Pendidikan kejuruan diarahkan untuk menghasilkan tenaga kerja dengan tingkat kompetensi sesuai kebutuhan masyarakat industri.Berbagai cara dilakukan oleh sekolah untuk dapat mewujudkan tujuan pendidikan dan pembelajaran tersebut.
Pendidikan kejuruan yang dilaksanakan di sekolah memberikan dan melakukan proses pembelajaran praktek yang didalamnya diisi dengan keterampilan aplikatif. Ketrampilan inilah yang sesungguhnya menjadi harapan untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia di masyarakat.
Salah satu langkah konkrit yang dapat menjadi acuan untuk perbaikan upaya peningkatan kualitas adalah dengan menghadirkan perusahaan di sekolah. Dalam hal ini yang kita hadirkan ke sekolah dapat berupa pekerjaan, personil atau kondisi perusahaan.KOndisi kerja yang ada di perusahaan kita bawa ke sekolah sehingga anak-anak terbiasa dengan kondisi tersebut.
Atau perusahaan memberikan beberapa pekerjaan kepada sekolah untuk dikerjakan oleh anak-anak pada saat melakukan pembelajaran praktek di bengkel sekolah. Dengan demikian, maka anak-anak terbiasa melakukan kegiatan dengan kualitas perusahaan. Hal ini sangat penting agar pada saat anak didik menyelesaikan pendidikan, mereka sudah mempunyai kualifikasi kompetensi sebagaimana yang dibutuhkan perusahaan.
Masalahnya sekarang adalah, kapankah perusahaan mau memasuki sekolah-sekolah kejuruan untuk berbagi kompetensi pendidikan dan persiapan anak didik menjadi sumber daya manusia indonesia yang benar-benar dapat meningkatkan kualitas bangsa di pergaulan masyarakat dunia....
Pendidikan manusia seutuhnya memungkinkan terciptanya manusia-manusia berimbang. Obor pendidikan berusaha menjembatani dan memberikan penerangan dan penghangatan dunia pendidikan
Minggu, 08 November 2009
Minggu, 01 November 2009
Bawa Anak didik ke perusahaan
Pembelajaran keterampilan merupakan satu aspek penting agar anak didik benar-benar mampu menguasai kompetensi keahliannya secara maksimal. Dengan pembelajaran keterampilan, maka anak didik mendapatkan bekal keterampilan terkait dengan keahliannya. Hal ini sangat penting dalam kehidupan anak setelah menyelesaikan masa belajar di sekolah.
Proses ini, jika hanya mengandalkan sarana yang ada di sekolah, tentunya terpaut jauh dengan kebutuhan di masyarakat industri. Oleh karena itulah, maka sekolah harus mengambil inisiatif untuk membawa anak didik ke perusahaan, ke masyarakat industri sehingga mereka mengetahui secara pasti apa dan bagaimana sesungguhnya yang dibutuhkan oleh masyarakat atas keahlian yang mereka pelajari.
Secara periodek, sekolah harus menyusun program sehingga ada jembatan penghubung efektif sekolah dengan masyarakat, apalagi jika ternyata mampu menjadi jembatan untuk mewujudkan tujuan belajar, yaitu generasi pencipta kerja dan bukan sekedar mencari pekerjaan..
Proses ini, jika hanya mengandalkan sarana yang ada di sekolah, tentunya terpaut jauh dengan kebutuhan di masyarakat industri. Oleh karena itulah, maka sekolah harus mengambil inisiatif untuk membawa anak didik ke perusahaan, ke masyarakat industri sehingga mereka mengetahui secara pasti apa dan bagaimana sesungguhnya yang dibutuhkan oleh masyarakat atas keahlian yang mereka pelajari.
Secara periodek, sekolah harus menyusun program sehingga ada jembatan penghubung efektif sekolah dengan masyarakat, apalagi jika ternyata mampu menjadi jembatan untuk mewujudkan tujuan belajar, yaitu generasi pencipta kerja dan bukan sekedar mencari pekerjaan..
