Sabtu, 23 April 2022

PENTINGNYA SEMANGAT

Ini merupakan rekaman kejadian yang kualami. Rekaman kejadian yang merupakan ruas-ruas kegiatan hidupku. Bukan hal yang istimewa atau spesial. Semua orang pasti mengalami apa yang aku alami, walaupun tidak sama tepat. Tetapi setiap orang mempunyai kejadian hidup masing-masing. 

Kejadian bermula dari kabar seorang teman. Teman yang sudah kuanggap saudaraku. Jarak keberadaan kami sangat jauh. Mojokerto - Sumedang. Kami bersahabat, bersaudara lewat media sosial. Dan, komunikasi kami sudah barang tentu lewat media sosial, baik Facebook, Instagram, dan whatsaap. Walau posisi kami berjauhan, kami akrab.

Pada saat itu, dia nelpon aku. Setelah nngobrol beberapa saat, dia tanya, jarak Mojokerto dengan Sidoarjo. Kujawab dekat saja. Lalu, dia mengatakan permintaan bantuan. Aku sempat bingung, bantuan apa yang dapat kulakukan. Dia mengatakan bahwa sebenarnya ada kegiatan di Sidoarjo, yaitu membimbing anak-anak SD menulis puisi. Tetapi, dia sedang sakit sehingga tidak memungkinkan untuk hadir. Tanpa pikir panjang dan waktu lama, aku mengiyakannya.

Akupun mempersiapkan diri untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Beberapa buku tentang menulis untuk anak-anak aku baca untuk menambah materi pembimbingan. Tetapi harapan ternyata jauh dari kenyataan. Kurang 3 (tiga) menuju hari H, aku merasa tubuhku kurang bumbu. Segera kuhubungi Komunitasku, Komunitas Sangkar Buku. Kusampaikan pada pak Cariknya Sangkar Buku, Mochammad Asrori. Awalnya siap untuk memberi materi, tetapi kondisi menjepitnya. Institusi tempatnya nyangkul akan kedatangan pengawas, jadi tidak dapat ikut. Dan dengan sigap kami mencari tempat yang siap,maka kami ketemu Jack.

Pada waktu yang ditentukan, kami berangkat. Karena kondisiku yang tidak sehat, ibu negara ikut. Setelah menyusuri jalan lurus,kelok, raya, dan jalan kampung,kami sampai TKP. 

Kami disambut dengan ramah. Tapi teman penggerak Sidoarjo belum muncul. Tetapi tidak lama setelah kami duduk di ruang tunggu, beliau datang. Kami berbincang sejenak dan acara segera dimulai.

Karena saya sedang kurang bumbu, Jack saya tugaskan untuk memberi materi. Proses pemberian materi dan pembimbingan menulis puisi berlangsung lancar dan optimal. Anak anak begitu antusias mengikuti kegiatan. Bahkan ada yang sudah dapat menulis dan membacakannya di depan. 

Dan, akhirnya dengan sisa tenaga aku memberikan materi menulis cerpen dan menulis surat. Tidak lama. Tetapi aku puas bahwa anak-anak memahami materi.

Tak terasa sudah pukul 13.00, kami tuntaskan kegiatan. Kami pulang. Setelah mengantar Jack, kami pulang 

Seperti janjiku bahwa aku mau ngamar di rumah sakit kalau kegiatan literasi selesai, maka akupun masuk IGD. Langsung menggeletak di bed. Setelah diperiksa sana sini, diputuskan aku harus rawat inap. Bahkan harus pakai kateter. Duh, sakit banget waktu selang dimasukkan.

Aku masuk ICU. Ruang untuk menyelaraskan kondisi yang dianggap kritis  Semalam harus istirahat di ICU.beberapa kabel menempel di tubuhku. Repot aku menggerakkan badan.

Paginya, perawat datang untuk menjemput ku, tetapi ternyata salah.ibu Negara telah mengajukan kelas kamar. Aku yang sudah dilepasi kabel,harus nunggu lagi. Hingga sekarang.pukul 11, aku dipindah kamarkam.

Sesampai di kamar, sendirian. Sebab ibu negara masih bergiat di sekolah. Beberapa saat kakakku datang. Kami berdua. Setelah itu ibu negara yang datang.

Sejatinya, ngamar di rumah sakit Sanga tidak enak. Walaupun kita dilayani. Jangan sekali-sekali pingin ngamar di rumah sakit.

Sorenya anak-anak datang bersama krucil krucil. Bahagia banget ketika ngumpul bersama sama, walau aku hanya menyaksikan dari bed, selang infus dan kateter menghambat gerakku.

Setelah 3 (tiga) hari, dokter memperbolehkan pulang. Pesannya, Ndak boleh ngopi, asem-asem, pedes. Lha kok yang kegemaran ku gak boleh semua.

