarakat sehingga mampu meningkatkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;brandingself&lt;/span&gt; sekolah dan sekaligus meningkatkan kualitas lulusannya.&lt;br /&gt;Ayo, kita mulai sejak sekarang, jangan sampai ketinggalan sebab kereta tidak kembali untuk menjemput lagi, sekali kita tertinggal, maka kita hancur. Sekolah yang tidak mampu meningkatkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;brandingsel&lt;/span&gt;fnya pasti ditinggalkan amsyarakat dan pada akhirnya hancur....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-6011115679884324963?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/6011115679884324963/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=6011115679884324963' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/6011115679884324963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/6011115679884324963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2009/12/meningkatkan-brandingself-dengan.html' title='Meningkatkan Brandingself dengan Keterampilan Aplikatif'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-8523828957706737574</id><published>2009-12-09T00:28:00.000-08:00</published><updated>2009-12-09T01:22:34.877-08:00</updated><title type='text'>Ujian Nasional atau tidak, tetap saja!</title><content type='html'>Fenomena ujian nasional beserta segala tetek bengeknya selalu menjadi topik paling hangat dan menggemaskan setiap mendekati akhir tahun pelajaran bagi kelas tiga. Hal paling banyak dirasakan oleh anak didik dan tentu saja para gurunya dan pengelola sekolah, yaitu ketegangan yang sangat!&lt;br /&gt;Apalagi jika mempelajari segala hal teknis yang harus diantisipasi agar tidak gagal dalam menghadapi ujian. Apalagi ketika mencuat kabar dan ketentuan bahwa ujian dimajukan sebulan ke depan. Wah... semakin tegang pikiran dan hati. Beberapa program terpaksa harus dimajukan dari jadwal yang sudah disusun rapi.bahkan, dengan terpaksa program baru harus bertabrakan dengan kalender pendidikan.&lt;br /&gt;Beberapa sekolah memajukan jadwal pelajaran tambahan, efektifitas pembelajaran hingga maksimalitas pembelajaran pada mata pelajaran ujian nasional.beberapa pelajaran yang tidak diujinasionalkan terpaksa harus dimarginalkan, artinya dikurangi porsinya digantikan dengan pemampatan materi pelajaran ujian nasional, bahkan beberapa guru dibentuk menjadi tim sukses untuk menyongsong ujian nasional. Sungguh begitu sakral dan menakutkan eksistensi ujian nasional sehingga apapun dilakukan untuk dapat menyukseskan kegiatan tersebut.&lt;br /&gt;Dan, sekarang tumbuh subur wacana bahwa ujian nasional tidak lagi dijadikan sebagai satu-satunya menentukan bagi kelulusan anak didik.Artinya ada faktor lain yang juga menentukan kelulusan anak didik, tidak seperti kelulusan tahun-tahun kemarin. Tahun -tahun kemarin, hasil pengumuman yang didapatkan dari ujian nasional langsung ditetapkan sebagaipenentu kelulusan sehingga yang terjadi adalah begitu hasil ujian didapatkan, maka guru-guru dikumpulkan untuk 'mengamini' hasil tersebut, tanpa memeprtimbangkan aspek lain yang terjadi selama proses pendidikan dan pembelajaran terjadi. Segala apa yang terjadi selama tiga tahun menjalani proses belajar tidak berpengaruh sama sekali terhadap kelulusan, bahkan anak yang sering tidak masuk, atau bahkan yang sama sekali tidak masuk dapat saja lulus, tetapi yang rajin dan pintar dan pandai juga dapat saja tidak lulus.&lt;br /&gt;Semoga selanjutnya dengan wacana ini, maka selanjutnya guru dapat ikut berperan dalam menentukan kelulusan anak didiknya, hak prerogatif guru dalam menilai dan menggawangi nilai-nilai positif kehidupan dapat ditegakkan.Tentunya fenomena yang selama ini terjadi, yaitu sikap anak-anak dan pengelola sekolah yang lebih mengutamakan mata pelajaran ujian nasional akan berubah dan sadar bahwa semua mata pelajaran adalah penting!&lt;br /&gt;Oleh karena itulah,sebenarnya dan seharusnya tidak ada beda antara ada ujian nasional ataupun tidak, sebab p[ada awalnya ujian nasional memang hanya sebagai alat untuk menganalisa dan mengetahui tingkat kualitas hasil proses pendidikan di setiap daerah di negeri ini. Hal ini mengingat bahwa di setiap daerah di negeri ini mendapatkan pelayanan pendidikan yang tidak sama. Oleh karena itulah, sebenarnya Ujian NAsional hanya cocok untuk dijadikans ebagai sarana untuk mengetahui tingkat kualitas hasil proses pendidikan di negeri ini dan selanjutnya dijadikan sebagai patokan untuk menentukan kesimpulan bahwa proses pendidikan dan berhasil ataukah tidak berhasil. begitu saja kan...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-8523828957706737574?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/8523828957706737574/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=8523828957706737574' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/8523828957706737574'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/8523828957706737574'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2009/12/ujian-nasional-atau-tidak-tetap-saja.html' title='Ujian Nasional atau tidak, tetap saja!'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-8038900352638242945</id><published>2009-12-08T21:47:00.000-08:00</published><updated>2009-12-08T21:51:25.241-08:00</updated><title type='text'>Jika Anak Melakukan Pelanggaran Sekolah</title><content type='html'>Latar belakang&lt;br /&gt;Diakui atau tidak, dalam dunia pendidikan formal, cukup banyak anak didik yang kehilangan semangat belajarnya. Mereka tidak bersemangat untuk menjalani tugas dan kewajibannya sebagai pelajar. Justru, mereka banyak yang meninggalkan  ruang belajar untuk melakukan kegiatan lain, misalnya kongkow di taman sekolah atau di kantin sekolah. Walau seringkali diobrak, tetapi kegiatan tersebut tetap terjadi dan dilakukan. Bahkan tidak jarang mereka yang sengaja meninggalkan ruang belajar, tentunya dengan pamit pada guru untuk ke ‘belakang’. Tentu saja itu hanya alasan semata. Mereka tidak betul-betul ke ‘belakang’, melainkan hanya duduk-duduk di kantin atau di tempat lain yang tersembunyi dari pemantauan guru.&lt;br /&gt;Jika kita selidiki, maka ada banyak alasan yang sesungguhnya membuat mereka bersikap seperti itu. Mereka memang melakukan hal tersebut secara sengaja sebab semangat belajar yang runtuh. Mereka kehilangan semangat belajar pada saat proses belajar sedang berlangsung, bahkan sebelum proses belajar berlangsung. Oleh karena itulah, maka mereka meninggalkan kelas belajarnya. Mereka merasa enggan untuk belajar dan pergi ke belakang adalah untuk mengalihkan pikiran dan kejenuhan yang dihadapi. Hal ini sebenarnya merupakan fenomena yang terjadi di hampir seluruh sekolah yang ada. Tidak hanya di sekolah swasta, melainkan terjadi juga di sekolah negeri, yang notabene sering dijadikan sebagai acuan atas kedisplinan belajar.&lt;br /&gt;Kita memang tidak dapat memberikan cap kondisi ini kepada sekolah begitu saja. Sebagai sebuah fenomena, maka kita menyadari bahwa semua ini merupakan kejadian umum. Semua sekolah dapat saja mengalami hal seperti ini. Oleh karena itulah, maka kita harus mampu mengantisipasi agar sekolah kita tidak mengalami hal yang sama, setidaknya mengurangi kuantitas pelanggaran jenis tersebut. Hal ini karena kita menyadari bahwa sebenarnya ada banyak aspek yang menyebabkan anak didik bersikap seperti itu.  Dan, semua itu bukan semata-mata kesalahan anak didik.&lt;br /&gt;Semua bukan kesalahan anak didik&lt;br /&gt;Selama ini yang terjadi setiap kali ada anak didik yang melakukan pelanggaran adalah mayoritas kesalahan ditimpahkan pada anak didik. vonis salah selalu jatuh ke anak didik sebagai pesakitan ataupun kambing hitam atas segala hal yang terjadi. Ini merupakan hal yang lazim dilakukan, bhakan oleh para orangtua saat menyadari bahwa anaknya melakukan pelanggaran kedisiplinan sekolah.&lt;br /&gt;Kita memang harus mau mengakui bahwa sebenarnya, pada saat terjadi pelanggaran kedisiplinan oleh anak dididik, semua itu bukan secara otomatis menunjukkan bahwa anak didik melakukan suatu kesalahan. Tidak semua kejadian yang melibatkan anak didik merupakan akibat kesalahan anak didik. hal tersebut harus kita pahami betul sehingga kita dapat bertindak proporsional dan tidak salah langkah.  Apa jadinya jika apa yang kita lakukan ternyata salah?&lt;br /&gt;Anak didik adalah sosok manusia yang sedang mencari jati diri. Mereka sedang membangun sebuah gedung untuk kehidupan masa depannya. Mereka mengikuti proses belajar di sekolah adalah untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Mereka adalah sosok pribadi sehingga pada saatnya mereka harus bertanggungjawab atas kehidupan pribadinya. Untuk hal tersebut, maka mereka harus mepunyia kemampuan. Oleh karena itulah, maka mereka harus bersekolah, menempuh pendidikan dan belajar banyak hal agar kehidupan di masa depan menjadi lebih baik dari yang selama ini mereka alami bersama keluarganya.&lt;br /&gt;Sebagai pribadi yang sedang mencari jati diri, tentunya kondisi kejiwaan mereka masih labil. Artinya, mereka masih gampang mengalami perubahan sikap dan pola kehidupan. Bahkan karena kelabilannya, maka mereka gampang sekali terpengaruh oleh lingkungannya. Dan, umumnya pengaruh yang gampang sekali dicerna dan dimiliki adalah pengaruh negative. Oleh karena itulah, maka tidak salah jika setiap kali ada permasalahan yang terjadi dalam kehidupan anak didik, maka yang muncul adalah penghakiman terhadap anak didik.&lt;br /&gt;Sungguh, hal ini merupakan satu sikap yang kurang proporsional. Dalam dunia hukum kita mengenal istilah praduga tidak bersalah sehingga anak didik juga berhak mndapatkan kondisi tersebut. Jika ada kejadian dan hal tersebut melibatkan anak didik, seharusnya anak didik tidak begitu saja mendapatkan perlakuan sebagai pesakitan. Anak didik seharusnya diperlakukan secara proporsional dan didasari oleh rasa kasih sayang serta langkah-langkah edukatif.&lt;br /&gt;Semua kejadian bukan semata kesalahan anak didik. sikap dan pola pikir ini harus kita tanamkan dalam hati kita sebagai upaya positif thinking terhadap segala hal yang terjadi. Di samping itu, kita juga harus meyakini bahwa pada dasarnya anak didik adalah pribadi yang baik. Oleh karena itulah, mereka dikirim ke sekolah untuk meningkatkan nilai-nilai positif dalam dirinya pada tingkat perkembangan yang signifikan dengan kebutuhan hidupnya.&lt;br /&gt;Persepsi positif terhadap setiap  kondisi memungkinkan terciptanya satu interaksi positif diantara guru dan anak didik. Anak didik akan merasa sangat diperhatikan oleh guru dan selanjutnya guru akan mendapatkan sikap terbaik dari anak didik. Dengan demikian, maka anak didik dapat menjadi sosok-sosok yang penurut pada setiap ucapan yang kita tujukan untuk mereka. Begitulah, kita sebagai guru tidak seharusnya menjatuhkan vonis bersalah begitu saja kepada anak didik sebelum mengetahui secara pasti pokok permasalahannya. Kita harus meyakini bahwa tidak semua masalah merupakan kesalahan anak didik.&lt;br /&gt;Beberapa hal penyebab anak didik melakukan pelanggaran.&lt;br /&gt;Pada saat kita menghadapi anak didik yang bermasalah, maka seharusnya pada saat itu kita menganalisa segala kemungkinan yang dapat menyebabkan kejadian tersebut. Guru harus secara arif melakukan analisa terhadap permasalahan dan tidak secara langsung membuat keputusan bahwa anak didik bersalah telah melakukan pelanggaran. Dan, selanjutnya pelanggaran tersebut Jika kita telaah disebabkan oleh banyak hal, misalnya pola pembelajaran yang kurang tepat, pendidik yang kurang memahami kondisi dan pola pendidikan, atau proses pendidikan dan pembelajaran yang menjemukan.&lt;br /&gt;Proses pendidikan dan pembelajaran merupakan proses panjang yang dilakukan secara sistematis. Proses secara sistematis ini seringkali menghadirkan situasi yang berbeda pada para pelaku kegiatan. Dengan pola yang tersistematis tersebut, maka ada satu kondisi yang harus dilakukan dan tidak boleh diabaikan atau ditinggalkan oleh para pelakunya jika ingin mencapai keberhasilan. Di dalam proses pendidikan dan pembelajaran, anak didik memang harus mengikuti proses yang sudah tersistem dan berlangsung secara terus menerus, berkesinambungan dalam sebuah interaksi edukatif dengan seorang guru sebagai fasilitatornya.&lt;br /&gt;Sebagai kegiatan yang dilakukan secara berkesinambungan, tentunya dapat menyebabkan situasi negative di hati anak didik. situasi yang terus menerus terjadi secara berkesinambungan, apalagi monoton, tentunya menyebabkan pesertanya disergap kejenuhan. Mereka dapat kehilangan sense untuk mengikuti proses belajar dan menumbuhkan kebosanan dan keengganan untuk mengikuti proses yang dilakukan atas dirinya. Kehilangan sense inilah yang selanjutnya ditengarai menjadi salah satu penyebab anak didik melakukan pelanggaran kedisiplinan di sekolah. Anak didik kehilangan rasa terhadap proses yang seharusnya mereka jalani secara maksimal.&lt;br /&gt;Sense terhadap proses belajar menjadi sangat penting sebab dengan sense tersebut, maka anak didik merasakan bahwa proses belajar begitu menarik dan harus diikuti. Tetapi, ketika sense tersebut hilang, maka yang tertinggal hanyalah sebuah proses yang sangat menjemukan dan memancing mereka untuk melakukan sesuatu diluar pakemnya sebagai pelajar. Mereka merasa enggan mengikuti proses belajar dan justru lebih suka dan enjoy saat meninggalkan proses belajar tersebut. Jika anak didik lebih suka meninggalkan proses pendidikan, maka sebenarnya pada saat tersebut proses belajar dalam posisi diujung tanduk.&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, maka seorang guru harus memahami eksistensi sense belajar ini sehingga terus terjaga kualitas dan seangat belajar anak didik. guru hartus dapat menjaga agar sense belajar yang dimiliki anak didik tetap berkobar. Guru harus dapat melakukan hal tersebut agar proses belajar yang dibimbingnya dapat berjalan lancar. Hal ini karena jika sense belajar anak didik bagus, maka tingkat kualitas konsentrasi dan keterlibatan anak dalam proses pendidikan dan pembelajaran dapat maksimal. Tentunya jika kondisi seperti ini, maka tingkat keberhasilan proses sangat tinggi.&lt;br /&gt;Terkait dengan berbagai pelanggaran yang sering kita jumpai di sekolah-sekolah, maka dapat kita jelaskan satu persatu agar dapat kita hadapi setiap masalah secara proporsional. Hal ini sangat penting agar kita tidak lagi menjadi hakim yang begitu saja memvonis anakdidik hanya karena telah melakukan satu pelanggaran disiplin sekolah, tanpa mau mengorek latar belakang anak didik melakukan hal tersebut. &lt;br /&gt;a. Pola pembelajaran yang kurang tepat&lt;br /&gt;Bahwa proses pembelajaran dilaksanakan mengikuti pola-pola tertentu sehingga memberikan hasil sebagaimana yang diharapkan. Pola-pola ini merupakan langkah taktis yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan dan ketertarikan anak didik terhadap materi pelajaran. Proses pembelajaran memberikan kesempatan bagi anak didik untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan untuk bekal kehidupannya. Pengetahuan dan keterampilan inilah yang diharapkan dapat memposisikan anak didik secara proporsional di masyarakat.&lt;br /&gt;Dan, setiap materi pelajaran mempunyai cirri khas di dalam proses transferring ke anak didik. Setiap materi membutuhkan cara-cara yang berbeda pada saat menyampaikan kepada anak didik. Kita tidak dapat menerapkan cara secara sembarangan sebab hal tersebut justru dapat menjadi penghalang tersampaikannya materi pelajaran ke anak didik. Seharusnya, setiap materi tersampaikan kepada anak didik secara baik, jelas dan mudah diterima oleh anak didik. Bahkan, didalam satu mata pelajaran, setiap materinya disampaikan dengan cara yang berbeda agar dapat diterima anak didik secara maksimal. Misalnya, ada materi yang dapat disampaikan dengan cara ceramah, tetapi materi yang lain menuntut kegiatan berupa praktek. Tentunya, jika kedua materi ini disampaikan dengan cara yang sama, maka hasilnya tidak dapat maksimal.&lt;br /&gt;Tentunya, jika proses pembelajaran yang diterapkan tidak tepat, maka hal tersebut berdampak pada hilangnya semangat anak didik untuk mengikuti proses tersebut. Anak didik merasa sulit saat harus beradaptasi dengan proses pembelajaran yang diikutinya. Mereka tidak dapat mengikuti, apalagi dituntut untuk memahami setiap aspek yang diajarkan oleh guru. Akibatnya, mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung. Akhirnya, mereka menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan diluar proses pembelajaran. mereka kehilangan konsentrasi dan sibuk dengan kegiatannya masing-masing atau berkelompok.&lt;br /&gt;Jika kondisi ini tidak disadari oleh guru, maka anak menjadi semakin jauh dari kegiatan belajar dan tenggelam dalam kegiatan yang diciptakannya sendiri. Ada anak didik yang tenggelam dalam pikirannya sendiri sehingga tidak memperhatikan semua penjelasan guru. Ada juga anak didik yang sibuk bergurau dengan teman-temannya  sehingga suasana kelas menjadi ramai dan rebut. Dan, yang lebih tragis lagi adalah anak-anak yang tidak betah berada di dalam ruangan kelas, mereka akhirnya pamitan ke belakang pada sang guru.&lt;br /&gt;Anak-anak memang pamitan ke belakang, artinya mereka mau kekamar kecil untuk buang hajat kecil ataupun hajat besar. Tetapi, jika kita telusuri yang mereka lakukan di belakang, kita pasti mengurut dada sebab mereka ternyata kongkow di kantin atau taman sekolah. Mereka memang sengaja neinggalkan ruang kelas untuk menghindari proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh sang guru. Mereka merasa tersiksa dengan pola pembelajaran yang dilaksanakan oleh sang guru. Mereka merasa bahwa guru tidak dapat melaksanakan proses pembelajaran sebab proses tersebut ternyata justru membuat mereka bingung dan sulit menerimanya.&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, maka pada saat melaksanakan proses pembelajaran, guru harus mampu menentukan pola pembelajaran yang diterapkan untuk anak didiknya, disesuaikan dengan tipe materi pelajaran yang saat itu harus diberikan kepada anak didik. guru harus dapat memilah dan memilih pola belajar yang sesuai dengan materi pelajarannya. Jika tidak, maka hal tersebut menyebabkan anak didik melakukan pelanggaran kedisiplinan yang sebenarnya dipicu oleh pola pembelajaran yang dilaksanakan oleh sang guru. Lantas jika hal seperti ini terjadi, siapa yang patut disalahkan? Salahkah anak didik jika mengalami kejemuan saat belajar dan mencari solusi dengan bermain atau berbincang dengan temannya atau pergi ke kantin sekolah?&lt;br /&gt;b. Pendidik yang kurang memahami kondisi dan pola pendidikan&lt;br /&gt;Di dalam proses pembelajaran, posisi guru sebagai fasilitator memungkinkan guru memberikan pelayanan dan bimbingan serta pendampingan anak didik saat mengikuti proses pembelajaran. Dengan pelayanan guru, maka anak didik dapat memeproleh aspek pendidikan dan pembelajaran yang diharapkannya. Dalam konteks ini, guru menjadi sosok yang selalu siap memberikan bantuan kepada anak didik pada saat mengalami kesulitan. Dalam hal ini, kita berasumsi bahwa anak didik masih dalam tahap mengembangkan diri sehingga seringkali menghadapi kesulitan dan berhak mendapatkan bantuan edukasi.&lt;br /&gt;Guru memang bertugas melayani masyarakat, anak didik dalam upaya peningkatan kualitas diri. Guru melayani anak didik dalam hal melakukan perubahan kemampuan yang dimilikinya. Kita menyadari bahwa pada awalnya anak didik adalah sosok yang belum dapat melakukan sesuatu atau belum mempunyai sesuatu dan ingin mendapatkannya dari proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Oleh karena itulah, guru bertugas membantu melayani anak didik agar mereka dapat menggapai keinginan tersebut. Memang, untuk dapat memiliki suatu kemampuan dapat dilakukan secara autodidak, tetapi eksistensi guru tetap menjadi acuan untuk dapat mencapai kesuksesan tersebut.&lt;br /&gt;Terkait dengan tugas dan kewajiban tersebut, maka hal penting yang harus dimiliki oleh guru adalah pemahaman atas segala kondisi yang terjadi di lingkungannya. Guru harus memahami kondisi kelasnya, kondisi anak didiknya dan berbagai kondisi lain yang terkait dengan peningkatan kualitas dirinya. Hal ini karena kondisi lingkungan mempunyai kontribusi yang sangat besar terhadap proses pengembangan dan peningkatan kualitas diri tersebut. Tidak heran jika pada saat melaksanakan proses pendidikan dan pembelajaran guru dituntut untuk dapat memahami kondisi dan pola pendidikan terkait dengan kondisi tersebut.&lt;br /&gt;Bahwa kondisi seseorang ataupun lingkungan pada saat melaksanakan proses pendidikan dan pembelajaran ikut menentukan keberhasilan proses, merupakan sesuatu yang sudah kita pahami. Jika kondisi tidak mendukung, maka proses pendidikan dan pembelajaran tidak dapat terlaksana sebaik-baiknya. Walau kita menyadari bahwa proses belajar dapat dilakukan kapan saja, dimana saja dan dengan siapa saja, tetapi pemahaman terhadap kondisi pada saat proses berlangsung merupakan hal penting bagi semua guru. Jika tidak, maka anak didik sangat mungkin melakukan tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan kriteria hasil proses pendidikan dan pembelajaran yang kita lakukan.&lt;br /&gt;Pelanggaran anak terhadap kedisiplinan yang diterapkan di sekolah sebenarnya merupakan satu kondisi yang tercipta sebagai dampak. Sesungguhnya tidak ada anak yang ingin melanggar aturan kedisiplinan yang sudah diterapkan, apalagi aturan tersebut sudah disosialisasikan secara luas di seluruh civitas akademika. Ketika mengetahui tata aturan yang diberlakukan, biasanya setiap sekolah menerbitkan buku yang berisi tata tertib, tata aturan yang harus diterapkan dalam pola interaksi, maka sejak itulah mereka sudah bertekad untuk mengikuti dan mematuhi semua aturan itu. Masalahnya, kenapa tetap saja ada, banyak anak didik yang melanggar kedisiplinan sekolah?&lt;br /&gt;Dalam hal ini, kita memang harus melihat masalah secara prporsional. Kita harus membuang jauh-jauh subyektivitas kita dan mengedepankan obyektivitas agar hasil penilaian proporsional. Jika kita masih menyertakan subyektivitas dikawatirkan apa yang kita lakukan masih penuh dengan tendensi pribadi atau tuntutan yang bersifat pribadi. Melihat masalah secara proporsional berarti kita harus melakukan segala hal sesuai dengan haknya dan tidak menyertakan keperluan pribadi di dalamnya. Begitu juga pada saat melaksanakan proses pendidikan dan pembelajaran.&lt;br /&gt;Pemahaman guru terhadap kondisi dan pola pendidikan ditengarai menjadi salah satu aspek yang dapat meningkatkan keberhasilan proses. Hal ini juga dapat mengikat anak didik untuk tetap berada di tempat, ruang kelas pada saat proses dilaksanakan. Guru yang tanggap terhadap kondisi lingkungan memungkinkan untuk tetap mengkondisikan anak-anak pada situasi belajar dan mengarahkan anak-anak yang menimpang pada proses belajar.&lt;br /&gt;Pemahaman guru terhadap kondisi dan pola pendidikan merupakan wujud dari kemampuan respon, kemampuan menanggapi guru terhadap kondisi lingkungan belajar. Semakin bagus kemampuan respon guru, tentunya kondisi pembelajaran semakin bagus juga. Guru segera mengetahui setiap kejadian atau indikasi akan terjadinya sesuatu di dalam ruang pembelajarannya. Dengan kemampuan ini, maka guru dapat melakukan langkah-langkah preventif terhadap kondisi yang dapat mengancam proses.&lt;br /&gt;Kemampuan guru untuk merespon atau mengantisipasi kondisi seperti ini memungkinkan bagi guru untuk mencegah terjadinya hal-hal negative dalam interaksi personal. Guru dapat segera menyelesaikan permasalahan sebelum masalah itu sendiri muncul ke permukaan. Dengan demikian, maka kondisi pembelajaran yang diampuhnya tetap terjaga dan terkontrol sepanjang waktu serta mampu mengarahkan anak didik ada jalur yang seharusnya mereka lalui. Eksistensi dan kemampuan guru menjadi kendaraan yang bakal membawa anak didik dalam kondisi yang kondusif untuk belajar dan menghindarkan anak didik melakukan hal-hal yang menyimpang dari seharusnya.&lt;br /&gt;Seharusnya, pelanggaran kedisiplinan yang dilakukan oleh anak didik dapat dicegah oleh para guru. Mereka seharusnya sudah mengetahui adanya indikasi pelanggaran jauh sebelum pelanggaran terjadi sehingga tidak menimbulkan kesulitan. Tentunya dengan demikian, kondisi interaksi terjaga bahkan dapat dikembangkan sebagai proses pembelajaran inovatif dengan peran aktif anak didik. pola pendidikan dan pembelajaran seperti ini sudah saatnya diterapkan sebagai upaya peningkatan kualitas hasil pembelajaran. Oleh karena itulah, guru harus mempunyai pemahaman terhadap kondisi lingkungannya. Guru tidak boleh acuh apalagi tidak respon pada lingkungannya.&lt;br /&gt;c. Proses pendidikan dan pembelajaran yang menjemukan&lt;br /&gt;Kegiatan pembelajaran menuntut tersedianya kondisi yang kondusif. Kondisi kondusif yang kita maksudkan dalam hal ini adalah kondisi yang benar-benar mampu menumbuh kembangkan kesadaran anak didik dalam mengikuti proses pendidikan dan pembelajaran. Bahwa setiap peserta didik harus terlibat secara aktif dalam kegiatan pembelajaran sebab mereka yang seharusnya melakukan proses belajar. Anak didik mengikuti proses pembelajaran sebab ingin melakukan perubahan atas kompetensi yang ada pada dirinya. Oleh karena itulah, maka mereka harus menyadari tugas dan kewajibannya dalam proses pembelajaran.&lt;br /&gt;Sementara untuk kelancaran proses pembelajaran, maka ada seseorang yang bertugas untuk memfasilitasi dan membimbing serta mendampingi agar proses berlangsung maksimal. Dengan fasilitasi, bimbingan dan pendampingan ini, maka apa yang seharusnya dipelajari anak didik akan dimiliki secara maksimal. Anak didik tidak melakukan pembelajaran secara acak melainkan sudah disistematis. Hal ini sangat penting sehingga pengalaman anak didik sesuai dengan tingkatannya.&lt;br /&gt;Dalam hal pendampingan dan pembimbingan, anak didik berharap mendapatkan sosok yang benar-benar mampu memberikan segala yang diharapkannya. Anak didik berharap agar guru pembimbingnya benar-benar sosok yang mengerti kebutuhan anak didiknya. Guru haruslah sosok yang mempunyai kemampuan untuk membimbing, memfasilitasi dan mendampingi anak didik pada saat proses pembelajaran. Oleh karena itulah, maka guru harus mempunyai kemampuan untuk mengelola dan melaksanakan proses pembelajaran.&lt;br /&gt;Guru yang mampu mengelola dan melaksanakan proses pembelajaran secara baik adalah guru yang mampu menciptakan kondis terbaik bagi proses pembelajarannya. Guru harus menerapkan konsep PAIKEM agar proses pembelajarannya menjadi sesuatu yang berarti bagi anak didik. Penerapan konsep ini sangat berarti agar tidak meumbuhkan kejemuan di hati anak didik. Selama ini yang terjadi adalah kebosanan anak didik terhadap situasi pembelajaran yang dilaksanakan oleh para guru. Anak didik menganggap bahwa proses pembelajaran yang dilaksanakan guru begitu menjemukan sehingga mengurangi atensi mereka pada kegiatan belajar. Dan, secara keseluruhan, anak didik beranggapapan bahwa proses pendidikan menjadi sebuah penjara bagi kehidupannya.&lt;br /&gt;Kita perlu mengakui bhawa pada saat sekarang, sekolah dan proses belajar telah dianggap sebagai penjara bagi anak didik. Mereka merasa bahwa proses pembelajaran telah membatasi aktivitasnya. Anak merasa terkungkung di dalam ruang ukuran enam puluh tiga meter persegi, tujuh meter kali sembilan meter. Selama empat jam atau 4 kali empat puluh lima menit mereka harus berada di ruangan kelas dan mendengarkan atau menyaksikan segala hal yang dilakukan oleh guru. Alasan klasik yang mereka dapatkan adalah untuk kepentingan amsa depan. Bahwa mereka mengikuti proses pendidikan dan pembelajaran adalah untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Dan, hal tersebut harus mereka lakukan sejak sekolah dasar hingga sekolah lanjutan. Mereka harus mengikuti berbagai tata aturan yang kadangkala sangat bertentangan dengan keinginannya, bahkan kebutuhannya. Anak didik dikondisikan agar melakukan sesuatu tidak sesuai dengan konsep hdupnya, tanpa dapat melawan atau memberontak untuk melepaskan diri.&lt;br /&gt;Jika kemudian mereka memberontak, maka pada saat itu dianggap sebagai pelanggaran kedisiplinan. Tentunya, anak didik tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka telah dikondisikan untuk mengikuti segala aturan yang dusah disusun. Mereka juga harus mengikuti berbagai kegiatan yang diprogramkan untuk proses belajar, mereka tidak dapat menolak atau dianggap telah melanggar kedisiplinan. Tentunya kondisi ini menciptakan persepsi negative di hati anak didik. Apalagi jika proses pembelajaran dilaksanakan dalam kondisi yang tidak menarik, tidak memikat hati. Anak didik gampang mengalami kejenuhan dan akhirnya jemu dengan proses belajar, yang akhirnya membuat mereka ingin keluar kelas.