Jumat, 23 Oktober 2009
Kerjasama Kewirausahaan
Sekolah Menengah kejuruan sebagai institusi penyelenggara pendidikan dan sekaligus pelatihan anak didik mempunyai kewajiban untuk memberikan bekal life skill pada anak didiknya. hal ini meurpakan jawaban atas kondisi lulusan sekolah, dunia pendidikan yang selama ini dianggap masih jauh dari tuntutan jaman.
Selama masyarakat menganggap dan dapat kita lihat dari kenyataan di lapangan bahwa anak-anak lulusan sekolah menengah, mungkin termasuk sekolah kejuruan, belum dapat menjawab masalah yang timbul dan tumbuh dalam masyarakat. Padahal seperti yang kita ketahui, proses pembelajaran merupakan proses penguasaan atas beberapa kompetensi yang aplikatif untuk kehidupan.Dan hal inilah yang menjadi alasan utama para orang tua mengirimkan anak-anaknya untuk mengikuti proses pendidikan di sekolah.
Untuk menciptakan kondisi tersebut, maka secara nyata sekolah tidak dapat mengatasinya sendirian. Terlalu luas bidang yang harus ditangani dan diselesaikan jika sekolah juga harus memikirkan kelanjutan dari proses pendidikan anak didik. Artinya, sekolah mempersiapkan anak-anak untuk penguasaan kompetensi aplikatif, sementara bagaimana anak mendapatkan tempat untuk menerapkan kompetensi tersebut adalah di masyarakat. Sekolah mempersiapkan anak didik sehingga mempunyai kompetensi yang layak dan di masyarakat kompetensi tersebut diterapkan oleh anak didik.
Sebagai sekolah kejuruan, maka SMK selain menangani masalah pembelajaran teknis, praktik di sekolah, juga berkewajiban untuk membuka link sekolah dengan masyarakat sebagai jembatan mengantarkan anak-anak ke tempat seharusnya. Oleh karena itulah, maka sekolah harus membuat kerjasama dengan masyarakat terkait dengan kompetensi anak didik. Bentuk kerjasama ini adalah kerjasama kewirausahaan. Kerjasama kewirausahaan diharapkan dapat memberikan kesempatan luas kepada anak didik dan sekolah untuk mendapatkan berbagai pekerjaan yang dapat meningkatkan kompetensi dirinya.
Misalnya dalam hal ini, sekolah bekerjasama dengan perusahaan untuk menjadi sub kerja, rekanan dalam mengerjakan sebagian dari pekerjaan pabrik untuk dikerjakan di sekolah. Pabrik memberikan beberapa pekerjaan kepada sekolah dan selanjutnya sekolah emmebrikan pekerjaan tersebut kepada anak didik untuk dikerjakan pada saat pembelajaran praktik atau pada saat proses pembelajaran selesai.
Kerjasama kewirausahaan memang sangat perlu diwujudkan oleh sekolah sehingga konasep bahwa sekolah kejuruan menerapkan dual sistem pendidikan dan pembelajaran benar-ebnar terpenuhi.
Tentunya dalam hal ini dibutuhkan situasi dan kondisi yang kondusif atas kerjasama yang dibentuk sehingga benar-benar menjadi kerjasama yang mutualisme. Masing-amsing pihak mendapatkan manfaat sebenar-besarnya dari kerjasama tersebut dan bukan memperbudak yang satu atas satunya.
Siapkah para pemilik modal memasuki dunia pendidikan dan memberikan sedikit pekerjaan untuk sekolah dan dikerjakan oleh anak didik?
Selama masyarakat menganggap dan dapat kita lihat dari kenyataan di lapangan bahwa anak-anak lulusan sekolah menengah, mungkin termasuk sekolah kejuruan, belum dapat menjawab masalah yang timbul dan tumbuh dalam masyarakat. Padahal seperti yang kita ketahui, proses pembelajaran merupakan proses penguasaan atas beberapa kompetensi yang aplikatif untuk kehidupan.Dan hal inilah yang menjadi alasan utama para orang tua mengirimkan anak-anaknya untuk mengikuti proses pendidikan di sekolah.