Tetapi satu yang harus kita tanamkan dalam hati, tetaplah semangat dan berpikir positif

Selasa, 15 Maret 2022

MENDIDIK ITU AMANAH

Pendidikan merupakan kebutuhan pokok yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Setiap orang mempunyai kewajiban untuk mengembangkan kemampuan dirinya. Kewajiban ini merupakan amanah yang tidak dapat diingkari. Walaupun kita sudah diberi kemampuan oleh Allah, tetapi kemampuan tersebut hanyalah kemampuan dasar. Kemampuan dasar ini belum dapat diterapkan dalam kehidupan. Oleh karena itulah, kita harus mengikuti proses pendidikan agar kemampuan dasar dapat menjadi kemampuan terapan.

Hidup ini menghidangkan permasalahan di atas meja prasmanan kehidupan kita. Dan, kita tidak dapat melepaskan diri atau melarikan diri sebab kita sudah duduk di salah satu kursi yang mengelilingi meja kehidupan. Kita harus menyantap hidangan tersebut dengan segala rasa dan warnanya. Tentunya, kita menemukan masakan yang enak, tetapi kadang kurang enak, bahkan tidak enak. Ada yang berwarna, tetapi ada juga yang tanpa warna. Oleh karena itu, kita harus selalu siap menghadapi semuanya. 

Mendidik itu amanah

Mendidik itu amanah, setidaknya sebagai bagian dari tugas dan kewajiban. Kita dengan profesi kita, bahkan posisi kita secara usia mempunyai tanggungjawab atas pendidikan anak-anak.  

Dalam konteks interaksi sosial keberadaan guru adalah menjaga dan mengembangkan nilai-nilai positif kehidupan di masyarakatnya. Guru adalah agen nilai kehidupan sebab dalam tugas.dan kewajiban profesi dan sosial, guru adalah sosok yang harus digugu dan ditiru. Untuk dapat digugu dan ditiru, maka seorang guru harus dapat menerapkan nilai-nilai positif kehidupan. 

Oleh karena itu, sejatinya mendidik itu amanah kehidupan bagi guru untuk ikut menjaga kehidupan. Para guru mendapatkan amanah berdasar profesi dan posisinya di masyarakat. Mendidik itu kewajiban yang melekat dalam diri setiap orang, terutama guru. Bahwa merupakan satu kewajiban memberikan bimbingan untuk mereka yang lebih muda. 

Amanah kehidupan adalah menjaga keberadaan kehidupan dengan memberikan bimbingan dan pendampingan menghadapi kehidupan. Setiap orang, khususnya yang dewasa harus memberikan bimjingan dan pendampingan pada yang muda. Kita yang sudah dewasa, lebih tua mempunyai pengalaman hidup yang lebih banyak. Pengalaman itu merupakan bukti kemampuan kita menjalani kehidupan. Tidak peduli mengalami kegagalan, setidaknya telah mempunyai pengalaman menghadapi masalah kehidupan. Menang ataupun kalah!

Mendidik itu tanggungjawab moral

Keberadaan suatu bangsa tergantung pada keberadaan sumber daya manusianya. Sumber daya manusia yang kita harapkan untuk menjaga keberadaan suatu bangsa adalah sumber daya manusia yang berkualitas. Sebuah negara atau masyarakat akan terjaga keberadaannya jika masyarakatnya mempunyai kemampuan menghadapi dan menyelesaikan setiap permasalahan hidup. Dan, kondisi tersebut hanya dapat dicapai olrh orang-orang yang berkualitas. 

Oleh karena itu, proses pendidikan dan pembelajaran harus diprioritaskan. Semua anak harus mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kualitas dirinya melalui proses pendidikan dan pembelajaran. Untuk memberikan peluang belajar, maka sosok-sosok berpendidikan harus terpanggil untuk ikut berjibaku dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia, anak-anak usia sekolah. Kita harus bersama-sama melakukan pendampingan dan pembimbingan untuk anak-anak sehingga mereka mempunyai kemampuan menghadapi kehidupan, survival.

Upaya menjaga keberadaan atau eksistensi masyarakat dan bangsa merupakan tanggungjawab moral warga negara, penduduk, bahkan semua orang yang berada di lingkungan masyarakat. Mereka mempunyai kewajiban moral untuk menjaga keberadaan atau eksistensinya. Bagaimana jika ternyata sumber data manusia kita tidak mempunyai kemampuan untuk menghadapi permasalahan hidup? Hal tersebut tentunya dapat mengancam eksistensi bangsa dan negara. Oleh karena itu, setiap warga negara mempunyai kewajiban moral untuk menjaganya. Salah satu cara menjaga eksistensi bangsa dan negara adalah menjaga dan meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Hanya bangsa dan negara berkualitas yang dapat bertahan dan tetap eksis dalam kehidupan. Eksistensi tersebut disebabkan tingkat atensi masyarakat dunia sangat besar, bahkan dapat menjadi penentu kebijakan untuk kehidupan masyarakat dunia. 