&lt;br /&gt;Guru yang tidak kreatif pada umumnya melaksanakan proses pembelajaran secara konvensional. Mereka mempertahankan pola pembelajaran tersebut dengan asumsi bahwa pola tersebut telah terbukti efektif dalam upaya peningkatan kompetensi anak didik. Sementara kita menyadari bahwa kondisi setiap tahun mengalami perubahan. Pola pemikrian anak didik terus mengalami perubahan, bahkan apresiasi terhadap proses pembelajaran-pun mengalami perubahan. Anak didik jaman sekarang mempunyai penilaian berbeda terhadap proses pembelajaran.&lt;br /&gt;Anak didik jaman sekarang adalah generasi instan, artinya mereka ingin segala hal yang diikutinya sudah siap dan memang terposisikan untuk mereka. Mereka ingin proses pembelajaran sudah dalam bentuk jadi, tidak menuntut mereka terlalu banyak menerima. Mereka sangat perlu berpikir dan juga menganalisa materi pelajaran. Tentu saja hal ini dalam konsep pendidikan dan pembelajaran merupakan tujuan proses belajar, tetapi kenyataan yang ada di lapangan seperti itu. Anak didik tidak siap belajar tetapi siap digerojok dengan pengetahuan dan keterampilan. Setidaknya, mereka berharap mengikuti proses pembelajaran yang menuntut secara aktif peran serta mereka dan tidak memposisikan mereka sebagai obyek semata.&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, tidak aneh jika guru menguasai kelas, maka anak didik merasa sebagai sosok yang tidak aktif. Mereka menjadi sosok pendengar atau penyalin materi yang dicatatkan oleh guru di papan tulis atau didiktekan di lembaran kertas tulis. Dalam konteks kita sekarang ini, penguasaan guru di dalam pengelolaan kelas bukanlah diartikan sebagai penguasaan tunggal atas kelas tersebut. Konteks ini memberikan informasi pada kita bahwa penguasaan guru dalam pengelolaan kelas adalah pada bagaimana guru mengorganisir kelasnya sehingga anak didik yang aktif melaksanakan proses pembelajaran, guru hanyalah fasilitator dalam proses tersebut. Guru bukan penguasa tunggal dalam kelas belajar, justru guru adalah pelayan bagi anak didik agar proses belajarnya dapat maksimal.&lt;br /&gt;Anak didik harus berperan dalam proses pembelajaran sehingga mereka menyadari bahwa proses tersebut adalah tugas dan kewajiban. Dengan demikian, maka mereka terbebaskan dari kondisi jemu sebab harus ikut terlibat aktif dalam proses belajar, bukan sekedar memperhatikan atau mendengarkan segala penjelasan guru. Justru pada saat-saat tertentu, mereka harus menjelaskan kepada teman-temannya tentang materi pelajaran yang sedang mereka pelajari bersama. Berarti, tidak ada waktu bagi mereka untuk bersikap seenaknya atau mengabaikan proses pembelajaran. Artinya, anak didik dapat berperan sebagai pembimbing temannya sebagai asisten guru dalam proses pembelajaran.&lt;br /&gt;Memang, jika anak melakukan pelanggaran disiplin sekolah, kita tidak dapat langsung menjatuhkan vonis kesalahan kepada anak didik. Kita perlu menganalisa dan mengambil kesimpulan atas analisa tersebut. Kita harus mengembalikan pokok permasalahan pada setiap aspek penting dalam proses pembelajaran. Pelanggaran disiplin anak didik pada kenyataannya bukan semata-mata karena kesalahan anak didik. Ada banyak hal yang dapat menjadi penyebab anak didik melakukan kesalahan, yang selanjutnya kita katakan sebagai pelanggaran disiplin sekolah.&lt;br /&gt;Untuk itulah, maka seharusnya kita segera melakukan langkah evaluasi ataupun introspeksi atas segala yang kita lakukan pada saat melakukan proses pembelajaran. Kita harus mengevaluasi pola pembelajaran yang kita terapkan dalam proses dan segera melakukan langkah antisipasif ataupun rehabilitasi dan kuratif jika ternyata ada langkah yang tidak signifikan terhadap proses belajar anak didik. Guru harus menyadari bahwa di dalam proses belajar, yang melakukan proses adalah anak didik sehingga guru perlu memberi kesempatan seluas-luasnya kepada anak didik untuk melakukan proses pembelajaran dibawah pembimbingannya.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, jika kita mendapati anak didik melakukan pelanggaran disiplin sekolah, kita setidaknya menerapkan konsep praduga tak bersalah kepada anak didik.  Kita harus yakin bahwa jika anak didik melanggar disiplin sekolah bukan berarti anak didik melakukan suatu kesalahan. Sebab pelanggaran yang dilakukan oleh anak diidk tersebut dapat saja merupakan satu bentuk protes terhadap kondisi yang dihadapi saat belajar. Anak diidk merasa tidak nyaman dengan kondisi pembelajaran yang dijalaninya, maka mereka berharap ada perubahan dengan melakukan hal-hal yang melawan kenyamanan guru. Dan, guru seharusnya segera tanggap terhadap setiap perubahan sikap anak didik pada saat mengikuti proses pembelajaran dan selanjutnya dapat memikat atensi belajar.&lt;br /&gt;Pemahaman atas kondisi, kebutuhan dan pola pembelajaran yang sesuai dengan tingkatan apresiasi dan persepsi anak didik atas materi pelajaran sangat mendukung atensi anak didik. Guru harus mempunyai kemampuan tersebut jika menginginkan anak didiknya tetap bertahan tinggal di dalam kelas pembelajarannya. Jika tidak, maka sampai kapanpun anak didik tetap berlaku seperti itu karena mereka merasa kecewa dengan proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru tetapi guru tidak memahaminya sehingga tidak dapat segera melakukan langkah konkrit penyelesaiannya. Bagi anak didik, sikap guru yang tidak merespon sikap mereka merupakan satu sikap negative dan harus dihilangkan dari seorang guru. Guru harus responsib terhadap setiap kondisi di kelasnya atau anak didiknya. Guru tidak hanya menyampaikan materi pelajaran melainkan membimbing dan memfasilitasi anak didik untuk belajar lebih baik.&lt;br /&gt;Jika kita ingin mencegah anak didik dari tindakan pelanggaran kedisiplinan sekolah, maka guru harus responsib dan segera melakukan langkah-langkah antisipasi atas kondisi negative yang dapat tercipta dalam proses pembelajaran yang dilaksanakannya. Hal ini karena anak didik sangat mungkin terpengaruh hal-hal negative dalam kehidupan dan guru bertugas membimbing anak didik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-8038900352638242945?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/8038900352638242945/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=8038900352638242945' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/8038900352638242945'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/8038900352638242945'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2009/12/jika-anak-melakukan-pelanggaran-sekolah.html' title='Jika Anak Melakukan Pelanggaran Sekolah'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-7072173252086425928</id><published>2009-12-07T19:53:00.001-08:00</published><updated>2009-12-07T20:03:51.008-08:00</updated><title type='text'>Membawa Anak didik ke Dunia Usaha</title><content type='html'>Perkembangan pola kehidupan menuntut setiap orang untuk selalu siap menghadapi kondisi yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Salah satu aspek yang harus disiapkan dalah kemampuan menghadapi persaingan global. Untuk itulah, maka setiap orang harus mempunyai kemampuan khusus yang mampu menjawab permasalahan dalam kehidupannya.&lt;br /&gt;Dan, proses belajar adalah proses mengalami, yaitu kegiatan yang harus dilakukan secara intens dan terstruktur untuk dapat menguasai dan memiliki satu atau banyak kompetensi (multicompetency) sehingga setiap permasalahan yang tumbh dalam kehdupan dapat segera diatasi dan diselesaikan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;Untuk hal tersebut, maka proses belajar yang terbaik adalah langsung terjun ke tempat dimana kegiatan hidup harus dilaksanakan, yaitu tempat kerja atau dunia usaha dan dunia industri. Oleh karena itulah, maka untuk dapat memberikan bekal kemamuan menghadapi persaingan global bagi anak didik, sekolah sudahsaatnya melakukan terobosan kegiatan belajar dengan menggandeng secara intens perusahaan yang bergerak pada bidang yang sama dengan bidang keahlian yang diajarkan kepada anak didik. Anak didik harus dikirim ke perusahaan, dunia usaha dna dunia industri agar mereka mengalami secara langsung segala hal yang dikerjakan saat mereka menyelesaikan masa pendidikan dan terjun ke dunia masyarakat.&lt;br /&gt;Sekolah harus membawa anak didik ke dunia usaha agar mereka mengetahui bahwa sinergisitas antara proses pembelaqjaran dan dunia usaha adalah keniscayaan dan tidak dapat dianggap sepele. Dan, salah satu aspek penting yang sangat berperan adalah pengalaman langsung yang dialami anak didik saat belajar menjadi bekal terbaik.&lt;br /&gt;Maka,sebaiknya setiap sekolah membuat kesepakatan dengan dunia usaha untuk proses pembelajaran anak-anak didiknya, khususnya sekolah kejuruan yang memang mengemban program persiapan anak didik menjadi sosok-sosok yang siap bekerja, baik bekerja dengan orang lain, sebagai pekerja atau bekerja mandiri,s ebagai enterpreneur untuk kehidupan masyarakatnya.&lt;br /&gt;Sekarang, masalahnya, sudah siapkah dunia usaha bergendeng tangan secara maksimal dengan dunia pendidikan dan tidak memandang sebelah mata terhadap program yan disusun sekolah atau dunia pendidikan...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-7072173252086425928?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/7072173252086425928/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=7072173252086425928' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/7072173252086425928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/7072173252086425928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2009/12/membawa-anak-didik-ke-dunia-usaha.html' title='Membawa Anak didik ke Dunia Usaha'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-7705803965904331453</id><published>2009-12-05T18:00:00.000-08:00</published><updated>2010-03-11T20:17:48.885-08:00</updated><title type='text'>Pembelajaran Praktik Berbasis Proposal</title><content type='html'>Pembelajaran praktik menjadi satu aspek penting untuk peningkatan kompetensi keahlian anak didik, khususnya untuk sekolah kejuruan. Pembelajaran praktik menjadi sarana untuk memberikan bekal &lt;span style="font-style:italic;"&gt;l&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ife skill&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; bagi anak didik. hal ini karena di saat mengikuti proses pembelajaran praktik, pada saat itu anak dilatih untuk melakukan satu kegiatan keterampilan yang dapat diterapkan dalam kehidupannya kelak.&lt;br /&gt;Selama ini, kegiatan praktik dilaksanakan berdasarkan kreativitas guru yang didapat dengan berpandu pada isi kurikulum yang bersifat nasional. &lt;span class="fullpost"&gt;Tetapi, sejak diberlakukan kurikulum tingkat satuan pendidikan, maka setiap sekolah mempunyai hak untuk menentukan isi proses pembelajaran untuk anak didiknya, yang penting masih mengacu pada SK-KD yang digariskan oleh pemerintah sebagai pedoman kondisi yang diharapkan dapat dimiliki oleh anak didik.&lt;br /&gt;Akibatnya, anak didik hanya menjadi pelaku kegiatan yang sudah disusun oleh guru.Anak didik hanya sebagai obyek yang melakukan kegiatan terstruktur dari guru. Padahal anak didik adalah subyek pendidikan dan pembelajaran yang artinya merekalah yang seharusnya melakukan kegiatan secara aktif. Mereka yang seharusnya memberi warna bagi kondisi proses yang dijalaninya.&lt;br /&gt;Terkait dengan hal tersebut, maka sejak awal, seharusnya anak didik sudah dilibatkan secara aktif dalam proses penyusunan program pembelajaran. Dalam hal kegiatan pembelajaran praktik, maka salah satu hal yang dapat dilakukan adalah dengan menekankan peran serta anak didik dalam membuat desain materi pembelajaran praktiknya. Artinya, anak didik diharapkan dapat memberikan masukan kepada sekolah, guru untuk jenis pekerjaan yang harus dilaksanakan dalam proses pembelajaran praktik.&lt;br /&gt;Untuk hal tersebut, maka anak didik diharapkan menyusun proposal kegiatan praktik sebagai daasrnya. Anak didik harus menyusun proposal kepada sekolah untuk dapat melakukan kegiatan praktik di bengkel sekolah. Sebelum melakukan atau mengikuti proses pembelajaran praktik di bengkel sekolah, maka anak didik harus menyusun proposal yang berisi pekerjaan yang harus dikerjakan.&lt;br /&gt;Proposal ini sangat penting untuk memberikan kesempatan pada anak didik melakukan kegiatan yang benar-benar didapatkan dari masyarakat dan mereka inginkan. Sementara bagi sekolah, proposal yang disusun anak didik merupakan masukan untuk menyusun proses pembelajaran praktik dan mempersiapkan segala kebutuhan terkait dengan bahan dan alat-alat pembelajaran praktik. Tentunya hal ini mempermudah penyusunan program kerja pembelajaran praktik.&lt;br /&gt;Jika anak didik tidak menyusun proposal, maka konsekuensinya mereka tidak dapat mengikuti proses pembelajaran praktik. Dengan demikian, maka yang mengikuti proses pembelajaran hanyalah yang sudha menyusun proposal dan diajukan ke sekolah serta disetujui oleh guru pembimbing. Hal ini karena sekolah hanya menyiapkan materi pembelajaran sesuai dengan proposal yang sudah masuk.&lt;br /&gt;Artinya jika anak didik tidak menyusun proposal, mereka tidak mengharapkan pekerjaan, mereka tidak mempunyai pekerjaan, maka sekolah tidak mungkin memfasilitasinya. Sekolah hanya memfasilitasi mereka yang sudah menyusun proposal. &lt;br /&gt;Dengan pola seperti ini, maka anak didik mendapatkan dua bekal, yaitu keterampilan menyusun proposal dan melakukan pekerjaan yang diajuhkannya. Sebab proposal kerja adalah permintaan pekerjaan, jika mereka tidak mengajuhkan proposal berarti tidak meminta pekerjaan dan berarti tidak mengikuti proses pembelajaran praktik. Secara jelas, hal ini sangat merugikan anak didik. Oleh karena itulah, mereka terpacu untuk menyusun proposal.&lt;br /&gt;Semoga dengan demikian keterampilan anak didik lebih bermanfaat.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-7705803965904331453?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/7705803965904331453/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=7705803965904331453' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/7705803965904331453'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/7705803965904331453'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2009/12/pembelajaran-praktik-berbasis-proposal.html' title='Pembelajaran Praktik Berbasis Proposal'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-890800171550053218</id><published>2009-11-08T18:46:00.000-08:00</published><updated>2009-11-08T19:02:11.633-08:00</updated><title type='text'>Bawa Perusahaan ke Sekolah</title><content type='html'>Pendidikan  kejuruan diarahkan untuk menghasilkan tenaga kerja dengan tingkat kompetensi sesuai kebutuhan masyarakat industri.Berbagai cara dilakukan oleh sekolah untuk dapat mewujudkan tujuan pendidikan dan pembelajaran tersebut.&lt;br /&gt;Pendidikan kejuruan yang dilaksanakan di sekolah memberikan dan melakukan proses pembelajaran praktek yang didalamnya diisi dengan keterampilan aplikatif. Ketrampilan inilah yang sesungguhnya menjadi harapan untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia di masyarakat.&lt;br /&gt;Salah satu langkah konkrit yang dapat menjadi acuan untuk perbaikan upaya peningkatan kualitas adalah dengan menghadirkan perusahaan di sekolah. Dalam hal ini yang kita hadirkan ke sekolah dapat berupa pekerjaan, personil atau kondisi perusahaan.KOndisi kerja yang ada di perusahaan kita bawa ke sekolah sehingga anak-anak terbiasa dengan kondisi tersebut.&lt;br /&gt;Atau perusahaan memberikan beberapa pekerjaan kepada sekolah untuk dikerjakan oleh anak-anak pada saat melakukan pembelajaran praktek di bengkel sekolah. Dengan demikian, maka anak-anak terbiasa melakukan kegiatan dengan kualitas perusahaan. Hal ini sangat penting agar pada saat anak didik menyelesaikan pendidikan, mereka sudah mempunyai kualifikasi kompetensi sebagaimana yang dibutuhkan perusahaan. &lt;br /&gt;Masalahnya sekarang adalah, kapankah perusahaan mau memasuki sekolah-sekolah kejuruan untuk berbagi kompetensi pendidikan dan persiapan anak didik menjadi sumber daya manusia indonesia yang benar-benar dapat meningkatkan kualitas bangsa di pergaulan masyarakat dunia....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-890800171550053218?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/890800171550053218/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=890800171550053218' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/890800171550053218'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/890800171550053218'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2009/11/bawa-perusahaan-ke-sekolah.html' title='Bawa Perusahaan ke Sekolah'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-3262689191327072735</id><published>2009-11-01T17:48:00.000-08:00</published><updated>2009-11-01T17:54:00.484-08:00</updated><title type='text'>Bawa Anak didik ke perusahaan</title><content type='html'>Pembelajaran keterampilan merupakan satu aspek penting agar anak didik benar-benar mampu menguasai kompetensi keahliannya secara maksimal. Dengan pembelajaran keterampilan, maka anak didik mendapatkan bekal keterampilan terkait dengan keahliannya. Hal ini sangat penting dalam kehidupan anak setelah menyelesaikan masa belajar di sekolah.&lt;br /&gt;Proses ini, jika hanya mengandalkan sarana yang ada di sekolah, tentunya terpaut jauh dengan kebutuhan di masyarakat industri. Oleh karena itulah, maka sekolah harus mengambil inisiatif untuk membawa anak didik ke perusahaan, ke masyarakat industri sehingga mereka mengetahui secara pasti apa dan bagaimana sesungguhnya yang dibutuhkan oleh masyarakat atas keahlian yang mereka pelajari.&lt;br /&gt;Secara periodek, sekolah harus menyusun program sehingga ada jembatan penghubung efektif sekolah dengan masyarakat, apalagi jika ternyata mampu menjadi jembatan untuk mewujudkan tujuan belajar, yaitu generasi pencipta kerja dan bukan sekedar mencari pekerjaan..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-3262689191327072735?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/3262689191327072735/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=3262689191327072735' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/3262689191327072735'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/3262689191327072735'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2009/11/bawa-anak-didik-ke-perusahaan.html' title='Bawa Anak didik ke perusahaan'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-5447817490005385394</id><published>2009-10-23T18:55:00.000-07:00</published><updated>2010-03-11T20:19:02.460-08:00</updated><title type='text'>Kerjasama Kewirausahaan</title><content type='html'>Sekolah Menengah kejuruan sebagai institusi penyelenggara pendidikan dan sekaligus pelatihan anak didik mempunyai kewajiban untuk memberikan bekal &lt;span style="font-style:italic;"&gt;life skill&lt;/span&gt; pada anak didiknya. hal ini meurpakan jawaban atas kondisi lulusan sekolah, dunia pendidikan yang selama ini dianggap masih jauh dari tuntutan jaman. &lt;br /&gt;Selama masyarakat menganggap dan dapat kita lihat dari kenyataan di lapangan bahwa anak-anak lulusan sekolah menengah, mungkin termasuk sekolah kejuruan, belum dapat menjawab masalah yang timbul dan tumbuh dalam masyarakat. Padahal seperti yang kita ketahui, proses pembelajaran merupakan proses penguasaan atas beberapa kompetensi yang aplikatif untuk kehidupan.&lt;span class="fullpost"&gt;Dan hal inilah yang menjadi alasan utama para orang tua mengirimkan anak-anaknya untuk mengikuti proses pendidikan di sekolah.&lt;br /&gt;Untuk menciptakan kondisi tersebut, maka secara nyata sekolah tidak dapat mengatasinya sendirian. Terlalu luas bidang yang harus ditangani dan diselesaikan jika sekolah juga harus memikirkan kelanjutan dari proses pendidikan anak didik. Artinya, sekolah mempersiapkan anak-anak untuk penguasaan kompetensi aplikatif, sementara bagaimana anak mendapatkan tempat untuk menerapkan kompetensi tersebut adalah di masyarakat. Sekolah mempersiapkan anak didik sehingga mempunyai kompetensi yang layak dan di masyarakat kompetensi tersebut diterapkan oleh anak didik.&lt;br /&gt;Sebagai sekolah kejuruan, maka SMK selain menangani masalah pembelajaran teknis, praktik di sekolah, juga berkewajiban untuk membuka link sekolah dengan masyarakat sebagai jembatan mengantarkan anak-anak ke tempat seharusnya. Oleh karena itulah, maka sekolah harus membuat kerjasama dengan masyarakat terkait dengan kompetensi anak didik. Bentuk kerjasama ini adalah kerjasama kewirausahaan. Kerjasama kewirausahaan diharapkan dapat memberikan kesempatan luas kepada anak didik dan sekolah untuk mendapatkan berbagai pekerjaan yang dapat meningkatkan kompetensi dirinya.&lt;br /&gt;Misalnya dalam hal ini, sekolah bekerjasama dengan perusahaan untuk menjadi sub kerja, rekanan dalam mengerjakan sebagian dari pekerjaan pabrik untuk dikerjakan di sekolah. Pabrik memberikan beberapa pekerjaan kepada sekolah dan selanjutnya sekolah emmebrikan pekerjaan tersebut kepada anak didik untuk dikerjakan pada saat pembelajaran praktik atau pada saat proses pembelajaran selesai.&lt;br /&gt;Kerjasama kewirausahaan memang sangat perlu diwujudkan oleh sekolah sehingga konasep bahwa sekolah kejuruan menerapkan dual sistem pendidikan dan pembelajaran benar-ebnar terpenuhi.&lt;br /&gt;Tentunya dalam hal ini dibutuhkan situasi dan kondisi yang kondusif atas kerjasama yang dibentuk sehingga benar-benar menjadi kerjasama yang mutualisme. Masing-amsing pihak mendapatkan manfaat sebenar-besarnya dari kerjasama tersebut dan bukan memperbudak yang satu atas satunya.&lt;br /&gt;Siapkah para pemilik modal memasuki dunia pendidikan dan memberikan sedikit pekerjaan untuk sekolah dan dikerjakan oleh anak didik?&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-5447817490005385394?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/5447817490005385394/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=5447817490005385394' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/5447817490005385394'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/5447817490005385394'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2009/10/kerjasama-kewirausahaan.html' title='Kerjasama Kewirausahaan'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-338626472846348819</id><published>2009-10-15T05:08:00.000-07:00</published><updated>2009-10-15T05:34:09.425-07:00</updated><title type='text'>Program Magang di Perusahaan</title><content type='html'>Sebenarnya, ada banyak cara untuk dapat memberikan bekal keterampilan aplikatif bagi anak didik sehingga mereka benar-benar siap menghadapi kehidupan ini.Jika di sekolah anak didik mendapatkan proses pembelajaran yang berisi keterampilan sesuai dengan program keahlian yang diikuti, maka hal tersebut seharusnya ditindaklanjuti dengan penerapan keterampilan dalam masyarakat.&lt;br /&gt;Tentunya, program sekolah sudah jelas bahwa selain harus mengerjakan barang-barang di bengkel sekolah, anak didik juga harus melakukan kegiatan nyata di masyarakat. Hal ini untuk memberikan kondisi pada anak didik sehingga pada saatnya mereka tidak 'kaget' menghadapi kehidupan masyarakat yang tidak sama dengan angan-angan mereka.&lt;br /&gt;Dalam angan anak-anak, ketika bersekolah, maka sekolah merupakan lingkungan yangs angat menyebalkan dan mereka tidak suka sehingga mereka lebih banyak menghabiskan waktu di masyarakat, dengan '&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ngelimbung&lt;/span&gt;' tidak masuk kelas belajar saat jam belajar. Mereka tidak suka belajar saat di rumah sehingga banyak waktu dihabiskan untuk dolan dan rea reo kesana-kemari.&lt;br /&gt;KOndisi ini sangat merugikan bagi anak didik dan masa depannya. Mereka bersekolah tetapi sama sekali tidak mendapatkan kemampuan, kompetensi yang diharapkan sebab memang tidak pernah masuk atau mengikuti proses belajar.Mereka lebih banyak berkeliaran di lingkungan masyarakat. Repotnya lagi, masyarakat sama sekali tidak melakukan tindakan saat melihat banyak anak yang berkeliaran di luar saat jam-jam belajar.Padahal mereka melihat secara langsung anak-anak yang berkeliaran di tempat-tempat umum pada saat jam pelajaran berlangsung di sekolah, dengan seragam sekolah!&lt;br /&gt;Pada akhirnya, saat mereka lulus, dinyatakan lulus, maka yang terjadi adalah mereka kesulitan untuk berkiprah dalam masyarakat. Mereka tidak dapat mengambil peranan sebab mereka tidak mempunyai kemampuan seperti itu.&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, maka pada saat anak masih belajar, sekolah seharusnya memberikan kesempatan pada anak didik untuk ikut berperan dalam masyarakat dengan membuat program magang anak didik di masyarakat.Anak didik diberi kesempatan untuk mengikuti proses kerja tetapi dalam pengelolaan sekolah.&lt;br /&gt;Sekolah membuat perjanjian dengan beberapa perusahaan untuk dapat menerima anak didiknya magang kerja sebagai langkah mempertajam pengalaman anak didik di lingkungan kerja dan kemampuan keahlian anak didik. Dalam hal ini, selanjutnya yang terpenting adalah bagaimana respon perusahaan dalam menghadapi program sekolah untuk magang kerja anak didiknya.... Maukah perusahaan secara besar hati menerima anak-anak yang, notabene masih jauh dari kemampuan yang diharapkan...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-338626472846348819?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/338626472846348819/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=338626472846348819' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/338626472846348819'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/338626472846348819'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2009/10/program-magang-di-perusahaan.html' title='Program Magang di Perusahaan'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-8292414696200529265</id><published>2009-10-14T20:45:00.000-07:00</published><updated>2009-10-14T20:53:23.852-07:00</updated><title type='text'>Kebiasaan Bekerja</title><content type='html'>Dalam program pembelajaran di sekolah, khususnya sekolah kejuruan, anak didik dibiasakan untuk melakukan pekerjaan. jadi, anak didik diberikan tugas untuk menyelesaikan pekerjaan yang didapatkan dari amsyarakat atau diberikan oleh guru pembimbing kegiatan pembelajaran.&lt;br /&gt;Kegiatan bekerja ini dilakukan secara utuh, yaitu mulai dari perencanaan kerja, pelaksanaan kerja sampai pada promosi dan penjualan  benda kerja ke masyarakat. DEngan demikian, maka kemampuan anak didik tuntas dalam segala aspek.&lt;br /&gt;Selama ini yang terjadi adalah anak didik mempunyai kemampuan untuk bekerja, sebab sudah mendapatkan pembelajaran praktik atau pembelajaran produktif, tetapi sama sekali tidak mampu untuk menjual kemampuan yang dimiliki tersebut.&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, untuk memupuk kebiasaan anak dalam bekerja, maka sekolah menciptakan suatu lingkungan yang membiasakan anak didik untuk bekerja. Setiap saat anak didik diberikan proses kerja pada barang-barang kebutuhan masyarakat.&lt;br /&gt;Dengan demikian, maka setidaknya terbentuk satu kondisi di dalam diri anak didik bahwa mereka harus bekerja agar dapat bertahan dalam kehidupan. dan, keterampilan yang didapat selama melakukan kerja di sekolah inilah yang selanjutnya menjadi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;life skill&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;brandingself&lt;/span&gt; di masyarakatnya.&lt;br /&gt;Jika hal ini dapat kita lakukan, maka setidaknya kita mempunyai kontribusi terhadap kehidupan dengan keterampilan kita.&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, maka mulailah kita membiasakan anak didik untuk bekerja sesuai dengan keahlian masing-amsing.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-8292414696200529265?