Untuk menciptakan kondisi tersebut, maka secara nyata sekolah tidak dapat mengatasinya sendirian. Terlalu luas bidang yang harus ditangani dan diselesaikan jika sekolah juga harus memikirkan kelanjutan dari proses pendidikan anak didik. Artinya, sekolah mempersiapkan anak-anak untuk penguasaan kompetensi aplikatif, sementara bagaimana anak mendapatkan tempat untuk menerapkan kompetensi tersebut adalah di masyarakat. Sekolah mempersiapkan anak didik sehingga mempunyai kompetensi yang layak dan di masyarakat kompetensi tersebut diterapkan oleh anak didik.
Sebagai sekolah kejuruan, maka SMK selain menangani masalah pembelajaran teknis, praktik di sekolah, juga berkewajiban untuk membuka link sekolah dengan masyarakat sebagai jembatan mengantarkan anak-anak ke tempat seharusnya. Oleh karena itulah, maka sekolah harus membuat kerjasama dengan masyarakat terkait dengan kompetensi anak didik. Bentuk kerjasama ini adalah kerjasama kewirausahaan. Kerjasama kewirausahaan diharapkan dapat memberikan kesempatan luas kepada anak didik dan sekolah untuk mendapatkan berbagai pekerjaan yang dapat meningkatkan kompetensi dirinya.
Misalnya dalam hal ini, sekolah bekerjasama dengan perusahaan untuk menjadi sub kerja, rekanan dalam mengerjakan sebagian dari pekerjaan pabrik untuk dikerjakan di sekolah. Pabrik memberikan beberapa pekerjaan kepada sekolah dan selanjutnya sekolah emmebrikan pekerjaan tersebut kepada anak didik untuk dikerjakan pada saat pembelajaran praktik atau pada saat proses pembelajaran selesai.
Kerjasama kewirausahaan memang sangat perlu diwujudkan oleh sekolah sehingga konasep bahwa sekolah kejuruan menerapkan dual sistem pendidikan dan pembelajaran benar-ebnar terpenuhi.
Tentunya dalam hal ini dibutuhkan situasi dan kondisi yang kondusif atas kerjasama yang dibentuk sehingga benar-benar menjadi kerjasama yang mutualisme. Masing-amsing pihak mendapatkan manfaat sebenar-besarnya dari kerjasama tersebut dan bukan memperbudak yang satu atas satunya.
Siapkah para pemilik modal memasuki dunia pendidikan dan memberikan sedikit pekerjaan untuk sekolah dan dikerjakan oleh anak didik?
Kamis, 15 Oktober 2009
Program Magang di Perusahaan
Sebenarnya, ada banyak cara untuk dapat memberikan bekal keterampilan aplikatif bagi anak didik sehingga mereka benar-benar siap menghadapi kehidupan ini.Jika di sekolah anak didik mendapatkan proses pembelajaran yang berisi keterampilan sesuai dengan program keahlian yang diikuti, maka hal tersebut seharusnya ditindaklanjuti dengan penerapan keterampilan dalam masyarakat.
Tentunya, program sekolah sudah jelas bahwa selain harus mengerjakan barang-barang di bengkel sekolah, anak didik juga harus melakukan kegiatan nyata di masyarakat. Hal ini untuk memberikan kondisi pada anak didik sehingga pada saatnya mereka tidak 'kaget' menghadapi kehidupan masyarakat yang tidak sama dengan angan-angan mereka.
Dalam angan anak-anak, ketika bersekolah, maka sekolah merupakan lingkungan yangs angat menyebalkan dan mereka tidak suka sehingga mereka lebih banyak menghabiskan waktu di masyarakat, dengan 'ngelimbung' tidak masuk kelas belajar saat jam belajar. Mereka tidak suka belajar saat di rumah sehingga banyak waktu dihabiskan untuk dolan dan rea reo kesana-kemari.