Mendidik sebagai kebutuhan asasi

Setiap orang mempunyai keinginan untuk dapat eksis dalam kehidupannya. Berbagai cara dilakukan agar eksistensi atau keberadaan kita dalam kehidupan tetap terjaga, bahkan mampu menjadi menara bagi banyak orang. 

Selanjutnya, keinginan untuk dapat eksis berubah menjadi kebutuhan. Sebagai sebuah kebutuhan, maka proses belajar menjadi keharusan untuk dipenuhi. Setiap orang berkewajiban untuk belajar. Hal ini karena tidak ada seorangpun mengalami kegagalan saat menghadapi permasalahan hidup. Untuk itu, maka kemampuan diri harus dikembangkan sehingga pada saat menghadapi masalah tidak akan kesulitan dan mampu menyelesaikan masalahnya. 

Dengan memahami kondisi yang sudah dijelaskan, maka pada akhirnya kita dapat mengatakan bahwa belajar adalah kebutuhan asasi, sebagaimana makan dan minum. Jika tidak kita penuhi, maka kita akan mengalami kesulitan. Belajar itu kebutuhan pokok untuk menghadapi kehidupan. Belajar harus dilakukan oleh semua orang sebab sesungguhnya belajar adalah bagian include dalam hidup. Selama kita masih hidup, maka selama itu kita harus belajar. Jargon belajar sepanjang hayat merupakan pernyataan yang benar dan nyata.

Jika belajar adalah kebutuhan pokok, maka proses mendidik juga merupakan kebutuhan pokok. Hal ini karena setiap orang berkeinginan untuk membagi pengetahuan, kompetensinya untuk orang lain. Setiap orang berkewajiban untuk menyampaikan atau membagi pengetahuan dan kompetensinya agar orang lain mempunyai kemampuan menghadapi hidup. 

Setiap orang mempunyai kewajiban asasi untuk memberikan bimbingan, pendampingan, dan pelatihan untuk orang lain. Kewajiban asasi ini merupakan bentuk kesadaran bahwa kualitas sumber daya manusia sangat menentukan harkat dan martabat sebuah bangsa dan negara. Mereka tidak rela jika bangsa dan negaranya menjadi obyek bangsa dan negara lain. Dan, setiap orang Indonesia mempunyai pengalaman pahit terkait 'pengobyekan' oleh bangsa lain. Pengobyekan yang kita maksudkan dalam hal ini adalah penjajahan. Dan, penjajahan terjadi akibat kualitas bangsa yang rendah. Oleh karena itu, kualitas anak bangsa harus ditingkatkan sehingga berkualitas dan mampu menjadi subyek dalam pola kehidupan berbangsa di dunia. 

Pendidikan dan pembelajaran merupakan satu bentuk kesadaran manusia untuk dapat survive dalam kehidupan. Survive merupakan satu tuntutan dasar kehidupan yang melekat pada setiap makhluk hidup, dalam hal ini manusia. Oleh karena itu, upaya peningkatan kemampuan diri menjadi kebutuhan yang tidak dapat diabaikan oleh kita. Dan, hal tersebut menjadikan posisi mendidik sebagai sebuah amanat setiap orang yang berpendidikan.  Setiap orang harus mrnyadari pentingnya pendidikan dan pembelajaran untuk menjadi subyek dalam kehidupan.


Gembongan, 26 November 2022
Mohammad Saroni, 
Penulis buku Pendidikan Karakter tanpa Kekerasan

Tinggal di:
Gembongan, Gedeg Mojokerto
CP. 085784990514

Minggu, 06 Februari 2022

MEMBANGUN KOMUNITAS BACA TULIS

Kemampuan membaca dan menulis adalah kemampuan dasar. Setiap orang, sejatinya mempunyai dasar kemampuan ini. Tetapi, mengapa banyak orang mengatakan bahwa mereka hanya dapat membaca tetapi tidak dapat menulis? Kondisi ini merupakan permasalahan yang sangat genting. Tanpa kemampuan membaca dan menulis, kehidupan kita akan mengalami kesulitan 

Bahkan, untuk menyelesaikan permasalahan rendahnya kemampuan ini, pemerintah mencanangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Gerakan ini merupakan upaya untuk membangkitkan semangat literasi, walau sesungguhnya lingkungan sekolah merupakan lingkungan yang literat. Semua kegiatan yang dilakukan di lingkungan sekolah dan pendamping anak melaksanakan kegiatan adalah kaum literat, pada bidangnya 

Tetapi, gerakan ini difokuskan ke lingkungan sekolah memang mendasarkan pada konsep pikiran tersebut. Kegiatan literasi akan semakin mudah dilakukan jika lingkungan dan sumber daya manusianya sudah literat. Tentunya, pemolesannya tidak terlalu sulit. Situasi dan personal sudah mendukung sehingga, seharusnya tingkat keberhasilannya tinggi. 