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/8292414696200529265/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=8292414696200529265' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/8292414696200529265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/8292414696200529265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2009/10/kebiasaan-bekerja.html' title='Kebiasaan Bekerja'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-1491112569923727698</id><published>2009-10-12T20:12:00.000-07:00</published><updated>2009-10-12T20:30:53.497-07:00</updated><title type='text'>Pekerjaan untuk Anak didik</title><content type='html'>Pada program dan proses pendidikan di sekolah kejuruan, anak didik dikondisikan untuk selalu melaksanakan kegiatan efektif, yaitu mengerjakan barang-barang untuk kebutuhan masyarakat. Barang-barang ini dikerjakan di bengkel sekolah sebagai bentuk pembelajaran kompetensi bagi anak didik.&lt;br /&gt;Seperti kita ketahui, sejak tingkat satu, anak-anak sudah diberikan berbagai konsep dan pengetahuan tentang ketrampilan yang memungkinkan anak menguasai berbagai hal. Salah satunya adalah mengerjakan barang kebutuhan masyarakat.&lt;br /&gt;Dalam kaitannya dengan peningkatan kualitas anak sebagai sumber daya manusia untuk perkembangan pola hidup yang lebih baik, maka pekerjaan untuk anak didik adalah hal terbaik dan harus diperhatikan oleh sekolah kejuruan.&lt;br /&gt;Pada program pembelajaran di sekolah kejuruan, kita mengenal banyak program keahlian yang memberikan keterampilan bagi anak didik. Misalnya untuk program keahlian  Teknik Pemesinan, maka anak didik diberikan keterampilan yang terkait dengan berbagai pekerjaan yang menggunakan mesin dan mesin-mesin yang dipergunakan untuk melakukan pekerjaan.Dengan mesin-mesin ini, maka anak didik dibimbing untuk dapat membuat benda kerja kebutuhan hidup. Bahkan, yang sangat signifikan dengan kehidupan adalah keterampilan mengelas. Anak-anak yang megnikuti program pembelajaran dan pelatihan pengelasan mempunyai kesempatan yang luas dalam pengembangan keterampilan atau kompetensi dirinya. Untuk keterampilan ini, anak didik diberikan pekerjaan yang berasal dari masyarakat. Anak didik diberikan tugas untuk mengerjakan pekerjaan dengan kualifikasi selayaknya pekerjaan profesional.&lt;br /&gt;SEbenarnya dengan memberi pekerjaan kepada anak didik, kita telah membuka link dengan masyarakat terkait dengan kualitas anak didik kita. Anak didik yang menerima pekerjaan dari sekolah harus melakukan pekerjan secara menyeleuruh, yaitu mulai dari perencanaan pekerjaan, perhitungan kebutuhan dan nilai jual, membuat gambar benda, dan mengerjakan barang hingga selesai dan siap dikirim ke masyarakat. Jika hasil pekerjaan ini bagus, maka untuk selanjutnya masyarakat dapat menyerahkan kebutuhannya ke sekolah, ini merupakan hasil dari pelayanan terbaik pada masyarakat.&lt;br /&gt;Pada sisi lainnya, untuk dapat bekerja, maka anak didik dapat ditugaskan untuk mencari pekerjaan dari masyarakat dan dikerjakan di sekolah. Artinya, anak didik harus mencari pelanggan dari pekerjaannya yaitu berupa barang yagn dapat dikerjakan disekolah. Tentunya dalam hal ini, anak didik dapat memperhitungkan nilai dana yang dibutuhkan untuk proses pembuatan barang dan nilai jual yang ditawarkan ke masyarakat. Dalam hal inilah, anak didik dapat mengambil masukan yaitu dari selisih nilai bahan dan nilai barangnya. SEmakin banyak barang yang dikerjakan, berati semakin banyak langganan yang dilayani oleh anak didik. Semakin banyak langganan berarti semakin luas wilayah kerja anak didik. Hal ini juga semakin memperkenalkan anak didik di masyarakat. Dengan demikian, anak didik sduah mempunyai pangsa pasar sebelum mereka lulus atau menyelesaikan masa belajarnya di sekolah.&lt;br /&gt;Ya. kita harus memberikan pekerjaan kepada anak didik agar mereka terbiasa dalam kondisi bekerja dan sekaligus memperluas jaringan kerja anak didik di masyarakat. KIta memperkenalkan anak didik dan kemampuannya kepada masyarakat sehingga selanjutnya masyarakat dapat melihat tingkat kemampuan anak didik. JIka hal tersebut sangat memuaskan, tentunya masyarakat akan kembali memberikan pekerjaan kepada anak didik.Demikian seterusnya hingga saat anak didik lulus, mereka sudah mempunyai langganan yang harus dilayani terkait dengan kemampuan teknisnya. Itulah pekerjaan untuk anak didik di sekolah...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-1491112569923727698?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/1491112569923727698/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=1491112569923727698' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/1491112569923727698'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/1491112569923727698'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2009/10/pekerjaan-untuk-anak-didik.html' title='Pekerjaan untuk Anak didik'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-5483329947327341901</id><published>2009-10-12T04:49:00.001-07:00</published><updated>2009-10-12T05:07:16.072-07:00</updated><title type='text'>Berikan Pekerjaan Untuk Anak Didik</title><content type='html'>Satu hal yang perlu kita pahami bahwa untuk mengarahkan anak didk agar siap menjadi orang-orang produktif setelah menyelesaikan masa pendidikannya adalah memberi mereka pekerjaan.Setiap saat kita harus mengkondisikan anak didik agar melaksanakan proses pengerjaan barang dengan kualitas layak pakai untuk masyarakat.&lt;br /&gt;Selama ini yang menjadi permasalahan adalah persepsi yang keliru dari anak didik, bahkan mungkin juga para instruktur di bengkel sekolah.Seperti kita ketahui,program dan proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah, khususnya sekolah kejuruan salah satu aspek yang dikedepankan adalah pembelajaran keterampilan yang teranagkum dalam kelompok pelajaran produktif. Dengan demikian, maka jelas bahwa arah proses adalah untuk menciptakan orang-orang yang produktif, yaitu orang-orang yang mempunyai kemampuan memproduksi barang-barang untuk kebutuhan hidup masyarakat.&lt;br /&gt;Sementara yang terjadi di lapangan adalah apresiasi yang menyimpang, yaitu terpatoknya anggapan bahwa kegiatan yang dilakukan oleh anak didk di sekolah adalah kegiatan praktik! Anak didik beranggapan bahwa yang dilakuakn di bengkel sekeolah adalah kegiatan praktik sehingga hal tersebut sangat mengurangi kualitas kerja yang harus diberikan.Dan, kondisi tersebut didukung oleh persepsi instruktur yang menekankan bahwa anak harus melakukan praktik kerja.&lt;br /&gt;Padahal, seharusnya sejak proses pembelajaran di bengkel anak didik sudah diberikan program pembelajaran secara bertahap, yaitu dari tingkat satu hingga tingkat tiga. SEcara teknis, anak-anak di tingkat dua sudah dapat dikondisikan untuk melaksanakan kegiatan produktif. Tetapi ternyata mereka masih dalam taraf praktik kerja.&lt;br /&gt;JIka anak didik diberikan proses secara sistematis dan terstruktur sesuai tingkatannya, maka saat tingkat dua mereka sudah mulai belajar melakukan pekerjaan yang dibutuhkan masyarakat.&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, maka yang terpenting dalam upaya meningkatkan kemampuan anak didik sebeluim mereka mneinggalkan bnagku sekolah adalah memberi mereka pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan keahlian mereka. Berikan pekerjaan untuk anak didik agar mereka terbiasa dalam situasi kerja, bukan praktik kerja!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-5483329947327341901?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/5483329947327341901/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=5483329947327341901' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/5483329947327341901'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/5483329947327341901'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2009/10/berikan-pekerjaan-untuk-anak-didik.html' title='Berikan Pekerjaan Untuk Anak Didik'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-8412836567458915408</id><published>2009-10-11T17:49:00.000-07:00</published><updated>2009-10-15T05:36:14.434-07:00</updated><title type='text'>Kewirausahaan adalah Kompetensi KHusus Anak Didik</title><content type='html'>Sebagai bagian dari kehidupan yang terus bergerak, berubah, maka setiap orang harus selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas dirinya sesuai dengan yang dituntut oleh kehidupan. JIka tidak, maka pasti terdepak dari jalur. Oleh akrena itulah, maka setiap orang berusaha mengembangkan diri dengan melakukan proses perubahan secara sistematis kompetensi dirinya.&lt;br /&gt;Terkait dengan kondisi tersebut, maka sudah seharusnya sekolah mengikuti kondisi tersebut dan memberikan proses pembelajaran yang didalamnya terdapat kegiatan aplikatif untuk kehidupan.Salah satu kegiatan aplikatif yang dirasakan mampu menjawab setiap tantangan hidup adalah berwirausaha&lt;br /&gt;Berwirausaha berarti melakukan kegiatan yang didasari oleh kemampuan diri sendiri untuk dapat tetap eksis dalam kehidupan. Kegiatan ini merupakan aplikasi dari kemampuan dasar yang dimiliki oleh setiap orang dan dilaksanakan sebagai upaya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;life skill&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;survival of life&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Untuk kondisi tersebut, maka sekolah seharusnya memberikan kesempatan seluas-luas kepada anak didik untuk mengembangkan diri dengan kemampuan yang dapat diterapkan dalam kehidupannya. Kemampuan ini bukan berarti kemampuan teknologi tinggi semata, melainkan pengetahuan teknologi tepat guna, yaitu teknologi sederhana yang gampang diterapkan dalam kehidupan, misalnya cara pembuatan tempe atau tape dan sebagainya.&lt;br /&gt;kemampuan ini sangat penting sebab barang yang dihasilkan merupakan barang kebutuhan masyarakat. Setiap saat masyarakat membutuhkan barang tersebut sehingga tentunya produksi dapat lancar sepanjang waktu.&lt;br /&gt;Jika kemampuan seperti ini diberikan di sekolah, tentunya anak-anak menjadi sosok-sosok yang berjiwa enterpreneur sehingga begitu lulus mereka sudah mempunyai pekerjaan.&lt;br /&gt;Atau, jika sekolah itu sekolah kejuruan, maka anak diidk dapat diberikan keterampilan terkait dengan program keahliannya masing-masing,misalnya keterampilan mengelas. Ketarmpilan mengelas menjadi sangat penting sebab banyak barang-barang kebutuhan hidup yang dibuat dengan sistem pengelasan.&lt;br /&gt;Jika anak didik dibiasakan menjalani pekerjaan berwirausaha sejak mereka sekolah, maka selama itu mereka sudah mempunyai langganan bagi pekerjaannya dan pada saat yang bersamaan, mereka dapat membeli alat-alat kebutuhan kerja sebab dari hasil penjualan barang, mereka mendapat keuntungan, dan keuntungan tersebut dapat dibelikan alat alat terkait.&lt;br /&gt;Kendala yagn selama ini dirasakan adalah anak-anak yagn sduah lulus tidak mempunyai keterampilan khusus yang membedakan mereka dengan yang lainnya sehingga saat mencari pekerjaan, maka mereka harus bersaing dengan yang lainnya. Tetapi jika anak mempunyai keterampilan khusus, tentunya hal tersebut merupakan nilai plus bagi dirinya dan kemungkinan besar dia dapat menciptakan lapangan pekerjaan dari keterampilannya tersebut.&lt;br /&gt;Kewirausahaan memang merupakan keterampilan khusus yang harus dimiliki oleh anak didik sehingga mereka sudah mempunyai lapangan pekerjaan sebelum mereka lulus sekolah. Dan, ini merupakan pekerjaan rumah sekolah kejuruan yangs elama ini belum terjawab.&lt;br /&gt;KIranya, ada yang mempunyai tips atau langkah-langkah efektif untuk mengkondisikan anak didik lebih efektif setelah menyelesaikan proses pendidikan dan pembelajarannya?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-8412836567458915408?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/8412836567458915408/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=8412836567458915408' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/8412836567458915408'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/8412836567458915408'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2009/10/kewirausahaan-adalah-kmpetensi-khusus.html' title='Kewirausahaan adalah Kompetensi KHusus Anak Didik'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-3446243166494810764</id><published>2009-09-13T18:27:00.000-07:00</published><updated>2009-09-13T18:38:55.975-07:00</updated><title type='text'>Membimbing Anak Didik memahami Proposal Kewirausahaan</title><content type='html'>Setelah memperkenalkan proposal kewirausahaan kepada anak didik sebagai prasyarat untuk dapat mengikuti proses pembelajaran keterampilan di bengkel sekolah, maka selanjutnya yang perlu kita lakukan adalah mensosialisasikan pentingnya proposal dalam kegiatan kewirausahaan.Hal ini sangat penting agar anak-anak benar-benar memahami segala hal yang harus dilakukan dan menjadi tangungjawabnya terhadap proposal kerja yang diajaukan.&lt;br /&gt;Bahwa proposal kewirausahaan merupakan pengajuan permintaan kerja yang disampaikan oleh anak didik ke sekolah dan sekolah akan menilai selanjutnya menentukan persetujuan ataukah penolakan setelah mempertimbangkan banyak hal terkait dengan jenis pekerjaan yang diajukan anak didik. Tim kewirausahaan harus memberikan bimbingan secara intens kepada anak didik terkait dengan proposal ini.&lt;br /&gt;SEbagai konsep permintaan kerja kepada sekolah, maka konsekuensi yang harus ditanggung oleh anak didik adalah pekerjaan harus selesai dan layak pakai sehingga laku jual agar dapat memberikan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;income&lt;/span&gt; bagi tim kewirausahaan sekolah. Dengan demikian,kesinambungan program dapat dipertahankan, bahkan ditingkatkan lebih lanjut.&lt;br /&gt;Terkait dengan proposal kewirausahaan, maka dalam hal ini anak didik harus benar-benar memahami segala hal yang diajukan ke sekolah sebelum mendapatkan persetujuan kerja. Jangan sampai terjadi, anak mengajukan proposal kerja tetapi ternyata dia sama sekali tidak menguasai pekerjaan tersebut sehingga pekerjaan tidak selesai atau tidak layak pakai.&lt;br /&gt;Guru pembimbing kewirausahaan harus benar-benar melakukan tugasnya sebaik-baiknya. tidak hanya itu, guru- guru lain yang termasuk dalam tim bimbingan penyusunan proposal harus secara intens memberikan bimbingan kepada anak didiknya.&lt;br /&gt;Semoga tujuan membangkitkan jiwa kewirausahaan pada diri anak didik dapat terwujudkan...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-3446243166494810764?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/3446243166494810764/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=3446243166494810764' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/3446243166494810764'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/3446243166494810764'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2009/09/membimbing-anak-didik-memahami-proposal.html' title='Membimbing Anak Didik memahami Proposal Kewirausahaan'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-6670588742548523145</id><published>2009-09-02T17:52:00.000-07:00</published><updated>2009-09-02T18:09:14.079-07:00</updated><title type='text'>Pentingnya Proposal Kewirausahaan</title><content type='html'>Sebagai bentuk program yang berkesinambungan, maka agar pola kewirausahaan benar-ebnar dapat tertanam dalam jiwa anak didik, maka kepada mereka perlu diberikan berbagai bekal yang diharapkan dapat mendukung keberhasilan program kewirausahaan itu sendiri.&lt;br /&gt;Bekal yang dimaksudkan tidak lain adalah bekal yang secara langsung menjadi bagian utama proses, bahkan sebelum proses sebenarnya dilaksanakan, yaitu kemampuan menyusun proposal kewirausahaan.&lt;br /&gt;SElama ini anak-anak sebenarnya sudah mendapatkan materi pelajaran penyusunan proposal di mata diklat Bahasa Indonesia, tetapi  selama ini pula bekal tersebut hanya sebuah teori. Mereka belum pernah dituntut untuk menerapkan bekal tersebut dalam satu kegiatan nyata.&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, maka sudah seharusnya dipikirkan dan diselanjutnya diterapkan bahwa untuk dapat mengikuti proses pembelajaran keterampilan atau mata diklat praktek di bengkel, maka setiap anak harus menyusun proposal.Sebelum anak didik menyusun dan menyerahkan proposal kerja, maka yang bersangkutan ditunda keikutsertaannya dalam proses pembelajaran praktek.&lt;br /&gt;Penyusunan proposal sangat penting sebagai acuan bagi semua pihak dalam kelancaran proases pembelajaran. dalam hal ini selain program pembelajaran, yang tidak kalah pentingnya adalah alokasi kebutuhan material untuk praktek, yaitu mesin, alat-alat dan bahan kebutuhannya serta penjadwalan peserta kegiatan praktek tersebut.&lt;br /&gt;Tidak dapat tidak, kita harus memulai langkah untuk lancarnya program secara keseluruhan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-6670588742548523145?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/6670588742548523145/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=6670588742548523145' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/6670588742548523145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/6670588742548523145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2009/09/pentingnya-proposal-kewirausahaan.html' title='Pentingnya Proposal Kewirausahaan'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-7477140497323509923</id><published>2009-08-30T22:06:00.000-07:00</published><updated>2009-08-30T22:07:29.838-07:00</updated><title type='text'>SMK sebagai Pusat Pelatihan Keterampilan Terpadu</title><content type='html'>Pada era sekarang, keterampilan telah menjadi satu poin khusus bagi setiap orang agar dapat menjalani kehidupan dengan lebih baik. Setiap orang harus mempunyai keterampilan khusus jika menginginkan pola hidup yang lebih baik daripada yang lainnya. Keterampilan inilah yang selanjutnya menjadi brandingself setiap orang. Brandingself ini merupakan satu upaya untuk pencitraan diri sehingga menjadi satu pengakuan resmi bagi eksistensi dalam kehidupan. Dan selanjutnya, brandingself menjadi perhitungan atau pertimbangan khusus terkait dengan pemanfaatan sumber daya manusia, yaitu di lapangan pekerjaan.&lt;br /&gt;Dengan brandingself yang dimiliki, maka anak mempunyai bekal sesuai dengan bidang keahliannya. Hal ini sangat penting mengingat pada jaman sekarang ini keterampilan atau brandingself menjadi nilai jual seseorang dalam dunia kerja. Pekerjaan adalah suatu kegiatan yang membutuhkan keterampilan sehingga setiap orang harus mampu menjawab, artinya seseorang harus mempunyai bekal yang mampu menyelesaikan setiap masalah hidup, khususnya terkait dengan pekerjaan. Setidaknya, seseorang harus berketerampilan agar dapat melakukan kegiatan terkait dengan pekerjaan. Keterampilan diartikan sebagai kemampuan untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang timbul dalam kehidupan.&lt;br /&gt;Pekerjaan menjadi salah satu acuan yang dijadikan landasan seseorang untuk hidup lebih baik. Bahkan untuk sekedar survival, maka seseorang harus mempunyai pekerjaan. Dengan pekerjaan, maka seseorang memperoleh income yang selanjutnya dapat dipergunakan sebagai modal untuk ‘menjalankan’ roda kehidupan. Kita membutuhkan banyak hal untuk hidup, berarti kita membutuhkan dana agar kebutuhan dapat terpenuhi. Dan, dana tersebut hanya dapat diperoleh jika kita bekerja.&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, maka pada saat sekarang ini orangtua cenderung mengirimkan anak-anaknya ke sekolah kejuruan atau ke tempat-tempat pelatihan yang diharapkan dapat menambah bekal keterampilan. Orangtua menyadari bahwa kebutuhan tenaga kerja pada saat ini hanyalah bagi mereka yang terampil, bahkan sejak dulu keterampilan ini merupakan bekal utama seseorang untuk dapat melakukan pekerjaan. Oleh karena itulah, maka sejak kecil, anak-anak selalu diarahkan untuk melakukan berbagai kegiatan hidup sehingga terampil dan mampu menyelesaikan setiap permasalahan hidup. Dengan keterampilan tersebut, maka tumbuh kemampuan untuk survival dalam kehidupannya.&lt;br /&gt;Dalam menghadapi konsep dan persepsi orangtua yang cenderung pada konsep praktis, dimana kebutuhan keterampilan merupakan harapan utama, maka sekolah kejuruan sebagai penyelenggara pendidikan dan sekaligus keterampilan, perlu meningkatkan proses sehingga terjadi perimbangan proses dan kebutuhan masyarakat. Sekolah tidak dapat mengabaikan kebutuhan masyarakat sebab masyarakat adalah konsumen utama hasil proses pendidikan dan pembelajaran. Kebutuhan masyarakat adalah hal utama dari orientasi proses yang dilaksanakan oleh sekolah. Tanpa masyarakat, orangtua anak didik, tentunya eksistensi sekolah hanyalah sebuah foto yang dipajang didinding yang hanya enak dipandang dan sama sekali tidak memberi manfaat praktisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMK adalah Sekolah Kejuruan, Keterampilan Khusus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya sekolah sebagai penyelenggara proses pendidikan dan pembelajaran mencoba untuk memberikan hal terbaik bagi anak-anak didiknya. Berbagai cara dilakukan agar anak didik benar-benar mempunyai bekal hidup yang dapat membuat mereka survival. Selama ini yang terjadi adalah anak-anak yang tidak mampu berkiprah untuk kehidupannya karena mereka tidak mempunyai kemampuan untuk hal tersebut. Anak-anak lulus dan menamatkan proses belajarnya tetapi ternyata secara teknis tidak mempunyai keterampilan yang memadai.&lt;br /&gt;Dan, kita sangat menyadari bahwa selama ini yang terjadi justru kebalikan dari keinginan bersama. Anak-anak yang sudah menyelesaikan masa pembelajarannya ternyata tidak mempunyai kemampuan untuk menghadapi hidup. Mereka justru menjadi kelompok orang yang terpinggirkan sebab mereka tergolong orang berpendidikan tetapi tidak mampu hidup dengan pendidikannya tersebut. Mereka menjadi pengangguran intelek, pengangguran terdidik dan hal tersebut sangat merendahkan nilai diri di pandangan masyarakat.&lt;br /&gt;Masyarakat sekarang ini sudah mempunyai kemampuan untuk mengevaluasi setiap program dan kegiatan yang mereka lakukan sehingga setiap keputusan yang dibuatnya pasti sudah melalui pertimbangan matang. Termasuk dalam hal ini pendidikan anak-anaknya. Mereka tidak hanya mengharapkan pemelajaraan sebatas perubahan pengetahuan dan tingkah laku, melainkan secara utuh pada tiga aspek dasar pendidikan, yaitu afektif, kognitif dan psikomotor. Dan, dari ketiga aspek tersebut, psikomotor diharapkan memperoleh jatah pembelajaran lebih dibandingkan aspek yang lainnya. Hidup sangat butuh keterampilan sebab setiap saat kita pasti menghadapi permasalahan dan untuk menyelesaikannya, maka kita harus mempunyai keterampilan khusus. Tanpa keterampilan, tentunya kita akan terpuruk dalam ketidakberdayaan. Kita bakal menjadi kelompok orang-orang yang pandai tetapi sama sekali tidak mempunyai kemampuan untuk hidup.&lt;br /&gt;Dan, sekolah kejuruan menjadi pilihan hampir semua orangtua yang mengharapkan anak anaknya setelah mengikuti proses pendidikan dan pembelajaran dapat langsung bekerja. Para orangtua berharap anak-anaknya mendapatkan bekal keterampilan yang dapat dijadikan sebagai bekal hidupnya. Begitu sederhana pola pemikiran para orangtua. Asal anak-anaknya mempunyai keterampilan yang dapat digunakan untuk bekerja, maka orangtua sudah sangat bahagia.&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, maka SMK sebagai sekolah kejuruan memberikan pelayanan pendidikan khas, dimana pendidikan dan pembelajaran kejuruan menajdi skala prioritas dalam proses pembelajarannya. Anak didik diberikan proses pendidikan yang lebih menekankan pada pembekalan keterampilan aplikatif bagi kehidupan. Sekolah kejuruan memberikan pembelajaran kejuruan, keterampilan sesuai dengan program keahliannya. Dengan demikian, maka bekal anak didik benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat.&lt;br /&gt;SMK adalah sekolah kejuruan, maka tentunya aspek kejuruan menjadi pertimbangan utama pada setiap penentuan kebijakan sehingga sekolah tidak menjadi institusi yang mengumbar program tanpa kenyataan. Aspek kejuruan menjadi citra utama bagi sekolah kejuruan dan kejuruan yang kita maksudkan dalam hal ini adalah program keahlian yang secara jelas memberi satu bentuk kegiatan terkait dengan kejuruan tersebut.&lt;br /&gt;Di dalam proses pendidikan dan pembelajaran yang dilaksanakan secara formal ini, SMK memberikan pembelajaran secara sistematis dan terstruktur sehingga peningkatan kemampuan anak didik adalah sesuai dengan kemampuan dasar yang dimilikinya. Dengan penyampaian materi pelajaran sesuai dengan kemampuan anak didik, maka penguasaan atas materi pelajaran, baik teori maupun praktik terjadi sedemikian rupa sehingga secara utuh dimiliki oleh anak didik.&lt;br /&gt;Khususnya pada pembelajaran kejuruan atau keterampilan, sekolah memberikan-nya secara tersistem dan terpogram secara berurutan dari yang bersifat dasar, menengah dan lanjut serta pada akhirnya materi pembelajaran kejuruan yang diberikan adalah mahir. Pada tahun pertama anak didik diberikan pembelajaran dasar untuk kejuruan sehingga anak didik lebih mengenal segala hal terkait dengan materi kejuruan tersebut. Mulai dari konsep dasar hingga praktek dasarnya.&lt;br /&gt;Pembelajaran di SMK memang berbeda dengan pembelajaran yang diterapkan di SMU atau sekolah umum. Di sekolah umum, anak didik diarahkan untuk mendapatkan pengetahuan sebanyak-banyaknya sebagai bekal untuk pendidikan lebih lanjut, sementara di sekolah kejuruan, anak didik diarahkan pada dua jalan, yaitu pendidikan lebih lanjut atau menuju pada lapangan pekerjaan. Menempuh pendidikan di sekolah kejuruan sebenarnya sangatlah menguntungkan sebab ada dua kesempatan yang kita peroleh ketika kita menyelesaikan masa belajar, yaitu meneruskan pendidikan lebih lanjut atau langsung bekerja dengan berbekal keterampilan yang didapat dari proses pendidikan dan pembelajaran.&lt;br /&gt;Terkait dengan hal tersebut, maka selanjutnya SMK menjadi satu acuan untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang mampu menjadi manusia pembangun bagi negeri yang besar ini. Kita menyadari bahwa hanya orang-orang yang mempunyai keterampilan yang dapat menjadi pembangun bagi negerinya. Khusunya negeri seperti Indonesia yang masih terus berjuang untuk membangun peradaban yang mendasarkan pada kemampuan anak bangsanya sendiri.&lt;br /&gt;Sekolah kejuruan telah menjadi satu icon yang diharapkan dapat menjadi pensuplai tenaga kerja terbesar untuk pembangunan di negeri ini dan juga untuk kebutuhan tenaga kerja diluar negeri. Berbagai keterampilan harus dimiliki, dikuasai oleh para tenaga kerja jika ingin diterima dalam jajaran tenaga kerja di sebuah pabrik atau kantor. Tentunya dalam hal ini terkait dengan jenis pekerjaan yang harus ditangani oleh tenaga kerja bersangkutan. Semakin sulit pekerjaan, tentunya diperlukan tenaga kerja yang terampil dalam bidang keahlian tersebut.&lt;br /&gt;Dan, SMK adalah sekolah kejuruan, maka merupakan satu konsekuensi logis jika di dalam proses pendidikan dan pembelajarannya harus memberikan pembelajaran kejuruan lebih banyak daripada materi pelajaran lainnya. Dan, pembelajaran kejuruan ini terutama ditekankan pada materi kejuruan atau keterampilan keahlian. Itulah brandingself dari sekolah kejuruan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu Kemitraan Sekolah Dengan Masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemitraan didalam kehidupan merupakan satu keharusan yang tidak dapat diabaikan oleh semua orang. Hal ini mengacu pada konsep bahwa manusia bukanlah makhluk individu, melainkan makhluk sosial yang tentunya membutuhkan orang lain agar dapat hidup dengan sebaik-baiknya. Dan sebagai makhluk sosial, maka manusia tidak dapat terpisahkan dari manusia lainnya.&lt;br /&gt;Hubungan antar manusia ini sedemikian pentingnya sehingga tumbuhlah satu bentuk interaksi yang saling menguntungkan di antara mereka yang berinteraksi, yaitu kemitraan. Kemitraan merupakan satu bentuk interaksi yang dalam hal ini kedua belah pihak berperan aktif untuk menumbuhkan dan meningkatkan kualitas hasil dari interaksi tersebut.&lt;br /&gt;Sekolah sebagai institusi pendidikan dan pembelajaran yang mempunyai tugas dan kewajiban untuk melakukan perubahan signifikan pada diri anak didik sehingga mempunyai kompetensi diri. Sementara, masyarakat adalah pihak yang secara langsung memanfaatkan hasil proses pendidikan dan pembelajaran untuk kebutuhan kehidupan manusia secara umum. Dengan demikian, maka terdapat link yang kuat antara keduanya. Link inilah yang selanjutnya menjadi satu pengikat untuk setiap kegiatan yang dilakukan bersama.