KOndisi ini sangat merugikan bagi anak didik dan masa depannya. Mereka bersekolah tetapi sama sekali tidak mendapatkan kemampuan, kompetensi yang diharapkan sebab memang tidak pernah masuk atau mengikuti proses belajar.Mereka lebih banyak berkeliaran di lingkungan masyarakat. Repotnya lagi, masyarakat sama sekali tidak melakukan tindakan saat melihat banyak anak yang berkeliaran di luar saat jam-jam belajar.Padahal mereka melihat secara langsung anak-anak yang berkeliaran di tempat-tempat umum pada saat jam pelajaran berlangsung di sekolah, dengan seragam sekolah!
Pada akhirnya, saat mereka lulus, dinyatakan lulus, maka yang terjadi adalah mereka kesulitan untuk berkiprah dalam masyarakat. Mereka tidak dapat mengambil peranan sebab mereka tidak mempunyai kemampuan seperti itu.
Oleh karena itulah, maka pada saat anak masih belajar, sekolah seharusnya memberikan kesempatan pada anak didik untuk ikut berperan dalam masyarakat dengan membuat program magang anak didik di masyarakat.Anak didik diberi kesempatan untuk mengikuti proses kerja tetapi dalam pengelolaan sekolah.
Sekolah membuat perjanjian dengan beberapa perusahaan untuk dapat menerima anak didiknya magang kerja sebagai langkah mempertajam pengalaman anak didik di lingkungan kerja dan kemampuan keahlian anak didik. Dalam hal ini, selanjutnya yang terpenting adalah bagaimana respon perusahaan dalam menghadapi program sekolah untuk magang kerja anak didiknya.... Maukah perusahaan secara besar hati menerima anak-anak yang, notabene masih jauh dari kemampuan yang diharapkan...
Tentunya, program sekolah sudah jelas bahwa selain harus mengerjakan barang-barang di bengkel sekolah, anak didik juga harus melakukan kegiatan nyata di masyarakat. Hal ini untuk memberikan kondisi pada anak didik sehingga pada saatnya mereka tidak 'kaget' menghadapi kehidupan masyarakat yang tidak sama dengan angan-angan mereka.
Dalam angan anak-anak, ketika bersekolah, maka sekolah merupakan lingkungan yangs angat menyebalkan dan mereka tidak suka sehingga mereka lebih banyak menghabiskan waktu di masyarakat, dengan 'ngelimbung' tidak masuk kelas belajar saat jam belajar. Mereka tidak suka belajar saat di rumah sehingga banyak waktu dihabiskan untuk dolan dan rea reo kesana-kemari.
KOndisi ini sangat merugikan bagi anak didik dan masa depannya. Mereka bersekolah tetapi sama sekali tidak mendapatkan kemampuan, kompetensi yang diharapkan sebab memang tidak pernah masuk atau mengikuti proses belajar.Mereka lebih banyak berkeliaran di lingkungan masyarakat. Repotnya lagi, masyarakat sama sekali tidak melakukan tindakan saat melihat banyak anak yang berkeliaran di luar saat jam-jam belajar.Padahal mereka melihat secara langsung anak-anak yang berkeliaran di tempat-tempat umum pada saat jam pelajaran berlangsung di sekolah, dengan seragam sekolah!
Pada akhirnya, saat mereka lulus, dinyatakan lulus, maka yang terjadi adalah mereka kesulitan untuk berkiprah dalam masyarakat. Mereka tidak dapat mengambil peranan sebab mereka tidak mempunyai kemampuan seperti itu.
Oleh karena itulah, maka pada saat anak masih belajar, sekolah seharusnya memberikan kesempatan pada anak didik untuk ikut berperan dalam masyarakat dengan membuat program magang anak didik di masyarakat.Anak didik diberi kesempatan untuk mengikuti proses kerja tetapi dalam pengelolaan sekolah.
Sekolah membuat perjanjian dengan beberapa perusahaan untuk dapat menerima anak didiknya magang kerja sebagai langkah mempertajam pengalaman anak didik di lingkungan kerja dan kemampuan keahlian anak didik. Dalam hal ini, selanjutnya yang terpenting adalah bagaimana respon perusahaan dalam menghadapi program sekolah untuk magang kerja anak didiknya.... Maukah perusahaan secara besar hati menerima anak-anak yang, notabene masih jauh dari kemampuan yang diharapkan...