&lt;br /&gt;Selama ini link sekolah dengan masyarakat, khususnya dalam hal ini orangtua anak didik hanya bersifat antara produsen dengan konsumen. Sekolah sebagai produsen dan orangtua anak didik sebagai konsumen. Mereka belum terikat secara emosional terhadap proses pendidikan dan pembelajaran yang diselenggarakan di sekolah. Tidak heran jika ternyata ada permasalahan, maka yang menjadi kambing hitam adalah sekolah, khususnya guru. Guru selalu menjadi pihak yang disalahkan jika ternyata ada kegagalan di dalam proses pembelajaran dan justru hal tersebut datang dari orangtua anak didik. Padahal sebenarnya, orangtua juga mempunyai tugas dan kewajiban yang sama terhadap proses pendidikan dan pembelajaran anak-anak.&lt;br /&gt;Tentunya jika hal seperti ini terus terjadi, maka proses pendidikan dan pembelajaran akan timpang. Proses pendidikan dan pembelajaran hanya berjalan dengan satu kakinya saja. Bahwa ada banyak pihak yang sebenarnya bertanggungjawab atas keberhasilan proses pendidikan dan pembelajaran, guru dan sekolah adalah salah satunya. Hal ini karena yang bergerak menangani secara langsung proses pendidikan dan pembelajaran adalah guru dan sekolah sehingga jika ada kegagalan atau hal negatif dalam proses pendidikan dan pembelajaran, tentunya dua pihak inilah yang paling bertanggungjawab. Tetapi, kesalahan memang selalu jatuh pada mereka yang melakukan kegiatan secara langsung, apalagi masyarakat adalah konsumen dan konsumen adalah raja, sehingga mareka bebas menilai dan tidak perlu instrospekdi pada kebeperanannya dalam kegiatan pembelajaran anak-anak. To mereka sudah membayar ke sekolah.&lt;br /&gt;Hal seperti ini jelas tidak berimbang dan menyebabkan tidak stabilnya pola pemikiran guru, artinya guru yang sebenarnya sudah melaksanakan tugas secara ikhlas dan sepenuh hati bakal, tetapi menjadi tidak berimbang sebab tidak adanya rewward dari masyarakat atas segala usahanya. Para guru merasa tidak ada penghargaan yang sesuai dengan segala upaya yang sudah dilakukannya, bahkan yang ada justru punnishment yang memojokkannya sebagai pesakitan. Sungguh sangat mengecewakan. Tentunya mereka merasa tidak dianggap dalam segala pekerjaannya. &lt;br /&gt;Jika hal seperti ini dibiarkan, tentunya institusi pendidikan dan pembelajaran bakal menjadi institusi yang berisi orang-orang yang penuh kecewa. Dan, orang-orang yang kecewa cenderung untuk tidak maksimal dalam bekerjanya. Jika para guru tidak bekerja secara maksimal, karena rasa kecewa yang menumpuk di dalam hati, tentunya hal tersebut secara signifikan menyebabkan penurunan kualitas hasil proses pembelajaran yang dijalankannya. Dan, selanjutnya berdampak pada mindset masyarakat terhadap instiusi sekolah secara umum.&lt;br /&gt;Untuk mencegah hal tersebut jangan sampai terjadi, maka tidak dapat tidak harus ada interaksi intens antara sekolah dan masyarakat dalam bentuk kemitraan aktif. Secara aktif orangtua juga ikut mengawasi dan membimbing anak-anak di dalam proses pembelajarannya. Bukan berarti orangtua masuk kelingkungan sekolah untuk ikut secara aktif memberikan pembelajaran kepada anak-anak melainkan cukup secara aktif memantau perkembangan dan mendampingi anak-anaknya saat belajar di lingkungan keluarga atau di lingkungan masyarakat. Bagaimanapun waktu pendampingan dan pembimbingan belajar oleh guru hanyalah sebatas jam tujuh pagi hingga jam satu siang. Sangat terbatas dan diharapkan memberikan hasil maksimal. Walau sebenarnya para guru menyadari bahwa dilingkungan sekolah, anak-anak adalah tanggungjawab mereka untuk proses pendidikan dan pembelajarannya, bahkan tidak jarang saat di lingkungan masyarakat-pun jika mereka menemukan anak-anak yang melakukan tindakan salah, para guru masih memberikan bimbingan, memberikan nasihat agar anak didik tidak melakukan kesalahan tersebut. Hal ini secara otomatis muncul pada setiap guru karena sekali guru mendampingi anak didik, maka secara emosional bahkan psikis, mereka sudah terikat perjanjian hati untuk terus membimbing anak-anak sehingga anak-anak tidak melakukan kesalahan dalam hidupnya.&lt;br /&gt;Pada sisi lainnya, sekolah kejuruan adalah sekolah keterampilan khusus yang didalam proses pendidikan dan pembelajarannya selain memberikan bekal pengetahuan dan nilai-nilai positif kehidupan, juga memberikan bekal keterampilan bagi anak didiknya. Oleh karena itulah, maka bentuk kemitraan yang dibangun sekolah dengan masyarakat tidak hanya terbatas pada proses donatur dana penyelenggaraan pendidiakn dan pembelajaran. Tetapi, lebih dari itu adalah perlu dibentuk kemitraan yang memungkinkan terjadinya simbiosis mutualisme antara sekolah dengan masyarakat. Simbiosis mutualisme terutama ditekankan pada pemanfaatan keterampilan khusus yang didapatkan anak didik dari proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah.&lt;br /&gt;Bentuk kemitraan yang kita maksudkan dalam hal ini adalah kemitraan kerja. Sebagai institusi yang melaksanakan proses pembelajaran kejuruan, keterampilan, sudah pasti materi yang diberikan kepada anak didik adalah materi aplikatif. Materi aplikatif adalah materi yang diterapkan secara langsung di dalam kehidupan bermasyarakat. Materi aplikatif ini diberikan pada proses pembelajaran di bengkel sekolah dan isinya tidak lain adalah materi yang pada umumnya diterapkan di bengkel-bengkel masyarakat industri.&lt;br /&gt;Dengan program dan proses pembelajaran seperti ini, sebenarnya anak didik adalah sumber daya manusia yang telah siap memasuki pangsa kerja dan beraktivitas secara ekonomis. Dalam konteks ini, maka perlu kemitraan kerja bagi anak didik dengan dunia industri. Setidaknya, dunia industri mengambil kesempatan dan juga memberi kesempatan kepada sekolah, khususnya anak didik untuk berperan aktif dalam pengerjaan barang-barang yang diproduksi oleh perusahaan.&lt;br /&gt;Dalam kemitraan ini diharapkan perusahaan, masyarakat mempercaya kan pekerjaan tekniknya ke sekolah, anak didik. Dengan cara seperti ini, maka sekolah, dalam hal ini anak didik memperoleh pekerjaan yang harus dikerjakan di bengkel sekolah. Anak-anak dapat mengerjakan pekerjaan pada saat proses pembelajaran teknik atau praktek. Job mereka adalah pekerjaan yang didapatkan dari masyarakat. Sekolah, guru hanya memberi dasar pekerjaan tetapi secara keseluruhan pekerjaan adalah dikerjakan oleh anak didik tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMK sebagai Bengkel Masyarakat atau PPKT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya proses pembelajaran di SMK ditekankan pada transfer of skill sehingga anak didik dapat berubah menjadi SDM yang mumpuni di bidang keahliannya. Khususnya di SMK kelompok teknologi dan industri, Skill merupakan trade mark, pencitraan yang harus diberikan pada anak didik agar benar-benar menguasai teknologi dan menerapkannya dalam kehidupan sebagai bekal survivsl of life nya.&lt;br /&gt;Survival of life merupakan satu konsep penting untuk mempertahan -kan eksistensi diri, baik sebagai individual maupun sosial. Hal ini mengingat tingkat persaingan hidup semakin ketat sehingga setiap orang sebagai individu maupun sebagai makhluk social harus dapat menjaga kelangsungan hidupnya. Dan, salah satu aspek yang dianggap dapat menjadi sarana untuk survival adalah skill, keterampilan. Manusia tanpa keterampilan adalah seperti boneka yang dijadikan permainan oleh siapapun dan riskan stiap saat. Oleh karena itulah, maka setiap orang harus membekali diri dengan keterampilan khusus, special skill atau spesific skill. Dengan keterampilan khusus ini, maka tingkat persaingan yang dihadapi menjadi lebih rendah, apalagi jika keterampilan tersebut tidak dikuasai sama sekali olah orang lain!&lt;br /&gt;Bahwa setiap kegiatan hidup memang membutuhkan satu keterampilan sehingga dapat diselesaikan sesuai dengan ketentuannya. Tanpa keterampilan tentunya seseorang akan kesulitan dan tersisihkan dari kompetisi. Setiap kesempatan terbuang sebab spesifikasi keahlian yang dibutuhkan untuk setiap kesempatan tidak dapat dipenuhi secara teknis. Mereka terbuang sebelum berkompetisi. Kalaupun sempat berkompetisi, mereka terlempar dan jatuh saat bersaing keterampilan teknis terkait dengan keahlian yang dibutuhkan oleh perusahaan tersebut. Kondisi ini tentunya sangat merugikan.&lt;br /&gt;Dan, proses pembekalan keterampilan khusus seharusnya tidak hanya terbatas untuk mereka yang masih mengikuti proses pembelajaran di SMK. Justru, SMK seharusnya menjadi wahana bagi upaya untuk mengembangkan dan meningkatkan kegiatan peningkatan kompetensi keahlian sumber daya manusia yang dalam masa tunggu pekerjaan. SMK harus membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mendapatkan pembekalan keterampilan aplikatif dengan nilai cost yang tidak terlalu membebani, jika perlu ditanggung oleh institusi-institusi pengembangan sumber daya manusia.&lt;br /&gt;Pada umumnya, sarana pembelajaran di SMK, khususnya untuk pembelajaran pelatihan teknik sudah cukup memadai untuk kegiatan pelatihan sumber daya manusia (SDM). Dengan sarana tersebut, maka masyarakat dapat diberikan kesematan untuk mengikuti pelatihan khusus keahlian yang ada. Untuk mewujudkan hal tersebut, maka perlu adanya kerjasama secara intens antara sekolah dengan masyarakat. Kerjasama ini diwujudkan dalam suatu kemitraan program kegiatan. Sekolah menyediakan sarana prasarana serta instrukturnya dan masyarakat mendukung pembiayaannya. Masyarakat memikirkan dan mencarikan biaya kegiatan, walaupun diputuskan minimal. Atau jika memungkinkan institusi yang terkait dengan sumber daya manusia merencanakan program pelatihan yang sasarannya adalah anak-anak usia kerja tetapi belum mempunyai keterampilan khusus untuk bekerja.&lt;br /&gt;Program kemitraan antara sekolah dengan masyarakat dalam hal ini adalah berbentuk pelatihan khusus program keahlian aplikatif. Peserta pelatihan yan berasal dari anak-anak usia kerja diberikan pelatihan dengan materi keahlian yang diperlukan. Dalam interval waktu yang disepakati, pelatihan keterampilan dilaksanakan secara intens dengan system learning by doing peserta pelatihan tidak terlalu banyak diberikan bekal teoritis, melainkan langsung mengerjakan barang-barang kebutuhan masyarakat. Dalam hal ini pihak pelatih atau instruktur, penyelenggara harus secara aktif mencari dan mendapatkan pekerjaan bagi peserta pelatihan.&lt;br /&gt;Program kemitraan ini menjadikan sekolah sebagai pusat pelatihan keterampilan terpadu sebab dalam hal ini ada kolaborasi aktif dari beberapa institusi terkait. Kolaborasi inilah yang selanjutnya diharapkan dapat menjadikan keberhasilan peserta pelatihan. Peserta pelatihan tidak hanya mendapatkan pengalaman, keterampilan tetapi juga follow up dari program. Hal ini karena selama proses pelatihan, pihak-pihak terkait membuka link dengan pihak terkait, terutama Dunia Usaha/ Dunia Industri (DU/DI).&lt;br /&gt;Secara terbuka, SMK membuka kesempatan pada masyarakat untuk memanfaatkan segala fasilitas di sekolah untuk peningkatan keterampilan. Dengan cara seperti ini, maka eksistensi sekolah bukanlah sebagai ‘dunia tersendiri’ bagi masyarakat. Akan tumbuh dan berkembang suatu keterikatan dari masyarakat terhadap sekolah, begitu juga sebaliknya. Sekolah dan masyarakat menjadi satu kesatuan institusi yang integral dan sinergis serta mutualisme dalam pelaksanaan tugas dan kewajibannya.&lt;br /&gt;Pada akhirnya, kita hanya berharap agar segala program, konsep yang dicanangkan adalah satu kesatuan visi untuk menjalankan misi pendidikan yang tidak hanya memberikan bekal pengetahuan dan nilai-nilai positif kehidupan, tetapi juga mampu memberi bekal keterampilan aplikatif untuk bekerja. Keterampilan aplikatif inilah yang selanjutnya diharapkan dapat menjadi satu brand individu dan selajutnya mengangkat brand sekolah di mata masyarakat. Bagaimana-pun eksistensi sekolah kejuruan sebagai institusi yang mengelola pendidikan kejuruan harus dipertahankan bahkan ditingkatkan sehingga sumber daya manusia yang selama ini selalu menjadi permasalahan akibat rendahya kualitas. Kita harus mengakui bahwa kualitas sumber daya manusia kita masih di bawah standar sehingga di dalam persaingan tenaga kerja sering kali kita tersisih.&lt;br /&gt;Perbaikan kualitas sumber daya manusia secara intens dilakukan dengan berbagai cara. Salah satu cara yang ditempuh adalah peningkatan kualitas pendidikan dan pembelajaran yang bersentuhan langsung dengan pengelolaan tenaga kerja atau penggarapan sumber daya manusia. Dan, SMK adalah salah satu institusi pendidikan yang harus memanggul tugas peningkatan kualitas sumber daya manusia tersebut. SMK menjadi wahana bagi upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia dengan penerapan berbagai program yang secara langsung bersentuhan dengan kehidupan.&lt;br /&gt;Dan, untuk kebutuhan tersebut, sekolah kejuruan harus memberikan kontribusi positif pada pengelolaan calon-calon sumber daya manusia yang benar-benar mempunyai kualifikasi keahlian yang dibutuhkan oleh dunia usaha dan dunia industri, baik lokal, regional maupun internasional. Selanjutnya hal tersebut merupakan pendorong pada penyediaan sumber daya manusia yang siap bersaing dalam dunia kerja. &lt;br /&gt;Secara teknis, sekolah menyediakan sarana yang ada di dalam bengkel pembelajaranya untuk kebutuhan masyarakat. Begitu juga proses pembelajarannya yang diwujudkan dalam bentuk kegiatan pelatihan keahlian. Masyarakat diberikan kesempatan untuk melakukan berbagai kegiatan yang terkait dengan peningkatan kualitas kompetensi dirinya. Masyarakat memanfaatkan segala alat dan bahan yang ada bengkel untuk melakukan pekerjaan yang diharapkan mampu meningkatkan kompetensi dirinya tersebut.&lt;br /&gt;Bahkan, masyarakat diberikan kesempatan untuk mencari barang-barang yang perlu dikerjakan di bengkel dengan kompetensi keahlian yang dilatihkan kepada mereka. Mereka melatih keterampilan, kompetensi dirinya dengan mengerjakan barang-barang yang rusak atau mungkin membuat barang-barang baru kebutuhan masyarakat lainnya. Barang-barang ini dapat dikategorikan pada barang-barang sederhana hingga barang-barang yang membutuhkan tingkat pengerjaan yang sulit. Mereka harus menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan tingkat standar barang konsumsi dan bukan barang latihan bekerja.&lt;br /&gt;Dengan memasang target sebagai barang konsumsi, maka terbangun sikap kerja, kinerja yang bagus di hati peserta pelatihan. Peserta pelatihan akan terangsang untuk melakukan kegiatan dengan standar kerja yang berlaku di dunia industri. Mereka melakukan pekerjaan dengan sepenuh hati dan sesuai dengan tingkat kompetensi yang dimilikinya sehingga diharapkan hasilnya adalah maksimal. Jika peserta pelatihan di bengkel sekolah melaksanakan kegiatan dengan penuh semangat dan mengeksplorasi kompetensinya secara penuh, tentunya hasil yang diperoleh adalah maksimal. Hasilnya adalah yang terbaik dari kemampuan yang dapat dikerjakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, peranan SMK di dalam kehidupan bermasyarakat, dimana dalam hal ini SMK dijadikan sebagai pusat pelatihan keterampilan terpadu (PPKT). Dengan demikian, maka sumber daya manusia (SDM) yang, mungkin belum terasah keterampilannya dapat meningkat dan selanjutnya mampu menjadi sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni dalam bidang keahliannya. Dan, semua itu tidak lepas dari kesadaran sekolah kejuruan untuk secara aktif ikut memikirkan solusi dari tertumpuknya tenaga kerja produktif tanpa pekerjaan. Bagaimanapun para pengangguran terdidik merupakan potensi terbesar bagi pembangunan negeri ini pada saat mendatang. Yang kita perlu lakukan hanyalah memoles mereka sedenikian rupa sehingga keterdidikan mereka tidak hanya pada pengetahuan dan pola nilai positif kehidupan, melainkan juga pada sisi keterampilannya.&lt;br /&gt;Begitulah peranan SMK di dalam kehidupan bermasyarakat yang sebenarnya merupakan satu bentuk kesadaran seutuhnya untuk menjaga keutuhan bangsa dan secara langsung adalah ikut berperan dalam pemberian bekal aplikatif bagi warga masyarakat sebagai sumber daya manusia (SDM) yang terpenting dalam kehidupan. Semoga harapan ini bukan sekedar fatamorgana di gurun yang tandus.&lt;br /&gt;Mojokerto, Agustus 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-7477140497323509923?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/7477140497323509923/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=7477140497323509923' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/7477140497323509923'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/7477140497323509923'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2009/08/smk-sebagai-pusat-pelatihan.html' title='SMK sebagai Pusat Pelatihan Keterampilan Terpadu'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-8981617605067207472</id><published>2009-08-18T04:56:00.000-07:00</published><updated>2009-08-18T05:10:08.134-07:00</updated><title type='text'>Kemitraan dalam Pembelajaran di SMK</title><content type='html'>Kemitraan sekolah dengan masyarakat sungguh merupakan satu angkah konkrit yang seharusnya sejak dahulu dikembangkan secara intensif. hal ini karena kedua institusi ini berada pada satu arela yang sama dan keduanya saling bergesekan selama proses kehidupan berjalan.Pergesekan antar institusi ini selanjutnya menciptakan suatu kondisi yang menuntut konsekuensi terhadap setiap kegiatan yang dilakukan.&lt;br /&gt;Masyarakat harus bertanggungjawab terhadap dunia pendidikan, demikian juga halnya dengan sekolah. Kedua institusi ini harus bekerja bersama sama di dalam upaya untuk menciptakan suatu kehidupan yang terbaik bagi semuanya.&lt;br /&gt;Sementara kemitraan dalam pembelajaran yang kita maksudkan dalam hal ini adalah adanya kolaborasi intens antara sekoalh dengan masyarakat, dalam hal ini dunia industri dan dunia usaha sehingga secara langsung sekolah dapat mengetahui sebenarnya dunia industri membutuhkan kondisi yang bagaimana dari anak didik atau tenaga kerja yang diluluskan oleh sekolah kejuruan (SMK)&lt;br /&gt;Sementara itu, sekolah dapat menerapkan langkah konkrit di dalam proses pendidikan dan pemelajarannya sehingga materi yang diberikan kepada anak didik benar-benar sinkron dengan keterampilan yang dibutuhkan masyarakat atas program keahlian anak didik.&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, maka sudah tidak dapat dipungkiri lagi bahwa antara sekolah dan masyarakat, khsususnya dalam hal ini masyarakat industri harus terjalin satu bentuk kerjasama yang saling mengutungkan bagi kedua belah pihak.&lt;br /&gt;SElama ini yang terjadi adalah kerjasama dalam bentuk praktekmekrja industri atau Prakerind yang dilaksanakan selama satu semester atau tiga bulan pembelajaran. sekolah dan dunia iendustri membuka link untuk kegiatan praktek anak didik sehingga kesempatan penerapan kompetensi hasil proses pemelajaran dapat diwujudkan. tetapi yangs elanjutnay perlu juag dipertimbangkan adalah kemungkinak kerja sama perekruitan tenaga kerja yang berasal dari sekolah kejuruan.&lt;br /&gt;Dunai industri seharusnya membuka diri seluas-luasnya bagi para lulusan yang dihasilkan oleh sekolah kejuruan, tentunya tidak begitu saja memang. tetapis etidaknya masyarakat industri dapat mencari tenaga kerja dari sekolah-sekolah ekjuruan dan selanjutnya membuka proses perekrutan di sekolah kejuruan dengan berdasaran pada konsep penerimaan tenaga kerja berbasis kebutuhan perusahaan.&lt;br /&gt;Semoga hal ini benar-benar dapat diwujdukan dalam dekade waktu ke depan... konkrit!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-8981617605067207472?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/8981617605067207472/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=8981617605067207472' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/8981617605067207472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/8981617605067207472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2009/08/kemitraan-dalam-pembelajaran-di-smk.html' title='Kemitraan dalam Pembelajaran di SMK'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-6021682607198528643</id><published>2009-08-14T19:18:00.000-07:00</published><updated>2009-08-14T19:34:17.873-07:00</updated><title type='text'>Model Pendidikan Kemitraan di SMK</title><content type='html'>Pada dasarnya proses pendidikan dijalankan, dilaksanakan sebagai perwujudan atas tujuan mengembangkan dan meningkatkan kompetensi diri sehingga mempunyai kemampuan untuk menghadapi hidup dan kehidupan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;Tidak heran jika kemudian perhatian semua orang tertuju kepada Sekolah Kejuruan atau SMK. Mereka menaruh harapan yang sedemikian rupa kepada SMK terkait dengan kebutuhan SDM yang benar-benar mumpuni dalam bidang ekahlian tertentu.&lt;br /&gt;Permasalahannya adalah pola pemikrian yang masih dalam lingkungan masing-masing. Bahwa sebagai sekolah kejuruan, maka SMK harus membuat link dengan dunia luar yang nantinya berposisi sebagai pengguna outputnya. SMK tidak dapat hanya berkonsentrasi pada proses penyelenggaraan pendidikan, melainkan juga harus memikirkan dikemanakan para siswa yang sudah menyelesaikan proses pendidikan. Hal ini sangat penting sebab apa gunanya kemampuan atau kompetensi jika ternyata kompetensi tersebut tidak digunakan sebagai alat untuk menghidupi kehidupannya?&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, maka perlu adanya pemikiran untuk lebih mengkonsentrasikan anak didik dan proses pendidikan pada pelatihan yang selanjutnya memberikan kesempatan seluasnya kepada anak didik dalam menerapkan kompetensinya tersebut.&lt;br /&gt;Untuk mengkondisikan hal tersebut, maka sekolah harus membuat link dengan masyarakat, stakeholder yang ada di masyarakat, semua pihak yang peduli terhadap pendidikan agar ikut memikirkan follow up dari kondisi yang ada. Setidaknya para stakeholder ini ikut juga memikirkan bagaimana menampung dan memberdayakan lulusan dengan tingkat kompetensi yang ada di dalam dirinya.&lt;br /&gt;Salah satu cara yang dapat diterapkan dalam hal ini adalah model pendidikan kemitraan. Pendidikan kemitraan ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada sekolah, khsusunya anak didik untuk menyerap teknologi ataupun kesempatan mengaplikasikan teknologi yang dikuasai hasil proses pemelajaran. dengan demikian, amka ketika anak didik mengikuti proses pemelajaran, mereka juga melakukan kegiatan kerja aplikatif.&lt;br /&gt;Tentunya kemitraan ini tidak hanya terbatas pada praktek kerja bagi anak-anak tingkat XI, melainkan secara khusus memberikan kesempatan sekolah untuk link dengan kegiatan perusahaan kemitraan tersebut. Bahkan, dalam kondisi ini, perusahaan dapat saja memberikan berbagai pekerjaan untuk dikerjakan di bengkel sekolah, setelah terlebih dahulu memebrikan bimbingan teknis kepada instruktur yang ada di sekolah sehingga mempunyai kemampuan untuk melaksanakan tugas sebagaimana pegawai atau instruktur perusahaan.&lt;br /&gt;Dengan konsep ini, maka perusahaan dengan kemitraan sekolah telah memberikan kesempatan kepada guru untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan dirinya, khususnya penguasaan teknologi dunia industri.&lt;br /&gt;SMK sangat memungkinkan untuk melakukan hal tersebut, sekarang tinggal bagaimana para pembuat kebijakan menyikapi kondisi seperti ini? Bahwa sebenarnya, anak-anak lulusan SMK mempunyai kemampuan yang baik jika mereka diberi kesempatan untuk menerapkan dalam kegiatan produksi. Semoga saja ada perhatian untuk kondisi ini....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-6021682607198528643?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/6021682607198528643/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=6021682607198528643' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/6021682607198528643'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/6021682607198528643'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2009/08/model-pendidikan-kemitraan-di-smk.html' title='Model Pendidikan Kemitraan di SMK'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-3564865916733602773</id><published>2009-08-04T04:58:00.000-07:00</published><updated>2009-08-04T04:59:10.545-07:00</updated><title type='text'>Mengajar dengan Sistem Team Teaching</title><content type='html'>Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan teknologi dan pola kehidupan menuju pada globalisasi di segala area kehidupan menuntut setiap manusia untuk dapat menghadapi permasalahan hidupnya. Dan, di dalam dunia pendidikan dan pembelajaran, salah satu aspek yang mulai terasa  adalah tanda-tanda over load tenaga pengajar di sekolah. tanda-tanda overload yang terjadi ini dapat kita lihat dari jumlah tenaga pengajar untuk satu bidang studi. Khususnya saat sekarang ini adalah terkumpulnya tenaga pengajar pada disiplin ilmu yang sama di satu sekolah, dalam konteks ini adalah sekolah negeri.&lt;br /&gt;Dengan jumlah personal yang melebihi kebutuhan ideal bagi proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah, tentunya terjadi pembagian tugas mengajar yang tidak seimbang antara guru yang satu dengan guru yang lain. Bahkan seringkali terjadi jatah pembelajaran wajib guru tidak terpenuhi, misalnya di sekolah negeri. Satu pelajaran, yang terbagi atas tiga kelas ternyata tersedia guru sebanyak, misalnya 6 orang guru. Akibatnya setiap tingkat harus dipegang oleh dua orang guru. Seandainya rombongan belajar setiap tingkat ada sepuluh, berarti alokasi jam yang tersedia adalah dua puluh jam. Dengan demikian, maka setiap guru hanya mendapatkan jam sebanyak 10 jam pelajaran, sedangkan jam wajibnya adalah 24 jam.&lt;br /&gt;Untuk mengatasi kondisi tersebut, maka setiap sekolah  menerapkan berbagai trik sehingga kebutuhan dan alokasi pembelajaraan dipadatkan dengan memasang beberapa guru untuk secara berpasangan membina bidang studi dimaksudkan. Dengan demikian, maka setiap guru mencapai jatah atau jam wajib mengajarnya. Dan, di dalam proses pembelajaran setiap guru mendapatkan alokasi tugas sebagaimana mestinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian Team Teaching&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Secara umum team teaching merupakan satu metode pembelajaran yang bertujuan untuk lebih mengefektifkan proses pembelajaran. Dalam hal ini kita berprinsip pada konsep bahwa dengan narasumber belajar yang lebih dari satu, maka mereka dapat saling mengisi celah kekurangan sehingga didapatkan proses seutuhnya.&lt;br /&gt;Team teaching merupakan satu konsep pembelajaran dengan memberikan penugasan pada kelompok guru serumpun untuk menangani proses pembelajaran. Dengan  adanya team teaching ini, maka setidaknya kesulitan yang selama ini dihadapi oleh guru dapat diselesaikan bersama-sama. Mereka dapat saling sharing dan mengisi dengan membagi tugas sesuai dengan kompetensi masing-masing.&lt;br /&gt;Dua orang guru atau lebih dapat saling mengisi kekurangan masing-masing pada saat memberikan pembelajaran. Guru yang kompeten secara teori membimbing anak didik dalam aspek teoritis, sedangkan guru yang mempunyai kompetensi praktis membimbing anak pada aspek prakteknya. Hal ini menunjukkan bahwa spesialisasi atau kualifikasi setiap guru adalah satu kekhususan. Kondisi inilah yang dijadikan sebagai dasar penerapan konsep pembelajaran team teaching.&lt;br /&gt;Di dalam setiap proses pembelajaran, anak didik didampingi oleh dua orang guru atau lebih, lazimnya dua orang guru. Satu guru menjelaskan satu bagian materi, guru yang lainnya memberikan bagian lainnya. Jika ada kesulitan dialami oleh guru, maka mereka dapat saling menutupi kekurangan tersebut sehingga dengan demikian, maka anak didik mendapatkan penjelasan yang lebih komplit.&lt;br /&gt;Team teaching memang dianggap sebagai satu konsep pembelajaran kreatif yang inovatif sebab selama ini yang terjadi didalam proses pembelajaran adalah kekuasaan tunggal pada seorang guru. Selama ini guru yang berada di kelas adalah penguasa tunggal sehingga bagaimana kondisi kelas belajar berada di tangan sang guru. Kadangkala guru menerapkan kebijakan yang belum matang sehingga merugikan anak didik. kebijakan yang belum matang adalah kebijakan yang diambil oleh guru tanpa sharing dengan rekan guru yang lain. Bahkan seringkali kebijakan diambil secara spontan saat proses belajar sedang belangsung dan pada saat tersebut timbul satu kejadian.