Rabu, 14 Oktober 2009
Kebiasaan Bekerja
Dalam program pembelajaran di sekolah, khususnya sekolah kejuruan, anak didik dibiasakan untuk melakukan pekerjaan. jadi, anak didik diberikan tugas untuk menyelesaikan pekerjaan yang didapatkan dari amsyarakat atau diberikan oleh guru pembimbing kegiatan pembelajaran.
Kegiatan bekerja ini dilakukan secara utuh, yaitu mulai dari perencanaan kerja, pelaksanaan kerja sampai pada promosi dan penjualan benda kerja ke masyarakat. DEngan demikian, maka kemampuan anak didik tuntas dalam segala aspek.
Selama ini yang terjadi adalah anak didik mempunyai kemampuan untuk bekerja, sebab sudah mendapatkan pembelajaran praktik atau pembelajaran produktif, tetapi sama sekali tidak mampu untuk menjual kemampuan yang dimiliki tersebut.
Oleh karena itulah, untuk memupuk kebiasaan anak dalam bekerja, maka sekolah menciptakan suatu lingkungan yang membiasakan anak didik untuk bekerja. Setiap saat anak didik diberikan proses kerja pada barang-barang kebutuhan masyarakat.
Dengan demikian, maka setidaknya terbentuk satu kondisi di dalam diri anak didik bahwa mereka harus bekerja agar dapat bertahan dalam kehidupan. dan, keterampilan yang didapat selama melakukan kerja di sekolah inilah yang selanjutnya menjadi life skill dan brandingself di masyarakatnya.
Jika hal ini dapat kita lakukan, maka setidaknya kita mempunyai kontribusi terhadap kehidupan dengan keterampilan kita.
Oleh karena itulah, maka mulailah kita membiasakan anak didik untuk bekerja sesuai dengan keahlian masing-amsing.
Kegiatan bekerja ini dilakukan secara utuh, yaitu mulai dari perencanaan kerja, pelaksanaan kerja sampai pada promosi dan penjualan benda kerja ke masyarakat. DEngan demikian, maka kemampuan anak didik tuntas dalam segala aspek.
Selama ini yang terjadi adalah anak didik mempunyai kemampuan untuk bekerja, sebab sudah mendapatkan pembelajaran praktik atau pembelajaran produktif, tetapi sama sekali tidak mampu untuk menjual kemampuan yang dimiliki tersebut.
Oleh karena itulah, untuk memupuk kebiasaan anak dalam bekerja, maka sekolah menciptakan suatu lingkungan yang membiasakan anak didik untuk bekerja. Setiap saat anak didik diberikan proses kerja pada barang-barang kebutuhan masyarakat.
Dengan demikian, maka setidaknya terbentuk satu kondisi di dalam diri anak didik bahwa mereka harus bekerja agar dapat bertahan dalam kehidupan. dan, keterampilan yang didapat selama melakukan kerja di sekolah inilah yang selanjutnya menjadi life skill dan brandingself di masyarakatnya.
Jika hal ini dapat kita lakukan, maka setidaknya kita mempunyai kontribusi terhadap kehidupan dengan keterampilan kita.
Oleh karena itulah, maka mulailah kita membiasakan anak didik untuk bekerja sesuai dengan keahlian masing-amsing.
Senin, 12 Oktober 2009
Pekerjaan untuk Anak didik
Pada program dan proses pendidikan di sekolah kejuruan, anak didik dikondisikan untuk selalu melaksanakan kegiatan efektif, yaitu mengerjakan barang-barang untuk kebutuhan masyarakat. Barang-barang ini dikerjakan di bengkel sekolah sebagai bentuk pembelajaran kompetensi bagi anak didik.
Seperti kita ketahui, sejak tingkat satu, anak-anak sudah diberikan berbagai konsep dan pengetahuan tentang ketrampilan yang memungkinkan anak menguasai berbagai hal. Salah satunya adalah mengerjakan barang kebutuhan masyarakat.
Dalam kaitannya dengan peningkatan kualitas anak sebagai sumber daya manusia untuk perkembangan pola hidup yang lebih baik, maka pekerjaan untuk anak didik adalah hal terbaik dan harus diperhatikan oleh sekolah kejuruan.
Pada program pembelajaran di sekolah kejuruan, kita mengenal banyak program keahlian yang memberikan keterampilan bagi anak didik. Misalnya untuk program keahlian Teknik Pemesinan, maka anak didik diberikan keterampilan yang terkait dengan berbagai pekerjaan yang menggunakan mesin dan mesin-mesin yang dipergunakan untuk melakukan pekerjaan.Dengan mesin-mesin ini, maka anak didik dibimbing untuk dapat membuat benda kerja kebutuhan hidup. Bahkan, yang sangat signifikan dengan kehidupan adalah keterampilan mengelas. Anak-anak yang megnikuti program pembelajaran dan pelatihan pengelasan mempunyai kesempatan yang luas dalam pengembangan keterampilan atau kompetensi dirinya. Untuk keterampilan ini, anak didik diberikan pekerjaan yang berasal dari masyarakat. Anak didik diberikan tugas untuk mengerjakan pekerjaan dengan kualifikasi selayaknya pekerjaan profesional.
SEbenarnya dengan memberi pekerjaan kepada anak didik, kita telah membuka link dengan masyarakat terkait dengan kualitas anak didik kita. Anak didik yang menerima pekerjaan dari sekolah harus melakukan pekerjan secara menyeleuruh, yaitu mulai dari perencanaan pekerjaan, perhitungan kebutuhan dan nilai jual, membuat gambar benda, dan mengerjakan barang hingga selesai dan siap dikirim ke masyarakat. Jika hasil pekerjaan ini bagus, maka untuk selanjutnya masyarakat dapat menyerahkan kebutuhannya ke sekolah, ini merupakan hasil dari pelayanan terbaik pada masyarakat.
Pada sisi lainnya, untuk dapat bekerja, maka anak didik dapat ditugaskan untuk mencari pekerjaan dari masyarakat dan dikerjakan di sekolah. Artinya, anak didik harus mencari pelanggan dari pekerjaannya yaitu berupa barang yagn dapat dikerjakan disekolah. Tentunya dalam hal ini, anak didik dapat memperhitungkan nilai dana yang dibutuhkan untuk proses pembuatan barang dan nilai jual yang ditawarkan ke masyarakat. Dalam hal inilah, anak didik dapat mengambil masukan yaitu dari selisih nilai bahan dan nilai barangnya. SEmakin banyak barang yang dikerjakan, berati semakin banyak langganan yang dilayani oleh anak didik. Semakin banyak langganan berarti semakin luas wilayah kerja anak didik. Hal ini juga semakin memperkenalkan anak didik di masyarakat. Dengan demikian, anak didik sduah mempunyai pangsa pasar sebelum mereka lulus atau menyelesaikan masa belajarnya di sekolah.
Ya. kita harus memberikan pekerjaan kepada anak didik agar mereka terbiasa dalam kondisi bekerja dan sekaligus memperluas jaringan kerja anak didik di masyarakat. KIta memperkenalkan anak didik dan kemampuannya kepada masyarakat sehingga selanjutnya masyarakat dapat melihat tingkat kemampuan anak didik. JIka hal tersebut sangat memuaskan, tentunya masyarakat akan kembali memberikan pekerjaan kepada anak didik.Demikian seterusnya hingga saat anak didik lulus, mereka sudah mempunyai langganan yang harus dilayani terkait dengan kemampuan teknisnya. Itulah pekerjaan untuk anak didik di sekolah...
Seperti kita ketahui, sejak tingkat satu, anak-anak sudah diberikan berbagai konsep dan pengetahuan tentang ketrampilan yang memungkinkan anak menguasai berbagai hal. Salah satunya adalah mengerjakan barang kebutuhan masyarakat.