&lt;br /&gt;Tetapi dengan adanya team pada saat melaksanakan proses pembelajaran, maka setidaknya guru mempunyai teman sharing pada saat memutuskan satu hal terkait dengan kondisi yang terjadi dalam kelas pembelajarannya. Setidaknya dengan teman sharing ini, maka kebijakan dan keputusan yang diambil diharapkan lebih matang daripada saat sendirian. Hal ini juga mengajarkan pada anak didik tentang pentingnya kerjasana yang solid di dalam sebuah tim, khususnya tim pembelajar. Tanpa kesolidan, proses pembelajaran semakin tidak terarah dan justru terpecah pada content yang membias.&lt;br /&gt;Pada sisi lainnya, penerapan team teaching memang diarahkan untuk mengatasi kekurangan jam mengajar dari beberapa guru. Kita menyadari bahwa dengan banyaknya guru baru yang dianggap oleh Pemerintah sebagai guru PNS, maka terjadi penumpukkan guru di suatu sekolah, khususnya sekolah negeri. Kondisi ini menjadikan beberapa guru tidak kebagian jatah waktu mengajar sesuai dengan jam wajibnya. Akibatnya pihak sekolah harus mengupayakan sedemikian rupa sehingga setiap gurunya mendapatkan jatah pembelajaran. Dan, salah satu cara yang ditempuh adalah dengan memasang beberapa guru dalam sebuah team pembelajaran. Guru dengan latar belakang mata diklat yang sama dapat dikelompokkan dalam team teaching. Mereka secara kolektif bertanggungjawab pada proses pembelajaran dan keberhasilan anak didiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan Team Teaching&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini proses pembelajaran diarahkan agar anak didik dapat memperoleh pembelajaran maksimal. Bahwa, anak didik mengikuti proses pembelajaran adalah untuk mengubah kompetensi dirinya dengan mengadopsi kompetensi yang dimiliki oleh guru. Dengan mengikuti proses pembelajaran, maka diharapkan terjadi pengaliran kompetensi dari guru ke anak didik.&lt;br /&gt;Tetapi, kenyataan yang terjadi di lapangan sungguh sangat berbeda dengan tujuan seharusnya. Diakui atau tidak cukup banyak proses pembelajaran yang mengalami kegagalan. Semua program yang dibuat guru, melalui program pembelajaran, rencana pembelajaran dan sebagainya, belum dapat mencapai tujuannya. Dan, rata-rata hal tersebut terjadi karena proses pembelajaran yang kurang sesuai dengan tujuan. Cukup banyak proses belajar yang berlangsung begitu saja walaupun sudah dibuatkan rencana pembelajaran, skenario pembelajaran. Tetapi, ternyata skenario tersebut hanyalah formalitas sebagai kelengkapan pembelajaran. Sementara pada saat pelaksanaan, mereka mengalir demikian saja. Bahkan, ada yang melaksanakan pembelajaran sekedaran saja.&lt;br /&gt;Proses pembelajaran yang selama ini dilaksanakan adalah menerapkan satu guru untuk satu mata pelajaran sehingga seringkali terkondisikan suatu kekuasaan tertinggi pada guru pengajar. Hal ini sebenarnya cukup efektif di dalam proses pemantauan dan penilaian atas proses belajar sebab terpusat pada satu titik untuk seluruh siswa, peserta didik. Dengan pola seperti ini, maka tercipta satu sikap profesionalitas guru atas segala tugas dan kewajibannya.&lt;br /&gt;Sementara itu, jika kita telaah tujuan penerapan team teaching, maka seharusnya kita membuang jauh-jauh tujuan untuk mendistribusi guru sebab jatah jam mengajar yang kurang dari ketentuan. Hal ini sungguh tidak realistis. Kalau sekedar hanya untuk memenuhi jatah mengajar guru, maka selanjutnya hal tersebut dapat menyebabkan turunnya sikap profesionalitas guru terhadap tugas dan kewajibannya.&lt;br /&gt;Sebenarnya, secara implisit tujuan pelaksanaan team teaching adalah untuk mengefektifkan hasil proses belajar.  Hal ini didasarkan pada konsep dan anggapan bahwa jika proses pembelajaran dipandu oleh sebuah team, tidak hanya satu orang guru, maka pendampingan belajar anak lebih maksimal. Satu orang guru memberikan bimbingan teknis dan guru yang lainnya memberikan aspek lainnya. Pada sisi lainnya, masing-masing guru dapat saling melengkapi kemampuan masing-masing. Inilah sisi kebaikan yang diharapkan.&lt;br /&gt;Tujuan utama penerapan team teaching tidak lain adalah untuk peningkatan kualitas hasil proses pembelajaran. Dan, untuk mencapai keberhasilan tersebut, maka harus ada pengembangan manajemen ataupun prosesnya. Dengan sistem manajemen yang disesuaikan dengan kondisi saat anak belajar dan kebutuhan masyarakat atas hasil proses pembelajaran, maka setidaknya dapat ditumbuhkan kesadaran atas tujuan pembelajarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efektivitas Team Teaching&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara mengenai efektivitas pembelajaran dengan menerapkan sistem team teaching pada dasarnya sangat tergantung pada konsep yang dimiliki oleh masing-masing guru. Konsep dasar (mindset) sangat penting sebab unsur ini merupakan hal pokok untuk keterlaksanaan program. Secara umum, kondisi ini merupakan prasyarat agar setiap program dapat terlaksana.&lt;br /&gt;Ketika kita berbicara mengenai satu hal, maka yang harus diperhatikan adalah konsep dasar yang dimiliki oleh masing-masing peserta pembicaraan. Semesta pembicaraan harus benar-benar dikuasai agar pembicaraan ‘nyambung’ antara peserta satu dengan peserta lainnya. Dapat kita bayangkan hal yang terjadi jika dalam suatu pembicaraan konsep pembicaraan sama sekali tidak dikuasai oleh peserta pembicaraan.&lt;br /&gt;Proses pembelajaran adalah kegiatan berkelanjutan yang membutuhkan konsistensi tehadap segala hal yang diberikan atau diajarkan oleh guru. Konsistensi ini terkait dengan konsep materi pelajaran yang bersangkutan. Guru harus benar-benar menguasai konsep dasar materi pelajaran agar konsistensinya terjaga. Jika hal tersbeut dilaksanakan oleh seorang guru, maka kemungkinan konsistensi  sangat besar sebab guru menjadi satu-satunya decision maker untuk proses pembelajaran. Tetapi, ketika pembelajaran dilaksanakan secara team, maka ada banyak orang yang menanganinya dan setiap orang mempunyai dasar pemahaman konsep yang berbeda sehingga kemungkinan terjadi perbedaan besar sekali.&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, maka jika kita menerapkan konsep team teaching di dalam proses pembelajaran, setidaknya kita harus benar-benar menekankan pemahaman konsep dasar pembelajaran team teaching. Hal ini untuk mengindari terjadinya penyalahgunaan kondisi. Kita tidak menutup mata jika masih banyak guru yang  belum memahami konsep dasar pembelajaran team teaching. Hal tersebut berdasarkan pengalaman banyak guru yang menganggap bahwa pembelajaran team merupakan satu pembelajaran yang ‘dapat digantikan’ oleh teman yang tergabung dalam team teaching tersebut.&lt;br /&gt;Pola seperti ini harus diluruskan sehingga team teaching yang seharusnya proses pembelajaran dengan banyak narasumber dan pembimbing ternyata dijadikan sebagai kesempatan untuk mangkir sebab adanya rekan yang mengisi pembelajaran. Ada banyak guru yang memanfaatkan konsep pembelajaran ini sebagai kesempatan pribadi. Mereka membuat jadwal tersendiri dibalik jadwal yang sudah disusun oleh kurikulum ataupun Ketua Program Keahlian. Hal inilah yang sangat membahayakan proses pembelajaran.&lt;br /&gt;Tetapi, jika memang pelaksanaan team teaching benar-benar sesuai dengan konsep tentunya hal tersebut sangat efektif sebab anak didik mendapatkan materi yang benar-benar lengkap. Setiap guru yang membimbing proses pembelajaran memberikan materi pelajaran sesuai dengan kompetensi masing-masing dan hal tersebut berarti ada saling mengisi hal-hal yang mungkin menjadi sesuatu yang blank dan kosong.&lt;br /&gt;Efektivitas program pembelajaran dengan sistem team teaching tergantung pada bagaimana kinerja para guru yang terlibat dalam team teaching. Guru-guru harus melaksanakan tugas mengajar secara maksimal dan tersistematis sebagaimana tugas dna kewajibannya. Setiap guru harus saling mendukung dan mengisi setiap celah yang memungkinkan terciptanya black hole di dalam proses belajar. Black hole yang tercipta akibat sikap dan kompetensi guru yang tidak sesuai dengan pola pembelajaran menjadikan proses terputus. Seperti tatanan batubata di sebuah gedung, jika tukang tidak mempunyai kompetensi yang sama, maka ada kemungkinan dinding yang dibuat tidak utuh. Akan tercipta lubang-lubang di dinding dan hal tersebut sangat berbahaya bagi kondisi bangunan secara keseluruhan. Atau dinding yang tidak lurus melainkan meliuk-liuk seperti ilar yang melata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realitas di Lapangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program merupakan konsep yang disusun secara sistematis dan sistemik untuk dapat mencapai tujuan dengan memakai beberapa cara dan personal yang berkompeten. Program inilah yang secara teknis dijadikan sebagai jalur untuk menerapkan konsep ataupun langkah konkrit yang dialokasikan dalam penerapannya. Program sangat penting bagi satu kegiatan agar tidak terjadi penyimpangan antara harapan dan kenyataan yang didapatkan dalam proses kegiatan.&lt;br /&gt;Dan, salah satu aspek penting yang harus diperhatikan dalam hal ini adalah personal dan proses yang berperan dalam kegiatan belajar. Keberhasilan proses adalah tergantung pada personal yang melaksanakan proses dan proses itu sendiri. Siapa yang melaksanakan proses dan bagaimana proses tersebut dilaksanakan? Proses dan personal memang memegang peranan penting sebab baik buruknya kegiatan tergantung pada kedua hal tersebut. Bukan lagi jamannya bergantung pada input siswa, the best input, tetapi lebih diarahkan pada proses, the best process.&lt;br /&gt;Dalam hal ini, kita tidak dapat memungkiri bahwa personal,dalam hal ini guru memegang peranan penting dalam kegiatan belajar. Peranan penting guru dalam hal ini adalah sebagai pembimbing, pendamping, pengarah dan fasilitator pembeljaaran bagi anak didik. jika gurunya berpotensi dan mempunyai kemampuan dalammenjalankan tugasnya, maka proses pembeljaaran dapat dijalankan secara efektif. Begitu juga halnya dengan proses pembeljaaran yang berlangsung. Proses ini juga menentukan keberhasilan kegiatan belajar.&lt;br /&gt;Sementara itu, penerapan sistem team teaching merupakan satu perkembangan dalam pengefektifan personal dan proses pembelajaran. ada keinginan agar kualitas hasil pembelajaran meningkat sehingga sumber daya manusia (SDM) yang dihasilkan benar-benar berkualitas. SDM merupakan hasil yang diharapkan dari proses pembelajaran. Bagaimana dari proses belajar dapat dihasilkan SDM sesuai dengan kebutuhan masyarakat, yaitu SDM yang berkualitas dan mampu menjawab tantangan kehidupan global di masyarakat.&lt;br /&gt;Dalam team teaching, kombinasi personal dan proses dilaksanakan sedemikian rupa sehingga personal pelaksana pembelajaran dapat melaksanakan proses sebaik-baiknya agar hasil dapat maksimal. Dengan memasang atau menugaskan dua orang atau lebih di dalam proses pembelajaran, tentunya proses dapat berlangsung maksimal sebab anak-anak lebih mudah mendapatkan bimbingan ataupun fasilitasi pembelajaran dari guru.&lt;br /&gt;Tetapi, kenyataan berbicara lain. Di lapangan tetap saja terjadi penyimpangan yang seharusnya tidak boleh terjadi. Bahwa teamteaching telah dijadikan sebagai satu kesempatan dari beberapa guru untuk bertindak secara pribadi. Anggapan bahwa teamteaching dengan sejumlah guru yang dijadwalkan mengajar di satu ruang memberikan kesempatan untuk membuat jadwal tersendiri. Ada beberapa guru yang menerapkan sistem shift pada saat melaksanakan, baik shift jam maupun hari. Ada guru yang membuat kesepakatan dengan teman satu teamnya di dalam pelaksanaan pembelajaran pada jam-jam tertentu, misalnya jam pertama sampai jam kedua dan seterusnya. Ada guru yang bersepakat untuk melaksanakan pembelajaran seminggu sekali. Minggu ini guru A, maka minggu depannya adalah guru B. demikian seterusnya. Jadi mereka bergiliran dalam melaksanakan proses pembelajaranya. Jam-jam yang mereka alokasikan tersebut dipergunakan untuk melakukan kegiatan-kegiatan pribadi mereka atau tugas-tugas dari tempat lainnya. Ini merupakan pengabaian tugas utama untuk memenuhi tugas sampingan. Orang bilang pekerjaan utama dikalahkan oleh pekerjaan sambilan.&lt;br /&gt;Penyimpangan ini dilakukan dengan merekayasa pelaksanaan pembelajaran teamteaching. Pada jam pertama guru A mengajar, sedangkan guru B meninggalkan ruangan untuk kegiatan lainnya. Pada jam ketiga guru B mengganti guru A untuk mengajar dan guru A meninggalkan ruangan belajar. Sehingga, praktis yang melaksanakan proses pembelajaran Cuma satu guru saja. Berarti kondisi ini tidak berbeda pada saat satu ruangan belajar dipandu oleh seorang guru mata diklat. Arti yang lebih jauh, pemerintah telah mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk honor guru yang sebenarnya tidak efektif.&lt;br /&gt;Kondisi seperti ini sering kita lihat dan ketahui, khususnya pada guru-guru yang komitmennya terhadap program sedemikian tipisnya. Mereka merasa senang dengan program tersebut karena memberikan kesempatan bagi mereka untuk merekayasa kondisi sesuai dengan keinginan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan Akhir  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bentuk upaya untuk meningkatkan kualitas hasil proses pembelajaran, maka setidaknya program pembelajaran dengan sistem team teaching dapat tercapai hasil maksimal bagi anak didik. Bahwa segala upaya yang dilakukan oleh guru dan sekolah adalah untuk mengkondisikan proses efektif dalam  mencapai hasil belajarnya. Salah satu upaya tersebut adalah penerapan program teamteaching untuk mata diklat serumpun. Dengan program ini setidaknya dapat diciptakan suasana pembelajaran yang kondusif.&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, setidaknya jika sudah diprogramkan untuk pembelajaran dengan sistem team teaching, maka semua pihak harus memahami konsep dasarnya dan selanjutnya melaksanakan sebaik-baiknya. Hanya dengan cara seperti itulah, maka keterpurukan yang selama ini mengkungkung dunia pendidikan kita dapat diuraikan dan meningkat menjadi satu kondisi yang mampu melambungkan eksistensi dunia pendidikan negeri ini.&lt;br /&gt;Bahkan seharusnya semua pihak bersama-sama mendukung program ini sehingga masyarakat belajar yang tercipta dalam lingkungan sekolah benar-benar menyadari bahwa proses belajar merupakan bentuk kesadaran menyeluruh pada setiap orang. Setiap guru akan tumbuh kesadaran bahwa sebenarnya di dalam proses pembelajaran, mereka adalah sebuah team yang solid dan mampu menjalankan tugas secara efektif.&lt;br /&gt;Dengan teamteaching ini, setidaknya terbangun mindset kebersamaan, keselarasan dan keseimbangan di antara guru- guru serumpun di dalam menjalankan tugas pembelajarannya. Kita dapat menghindarkan komunitas sekolah dari sikap pasif, apalagi antipati dan apatis terhadap proses yang berjalan. Kita juga dapat menghindarkan komunitas dari tumbuhnya sikap ‘ paling penting‘ dalam proses, sebab proses yang terjadi merupakan hasil kerja bersama, pekerjaan team! Bahwa di dalam proses belajar, tidak ada yang lebih penting daripada yang lainnya. Satu dengan lainnya saling mengisi untuk mencapai hal-hal secara maksimal.&lt;br /&gt;Setiap tahun, pola pembelajaran di negeri ini memang terus mengalami inovasi untuk mencari pola terbaik dan tersesuai dengan kondisi anak didik dan lingkungannya. Inovasi ini sangat penting sebab setiap anak didik mempunyai pola belajar masing-masing sehingga perlu dikondisikan lingkungan yang benar-benar kondusif untuk belajar. Perkembangan dan peningkatan pola pelayanan pembelajaran memberikan bukti bahwa setiap aktivis pendidikan memberikan pelayanan maksimal untuk peserta didik. Selalu dan selalu dicari metode, pola pembelajaran yang efektif bagi anak didik sehingga proses belajar dapat memberikan hasil maksimal, tanpa memperhatikan bagaimana kondisi inputnya.&lt;br /&gt;Bahwa, sebenarnya tingkat keberhasilan proses pendidikan dan pembelajaran ataupun kegiatan lainnya bukan semata-mata tergantung pada bahan mentahnya. Kalau bahan mentahnya bagus dan diperoleh hasil bagus, maka hal tersebut tidaklah istimewa. Hal tersebut sudah lazim dan memang harus mencapai kondisi tersebut. Tetapi, jika bahan mentahnya jelek dan memberikan hasil baik, maka inilah prestasi yang sebenarnya.&lt;br /&gt;Begitu juga halnya dengan pelaksanaan pola pembelajaran team teaching, yaitu memberikan pola pelayanan pembelajaran maksimal pada anak didik sehingga didapatkan hasil terbaik. Pengelola sekolah berharap bahwa dengan team teaching ini, maka proses pembelajaran tidak lagi ada alasan kekurangan waktu untuk pemberian jatah belajar bagi anak didik, bahkan waktu semakin banyak untuk proses tersebut. Anak didik mempunyai banyak waktu untuk belajar sebab narasumbernya semakin banyak, dua kali lipat. Mereka dapat menanyakan segala hal pada masing-masing narasumber. Mereka tidak perlu menunggu giliran atau kesempatan bertanya kepada narasumber sebab ada dua narasumber yang dapat memberikan bimbingan ataupun jawaban atas pertanyaan mereka.&lt;br /&gt;Harapan terakhir dari penerapan team teaching di dalam proses pembelajaran adalah terciptanya pola pembelajaran yang dapat saling mengisi dan menciptakan komunitas belajar (community learning) yang secara jelas menumbuhkan kesadaran untuk terus belajar. Memang begitu ideal tujuan program belajar, tapi itulah sebenarnya yang sedang kita butuhkan dalam hidup kita. &lt;br /&gt;Semoga segala konsep untuk pengembangan dan peningkatan kualitas proses pembelajaran pada akhirnya memberikan hasil terbaik dari dunia pendidikan untuk kehidupan bangsa yan besar ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Gembongan,  Juli 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-3564865916733602773?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/3564865916733602773/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=3564865916733602773' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/3564865916733602773'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/3564865916733602773'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2009/08/mengajar-dengan-sistem-team-teaching.html' title='Mengajar dengan Sistem Team Teaching'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-4054275048402920316</id><published>2009-07-20T06:34:00.000-07:00</published><updated>2009-07-20T06:42:00.951-07:00</updated><title type='text'>Pendidikan Menerangi</title><content type='html'>Pendidikan menerangi adalah konsep untuk menekankan bahwa pada dasarnya pendidikan itu bagaikan lapu yang mampu memebrikan penerangan dalam perjalan hidup seseorang. Dengan mengikuti proses pendidikan, maka setidaknya kita berharap perjalanan hidup kita tidak dilingkupi kegelapan.&lt;br /&gt;Bahwa seseorang pada awalnya berangkat dar ketidaktahuan atas segala hal. KIta sebenarnya makhluk yang paling lemah sebab selalu diawali oleh ketidakbisaan saat menghadapi suatu masalah. Kita seringkali harus bersusah payah agar kita dapat memahami apa yang sedang kita hadapi.&lt;br /&gt;Dan, untuk dapat memposisikan  diri sehingga dapat menghadapi dan menyelesaikan setiap masalah yang dihadapi, maka pendidikan dijadikan sebagai sumber daya penerangan bagi kehidupan manusia.&lt;br /&gt;Ya... Pendidikan memang mempunyai kemampuan menerangi setiap sisi kehidupan kita. Tanpa proses pendidikan, tentunya segala hal tidak dapat kita lihat sebagaimana sekarang ini. Orang-orang yang tidak berpendidikan adalah orang-orang yang tdiak mengerti dan tidak mengalami perubahan adab dan kebudayaan hidupnya.&lt;br /&gt;Maka, kita seharusnya mengikuti proses pendidikan sebaik-baiknya sehingga setiap kegelapan yang kita hadapi dapat segera diselesaikan dan selanjutnya didapatkan kondisi yang penuh dengan keceriaan dan hidup bercahaya.&lt;br /&gt;Pendidikan adaah menerangi setiap sudut kehidupan bagi mereka yang mengikutinya...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-4054275048402920316?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/4054275048402920316/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=4054275048402920316' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/4054275048402920316'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/4054275048402920316'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2009/07/pendidikan-menerangi.html' title='Pendidikan Menerangi'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-8942001847897110407</id><published>2009-07-18T07:21:00.000-07:00</published><updated>2009-07-18T08:02:37.739-07:00</updated><title type='text'>Belajar Berlatih</title><content type='html'>Satu hal yang selama ini telah mengalami pembiasan adalah anggapan bahwa dengan belajar, maka segala hal dapat dikuasai dalam waktu singkat. Mayoritas kita beranggapan bahwa dengan mengikuti proses belajar, maka tingkat kemampuan anak secara signifikan dapat mengalami peningkatan.&lt;br /&gt;Padahal kenyataannya, tidak seperti itu. Proses belajar memang merupakan salah satu cara untuk melakukan perubahan secara signifikan atas kemampuan diri sehingga mampu menjadi salah satu bekal untuk kehidupannya. kita terlalu berpikir naif saat mengirimkan anak-anak ke institusi pendidikan tempat proses belajar sebab tujuan kita terlalu ideal, yaitu peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM)&lt;br /&gt;Bahwa kualitas kehidupan kita di masyarakat memang tergantung pada tingkat kualitas kompetensi masing-masing pribadi atau elemen masyarakatnya.SEmakin berkualitas masyarakatnya, maka semakin bagus, berkualitas pola kehidupannya dan hal tersbeut secara signifikan membawa kondisi secara keseluruhan.&lt;br /&gt;Program peningkatan kualitas sumber daya manusia memang merupakan tujuan ideal, yang jika berhadapan dengan orang-orang pesimistis, tentunya tidak mendapatkan respon apa-apa, bahkan mendapatkan cemoohan.&lt;br /&gt;KIta dapat melihat kenyataan bahwa sangat banyak anak-anak yang setelah menyelesaikan masa belajarnya ternyata jsutru menjadi beban negara, masyarakat sebab secara langsung menjadi pengangguran terdidik. Biaya pendidikan yang mereka bayarkan selama belajar sama sekali tidak dapat menajdi topangan hidup. Bahkan hal tersbeut memberatkan hati. KHususnya dalam hal ini anak-anak yang lulus dari sekolah umum. Mereka lulus dengan nilai pas-pasan, nilai nemu atau pitulungan guru.&lt;br /&gt;Mengapa dapat terjadi seperti itu? kenapa anak-anak yang sudah menyelesaikan masa belajarnya ternyata pada akhirnya menjadi pengangguran terdidik?&lt;br /&gt;Jika kita telisik lebih dalam, maka setidaknya kita dapat mengetahui bahwa anak-anak yang bersekolah di sekolah umum lebih ditekankan untuk penguasaan materi konsep, teori-teori semata, jarang atau tidak ada yang menerapkan aplikasi teknologi dari pengetahuan yang dipelajari. Tidak heran jika kemudian mereka sama sekali tidak mempunyai kemampuan untuk menjawab tantangan kehidupan sehingga yang mereka lakukan adalah menyerah pada kondisi. Akhirnya menjadi pengangguran terdidik.&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, maka tidak dapat tidak anak-anak harus melengkapi kemampuan dirinya dengan keterampilan aplikatif, yaitu keterampilan yang dapat diterapkan dalam kehidupannya. Anak-anak harus mengembangkan dan meningkatkan kemampuan keterampilannya sehingga secara nyata masyarakat dapat melihat tingkat kemampuan dirinya secara istimewa dibandingkan orang lainnya.&lt;br /&gt;Keterampilan merupaakn satu muka koin yang dapat dipergunakan dimana-mana. JIka seseorang mempunyai kemampuan keterampilan yang memadai, maka selanjutnya mereka tidak perlu mendatangi pekerjaan, melainkan pekerjaan yang bakal mendatangi mereka.&lt;br /&gt;Untuk hal tersebut, maka anak harus mengikuti proses belajar berlatih, yaitu proses belajar yang didalamnya berisi hal-hal terkait dengan pengembangan dan peningkatan keterampilan diri yang dapat diterapkan untuk kehidupannya.&lt;br /&gt;Belajar berlatih merupakan satu proses belajar yang didalamnya berisi materi terapan dan dilanjutkan dengan aplikasi konsep dalam tindakan konkrit terkait dengan kemampuan tersebut.&lt;br /&gt;KIta memang harus mulai mengutamakan belajar berlatih bagi anak-anak sehingga SDM yang kita harapkan benar-benar sesuai dengan kondisi anak anak. Dan, salah satu aspek belajar yang diyakini mampu memfasilitasi kebutuhan tersebut adalah bersekolah di sekolah kejuruan. Atau anak-anak diikutkan pada Balai Latihan Kerja yang sudah ada di setiap daerah. DEngan demikiana, maka pengembangan dan peningkatan kualitas keterampilan anak dapat ditingkatkan secara signifikan dan selanjutnya hal tersebut memberikan kesempatan luas untuk bekerja atau membuka lapangan pekerjaan bagi dirinya atau orang lain di sekitarnya..&lt;br /&gt;KIta memang harus berpikir jauhkedepan dengan mengutamakan pembekalan keterampilan daripada sekedar konsep teori tanpa kemampuan aplikasi ..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-8942001847897110407?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/8942001847897110407/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=8942001847897110407' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/8942001847897110407'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/8942001847897110407'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2009/07/belajar-berlatih.html' title='Belajar Berlatih'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-5065706731251421528</id><published>2009-07-02T18:08:00.000-07:00</published><updated>2009-07-02T18:09:28.639-07:00</updated><title type='text'>Project Work sebagai Langkah Persiapan Anak Didik secara Tuntas</title><content type='html'>Proses pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) diorientasikan pada pengkondisian anak untuk penguasaan kompetensi secara tuntas. Penguasaan  kompetensi secara tuntas ini merupakan satu bentuk implementasi kewajiban sekolah sebagai institusi penyelenggara pendidikan dan pembelajaran. Sekolah kejuruan  pada dasarnya mengusung amanat untuk membawa dan meningkatkan kemampuan atau kompetensi peserta didik, bahkan masyarakat pada keahlian-keahlian khusus.&lt;br /&gt;Sekolah menengah kejuruan (SMK), dulunya disebut sebagai sekolah teknologi menengah (STM), yaitu sekolah yang secara khusus memberikan aspek pembelajaran teknologi untuk anak didiknya. Aspek teknologi ini adalah sebagian besar merupakan materi yang diterapkan di dalam kehidupan masyarakat. Hal ini dikembalikan pada tujuan utama proses pembelajaran kejuruan yaitu mempersiapkan anak didik ada penguasaan teknologi yang dapat diterapkan dalam kehidupan. Hal ini untuk menjawab kondisi di masyarakat yang sering mengatakan, dan memang sering kita jumpai bahwa anak-anak yang lulus sekolah umum belum siap menghadapi kehidupan dengan hasil belajarnya.&lt;br /&gt;Pada setiap tahunnya, perkembangan dan peningkatan kualitas proses pembelajaran di SMK selalu diperhatikan oleh semua pihak. Hal ini karena, disamping sebagai lembaga pendidikan yang memberikan pembekalan pengetahuan dan sikap, juga sebagai lembaga pelatihan yang memberikan bekal keterampilan pada peserta didiknya. Dengan demikian, maka sebenarnya SMK adalah institusi model pendidikan dan pelatihan (diklat) yang dikemas dalam kegiatan sinergis dan sistematis.&lt;br /&gt;Pada satu sisi, aspek yang digarap adalah pengetahuan umum ataupun khusus, yang dari aspek tersebut anak mengetahui banyak hal dari kehidupan di masyarakat. Dengan aspek pengetahuan ini, anak didik dapat memahami setiap gejala alam dan menghadapinya dengan sikap yang lebih rasional dan mengutamakan logika. Di dalam kehidupan ini banyak hal yang menjadikan kita selalu siap bertindak, begitu juga dengan aspek pengetahuan yang didapatkan anak didik dari proses belajar.&lt;br /&gt;Sementara, untuk menghadapi hal-hal yang praktis dari kehidupan, maka anak didik diberikan materi pelajaran yang didalamnya berisi tentang berbagai hal terkait dengan cara menghadapi kegiatan hidup dengan kompetensi dirinya. Anak didik diberikan bekal agar dapat menyelesaikan setiap tantangan hidup, khususnya yang berbentuk pekerjaan sehingga dari kemampuan tersebut mereka dapat survival atau life skillnya dapat memberi masukan hingga dapat bertahan hidup. Artinya, setelah menyelesaikan masa belajar, mereka bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujian Keterampilan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lebih mengetahui tingkat penguasaan anak didik pada materi pemelajaran, khususnya pemelajaran yang mengusung keterampilan, maka di akhir tahun pelajaran dilaksanakan ujian praktik. Pada saat inilah anak didik harus menerapkan semua bekal keterampilannya. Penerapan dilakukan dengan tugas pengerjaan barang, sejak barang tersebut berupa bahan mentah sehingga menjadi barang jadi, siap pakai.