Dalam kaitannya dengan peningkatan kualitas anak sebagai sumber daya manusia untuk perkembangan pola hidup yang lebih baik, maka pekerjaan untuk anak didik adalah hal terbaik dan harus diperhatikan oleh sekolah kejuruan.
Pada program pembelajaran di sekolah kejuruan, kita mengenal banyak program keahlian yang memberikan keterampilan bagi anak didik. Misalnya untuk program keahlian Teknik Pemesinan, maka anak didik diberikan keterampilan yang terkait dengan berbagai pekerjaan yang menggunakan mesin dan mesin-mesin yang dipergunakan untuk melakukan pekerjaan.Dengan mesin-mesin ini, maka anak didik dibimbing untuk dapat membuat benda kerja kebutuhan hidup. Bahkan, yang sangat signifikan dengan kehidupan adalah keterampilan mengelas. Anak-anak yang megnikuti program pembelajaran dan pelatihan pengelasan mempunyai kesempatan yang luas dalam pengembangan keterampilan atau kompetensi dirinya. Untuk keterampilan ini, anak didik diberikan pekerjaan yang berasal dari masyarakat. Anak didik diberikan tugas untuk mengerjakan pekerjaan dengan kualifikasi selayaknya pekerjaan profesional.
SEbenarnya dengan memberi pekerjaan kepada anak didik, kita telah membuka link dengan masyarakat terkait dengan kualitas anak didik kita. Anak didik yang menerima pekerjaan dari sekolah harus melakukan pekerjan secara menyeleuruh, yaitu mulai dari perencanaan pekerjaan, perhitungan kebutuhan dan nilai jual, membuat gambar benda, dan mengerjakan barang hingga selesai dan siap dikirim ke masyarakat. Jika hasil pekerjaan ini bagus, maka untuk selanjutnya masyarakat dapat menyerahkan kebutuhannya ke sekolah, ini merupakan hasil dari pelayanan terbaik pada masyarakat.
Pada sisi lainnya, untuk dapat bekerja, maka anak didik dapat ditugaskan untuk mencari pekerjaan dari masyarakat dan dikerjakan di sekolah. Artinya, anak didik harus mencari pelanggan dari pekerjaannya yaitu berupa barang yagn dapat dikerjakan disekolah. Tentunya dalam hal ini, anak didik dapat memperhitungkan nilai dana yang dibutuhkan untuk proses pembuatan barang dan nilai jual yang ditawarkan ke masyarakat. Dalam hal inilah, anak didik dapat mengambil masukan yaitu dari selisih nilai bahan dan nilai barangnya. SEmakin banyak barang yang dikerjakan, berati semakin banyak langganan yang dilayani oleh anak didik. Semakin banyak langganan berarti semakin luas wilayah kerja anak didik. Hal ini juga semakin memperkenalkan anak didik di masyarakat. Dengan demikian, anak didik sduah mempunyai pangsa pasar sebelum mereka lulus atau menyelesaikan masa belajarnya di sekolah.
Ya. kita harus memberikan pekerjaan kepada anak didik agar mereka terbiasa dalam kondisi bekerja dan sekaligus memperluas jaringan kerja anak didik di masyarakat. KIta memperkenalkan anak didik dan kemampuannya kepada masyarakat sehingga selanjutnya masyarakat dapat melihat tingkat kemampuan anak didik. JIka hal tersebut sangat memuaskan, tentunya masyarakat akan kembali memberikan pekerjaan kepada anak didik.Demikian seterusnya hingga saat anak didik lulus, mereka sudah mempunyai langganan yang harus dilayani terkait dengan kemampuan teknisnya. Itulah pekerjaan untuk anak didik di sekolah...
Berikan Pekerjaan Untuk Anak Didik
Satu hal yang perlu kita pahami bahwa untuk mengarahkan anak didk agar siap menjadi orang-orang produktif setelah menyelesaikan masa pendidikannya adalah memberi mereka pekerjaan.Setiap saat kita harus mengkondisikan anak didik agar melaksanakan proses pengerjaan barang dengan kualitas layak pakai untuk masyarakat.
Selama ini yang menjadi permasalahan adalah persepsi yang keliru dari anak didik, bahkan mungkin juga para instruktur di bengkel sekolah.Seperti kita ketahui,program dan proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah, khususnya sekolah kejuruan salah satu aspek yang dikedepankan adalah pembelajaran keterampilan yang teranagkum dalam kelompok pelajaran produktif. Dengan demikian, maka jelas bahwa arah proses adalah untuk menciptakan orang-orang yang produktif, yaitu orang-orang yang mempunyai kemampuan memproduksi barang-barang untuk kebutuhan hidup masyarakat.
Sementara yang terjadi di lapangan adalah apresiasi yang menyimpang, yaitu terpatoknya anggapan bahwa kegiatan yang dilakukan oleh anak didk di sekolah adalah kegiatan praktik! Anak didik beranggapan bahwa yang dilakuakn di bengkel sekeolah adalah kegiatan praktik sehingga hal tersebut sangat mengurangi kualitas kerja yang harus diberikan.Dan, kondisi tersebut didukung oleh persepsi instruktur yang menekankan bahwa anak harus melakukan praktik kerja.
Padahal, seharusnya sejak proses pembelajaran di bengkel anak didik sudah diberikan program pembelajaran secara bertahap, yaitu dari tingkat satu hingga tingkat tiga. SEcara teknis, anak-anak di tingkat dua sudah dapat dikondisikan untuk melaksanakan kegiatan produktif. Tetapi ternyata mereka masih dalam taraf praktik kerja.
JIka anak didik diberikan proses secara sistematis dan terstruktur sesuai tingkatannya, maka saat tingkat dua mereka sudah mulai belajar melakukan pekerjaan yang dibutuhkan masyarakat.
Oleh karena itulah, maka yang terpenting dalam upaya meningkatkan kemampuan anak didik sebeluim mereka mneinggalkan bnagku sekolah adalah memberi mereka pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan keahlian mereka. Berikan pekerjaan untuk anak didik agar mereka terbiasa dalam situasi kerja, bukan praktik kerja!
Selama ini yang menjadi permasalahan adalah persepsi yang keliru dari anak didik, bahkan mungkin juga para instruktur di bengkel sekolah.Seperti kita ketahui,program dan proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah, khususnya sekolah kejuruan salah satu aspek yang dikedepankan adalah pembelajaran keterampilan yang teranagkum dalam kelompok pelajaran produktif. Dengan demikian, maka jelas bahwa arah proses adalah untuk menciptakan orang-orang yang produktif, yaitu orang-orang yang mempunyai kemampuan memproduksi barang-barang untuk kebutuhan hidup masyarakat.
Sementara yang terjadi di lapangan adalah apresiasi yang menyimpang, yaitu terpatoknya anggapan bahwa kegiatan yang dilakukan oleh anak didk di sekolah adalah kegiatan praktik! Anak didik beranggapan bahwa yang dilakuakn di bengkel sekeolah adalah kegiatan praktik sehingga hal tersebut sangat mengurangi kualitas kerja yang harus diberikan.Dan, kondisi tersebut didukung oleh persepsi instruktur yang menekankan bahwa anak harus melakukan praktik kerja.
Padahal, seharusnya sejak proses pembelajaran di bengkel anak didik sudah diberikan program pembelajaran secara bertahap, yaitu dari tingkat satu hingga tingkat tiga. SEcara teknis, anak-anak di tingkat dua sudah dapat dikondisikan untuk melaksanakan kegiatan produktif. Tetapi ternyata mereka masih dalam taraf praktik kerja.
JIka anak didik diberikan proses secara sistematis dan terstruktur sesuai tingkatannya, maka saat tingkat dua mereka sudah mulai belajar melakukan pekerjaan yang dibutuhkan masyarakat.
Oleh karena itulah, maka yang terpenting dalam upaya meningkatkan kemampuan anak didik sebeluim mereka mneinggalkan bnagku sekolah adalah memberi mereka pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan keahlian mereka. Berikan pekerjaan untuk anak didik agar mereka terbiasa dalam situasi kerja, bukan praktik kerja!
Langganan:
Postingan (Atom)