&lt;br /&gt;Pada kesempatan ini, anak didik secara nyata harus melakukan kegiatan produksi, yaitu membuat barang dengan menerapkan kemampuan dan menggunakan berbagai alat, mesin yang signifikan dengan keahlian yang dimilikinya. Anak didik diberi waktu lebih kurang 5 jam, sejak pukul 07.00 pagi hingga pukul 12.00 siang untuk menyelesaikan pekerjaannya. Satu pekerjaan harus diselesaikan oleh anak didik. Dan, suasana bengkel dikondisikan sebagai tempat kerja, baik alat-alat yang digunakan maupun suasananya.&lt;br /&gt;Di setiap tahun, model ujian keterampilan mengalami perubahan model dan bentuknya. Hal ini disesuaikan dengan kondisi yang ada di masyarakat. Perubahan ini merupakan bentuk dinamisasi dunia pendidikan atas upaya memberikan bekal keterampilan yang benar-benar aplikatif bagi anak didik. selalu diusahakan agar segala hal yang dilakukan anak didik adalah hal-hal yang nantinya diterapkan dalam kehidupannya. Harus dihindari kegiatan-kegiatan sistematis yang tidak aplikatif. Selama ini, diakui atau tidak telah tercipta gap dan stigma antara sekolah dengan masyarakat sehingga tumbuh kesan bahwa institusi sekolah dan masyarakat berdiri masing-masing. Akhirnya mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Sekolah sibuk dengan kegiatan rutinnya, belajr dan belajar. Sementara masyarakat juga sibuk dengan kegiatannya. Tidak ada sinkronisasi program dan kegiatan antara sekolah dan dunia masyarakat. Tidak heran jika kemudian anak didik kesulitan saat memasuki dunia masyarakat. Dan, masyarakat begitu pesimis, bahkan apatis saat harus menerima anak didik yang telah lulus sebagai bagian efektif di dalam kegiatan masyarakat. Masyarakat masih menganggap lulusan SMK sebagai kelompok plonco! Belum dapat melakukan apa-apa, belum termasuk tenaga kerja yang patut diperhitungkan eksistensinya.&lt;br /&gt;Tentunya kondisi ini sangat merugikan bagi anak didik. mereka yang sebenarnya mempunyai keahlian khusus, ternyata tidak mendapatkan respon positif dari masyarakatnya, bahka lebih pada sikap meremehkan dari masyarakat atas kemampuan yang dimilikinya. Hal ini tentu saja dapat menyebabkan anak didik frustasi sebab dengan keahliannya ternyata belum dapat berkiprah aktif, belum dapat bekerja di masyarakat. Mereka menjadi pengangguran terdidik hanya karena ketidakpercayaan masyarakat atas keahlian yang dimiliki, sebab dikatakan belum berpengalaman.&lt;br /&gt;Dengan ujian ketarmpilan yang dilaksanakan di SMK, setidaknya semakin jelas tingkat kemampuan anak didik pada keahlian yang dimilikinya dan dapat dijadikan sebagai bukti kemampuan anak didik. apalagi pada setiap akhir ujian keterampilan, anak didik diberikan sertifikat yang menunjukkan spesifikasi keahlian anak didik. Dengan sertifikat yang dikeluarkan oleh sekolah, maka setidaknya tergambarkan dan terpetakan tingkat kemampuan anak didik. seharusnya dengan sertifikat ini, masyarakat, khususnya masyarakat usaha dan industri dapat mengklasifikasikan anak didik dalam tingkat kualifikasi tenaga kerja.&lt;br /&gt;Setiap tahun. Pemerintah menerapkan konsep baru tentang proses evaluasi dan penilaian hasil proses. berbagai program dicanangkan dengan satu tujuan utama yaitu peningkatan kualitas hasil proses belajar, khususnya belajar keterampilan. Dan, setiap perubahan program diarahkan untuk evaluasi dan perbaikan program sebelumnya. Dengan perubahan program, maka kekurangan pada program sebelumnya dapat direvisi dan diterapkan perbaikannya pada program berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Ujian Kompetensi (Ukomp)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uji Kompetensi adalah satu program evaluasi dan penilaian terhadap kompetensi anak didik yang didasarkan pada kemampuan teknis hasil proses belajar. Uji kompetensi ini menuntut anak didik untuk melaksanakan kegiatan terkait dengan pembelajaran di bengkel sekolah, yaitu materi kejuruan yang didapatkan dari proses pembelajaran praktek di bengkel sekolah.&lt;br /&gt;Pada program ini, anak didik diberi tugas untuk menyelesaikan pekerjaan dengan mempergunakan mesin atau alat-alat yang tersedia di bengkel sekolah. Jenis pekerjaan adalah membuat benda kerja yang dapat dipergunakan di bengkel sekolah atau untuk kebutuhan masyarakat.  Benda kerja dan pekerjaan langsung diawasi oleh guru praktek dan penguji dari perusahaan atau bengkel-bengkel yang relevan dengan keahlian anak didik.&lt;br /&gt;Ujian kompetensi atau disingkat dengan ukomp merupakan satu bentuk evaluasi yang masih memungkinkan anak didik mendapatkan bimbingan dari guru dalam proses pengerjaan benda kerja. Guru masih dapat memebrikan bimbingan kepada anak didiknya pada saat anak didik mengalami kesulitan dalam mengerjakan pekerjaannnya. Selanjutnya penentuan tingkat keberhasilannya ditentukan oleh sekolah dalam batas atau standar kelulusan. Standa kelulusan ini merupakan akumulatif dari seluruh kegiatan yang dilaksanakan oleh anak didik saat mengerjakan benda kerja dan diambil rata-rata penilaiannya.&lt;br /&gt;Dengan demikian, maka hasil pekerjaan yang diselesaikan oleh anak didik merupakan hasil keterampilan anak didik dalam bimbingan gurunya. Artinya anak didik tidak bekerja sendiri, melainkan mendapatkan bimbingan dari guru di dalam menyelesaikan pekerjaannnya. Dan, tingkat keberhasilan anak dalam menyelesaikan tugas keterampilannya adalah minimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Project Work&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola kedua dalam evaluasi dan penilaian keterampilan anak didik adalah dengan project work. Evaluasi dan penilaian keterampilan dengan project work ini, anak didik dihadapkan pada kondisi kerja sejak awal. Anak didik diberikan tugas untuk mengerjakan pekerjaan sejak proses perencanaan hingga harus mempertanggungjawabkannya dalam sebuah presentasi pekerjaan.&lt;br /&gt;Pola evaluasi danpenilaian tipe ini termasuk pola lengkap untuk kegiatan kompetensi anak didik. hal ini dapat kita lihat dari tingkatan tugas yang harus diselesaikan oleh anak didik. Bahwa pekerjaan yang harus diselesaikan oleh anak didik dimulai dari perencanaan, unjuk kerja dan diakhiri dengan presentasi hasil proses pengerjaan.&lt;br /&gt;Perencanaan pekerjaan dilakukan oleh anak didik dengan menyusun proposal kegiatan praktik. Proposal ini merupakan bentuk persiapan untuk bekerja. Anak didik dibiasakan untuk menetapkan jenis pekerjaan yang harus dilakukan dan selanjutnya mengajukannya kepada sekolah untuk diujikan. Konsep ini identik dengan pola kerja di masyarakat, bahwa sebelum mengejakan pekerjaan, maka harus ada permintaan kerja dari pekerjanya.&lt;br /&gt;Di dalam proposal, terdapat berbagai keterampilan yang diharapkan dapat dijadikan sebagai pengalaman belajar yang aplikatif. Anak didik diharuskan menyusun pengajuan/proposal pekerjaan yang harus dikerjakan. Dan, didalam penyusunan proposal ini, anak didik juga harus menerapkan kompetensi berbahasa Indonesia, harus dapat menerapkan kompetensi menggambar, harus dapat menerapkan perhitungan matematis yang terkait dengan kewirausahaan dan selanjutnya secara keseluruhan harus dapat merencanakan pekerjaan yang dimintanya.&lt;br /&gt;Setelah proposal selesai, tentunya penyusunan proposal ini masih dalam pembimbingan seorang guru. Guru pembimbingnya adalah guru bahasa Indonesia, Guru Gambar, Guru Kewirausahaan, Guru matematis dan tentunya guru teknik lainnya. Proposal ini selanjutnya harus mendapatkan persetujuan dari guru pembimbing dan ketua program keahlian. Setelah itu, proposal dimajukan ke bengkel sekolah untuk dilanjutkan pada pengerjaan pekerjaannya. Anak didik harus mengerjakan jenis pekerjaan dalam proposal di bengkel sekolah sesuai dengan jatah waktu yang dibutuhkan dalam proposal.&lt;br /&gt;Dan, kegiatan terakhir yang dilakukan oleh anak didik untuk proses ujian keterampilan Project work adalah presentasi pekerjaannya. Anak didik harus mempertanggungjawabkan proposalnya dengan menyusun laporan kegiatan. Laporan kegiatan ini meliputi keterlaksanaan program yang disusun dalam proposal dan ketidakterlaksanaan program dengan berbagai kendala yang ada pada saat melaksanakan kegiatan tersebut.&lt;br /&gt;Dengan konsep ujian seperti project work ini, maka kita dapat melihat adanya keutuhan program pembelajaran  bagi anak didik. Kompetensi anak didik tidak hanya pada kemampuan keterampilan semata, melainkan secara teknis mereka dapat merencanakan kegiatan, melaksanakan kegiatan dan akhirnya mereka dapat mempertanggungjawabkan kegiatan yang sudah dilakukannya. Dengan demikian, maka kompetensi anak didik lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Uji Kompetensi Keahlian (UKK)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UKK atau Ujian Kompetensi Keahlian adalah program paling anyar yang diterapkan oleh Pemerintah, khususnya Departeman Pendidikan Nasional untuk mengevaluasi dan menilai kompetensi anak didik. Program ini merupakan program yang diimplementasikan dalam bentuk penugasan anak didik pada jenis pekerjaan yang sudah ditentukan terlebih dahulu. Anak didik dihadapkan pada pekerjaan yang sebenarnya dapat dilaksanakan secara berjenjang, bertermin dalam rentang waktu tertentu.&lt;br /&gt;Penugasan anak didik dilaksanakan secara bertahap sehingga pekerjaan yang dikerjakan dibagi dalam beberapa termin. Jatah waktu ujian dialokasikan untuk beberapa waktu sehingga pada termin terakhir, kualitas dan kuantitas kerja tidak terlalu banyak. Artinya, pengalokasian waktu dilakukan untuk membagi pekerjaan sesuai dengan bagian perbagian dari benda kerja. Satu pekerjaan yang ditugaskan untuk dikerjakan oleh anak didik dibagi atas bagian-bagiannya dan dikerjakan bertahap.&lt;br /&gt;Alokasi waktu yang diberikan sekitar  24 jam dan untuk mengerjakannya, maka dilakukan dalam bentuk penugasan. Penugasan ini dilakukan sebagai antisipasi atas jumlah pekerjaan yang harus diselesaikan. Sejak sebulan, anak didik sudah diberikan penugasan untuk mengerjakan pekerjaan tersebut. Dan, pada saat pekerjaan akhir serta finishingnya dilaksanakan pada jadwal pelaksanaan ujian kompetensi keahlian yang disusun oleh sekolah.&lt;br /&gt;Ujian Kompetensi keahlian merupakan satu bentuk evaluasi yang mengutamakan perwujudan kompetensi anak didik sehingga menjadi keahlian khusus yang dapat diterapkan dalam kehidupan. Artinya, kita lebih menekankan pada penguasaan keahlian sebagai kemampuan yang dapat dijual sebagai brand diri. Hal ini karena anak didik mengerjakan semua pekerjaan secara mandiri. Dengan demikian, maka penguasaan teknologi pekerjaan oleh anak didik jauh lebih besar dari pola evaluasi yang lainnya.&lt;br /&gt;Pada sisi ini, anak didik dapat menguasai teknik dan langkah pengerjaan, tetapi dalam hal ini yang dikuasai anak didik adalah aplikasi teknologi. Aspek yang dievaluasi lebih ditekankan pada bagaimana anak didik dapat mengerjakan pekerjaan sesuai dengan ketentuan yang diberlakukan. Hal ini memang menjadi  satu aspek penting yang digarap sebagai bentuk persiapan anak didik menjadi sumber daya manusia yang benar-benar kapabel dalam bidang keahliannya.&lt;br /&gt;Ya. Ujian Kompetensi Keahlian diarahkan agar dapat diketahui secara pasti kapabelitas anak didik pada keahliannya. Dengan demikian, maka orientasi pekerjaan anak didik setelah menyelesaikan proses pendidikannya sudah jelas tergambarkan. Dengan mengikuti proses evaluasi ini, maka setidaknya dapat dibuktikan tingkat penguasaan anak didik terhadap keahlian yang dipelajarinya. Hal ini sangat penting mengingat tingkat persaingan hidup di jaman sekarang sangat ketat, khususnya berdasar pada keahlian para calon tenaga kerja. Mereka yang tidak membekali diri dengan keahlian khusus, maka tersingkir dari bursa tenaga kerja.&lt;br /&gt;Memang secara praktis, pola evaluasi ini memberikan hasil yang cepat. Kita dapat mengetahui secara obyektif tingkat kemampuan anak dalam keahliannya. Secara cepat kita dapat memetakan tingkat atau kelompok kemampuan anak didik terhadap bidang dan keahliannya. Tidak menutup kemungkinan bagi anak didik untuk mendapatkan kesempatan bekerja dengan menunjukkan hasil evaluasi yang didapatkan pada ujian tersebut. Tetapi, pada sisi yang lainnya, ada satu aspek yang terabaikan, yaitu keterampilan awal anak didik, yaitu perencanaan kegiatan dan keterampilan akhir yaitu presentasi hasil pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memperhatikan dan memperbandingkan uraian, maka setidaknya kita dapat menyimpulkan bahwa ketiga pola evaluasi keterampilan atau kompetensi anak didik merupakan langkah strategis untuk mempersiapkan anak secara utuh. Artinya, anak didik diberikan bekal yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Hal ini terkait dengan kenyataan bahwa setelah menyelesaikan masa belajarnya , maka anak didik harus menghadapi kehidupan agar dapat menjaga eksistensi hidupnya.&lt;br /&gt;Proses pembelajaran di sekolah kejuruan memang mengarahkan proses pada penguasaan keterampilan yang aplikatif. Kita menjawab tuntutan untuk memberikan anak didik keterampilan yang  dapat dipergunakan oleh anak didik menghidupi dirinya dan keluarganya, bahkan masyarakatnya.&lt;br /&gt;Sebenarnya, jika kita menganalisa ketiga pola pengevaluasian ini, maka masing-masing memberikan kontribusi yang berbeda walaupun secara esensial sama. Setidaknya kita dapat memutuskan pola evaluasi yang dapat kita terapkan untuk anak didik kita agar proses dapat berjalan maksimal dan efektif.&lt;br /&gt;Tetapi, satu hal yang harus selalu kita ingat dan pahami bahwa evaluasi atas keterampilan keahlian anak didik sangat perlu dilakukan. Karena anak didik sebagai calon sumber daya manusia yang akan menjadi penentu kondisi masa depan negeri ini, maka sudah seharusnya mereka mempersiapkan diri sebaik mungkin agar dapat dicapai kondisi terbaik bagi negeri besar ini. Hanya dengan mempersiapkan diri sebaik-baiknya pada kompetensi keahlian yang aplikatif, maka ujian kompetensi menjadi salah satu cara terefektif untuk mengangkat kualitas sumber daya manusia negeri ini. kita harus dapat mengangkat citra negeri sebagai negeri dengan tenaga kerja terdidik yang mumpuni untuk menyelesaikan setiap masalah yang ada.&lt;br /&gt;SMK, Bisa!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-5065706731251421528?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/5065706731251421528/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=5065706731251421528' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/5065706731251421528'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/5065706731251421528'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2009/07/project-work-sebagai-langkah-persiapan.html' title='Project Work sebagai Langkah Persiapan Anak Didik secara Tuntas'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-1593297315130658390</id><published>2009-07-02T04:58:00.000-07:00</published><updated>2009-07-02T05:46:02.145-07:00</updated><title type='text'>Belajar Menerima Kenyataan</title><content type='html'>Bahwa kehidupan ini adalah kenyataan. Semua yang terjadi dan kita alami adalah sebuah kenyataan yang tidak dapat kita abaikan atau anggap angin lalu.KIta tidak dapat menghindar ataupun merekayasanya sedemikian rupa sesuai dengan keinginan kita. Kehidupan ini adalah sebuah skenario akbar yang ditulis oleh Sang Kuasa dan hanya dapat (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Read Only&lt;/span&gt;) dan dilaksanakan. Skenario tersebut diberikan dan dibagikan kepada kita dalam bentuk yang tidak tertulis, skenario tersebut tersirat dalam setiap kondisi kehidupan.&lt;br /&gt;Seperti juga dalam proses pembelajaran, menerima kenyataan merupakan satu konsep yang harus dipegang semua peserta didik sehingga benar-benar dapat maksimal dalam belajar. Bahwa proses belajar itu memberikan dua kondisi setiap akhgir proses, yaitu berhasil atau tertunda, bahkan tidak berhasil sama sekali.Dalam kondisi berhasil, kita yakin semua orang dapat menerima kenyataan tersebut dengan lapang dada dan hati. Bahkan mereka memang berharap agar keberhasilan merupakan hasil akhir dari proses yang mereka jalani. Tetapi, bagaimana jika mereka tertunda atau tidak berhasil?&lt;br /&gt;Belajar menerima Kenyataan memang sudah seharusnya ditanamkan kepada anak didik sebab pada akhirnya, mereka harus menghadapi kehidupan yang senyata-nyatanya.Sementara kondisi kehidupan tidak selalu sama untuk setiap saat dan untuk setiap orang.Padahal setiap orang selalu berharap kehidupannya adalah yang terbaik. Sehingga setiap hal buruk dari hasil proses atau kegiatan sangat tidak diharapkan.&lt;br /&gt;Karena mereka tidak menginginkan kegagalan atau hal terburuk, maka mereka tidak mau menerima kenyataan tersebut.&lt;br /&gt;Mnerima kenyataan dengan hati lapang, khususnya untuk kenyataan negatif, yaitu kenyataan yang tidak diinginkan memang sangat berat sehingga tidak semua orang dapat melakukannya. Oleh karena itulah, maka harus ada pembelajaran unutk menerima kenyataan dengan lapang hati.&lt;br /&gt;Bagaimana caranya belajar menerima kenyataan?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-1593297315130658390?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/1593297315130658390/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=1593297315130658390' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/1593297315130658390'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/1593297315130658390'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2009/07/belajar-menerima-kenyataan.html' title='Belajar Menerima Kenyataan'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-2339479327825519136</id><published>2009-07-01T17:35:00.000-07:00</published><updated>2009-07-01T17:37:42.714-07:00</updated><title type='text'>Mendidik Memahami Waktu</title><content type='html'>Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu aspek penting di dalam kehidupan kita adalah waktu. Bahkan kita dapat mengatakan bahwa waktu adalah sesuatu yang istimewa sebab waktu datang dan pergi tanpa dapat kita cegah. Waktu mengalir dan kita terbawa di dalamnya tanpa mampu menghindarinya. Dan, hal penting dari waktu adalah, jika sudah pergi, maka tidak akan kembali lagi pada kita, sebagaimana saat dia datangi kita.&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, maka banyak orang mengatakan bahwa jika kita kehilangan waktu, maka sebenarnya kita telah kehilangan sebagian besar kehidupan kita. Kita tidak dapat mengembalikan waktu ke amsa lalu ataupun mempercepat, memboyong waktu ke masa yang akan datang. Secara otomatis waktu datang dan pergi dari kehidupan kita. Dan, kita akan sangat kehilangan jika kita tidak memanfaatkan waktu secara efektif dan maksimal. Sekali kita mengabaikan waktu, maka sekian banyak kegiatan terabaikan dan hal tersebut pada akhirnya menjadikan kita sebagai sosok yang tidak berguna.&lt;br /&gt;Demikian juga halnya dalam proses pembelajaran. ada perbandingan lurus antara waktu dengan proses belajar. Artinya, ada hubungan yang signifikan antara proses belajar dengan waktu yang digunakan untuk belajar. Perbandingan tersebut sebanding, yaitu jika kita mempergunakan waktu yang cukup banyak, maka sebenarnya cukup banyak pula hal yang sudah kita pelajari. Seharusnya kita menguasai banyak kemampuan jika sudah belajar dalam banyak waktu.&lt;br /&gt;Seharusnya hal ini benar-benar dipahami oleh anak didik sebagai subyek belajar sehingga waktunya benar-benar efektif, Artinya hasil belajar dan waktu yang digunakan untuk belajar benar-benar mampu memberinya sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupannya. Ada perubahan yan signifikan antara sebelum belajar dengan sesudah belajar. Perubahan inilah yang sesungguhnya menjadi indikator keberhasilan dari proses belajar. Jika perubahan ini hanya sedikit, maka sebenarnya proses belajar tidak berhasil, tidak efektif. Tetapi jika perubahan tersebut sangat besar, tentunya hal tersebut mencerminkan proses belajar yang berhasil.&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, maka sudah seharusnya ada pemahaman khusus dari setiap komponen penting dalam proses belajar, khususnya anak didik sehingga mereka benar-benar melaksanakan kegiatan belajar yang menjadi tugas dan kewajibannya. Mereka adalah subyek belajar, maka harus aktif melakukan kegiatannya. Mereka bukan obyek belajar yang harus selalu disuapi materi pelajaran agar dapat mengalami perubahan yang signifikan. Dan, pemanfaatan waktu secara efektif dan efisien merupakan kunci keberhasilan di dalam proses belajar. Jika waktu dimanfaatkan secara efektif dan efisien, tentunya hal tersebut memberikan hasil yang maksimal. Tetapi jika waktu dibiarkan mengalir tanpa pemanfaatan yang maksimal, maka kegagalan merupakan harga mati di akhir kegiatan.&lt;br /&gt;Setiap guru, sebagai fasilitator dan sekaligus sebagai pembimbing proses belajar sudah seharusnya memebrikan arahan dan bantuan maksimal pada anak didiknya sehingga sadar atas tugas dan kewajiban belajarnya dan membuktikannya dengan mempergunakan waktu sebaik-baiknya untuk kegiatan belajarnya. Anak didik harus dibimbing dalam memanfaatkan waktu yang ada secara efektif dan sesuai dengan kegiatan yang dilaksanakan.&lt;br /&gt;Kita harus menyadari bahwa kegagalan bermula dari pemanfaatan waktu yang tidak efektif dan maksimal. Mereka yang membiarkan waktu berlalu begitu saja merupakan kelompok terbesar yang mengalami kegagalan, khususnya dalam proses belajar. Mereka tidak memanfaatkan waktu untuk belajar, melainkan membiarkan waktu berlalu dengan kegiatan-kegiatan yang sama sekali tidak mencerminkan keefektifkan kegiatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentingnya waktu bagi belajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar merupakan kegiatan yang secara sadar kita lakukan dengan tujuan agar ada perubahan signifikan atas kemampuan yang kita miliki. Dengan belajar, maka kita dapat memperbaiki kondisi diri kita, khususnya kemampuan kita pada aspek-aspek khusus dalam kehidupan ini. dan, belajar menjadi satu  harapan agar terjadi perubahan mendasar bagi setiap aspek diri, knowledge, psikomotor, maupun attitude.&lt;br /&gt;Dan, perubahan yang terjadi pada seseorang bahkan sesuatu selalu berjalan berdasarkan waktu untuk hal tersebut. Ada perubahan yang begitu cepat, tetapi ada juga perubahan yang begitu lambat. Misalnya perubahan yang terjadi pada kodupan makhluk hidup secara umum terjadi secara berangsur-angsur, lambat dan disebut dengan evolusi. Ada teori yang mengatakan bahwa awalnya di dunia hanya ada satu jenis makhluk hidup. Selanjutnya makhluk tersebut mengalami evolusi sehingga terciptakan makhluk-makhluk yang ada sekarang ini. Burung yang sekarang ini merupakan hasil evolusi burung-burung besar pada saat dulu. Mereka menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan belajar dan akhirnya mereka berhasil dan terciptakan kondisi yang benar-benar berbeda dengan nenek moyang mereka.&lt;br /&gt;Bahkan ada guyonan, bahwa manusia adalah hasil evolusi dari kera. Artinya nenek moyang kita adalah kera. Apakah ini benar? Teori Darwin mengatakan hal tersebut! Apakah teori ini sudah dikalahkan, dijatuhkan oleh teori yang baru mengenai eksistensi manusia? Tetapi setidaknya sejak dahulu kita mendapatkan informasi bahwa sekarang adalah hasil evolusi manusia purba dan sebagainya, yang tentu saja profilnya sangat jauh berbeda dengan kita sekarang ini. Dari beberapa fosil mengatakan bahwa memang ada kedekatan profil antara manusia purba dengan kera. Tetapi apakah hal tersebut menunjukkan bahwa kita berasal dari kera?&lt;br /&gt;Setidaknya, satu hal yang harus kita yakini bahwa setiap perubahan yang terjadi dan dialami oleh setiap orang adalah hasil dari proses belajar yang dilakukannya secara intens. Mereka melakukan kegiatan belajar dengan tidak mengenal waktu. Mereka memanfaatkan waktu seefektif mungkin sehingga setiap detik yang berlalu adalah untuk belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu terus berlalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, waktu itu bagaikan air yang mengalir di sungai. Air mengalir dari hulu menuju ke muara dan ketika air sudah mengalir ke muara, maka air tidak mungkin kembali mneuju ke hulu. Begitu juga halnya dengan waktu yang berlalu. Ketika waktu telah melalui kita, maka waktu tidak akan melewati kita lagi melainkan terus mengalir. Sementara yang mengalir melalui kita adalah waktu yang lainnya.&lt;br /&gt;Sungguh sangat merugi orang-orang yang tidak mengerti waktu. Sungguh sangat merugi orang-orang yang tidak memanfaatkan waktu yang dimilikinya dan membiarkan berlalu begitu saja. Waktu itu sedemikiannya bagi kehidupan kita sehingga setiap kegiatan kita selalu berbatas padanya. Hidup kita berbatas pada waktu. Begitu juga kegiatan lainnya.&lt;br /&gt;Kita harus menekankan pada anak didik pada kenyataan bahwa waktu kita sangatlah terbatas dan tidak bakal kembali ketika sudah berlalu. Dan, jika sudah berlalu, maka kesempatan kita pun ikut menghilang. Kita menyadari bahwa waktu identik dengan kesempatan. Jika kita mempunyai waktu berarti kita mempunyai kesempatan utuk melakukan sesuatu. Tanpa adanya waktu, maka kesempatan kita tidak memilikinya.&lt;br /&gt;Begitu juga halnya dengan proses belajar. Bahwa setiap aspek pelajaran sudah disusun dan diatur sedemikian rupa sehingga penerapannya disesuaikan dengan program dan kebutuhan peserta didik. Proses belajar adalah proses yang berlangsung secara berkesinambungan dan terus menerus sehingga peranan waktu sangatlah signifikan. Kita tidak dapat mengabaikan peranan waktu pada proses pembelajaran.&lt;br /&gt;Bahwa materi pelajaran yang harus dipelajari oleh anak didik saat menempuh proses belajar disusun secara bertingkat. Penyusunannya dilakukan dalam tingkatan-tingkatan tertentu dengan penyesuaian tingkat kesulitan materi yang disignifikansikan dan disinergiskan dengan kemampuan anak dalam menerima materi pelajaran. Proses pembelajaran diawali dari hal-hal termudah dan secara berangsur sesuai dengan waktu. Dengan demikian diharapkan ada proses yang berlangsung secara teratur dan sistematis. Hal ini karena kemampuan anak didik berkembang sesuai dengan usia dan pola pikirnya.&lt;br /&gt;Mulai dari tingkatan anak-anak, remaja hingga dewasa, tingkatan kemampuan anak dalam menyerap materi pelajaran sangatlah sistemis menuju pada sistematis tertentu. Kita tidak dapat memaksakan program pada anak didik tanpa memperdulikan faktor tersebut. Sebagai sosok yang masih labil, maka anak didik harus menambahkan berbagai aspek pada dirinya sehingga benar-benar sesuai dengan proses belajarnya.&lt;br /&gt;Waktu terus berlalu dan meninggalkan kita dengan berbagai kondisi. Terkadang kondisi tersebut positif, tetapi kadang negatif. Kondisi positif hanya dapat kita capai jika kita memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dan seefektifnya. Tetapi, jika waktu dibiarkan berlalu begitu saja, maka sudah barang tentu penyesalan adalah buah yang dipanen pada akhirnya.&lt;br /&gt;Anak didik harus dibiasakan untuk tidak menyia-nyiakan waktu yang ada. Mereka harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dengan kegiatan efektif. Hanya dengan cara seperti itu, maka proses pembelajaran dapat dilaksanakan secara sistematis dan efektif. Kita harus menekankan konsep bahwa waktu adalah hal terpenting untuk dapat mewujudkan segala tujuan kita pada anak didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari mendahului waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisakah kita mendahului waktu? Ini merupakan satu pertanyaan sekaligus pernyataan yang tidak dapat kita abaikan begitu saja. Waktu adalah sesuatu yang sudah pasti datang dan perginya. Kita tidak dapat mencegah ataupun menghambat kedatangan dan kepergiannya. Waktu mengalir begitu saja. Tidak ada satu orangpun yang dapat menghentikan perjalanan waktu. Jika waktu mendatangi kita, kita tidak dapat menghindarinya. Jika waktu meninggalkan kita, maka kita tidak dapat mencegah kepergiannya itu.&lt;br /&gt;Mungkinkah bagi kita untuk mendahului laju perjalanan waktu? Mustahil! Ya, memang hal tersebut sesuatu yang mustahil. Waktu jika sudah lewat, maka tidak mungkin dikejar lagi. Apalagi mendahului laju waktu?  Tetapi, sebenarnya kehidupan mengajarkan kita untuk secara terus menerus  berusaha menghadapi kehidupan sebaik-baiknya. Dan, langkah atau cara menghadapinya dengan menciptakan berbagai inovasi serta improvisasi terkait dengan pola kehidupan.&lt;br /&gt;Salah satu cara yang efektif adalah dengan berusaha mendahului pergerakan waktu. Ya, kita harus berusaha mendahului waktu agar kita dapat menjawab dan memberikan  layanan terbaik bagi kehidupan ini. kita harus segera mempercepat langkah kaki setidaknya dua atau tiga langkah ke depan dari yang seharusnya kita jalani.&lt;br /&gt;Seperti pola kerja para intelek bangunan, arsitek dan seterusnya. Mereka bekerja pada masa depan, mendahului waktu. Ketika mereka membangun rumah atau bangunan lainnya, maka yang mereka kerjakan adalah membuat gambar dan maket bangunan tersebut. Setelah gambar selesai dikerjakan dan maket terbentuk, baru kemudian mereka mulai mengerjakan proses pembuatan rumah hingga bangunan rumah selesai. Mereka tidak menunggu rumah selesai untuk membuat gambar dan maketnya.&lt;br /&gt;Untuk mewujudkan hal tersebut, maka kita harus mampu menyusun jadwal kegiatan dengan sebaik-baiknya. Setiap hal yang kita kerjakan harus didasarkan pada aturan jadwal yang sudah kita buat. Dengan jadwal, maka setidaknya kita dapat mengatur hal-hal yang harus dilakukan agar pola kehidupan kita benar-benar sistematis. &lt;br /&gt;Kita memang harus menjalani kehidupan ini secara sistematis sebab hidup ini merupakan satu kegiatan yang tersistem. Setiap hal yang terjadi adalah bentuk implementasi dari setiap bagian sistem yang ada. Secara implisit, segala hal dalam kehidupan sebagaimana skenario yang disusun oleh seorang penulis. Apa yang harus kita lakukan, apapun yang kita alami sebenarnya sudah ditulis sedemikian rupa sehingga kita dapat saja mengerjakan hal-hal yang sebenarnya akan terjadi di masa depan. Dalam konteks ini, kita asumsikan pada proses belajar.&lt;br /&gt;Artinya, pada proses belajar, kita dapat saja mendahului proses belajar sesuai dengan kurikulum yang sudah disusun. Materi pelajaran boleh saja kita pelajari secara berurutan, tetapi dapat juga sesuai dengan kebutuhan. Jika skenario yang kita susun, satu materi habis selama tiga minggu, dapat saja materi tersebut kita habiskan selama dua minggu sehingga satu minggu terakhir dapat kita pergunakan untuk mempelajri, membahas materi selanjutnya.&lt;br /&gt;Jika di sekolah kita mempelajari bab satu, maka tidak salah jika kita di rumah mempelajari bab dua. Dari guru kita mempelajari awalan, maka di rumah kita dapat mempelajari kelanjutan dari materi guru. Jika hal tersebut kita lakukan, maka yakinlah bawah proses belajar dapat berlangsung lancar dan kita semakin mudah menguasai dan memahami setiap konsep materi pelajaran.&lt;br /&gt;Kita memang harus mendahului waktu untuk dapat mencapai hasil proses belajar maksimal. Kita harus berusaha mempelajari materi pelajaran lebih dahulu, walaupun di sekolah materi tersebut belum diberikan oleh guru. Hal ini sangat penting dalam proses pembelajaran. Bahwa materi pelajaran harus dipelajari, tidak harus menunggu diajarkan guru di kelas. Kita boleh belajar dan  seharusnya belajar mendahului waktu bersama guru sehingga saat bertemu guru dapat mempertanyakan hal-hal yang belum dikuasai.&lt;br /&gt;Yang kita maksudkan dengan mendahului waktu tidak lain adalah belajar lebih dahulu dari pembelajaran yang dilaksanakan di kelas belajar.  Kita harus belajar di rumah, sebelum di kelas sehingga kesulitan yang kita alami dapat dipertanyakan kepada guru saat di kelas. Pola belajar seperti ini seharusnya kita tanamkan kepada anak didik sehingga menjadi satu kondisi yang sudah tersistem dalam diri anak didik. Tentunya, jika anak didik terbiasa belajar sebelum proses pembelajaran dilakukan, maka proses belajar dapat lancar dan hasilnya dapat maksimal. Hal ini karena proses belajar didasarkan pada kebutuhan anak didik. Anak didik tidak dipaksa untuk mempelajari materi yang tidak diketahuinya. &lt;br /&gt;Proses pembelajaran memang tidak hanya dilaksanakan untuk saat sekarang, melainkan harus dipelajari secara berulang dan yang terutama adalah masa depannya. Kita harus mempersiapkan segala hal yang akan kita pelajari. Sangat tidak bijak jika ternyata kita melakukan proses belajar hanya pada saat di ruang kelas. Jika ini tetap dilakukan, maka kesempatan untuk beljar sangat sedikit, bahkan kesulitan yang kita alami tidak sempat dijelaskan lebih lanjut. Tetapi jika kita belajar lebih dahulu, maka proses lebih efektif sebab kita sudah membawa permasalahan kita di dalam penguasaan materi pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akselerasi belajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar pada dasarnya mencoba untuk menguasai hal-hal baru agar dapat menjadi bagian kemampuan diri. Dan, materi pelajaran yang diberikan guru pada saat proses pembelajaran menjadi satu orientasi yang tidak paling utama. Pada proses belajar, ada banyak hal yang belum kita ketahui, apalagi kuasai sehingga perlu skala prioritas untuk dapat menguasai materi tersebut.&lt;br /&gt;Sebenarnya, untuk dapat menguasai materi yang sudah tersusun sebagaimana kurikulum yang diterapkan, maka harus ada upaya untuk melakukan proses pembelajaran ke materi ke depan. Proses pembelajaran tidak dapat hanya untuk materi sekarang saja. Jika pola statis seperti itu tetap diterapkan, maka selamanya kondisi hasil pembelajaran kita tidak pernah meningkat. Bahkan, hal tersebut dapat menjadi penghalang utama keber-hasilannya.&lt;br /&gt;Jangkauan proses pembelajaran adalah masa depan. Oleh karena itulah, maka apa yang dipelajari seharusnya diorientasikan pada kondisi masa depan. Kita tidak mungkin hanya berpegang pada kondisi masa lalu. Kalaupun hal tersebut masih diterapkan, maka seharusnya ada inovasi dan improvisasi dengan mengkolaborasikan materi pada kondisi masa depan.&lt;br /&gt;Guru seharusnya selalu memikirkan langkah inovasi, yaitu langkah untuk mempersiapkan anak didik dengan kemampuan yang signifikan dengan kebutuhan jaman. Bahwa materi belajar seharusnya selalu selaras dengan kondisi kehidupan masyarakat. Kita tidak boleh memberikan materi pelajaran yang out to date. Materi pelajaran yang ketinggalan jaman! Apalagi jika materi pelajaran tersebut sama sekali tidak relevan dengan kondisi yang ada di dalam kehidupan. Percuma! Sia-sia, banyak mengeluarkan tenaga dan biaya tetapi sama sekali tidak begruna bagi kehidupan anak didik di masyarakat.&lt;br /&gt;Akselerasi belajar merupakan satu kebutuhan yang tidak dapat diabaikan oleh setiap pelaku pendidikan. Akselerasi belajar merupakan satu keharusan di jaman sekarang ini. Dengan akselerasi belajar, maka setidaknya anak didik menguasai materi pelajaran lebih dahulu daripada waktu yang direncanakan. Anak didik dipacu untuk dapat menerima dan menguasai serta memahami materi pelajaran dalam waktu yang singkat dan sempurna. &lt;br /&gt;Kita harus selalu berusaha agar anak didik kita dapat melakukan akselerasi belajar agar dapat mengikuti setiap aspek atau materi pelajaran sebaik-baiknya. Anak didik harus dipacu untuk mengikuti proses belajarnya sehingga tercipta satu kondisi pembelajaran. Hal ini karena proses belajar merupakan implementasi dari dinamisasi kehidupan. Jika kita tidak menyeimbangkan kegiatan, tentunya kita bakal ketinggalan. Sebagaimana proses pembelajaran, jika kita tidak segera melakukan akselerasi belajar tentunya kemampuan kita bakal ketinggalan sehingga selamanya kita menjadi bangsa yang terpuruk.&lt;br /&gt;Akselerasi belajar pada dasarnya identik dengan mendahului waktu belajar, tetapi dalam konteks ini anak didik dibimbing untuk melakukan segalanya dalam tingkat kecepatan tinggi. Guru menjadi pembimbing anak didik untuk proses pembelajarannya. Guru secara intens memberikan bimbingan pada anak didik saat mempelajari materi pelajaran. Anak didik tidak harus belajar terlebih dahulu, melainkan secara bersama-sama belajar dalam bimbingan guru. Tetapi, kecepatan belajar dikondisikan sedemikian rupa sehingga materi pelajaran yang seharusnya habis untuk satu semester, dapat diselesaikan pada setengah semester atau lebih cepat dari program yang disusun dalam rencana pembelajaran.&lt;br /&gt;Rencana Pembelajaran memang sangat bagus sebagai anutran proses. Dengan rencana pembelajaran, maka setiap materi yang menjadi jatah pembelajaran dapat diberikan pada anak didik secara sistematis. Tetapi, untuk kondisi ini, anakdidik dipacu untuk terbiasa pada kondisi akseleratif. Pola pembelajaran ini selain untuk mengefektifkan proses, juga untuk menghindari sikap manja yang berlebihan pada anak didik. selama ini yang menjadi penyebab kegagalan proses belajar adalah sikap manja dari anak didik. Anak didik malas belajar, maka dengan akselerasi belajar, mereka dipacu untuk terus belajar. Setidaknya dengan pola belajar ini, akan tercipta community learning di kelas pembelajaran. Dengan community learning ini, maka kesadaran belajar dapat ditingkatkan menuju keberhasilan yang diharapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendidik memahami waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu adalah bagian penting dari kehidupan. Waktu adalah penentu tingkat keberhasilan proses kehidupan. Dengan adanya waktu, maka setiap kegiatan dapat diketahui dapat dijalankan ataukah gagal dijalankan. Bahwa setiap  perubahan tidak dapat terlepas dari peran serta waktu. Hanya dengan  waktu, maka segala hal dalam kehidupan ini dapat terjadi.&lt;br /&gt;Mengingat betapa pentingnya eksistensi waktu dalam kehidupan, maka setiap orang harus memperhatikan dan memanfaatkan wktu sebaik-baiknya. Hal ini berarti bahwa waktu itu mengalir bagaikan air sungai. Jika sudah mengalir dari hulu, maka air itu tidak bakal kembali ke hulu. Terus mengalir tanpa peduli apapun yang terjadi selama perjalanannya.&lt;br /&gt;Jika kita tidak melakukan apapun pada aliran tersebut, maka semua tidak mungkin terjadi. Air yang mengalir tidak peduli pada apapun yang terjadi akibat alirannya. Dan, siapa yang menentang aliran tersebut, maka harus menanggung resikonya. Artinya siapapun yang menentang ataupun mengabaikan waktu, tentunya waktu tidakpeduli. Waktu terus bergulir. Waktu terus berganti. Dan, yang fatal adalah waktu tidak akan berputar balik. Maka tinggallah penyesalan pada setiap orang yang tidak memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;Dan, sebagai guru, orang yang mempunyai pengalaman lebih dalam hal menghadapi perguliran waktu, maka guru seharusnya memberikan pengalaman tersebut pada anak didiknya. Guru harus dapat memberikan bimbingan pada anak didiknya, khusus dalam hal ini adalah pemanfaatan waktu untuk proses belajar. Guru harus dapat menanamkan konsep betapa pentingnya waktu untuk mncapai keberhasilan proses belajar.&lt;br /&gt;Anak didik seharusnya benar-benar memahami betapa beruntungnya mereka dapat mengikuti proses belajar hingga tingkatan mereka. Tentunya kita memberikan komparasi pada anak-anak yang tidak berkesempatan melanjutkan proses belajarnya akibat kondisi ekonomi orang tua yang tidak mendukung. Mereka seharusnya bersyukur atas kesempatan tersebut dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Salah satu cara efektif adalah dengan mengefektifkan waktu untuk belajar.&lt;br /&gt;Untuk keberhasilan proses belajar, guru harus benar-benar dapat memberikan pengertian pada anak didiknya tentang eksitensi waktu terhadap proses belajar. Artinya, guru harus mampu membangkitkan kesadaran anak didik tentang hubungan waktu dan kesempatan belajar. Kesempatan yang terbuka begitu luas seharusnya dijwab oleh anak didik dengan belajar secara giat sehingga tujuan belajar dapat dicapai sesuai dengan jadwalnya.&lt;br /&gt;Begitulah pentingnya pemahaman atas waktu yang dimiliki sehingga anak didik menyadari bahwa keberuntungan mereka dalam kesempatan belajar harus ditindaklanjuti dengan pemanfaatan waktu sebaik-baiknya. Jangan menyia-nyiakan waktu agar tujuan belajar yang hakiki dapat tercapai dan bangsa ini benar-benar dapat bangkit dari keterpurukannya, khususnya dalam bidang pendidikan sumber daya manusianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyesalan adalah sia-sia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang perlu kita tanamkan dalam hati anak didik adalah agar mereka menyadari pentingnya waktu bagi mereka. Bahwa setiap kegiatan yang kita lakukan dibatasi oleh waktu sehingga tidak mungkin kita dapat mengulangi lagi kegiatan yang terlewatkan. Oleh karena itulah, maka waktu yang ada harus dimanfaatkan sebaik-baiknya sehingga betul-betul efektif untuk mencapai cita-cita atau tujuan hidup.&lt;br /&gt;Jika ternyata ada anak didik yang tidak melaksanakan atau mempergunakan waktu sebaik-baiknya dan mengalami kegagalan, maka yang tersisa dalam kehidupannya adalah penyesalan. Penyesalan ini sebenarnya tidak ada manfaatnya. Sia-sia saja!  Nasi sudah menjadi bubur, tidak bakal dapat dijadikan nasi lagi. Oleh karena itulah, maka kita harus memakannya sekalipun berbentuk bubur.&lt;br /&gt;Mereka yang tidak memanfaatkan waktu seefektifnya, pada akhirnya hanya mendapatkan penyesalan dan hal tersebut sama sekali tidak berarti. Oleh karena itulah, maka kita harus mengantisipasinya dengan langkah-langkah strategis. Waktu harus kita manfaatkan, pergunakan sesuai dengan kegiatan yang seharusnya dilakukan. Kita tidak boleh menunda-nunda atau mengabaikan perguliran waktu dengan mengabaikan kegiatan kita. Jangan pernah menganggap enteng setiap kegiatan. Jangan pernah mengatakan bahwa masih ada waktu untuk menyelesaikan suatu kegiatan di waktu mendatang.&lt;br /&gt;Kebiasaan-kebiasaan menunda kegiatan merupakan kegiatan yang pada akhirnya dapat membunuh kita! Pekerjaan-pekerjaan yang ditunda hanyalah akan memberikan siksaan atau penderitaan pada kehidupan kita di masa depannya. Siksaan tersebut akan sangat terasa saat jatah waktu yang diberikan untuk menyelesaikan kegiatan tersebut sudah habis.&lt;br /&gt;Penyesalan adalah sia-sia. Apa gunanya kita menyesali kondisi jika ternyata apa yang kita alami tersebut adalah akibat kesembronoan kita sendiri. Siksaan yang terjadi akibat sikap kita yang mengabaikan waktu, kesempatan yang kita miliki untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Agar tidak mengalami penyesalan, maka segala kegiatan harus diprogram dan dibuatkan skedul pelaksanaan sehingga setiap aspek dapat ditata dan ditentukan saat pelaksanaan dan pencapaiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya. Dari sekian banyak hal yang harus dihadapi oleh guru adalah menanamkan konsep dan pengertian serta kesadaran atas segala hal terkait proses belajar anak didik. Bahwa, anak didik harus dibangkitkan kesadarannya atas keterbatasan waktu untuk melaksanakan kegiatan belajar. Guru harus memberikan kesadaran pada anak didiknya, terkhusus pada pemanfaatan waktu untuk kegiatan-kegiatan efektif, khususnya terkait dengan proses belajar.&lt;br /&gt;Setiap saat, anak didik harus melakukan proses belajar. Tidak hanya saat belajar di ruang kelas, melainkan dimanapun mereka harus menafaatkan waktu untuk belajar. Kita harus menanamkan konsep bahwa belajar tidak hanya dilakukan di ruang belajar, melainkan dapat dilakukan dimana saja, kapan saja dan dengan siapa saja. Hal ini adalah untuk mengantisipasi perjalanan waktu yang sedemikian pesatnya dan tidak pernah kembali ke posisi awal.&lt;br /&gt;Jika kita dapat menanamkan konsep pentingnya waktu bagi proses pendidikan dan pembelajaran, maka setidaknya anak didik tidak lagi bermalas-malasan di dalam proses belajar. Mereka akan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk belajar dan tidak membiarkan waktu berlalu begitu saja tanpa kegiatan belajar. Setelah kondisi tersebut tertanam dalam  diri anak didik, maka setiap waktu yang ada, dipergunakan untuk belajar. Dan. Kondisiitulah yang kita inginkan!&lt;br /&gt;Belajarlah menghargai waktu sebab waktu adalah jembatan tercepat menuju keberhasilan mencapai tujuan hidup. Jika kita mengabaikan waktu, berarti kita kehilangan jembatan menuju keberhasilan.  Jadikan waktu sebagai bagian utuh dari kehidupan kita sebab dalam lingkaran waktu itulah sebenarnya kita melangkah menuju arah yang diharapkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pentingnya eksistensi waktu di dalam kehidupan kita sehingga kita memang harus benar-benar memanfaatkannya sebaik-baiknya agar program dapat dilaksanakan maksimal. Waktu begitu berarti sehingga menjadi kerangka bagi setiap kegiatan hidup. Tanpa waktu, maka hidup ini kosong tidak berisi apapun.&lt;br /&gt;Dan, anak didik sebagai sosok yang harus memenuhi kebutuhan bekal hidup sudah seharusnya benar-benar memperhatikan waktu yang dimilikinya. Sekali waktu terabaikan, maka penyiksaan terhadap diri sudah dimulai. Bahwa pada saat kita mengabaikan waktu, maka sekian banyak kegiatan terabaikan, tertunda dan hal tersebut merupakan penyiksaan bagi kita di saat dibutuhkan.&lt;br /&gt;Pengabaian waktu berarti menunda sekian banyak pekerjaan. Pekerjaan yang seharusnya sudah selesai tetapi tetap ngendon sebab tidak dikerjakan. Pekerjaan tersebut menumpuk dan pada akhirnya menjadi beban. Padahal, pekerjaan bukan suatu beban. Setidaknya kita memahami bahwa beban itu sesuatu yang memberatkan bagi kita. Jika pekerjaan menjadi beban, maka kualitas kerja dan kinerja tidak dapat maksimal.&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, peranan guru di dalam menanamkan konsep pemanfaatan waktu secara maksimal harus benar-benar dilakukan. Guru harus menanamkan kedisiplinan penggunaan waktu pada anak didik sehingga kegiatan belajar terasa ringan. Kedisiplinan akan membawa pada suatu kebiasaan yang secara otomatis mengalir tanpa harus membawa beban. Kita lihat saja aliran air di sungai. Air itu mengalir begitu saja dan menerima segalanya tanpa protes. Apapun yan masuk ke dalam aliran sungai tetap dibawa mengalir. Tidak ada penolakan.&lt;br /&gt;Ya, anak didik harus dibiasakan untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya agar tidak menimbulkan penyesalan di akhirnya. Waktu belajar memang sepanjang hayat, tetapi tetap saja setiap bagian pembelajaran dibatasi waktu. Dan, jika kita gagal ada satu bagian waktu belajar, berarti kita telah kalah pada waktu. Dan, penyesalan adalah harga termahal yang harus kita bayarkan untuk itu. Siapa ingin gagal? Tidak ada!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-2339479327825519136?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/2339479327825519136/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=2339479327825519136' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/2339479327825519136'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/2339479327825519136'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2009/07/mendidik-memahami-waktu.html' title='Mendidik Memahami Waktu'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-4437001891406027870</id><published>2009-06-30T04:39:00.000-07:00</published><updated>2009-06-30T05:14:58.134-07:00</updated><title type='text'>Pendidikan yang Menyenangkan</title><content type='html'>Pendidikan adalah satu proses penting dalam kehidupan. Dengan pendidikan, maka terjadi proses perubahan kompetensi, kemampuan sehingga didapatkan manusia-manusia yang mampu menjadi panutan. Bahwa pada dasarnya kehidupan ini membutuhkan orang-orang yang berbudi, bermoral dan mempunyai pola kehidupan positif. Dan, untuk dapat memperoleh manusia-manusia sepertiu itu, maka pendidikan merupakan jembatan tercepat.&lt;br /&gt;Proses pendidikan pada umumnya dilaksanakan dalam sebuah kerangka kegiatan yang disebut pembelajaran. Dengan pembelajaran, maka aspek-aspek yang perlu diberikan kepada anak-anak dapat dilaksanakan.Hal ini karena di dalam  pembelajaran terjadi satu proses transfer kompetensi secara signifikan. Transfer ini dilakukan oleh para guru yang berposisi sebagai pendidik sekaligus pengajar.&lt;br /&gt;Agar proses dapat berlangsung maksimal, maka salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa proses tersebut haruslah mampu membangkitkan peranserta anak. jika anak didik mau berperanserta dalam proses pembelajaran, tentunya hal tersebut merupakan indikasi keberhasilan proses. Guru harus mengkondisikan proses pembeljaarannya sedemikian rupa sehingga anak didiklah yang berperan. Hal ini terkait dengan konsep dasar bahwa yang sedang belajar adalah anak didik sehingga seharusnya mereka yang berperan.&lt;br /&gt;Untuk dapat membangkitkan peranserta anak didik, maka hal yang perlu diperhatikan adalah kondisi proses pembelajaran. Anak sekarang tidak sama dengan anak jaman dahulu. kondisi kehidupan telah menjadikan anak-anak sekarang membutuhakn suatu kondisi khusus, yaitu kondisi yang sesuai dengan dirinya, bahkan kondisi harus sesuai dengan dirinya.&lt;br /&gt;Suasana belajar memang sangat mempengaruhi hasil prosesnya. jika guru mampu menciptakan kondisi, suasana yang sesuai dengan kebutuhan anak didik, maka hasilnya dapat maksimal, tetapi jika kondisi, suasana tidak mendukung, anak didik menjadi loyo dan tidak bersemangat. Oleh karena itulash, guru harus benar-benar mampu emmbaca kondisi ruang kelas pembelajarannya. Jangan paksakan anak untuk mengikuti kondisi diri guru, melainkan guru yang harus menyesuaaikan diri dengan kondisi anak didik dan sedikit demi sedikit membawa kondisi anak pada kondisi ideal proses pembelajaran.&lt;br /&gt;Untuk selanjutnya, hal terpenting harus diusahakan oleh guru adalah menciptakan satu kondisi pembelajaran yang menyenangkan sehingga secara aktif anak didik berperan sesuai dengan kondisi dirinya. tidak memaksakan diri pada kondisi yang diciptakan secara paksa oleh guru..&lt;br /&gt;Untuk para guru, mulai sekarang kita harus benar-benar dapat menciptakan suasana belajr yang menyenangkan bagi anak didik sehingga mereka secara sadar dan mandiri berperan aktif di dalam proses belajar...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-4437001891406027870?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/4437001891406027870/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=4437001891406027870' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/4437001891406027870'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/4437001891406027870'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2009/06/pendidikan-yang-menyenangkan.html' title='Pendidikan yang Menyenangkan'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-3817530524727717790</id><published>2009-06-27T00:50:00.000-07:00</published><updated>2009-06-27T01:06:37.643-07:00</updated><title type='text'>Kelucuan di Dunia Pendidikan</title><content type='html'>Diakui atau tidak dunia kita semakin lucu. Ada banyak hal yang membuat kita menjadi tertawa, ngakak atau sekedar tersenyum simpul, getir. Kita tidak tahu kenapa hal-hal seperti ini terfus saja terjadi.&lt;br /&gt;Pertama:&lt;br /&gt;Kebijakan yang terus menerus mengalami perubahan. Bahkan orang mengatakan bahwa dunia pendidikan itu jika berganti 'kepala' pasti bergantgi kebijakannya. Dan, seringkali kebijakan diajdikan sebagai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;brandingself&lt;/span&gt; masing-masing 'kepala'.&lt;br /&gt;Kedua:&lt;br /&gt;Masalah Ujina nasional yang sering mendpaatkan prokontra ternyata tetap saja berlangsung. prokontra terjadi karena adanya kebijakan yang berubah, kalau dulu Ujian nasional dijadikan sebagai  alat ukur kemampuan anak didik dalam belajar di setiap daerah, sekarang dijadikan sebagai faktor penentu kelulusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan masih banyak lagi....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ini sungguh sangat lucu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pertama:&lt;br /&gt;Ketika dalam program ujian dinyatakan bahwa pengumuman kelulusan tanggal 12 Juni, ternyata ada sekolah yang jauah sebelum tanggal pengumuman sudah mengetahui bahwa anak didiknya tidak lulus 100%. dan selanjutnya hal tersebut dijadikans ebagai entuk antisipasi sehingga diadakan ujian ulang untuk mereka, padahal anak-anak lain yang tidak lulus tidak ada ujian ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kedua:&lt;br /&gt;Begitu saatnya atau tanggal pengumuman tiba, ada informassi kalau nilai koreksi LJK belum datang, belum selesai. Ini kontradiksi dengan daerah yang sebelum saat pengumuman eh ternyata sudah dapat kabar anak didiknya tidak lulus semua dan mengulang. bahkan kabar itu ditunda hingga beberapa kali...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga:&lt;br /&gt;Selanjutnya begitu kabar diterima, ada banyak anak yang tidak lulus. Banyak anak yang menangis bahkan pingsan karenanya. Akhirnya mereka disertakan dalam Ujian persamaan paket C. tetapi, setelah ujian berlangsung  dan berakhir, ternyata ada kabar bahwa anak-anak yang tidak lulus pada program ekahlian teknik mekanik otomotif dinyatakan lulus dan program yang lainnya tetap!&lt;br /&gt;Apa-apaan ini? Kalau memang terjadi seperti itu, kesalahan atau sebangsanya, kan bisa jadi anak-anak program yang lain juga... kok hanya anak-anak otomotif saja ya???&lt;br /&gt;Lantas, untuk apa mereka mengikuti ujian paket C. berarti mereka mempunyai 2 Ijasah di tahun yang sama? &lt;br /&gt;duh... lelucon... lelucon... ada dimana-mana...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-3817530524727717790?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/3817530524727717790/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=3817530524727717790' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/3817530524727717790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/3817530524727717790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2009/06/kelucuan-di-dunia-pendidikan.html' title='Kelucuan di Dunia Pendidikan'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-4879508511716102366</id><published>2009-06-23T05:47:00.000-07:00</published><updated>2009-06-23T05:48:29.743-07:00</updated><title type='text'>Agen Pendidikan</title><content type='html'>Proses pendidikan diarahkan untuk melakukan perubahan konsep pemikiran anak sehingga tercipta dinamisasi sikap yang bermuara pada upaya peningkatan kualitas diri secara maksimal. Dengan perubahan konsep ini, maka selanjutnya diharapkan dapat mengarahkan pola pemikiran yang benar – benar mampu menunjukkan jati dirinya di antara lingkungan kehidupan yang serba ketat dalam persaingan global.&lt;br /&gt;Untuk dapat mengembangkan konsep pemikiran ini, maka pendidikan dilaksanakan secara berjenjang dari tingkat dasar hingga menengah dan pada akhirnya ke jenjang tinggi. Di setiap jenjang dibutuhkan orang-orang yang mempunyai kemampuan sesuai dengan kebutuhannya sehingga apa yang dipelajari, apa yang dididikkan kepada anak didik benar-benar sesuai dengan kondisi yang dihadapi di masyarakat.&lt;br /&gt;Dalam konteks ini, guru adalah sosok yang secara langsung meng-ambil atau mendapatkan tugas dan kewajiban untuk mendampingi anak-anak yang belajar sehingga benar-benar mendapatkan materi pelajaran yang tepat. Hal ini karena guru adalah sumber pengetahuan dan keterampilan yang mampu ditransfer ke anak didik.&lt;br /&gt;Guru adalah sosok yang dianggap mempunyai kemampuan lebih dalam upaya melakukan perubahan konsep pemikiran pada anak didik sehingga tercipta dinamisasi secara signifikan dengan kondisi kehidupannya. Dengan demikian, maka anak didik benar-benar melakukan proses pendidik-an yang dibimbing oleh guru.&lt;br /&gt;Terkait dengan upaya peningkatan kualitas diri dengan perubahan konsep pemikiran anak terhadap setiap permasalahan hidup, maka keberada-an guru memang merupakan keniscayaan. Dengan adanya guru, maka anak dapat memperoleh berbagai hal yang dipercaya dapat meningkatkan kualitas dirinya serta merubah konsep pemikirannya terhadap segala hal.&lt;br /&gt;Tugas guru di dalam proses perubahan konsep pemikiran dan pening-katan kualitas diri secara maksimal sangatlah berat sebab terkait dengan pola pemikiran yang nilainya sangat relatif antara satu dengan yang lainnya. Kita tidak dapat mengevaluasi secara pasti tingkat penguasaan konsep pemikiran yang dimiliki oleh seseorang setelah mengikuti proses pendidikan dan pembelajaran.&lt;br /&gt;Di dalam proses pendidikan dan pembelajaran, tugas dan kewajiban guru adalah sebagai agen pendidikan (agent of education). Dalam hal ini guru berperan sebagai agen yang mengatur distribusi pengetahuan jatah anak didik. Sekaligus di dalam hal ini guru adalah pelaku pendidikan yang secara aktif memberikan materi pelajaran yang menjadi jatah pembelajaran anak didik.&lt;br /&gt;Secara umum peranan guru sebagai agen pendidikan adalah untuk menyelenggarakan proses pendidikan untuk anak didik agar terjadi proses transfer pengetahuan, sikap dan keterampilan secara proporsional dan mampu dijadikan sebagai bekal kehidupan anak didik. Sebagai agen pendidikan, maka seorang guru harus dapat memposisikan diri secara tepat dalam kegiatan pendidikan dan pembelajaran yang relevan dengan kebutuh-an hidup di masyarakat.&lt;br /&gt;Sebenarnya sejak dahulu, saat orang mulai melakukan dan membutuh-kan proses belajar telah terjadi proses transfer yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain sehingga terjadi perubahan yang signifikan atas kondisi sebelum dan sesudah mengikuti proses belajar. Disinilah pentingnya seorang agen agar proses pendidikan dan pembelajaran dapat berjalan lancar. Tanpa adanya agen, tentunya terjadi kesulitan saat proses berjalan. Akan terjadi kesimpangsiuran proses yang berlanjut pada ketidak berhasilan proses mencapai tujuan yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;Berbagai macam bahan pendidikan dan pembelajaran dapat diberikan oleh guru untuk kebutuhan belajar anak didiknya. Anak didik tidak perlu kebingungan saat membutuhkan materi untuk proses pendidikan dan pembelajaran yang diikutinya. Datang saja ke guru, atau ikuti saja ketentuan yang diberikan oleh seorang guru, maka proses pendidikan dan pembelajaran yang diikuti anak didik dapat berlangsung lancar dan tidak terhambat oleh berbagai kesulitan belajar.&lt;br /&gt;Hal ini identik ketika kita membutuhkan barang-barang kebutuhan hidup dengan harga yang lebih murah, maka kita datang ke seorang agen yang dapat menyediakan barang yang kita inginkan tersebut. Di agen, maka semua barang yang kita inginkan tersedia dan kita mendapatkan beberapa rupiah sebagai diskon atas pembelian kita tersebut.&lt;br /&gt;Di dalam proses pendidikan, peranan agen pendidikan tidak jauh berbeda dengan agen barang di toko. Tetapi dalam hal ini tingkat penyediaan barang yang dimaksudkan lebih istimewa dan perlakuan yang lebih khusus. Begitu juga dengan guru sebagai agen pendidikan. Mereka harus memberi-kan pelayanan pendidikan dan pembelajaran yang sebaik-baiknya kepada anak didik sehingga proses perubahan konsep pada anak didik benar-benar tercapai dan menghasilkan anak-anak dengan tingkat kualitas diri yang terbaik dan maksimal bagi sebuah proses.&lt;br /&gt;Proses pendidikan merupakan proses yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan sehingga dibutuhkan orang-orang yang mempunyai komitmen tinggi terhadap proses tersebut. Dengan komitmen tinggi terhadap upaya peningkatan dan pengembangan kualitas, tentunya program peng-entasan dunia pendidikan dari keterpurukannya dapat segera diwujudkan secara nyata.&lt;br /&gt;Memang, peningkatan kualitas pendidikan dan pembelajaran sebenar-nya sangat terkait dengan eksistensi guru sebagai agen pendidikan. Sebab dengan posisi sebagai agen pendidikan, maka guru berkewajiban untuk memberikan yang terbaik bagi anak didik sehingga tujuan pendidikan dapat dicapai secara maksimal.&lt;br /&gt;Bagaimanapun, proses pendidikan dan pembelajaran membutuhkan orang-orang yang memahami secara baik konsep pendidikan dan pembelajar-an yang dilakukan. Kita tidak mungkin mempercayakan proses pendidikan dan pembelajaran pada orang-orang yang tidak mempunyai kemampuan sebagaimana yang dituntut sebagai guru.&lt;br /&gt;Tuntutan agar guru benar-benar dapat menempatkan diri sebagai agen pendidikan merupakan aktualisasi dari tugas dan kewajiban guru itu sendiri. Hal ini menunjukkan betapa sebenarnya profesi sebagai guru adalah profesi khusus yang tidak semua orang dapat menjalaninya secara baik. Tidak semua orang dapat menjadi guru yang agen pendidikan, walaupun siapapun dapat saja menjadi guru, pengajar.&lt;br /&gt;Ya, sebenarnya tidak semua orang dapat menjadi guru secara utuh sebab tuntutan profesi yang sedemikian rupa sehingga kemampuan diri merupakan salah satu kondisi yang harus dimiliki oleh orang-orang yang berkeinginan menjadi guru. Boleh saja orang - orang yang mempunyai kemampuan intelektual tinggi mengambil profesi sebagai guru, tetapi tidak semua orang intelek dapat menjadi guru. Ada syarat atau kondisi khusus yang harus dimiliki oleh seseorang ketika memutuskan menjadi seorang guru. Kondisi khusus yang dimaksudkan adalah kemampuan pada penguasaan emosional diri, kemampuan mengelola proses dan tentunya saja kemampuan penguasaan konsep-konsep pendidikan itu sendiri.&lt;br /&gt;Untuk hal tersebut, maka seseorang yang memutuskan untuk menjadi seorang guru harus selalu meningkatkan kemampuan dirinya dengan secara terus menerus dan sistematis. Dengan peningkatan kemampuan diri ini, maka proses pembelajaran yang dilakukannya dapat maksimal.&lt;br /&gt;Kemampuan yang dimiliki oleh seorang guru adalah bekal yang paling utama dalam pelaksanaan tugas dan kewajiban secara nurani. Bahwa proses pendidikan dan pembelajaran sebenarnya merupakan proses transfer kemampuan yang dimiliki oleh seseorang (guru) kepada orang lainnya (anakdidik).  Transfer hanya dapat dilakukan jika guru mempunyai kelebihan dibandingkan anak didik. Hal ini terkait pada kenyataan bahwa aliran hanya dapat terjadi jika ada perbedaan di antara dua pihak atau banyak pihak. Seperti air sungai, hanya dapat mengalir karena adanya prbedaan tinggi permukaan tanah. Listrik hanya dapat mengalir jika terdapat perbedaan potensial dari sumber listrik dan yang lainnya. Tanpa perbedaan tersebut, maka akan terjadi keseimbangan sehingga menjadikan segala tenang.&lt;br /&gt;Proses pendidikan sebenarnya upaya untuk mengubah dan itu artinya kita selalu berusaha menghilangkan keseimbangan antara sumber dan pemakainya. Dengan ketidakseimbangan kondisi anak didik tersebut, maka kita dapat melakukan proses pendidikan pada anak didik. Dan, disinilah peranan guru sebagai agen pendidikan akan terasa lebih dan memegang peranan tertinggi. Dengan ketidakseimbangan tersebut, maka akan terjadi upaya secara terus menerus untuk menyeimbangkan kondisi dengan melalui proses belajar. Dan, guru adalah agen utama yang menjadi pelaku utama proses dan anak didik adalah subyek belajar yang menerima dan memiliki semua yang diberikan oleh guru untuk dimanfaatkan sebagai bekal hidupnya.&lt;br /&gt;Sebagai agen pendidikan, maka guru sudah seharusnya menyadari posisinya secara baik dan melaksanakan tugasnya sebaik-baiknya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-4879508511716102366?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/4879508511716102366/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=4879508511716102366' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/4879508511716102366'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/4879508511716102366'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2009/06/agen-pendidikan.html' title='Agen Pendidikan'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-5278603523342586254</id><published>2009-06-23T05:43:00.000-07:00</published><updated>2009-06-23T05:44:09.599-07:00</updated><title type='text'>Bagaimana Sebaiknya Berprofesi Sebagai Guru</title><content type='html'>Setelah kita mengkaji banyak hal terkait profesi guru yang menjadi pekerjaan kita, maka setidaknya kita memahami bahwa menjadi seorang guru merupakan pilihan hidup yang tepat bagi kita. Kita telah memposisikan diri sebagai seorang guru dan telah siap menghadapi segala konsekuensi atas profesi tersebut.&lt;br /&gt;Sebagai seorang guru, kita diharapkan dapat berperan sebaik-baiknya bagi kehidupan, khususnya bagi anak didik. Hal ini karena anak didik selalu berharap agar mendapatkan pencerahan, bimbingan, arahan, dan pendam-pingan dari guru pada saat belajar. Anak didik, bahkan orangtuanya merasa yakin dan percaya pada guru atas proses pendidikan dan pembelajaran untuk kehidupan masa depan.&lt;br /&gt;Sejak awal, masyarakat, dalam hal ini orangtua siswa, sangat mem-percayai guru untuk membimbing, mengarahkan, mendidik dan mengajar anak-anaknya. Mereka berkeinginan agar anak dapat memperoleh pening-katan kualitas diri. Hal ini sebagai kompensasi atas keterbatasan orangtua yang tidak dapat melaksanakan tugas dan kewajiban mendidik dan mengajar anak-anaknya.&lt;br /&gt;Hal lain yang menjadi alasan adalah kesempatan yang sedikit dari orangtua untuk mendidik dan mengajari anak-anaknya secara maksimal. Para orangtua cenderung lebih sibuk pada tugasnya sebagai pekerja atau pencari uang bagi keluarganya. Orangtua sekarang, baik ayah atau ibu disibukkan oleh pekerjaan sehingga tidak dapat mendidik anak-anaknya secara langsung, apalagi mengajar. Oleh karena itulah, maka mereka mem-percayakan kepada sekolah, dalam hal ini guru untuk melaksanakan tugas tersebut.&lt;br /&gt;Tentunya, kepercayaan yang diberikan orangtua kepada sekolah, guru tidak sekedar kepercayaan semata. Kepercayaan tersebut pada kelanjutnya menuntut guru agar dapat menjadikan anak-anak sebagai orang-orang berpotensi. Potensi yang dimiliki anak adalah kemampuan yang menjadikan anak didik sebagai orang-orang yang dapat menghadapi hidup dengan baik. Pendidikan diharapkan dapat menjadikan anak-anak sebagai pribadi yang mampu mandiri, kreatif, inovatif dan percaya pada kemampuan yang di-milikinya.&lt;br /&gt;Dan, guru adalah sosok yang sangat diharapkan dapat mewujudkan keinginan orangtua tersebut. Guru diharapkan dapat menjadikan anak-anak sebagaimana harapan orangtua. Dengan kemampuan yang dimiliki, maka guru harus melaksanakan tugas dan kewajiban tersebut sebagai konsekuensi logis dari profesinya.&lt;br /&gt;Untuk hal tersebut, maka beberapa hal harus dilakukan oleh guru agar proses pendidikan dan pembelajaran yang dipercayakan padanya dapat berjalan lancar dan efektif. Bagaimana sikap guru di dalam menghadapi kondisi ini akan mencerminkan sikap dan respon guru terhadap profesinya sendiri. Untuk itu, maka guru haruslah dapat mengkondisikan dirinya sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Mengembangkan kemampuan diri secara signifikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang kepercayaan dari masyarakat, maka sudah seharusnya guru mengimbanginya dengan kualitas pelayanan yang maksimal. Kegiat-an belajar yang dilaksanakan oleh guru di sekolah adalah bentuk pelayan-an tuntas bagi anak-anak. Dengan pelayanan tuntas ini, maka diharapkan masyarakat mendapatkan pelayanan terbaik.&lt;br /&gt;Dan, pengembangan kualitas drii bagi guru merupakan kebutuhan pribadi yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Kualitas diri bagi guru adalah kondisi minimal yang harus dimiliki oleh guru agar dapat melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai fasilitator pendidikan. Dapat kita bayangkan, apa yang terjadi seandainya para guru tidak mempunyai kualitas sesuai dengan kebutuhan profesinya?!&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, sebagai orang-orang yang berprofesi sebagai guru, maka kualitas diri adalah syarat utama yang harus dimiliki guru agar dapat melaksanakan tugasnya. Profesi guru terkait dengan transfer kompetensi sehingga hal tersebut jelas menuntut guru berkompetensi lebih setiap saat. Guru harus selalu berusaha mengembangkan kompetensi dengan banyak membaca, belajar dan hal-hal lain yang dapat menambah kompetensinya.&lt;br /&gt;Dalam dunia pendidikan, pengembangan kompetensi guru meliputi kemampuan intelek, kemampuan sosial ataupun kemampuan skill di dalam prosesnya. Dunia pendidikan memang mneuntut para pelakunya untuk selalu berada pada kondisi maksimal. Guru harus membekali diri sebelum melaksanakan tugas dan kewajibannya. Untuk itulah, maka guru harus menyusun program pembelajaran dengan sebaik-baiknya agar pada saat melaksanakan kegiatan, semua terlaksana dengan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;Masyarakat membutuhkan proses pendidikan dan pembelajaran yang selalu tanggap terhadap setiap kondisi kehidupan. Masyarakat berharap bahwa segala hal yangd ilakukan di sekolah merupakan pembekalan anak terhadap kehidupannya di masyarakat. Masyarakat menginginkan bahwa setelah mengikuti proses pendidikan dan pembelajaran, maka anak didik dapat menjadi pribadi-pribadi unggul dengan kompetensi maksimal. Bagi masyarakat, sekolah dengan proses pendidikan dan pembelajaran adalah kawah candradimuka bagi anak-anak masa depan dan sebagai fasilitator-nya adalah guru.&lt;br /&gt;Untuk hal tersebut, kesadaran guru untuk terus belajar merupakan konsekuensi logis dari profesinya. Dan, hal tersebut bukan lagi sekedar sebagai keinginan, melainkan kebutuhan yang tidak dapat dielakkan. Guru harus intelek, terampil dan mempunyai nilai-nilai positif diri yang dapat digugu dan ditiru.&lt;br /&gt;Agar dapat menjadi guru yang professional, maka setidaknya guru harus memahami tugas dan kewajibannya serta melaksanakan segala tugas dan kewajiban tersebut dengan sebaik-baiknya. Masyarakat mem-butuhkan guru yang professional, guru yang memahami dan mampu melaksanakan tugas secara maksimal dengan memanfaatkan segala sarana pembelajaran yang ada, baik di sekolah maupun di lingkungan sekolah.&lt;br /&gt;Sebagai sebuah profesi, maka semua guru seharusnya melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan sepenuh hati serta menerapkan skala ketercapaian program sebagai tolak ukur keberhasilan. Tidak asal-asalan melaksanakan kegiatan belajar semata. Guru juga harus dapat mengem-bangkan kreativitasnya berdasarkan segala sarana yang ada di sekolahnya sehingga benar-benar efektif. Dengan langkah seperti ini, maka konsep bahwa profesi guru sebagai menara emas benar-benar menjadikan profesi guru sebagai kegiatan yang banyak memberikan penghargaan dan kebaik-an bagi semua pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Ing Ngarso sung Tulodho, Ing madya Mbangun Karsa, Tut Wuri Handayani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peranan guru di dalam proses pendidikan dan pembelajaran memang dapat dikatakan ada di segala posisi dan saat. Hal ini sebagai konsekuensi logis dari tugas dan kewajiban untuk meningkatkan kualitas diri anak didik sebagai generasi penerus bangsa.&lt;br /&gt;Posisi guru pada awalnya adalah pusat dari proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Bahwa setiap aspek pendidikan dan pembel-ajaran adalah dibawah kendali guru. Berhasil dan tidaknya proses pen-didikan dan pembelajaran tergantung pada guru. Segala-galanya di-gantungkan pengharapan pada guru. Jika gurunya berkualitas, maka proses pendidikan dan pembeljaran data maksimal, tetapi jika gurunya kurang berkualitas, tentunya hal tersebut menjadi kendala tersendiri bagi pencapaian tujuan pendidikan dan pembelajaran.&lt;br /&gt;Kualitas guru memang sangat menentukan tingkat pencapaian tujuan belajar sebab saat sekarang guru tidak lagi menjadi pusat melainkan sebagai fasilitator dari proses pendidikan dan pembelajaran. Guru tidak lagi secara aktif menguasai proses pendidikan dan pembelajaran. Guru hanya memfasilitasi proses belajar anak didik.&lt;br /&gt;Tetapi, meskipun demikian, justru sebagai fasilitator, maka peranan guru sebagaimana konsep yang diutarakan oleh Ki hajar Dewantara, bahwa di dalam proses pendidikan dan pembelajaran, seorang guru mengambil posisi dan tugas pada setiap posisi, yaitu Ing ngarsi Sung Tulodho, Ing madya Mbangun Karsa dan Tut Wuri Handayani. Di depan, Guru memberi contoh segala hal terbaik yang harus ditiru oleh anak didik sehingga kehidupannya menjadi lebih baik. Sementara, saat guru berada di bagian tengah, maka dia harus dapat membangun semangat, keinginan untuk mengembangkan diri. Posisi ini menjadikan guru sebagai motivator kegiatan anak didik. Dan, pada saat guru berada pada bagian belakang, maka guru ikut menjaga agar segala yang sudah dicapai dapat diper-tahankan dan bertahan sebagai hasil kegiatan. Dengan menerapkan tiga konsep dasar ini, maka peranan guru sebagai fasilitator kegiatan pen-didikan dan pembelajaran dapat terlaksanakan sebagaimana mestinya.&lt;br /&gt;Di dalam kehidupan ini, seorang guru adalah sosok ideal yang selalu menjadi mercu suar dan memberi arah yang benar bagi anak didik dan semua orang yang ada di sekitarnya. Begitu pentingnya guru bagi ke-hidupan sehingga mereka diposisikan pada kedudukan yang dimuliakan.&lt;br /&gt;Guru itu sosok yang memberi teladan (tulodho). Sosok yang jika melakukan sesuatu, maka yang dilakukan tersebut dapat dijadikan sebagai norma atau standar kegiatan, hidup di masyarakat. Segala yang dilakukan guru dijadikan sebagai standar hidup.&lt;br /&gt;Selanjutnya, di dalam kehidupan bermasyarakat, guru menjadi sosok yang mampu membangkitkan semangat bagi semua orang. Jika seorang guru mengatakan sesuatu, maka anak didiknya akan melaksanakan dengan sepenuh hati. Bahkan ketika ada anak didik yang kehilangan semangat hidup dan mendapatkan pencerahan dari guru, maka spontan bangkit dan hidup.&lt;br /&gt;Begitu pentingnya posisi guru bagi kehidupan anak didik dan masyarakat secara umum, sehingga jika guru memotivasi, maka dengan segera anak didik terbangkitkan, bahkan di dalam kegiatan-kegiatan yang ada di masyarakat, maka di dalamnya selalu terdapat sosok guru yang akan mendampingi dan menyemangati anak-anak atau orang-orang agar kegiatan dapat berjalan lancar, terlaksana dengan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;Pole kehidupan guru memang memposisikan guru sebagai sosok yang selalu aktif melakukan aktivitas, meskipun tidak secara langsung me-lakukan perubahan signifikan pada kehidupan anak didik atau seseorang. Seringkali guru hanya memfasilitasi suatu kondisi dan selanjutnya yang melakukan kegiatan aktif adalah anak didik atau orang-orang yang ada di sekitar kehidupannya.&lt;br /&gt;Sebagai seorang guru, kita dapat menghindari berbagai tugas dan kewajiban yang sedemikian luas, tidak hanya pada skope sempit di kelas, melainkan di masyarakat. Wilayah kerja guru memang tidak hanya dibatasi oleh ruangan empat dinding di sekelilingnya, melainkan di setiap sudut dunia, kehidupan ini. Oleh karena itulah, jika sudah memutuskan untuk menjalani profesi sebagai guru, maka setiap saat, dimana saja dan pada siapa saja, dengan siapa saja, kita harus siap memberikan proses belajar. Itulah sebenarnya tugas guru di dalam kehidupan ini, menjadi mercu suar yang membimbing dan mengarahkan semua orang pada jalan yang benar.&lt;br /&gt;Profesi guru memposisikan seseorang untuk selalu berada pada kondisi maksimal, artinya setiap kali ada anak didik atau orang yang datang dan ingin mendapatkan pembelajaran, maka pada saat tersebut guru harus dapat memberikan hal terbaik bagi mereka. Dan, yang penting adalah bahwa setiap materi yang diberikan kepada anak didik atau orang-orang adalah hal-hal yang logis dan dapat diterapkan di dalam kehidupan bermasyarakat.&lt;br /&gt;Begitulah seharusnya seseorang yang memutuskan untuk menjadi seorang guru agar eksistensinya diakui dan terus berjaya dalam kehidup-an. Profesi guru adalah profesi universal dalam tugas dan kewajibannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-5278603523342586254?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/5278603523342586254/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=5278603523342586254' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/5278603523342586254'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/5278603523342586254'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2009/06/bagaimana-sebaiknya-berprofesi-sebagai.html' title='Bagaimana Sebaiknya Berprofesi Sebagai Guru'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-3663827443615596472</id><published>2009-06-23T05:14:00.000-07:00</published><updated>2009-06-23T05:35:36.154-07:00</updated><title type='text'>Relevansi Paket C</title><content type='html'>Setiap tahun, setelah proses pengumuman anak kelas tiga yang mengikuti ujian nasional, maka secara spontan, Pendidikan Luar Sekolah (PLS) mengumumkan untuk penerimaan siswa gagal ujian untuk mengikuti ujian yang diselenggarakan oleh program tersebut. Tentu saja nantinya ijasah yang diterimakan kepada siswa adalah ijasah Paket C, ijasah setara SLTA.&lt;br /&gt;Begitu juga halnya dengan anak-anak sekolah kejuruan. Mereka yang mengalami kegagalan saat mengikuti ujian nasional diberikan kesempatan untuk mengikuti ujian nasional untuk mendapatkan ijasah Paket C. Mereka tidak perlu mengikuti kegiatan pembelajaran sebagaimana anak didik reguler untuk program Paket C. Kita tahu bahwa rata-rata peserta program ini adalah mereka yang sudah berumur tetapi tidak mempunyai ijasah sebagaimana tuntutan tempat kerja, rata-rat peserta didiknya adalah mereka yang sudah bekerja.Tentgunya hal ini merupakan pemenuhan atas tuntutan perusahaan atau kantor atas posisi kerja mereka. Tetapi bagaimana dengan anak-anak yang baru tidak lulus?&lt;br /&gt;Mereka menempuh pendidikan dan belajar di sekolah kejuruan adalah untuk mempersiapkan diri agar mempunyai kompetensi yang siap dijadikan sebagai berkas pendukung pekerjaan. Tetapi ketika mereka gagal di dalam proses ujian nasional, maka selanjutnya mereka berada pada ambang keraguan yang amat sangat.Mereka tidak tahu apakah harus meneruskan ataukah mengikuti ujian Paket C yang ditawarkan kepada mereka.&lt;br /&gt;Tentunya dalam kondisi seperti ini, guru mempunyai kewajiban untuk memberikan pandangan tentang program tersebut. Dan, oleh guru secara maksimal disarankan untuk mengulang sekolah saja agar tidak terjadi perbedaan antara kompetensi dengan ijasah yang didapatkan. Tetapi sebagai program pemerintah, maka guru tetap harus memberikan penjelasan, yang kadang tidak sesuai dengan kondisi agar anak didik ikut program Paket C ini. Misalnya, relevansi ijasah Paket C dengan kesempatan mendapatkan pekerjaan yang layak bagi kehidupan mereka.&lt;br /&gt;oleh karena itulah, seharusnya Pengelola program Paket C ini melakukan langkah konkrit dengan sosialisasi ke tempat-tempat, sekolah-sekolah sehingga secara gamblang semua mengetahui relevansi dan keterpakaian ijasah Paket C dalam kehidupan agar tidak ada kengambangan respon terhadap program ini. Selama ini yang terjadi adalah pengelola program ini hanya menunggu bola, kurang sosialisasi ke amsyarakat pendidikan, khususunya sehingga terlihat sepi..&lt;br /&gt;Kalau kegagalan anak didik dalam ujian nasional adalah pada 3 bidang, BBM ( Bahasa Bahasa dan Matematika) mungkin mengikuti ujian Paket C masih relevan. tetapi ketika anak didik mengalami kegagalan di Uji teopri kejuruan, apakah relevansinya ujian Paket C, sebab anak didik yang gagal darti sekolah kjeuruan ternyata dikelompokkan pada sekolah umum  kelompok IPA, yang salah satunya ada Biologi. Kalau anak didik yang gagal adalah dari sekolah kejuruan progarm keahlian mesin, apa relevansinya mesin dengan Biologi?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-3663827443615596472?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/3663827443615596472/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=3663827443615596472' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/3663827443615596472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/3663827443615596472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2009/06/relevansi-paket-c.html' title='Relevansi Paket C'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-3284920478665765693</id><published>2009-06-12T06:08:00.000-07:00</published><updated>2009-06-12T06:15:43.769-07:00</updated><title type='text'>Deg degan yang semakin mendebarkan...</title><content type='html'>Pada saat-saat sekarang ini, perasaan dan hati anak-anak kelas tiga sudah sedemikian rupa sehingga seperti api lilin yang diterjang angin.... mobat mabit!&lt;br /&gt;Setelah mengikuti proses Ujian nasional yang sangat menyiksa dan membuat jantung berdenyut-denyut sebab kekawatiran tidak mampu menjawab persoalan, sekarang harus dibuat kawatir lagi sebab pengumuman yang tidak juga kunjung datang. Padahal programnya ada tanggal 12 Juni, hari ini, tetapi ternyata  sampai jam segini belum juga ada kabarnya.&lt;br /&gt;Eh... ternyata sebelumnya udah tersiar kabar bahwa ada sekolah yang anak-anaknya seratus persen tidak lulus, padahal belum saatnya pengumuman. Dari siapa ya mereka tahu? Dan, anehnya lagi, mereka diperbolehkan ujian ulang! Ini apa namanya?&lt;br /&gt;Kalau memang yang tidak lulus dapat ujian ulang, kenapa tebang pilih seperti ini? Jika ada yag tidak lulus harus ujian ulang, maka secara keseluruhan harusnya boleh mengeikuti ujian ulang dan bukan mengikuti ujian Paket C! Bagaimana ya???&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-3284920478665765693?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/3284920478665765693/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=3284920478665765693' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/3284920478665765693'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/3284920478665765693'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2009/06/deg-degan-yang-semakin-mendebarkan.html' title='Deg degan yang semakin mendebarkan...'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-8127007813842846547</id><published>2009-06-09T01:26:00.001-07:00</published><updated>2009-06-09T01:31:52.670-07:00</updated><title type='text'>Mojokerto Kedatangan Wakil Presiden</title><content type='html'>Pagi masih basah embun, saat aku berangkat kerja. Aku melajukan sepeda motorku di atas jalan aspal yang sudah mulai berjerawat sebab beberapa tempat ada lobangnya.&lt;br /&gt;Aku tidak tahu, sepanjang tepian jalan ternyata ada banyak anak sekolah yang diberdirikan berjajar. Beberapa orang guru menggiring anak-anaknya sehingga menempati tempatnya. Anak-anak dilengkapi dengan bendera kecil yang dikibar-kibarkan agar berkibar sebab angin tak mungkin mengibarkan bendera kecil itu.&lt;br /&gt;Baru, ketika aku menempuh tiga desa di kecamatanku, aku mengetahui bahwa pabrik gula di sebelah kampungku akan kedatangan tamu pembesar negeri ini, Bapak Wakil Presiden.... Tidak aneh jika sepanjang tepian jalan tadi banyak para polisi dan tentara yang siap siaga...&lt;br /&gt;Ternyata.... masih saja perlu penyambutan oleh anak-anak dan orang-orang untuk pembesar.... selamat datang Bapak wakil Presiden....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/260858359447552524-8127007813842846547?l=oborpendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/feeds/8127007813842846547/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=260858359447552524&amp;postID=8127007813842846547' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/8127007813842846547'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/260858359447552524/posts/default/8127007813842846547'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oborpendidikan.blogspot.com/2009/06/mojokerto-kedatangan-wakil-presiden.html' title='Mojokerto Kedatangan Wakil Presiden'/><author><name>penulis mojokerto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17743882572178203207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_cSaa_5UOXYs/TM4-ky9wKLI/AAAAAAAAAJI/U8WY3-MiPeI/S220/101030-103242.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-260858359447552524.post-6816039430691144818</id><published>2009-06-09T01:08:00.000-07:00</published><updated>2009-06-09T01:24:41.271-07:00</updated><title type='text'>Persiapan Kelulusan Kelas III</title><content type='html'>Rasanya, kita sekarang ini seperti telor di ujung tanduk atau kandungan yang sudah mencapai usia 9 bulan lebih. Sebentar lagi bakalan melahirkan atau kelahiran.Anak kelas tiga memang merupakan telor atau kandungan yang sudah siap-siap pecah dan menetaskan generasi baru yang tentunya diharapkan mempunyai tingkat kualitas yang benar-benar berbeda dengan yang sebelumnya.&lt;br /&gt;Sekarang ini sudah tanggal 9 Juni 2009, sementara menurut program kegiatan telah dicantumkan bahwa pengumuman kelulusan kelas III SMK atau SLTA adalah tanggal 12 Juni 2009, kurang 3 hari lagi! Sudah siapkah hati kita masing-masing mendapakan kenyataan yang bakal terasji di meja makan kita??! Sudah siapkah kita menghadapi kondiis terburuk, hidangan terburuk dari proses Ujian Nasional yang sepanjang waktu selalu menjadi pergunjingan tiada habis, tetapi tetap saja dilaksanakan sebagai upaya untuk mendongkrak kualitas pendidikan di negeri ini. Eh, ternyata yang terjadi sangat jauh dari harapan. Alih-alih meningkatkan kualitas pendidikan, ternyata UJian NAsional tersebut telah menciptakan satu fenomena baru dalam dunia pendidikan! Fenomena yang justru menjijikkan bagi dunia pendidikan yang notabene merupakan dunia nilai positif bagi kehidupan.&lt;br /&gt;Kita melihat dan mendengar bahwa pada tahun ini di daerah Ngawi dan Madiun ada dikabarkan ada sekolah yang muridnya tidak lulus 100% (padahal pengumuman kelulusan 