Sumber daya manusia dan infrastruktur di lingkungan sekolah yang kondusif akan mempermudah anak-anak mengikuti kegiatan. Para guru dengan kepiawaian dan kemampuan yang dimiliki dapat optimal mendampingi anak-anak. Oleh karena itu, gerakan ini dinamakan gerakan literasi sekolah. Aspek kemudahan dalam proses dan akses menjadi pertimbangan utama.

Sejatinya, gerakan literasi tidak terbatas di lingkungan sekolah. Setiap lingkungan tempat kita beraktifitas dapat dijadikan sebagai ajang gerakan literasi. Misalkan gerakan literasi pasar, gerakan literasi terminal, gerakan literasi masyarakat, dan sebagainya. Dengan pengertian seperti itu, maka upaya menggerakkan kegiatan literasi dapat optimal dan menyeluruh. Masyarakat diajak secara aktif untuk bergiat. Masyarakat bukanlah obyek kegiatan. Mereka adalah subyek kegiatan. Masyarakat yang secara langsung menjadi pelaku kegiatan.

Upaya menggerakkan masyarakat sebagai tempat kegiatan literasi dapat langsung ke ulu hati. Hal ini karena masyarakat merupakan tempat semua kegiatan. Anak-anak yang mengikuti proses pendidikan dan pembelajaran akan mengaplikasikan ilmu dan pengetahuan, serta keterampilannya di masyarakat. Tentunya, kegiatan literasi yang diterapkan di masyarakat dapat langsung mengena dan masyarakat siap menerima anak-anak yang sudah melek literasi. 

Salah satu langkah penting bagi masyarakat agar siap menjadi wadah kegiatan literasi adalah dibentuknya komunitas-komunitas yang intens dalam kegiatan literasi, khusunya baca tulis. Mereka yang akan menebarkan virus literasi ke masyarakatnya. Kegiatan ini akan lebih efektif sebab langsung ke masyarakat. 

Oleh karena itu, perlu dibangkitkan semangat membentuk komunitas. Komunitas-komunitas literasi harus ditumbuh kembangkan di setiap daerah. Untuk hal tersebut, perlu ada peran serta pemerintah untuk mendukung kelahiran setiap komunitas. Walau sesungguhnya, sekumpulan orang saat membentuk komunitas yang dimaksudkan. Komunitas itu dapat hidup karena tingkat kepedulian anggotanya yang sangat tinggi. Rasa andarbeni sangat besar sehingga semua penuh perhatian terhadap komunitasnya. Dan, jika pemerintah ikut memperhatikan perkembangan komunitas, tentunya perkembangannya dapat semakin cepat. 

Kita memang harus membangun banyak komunitas di masyarakat. Komunitas merupakan wadah orang-orang yang mempunyai atensi bidang sama. Dengan komunitas ini, maka kita dapat mengembangkan berbagai program untuk percepatan pencapaian target. Kekuatan komunitas dalam.upaya membangun dan mengembangkan kegiatan sudah tidak dapat dipungkiri lagi. Banyak komunitas yang berperan aktif dalam kegiatan, baik kegiatan komunitas maupun sebagai pendukung kegiatan pemerintah.

Kita dapat mengambil contoh Taman Bacaan Masyarakat adalah komunitas konkret yang ikut secara aktif dalam mempercepat program kegiatan literasi. Hal ini karena jangkauan pemerintah, melalui perpustakaan belum dapat menjangkau hingga masyarakat pedesaan, apalagi untuk wilayah terpencil.  Kalaupun, di sebuah desa ada perpustakaan, sejatinya tidak mengambil peran aktif. Buku-buku hanya dipajang di raknya. Hal.ini karena orang yang dipasang sebagai pengelola perpustakaan bukanlah pecinta buku atau pustakawan, melainkan pegawai kantor. Mereka berada di perpustakaan hanya sekedar untuk menggugurkan tugas dan kewajiban yang tertera di SK kepegawaian. Akibatnya, perpustakaan hanya berfungsi sebagai gudang buku.

Sungguh berbeda dengan komunitas yang mengelola perpustakaan atau taman bacaan. Mereka akan mengelola sepenuh hati. Bahkan, mereka tidak sekedar menunggu bola datang, pengunjung datang. Mereka yang akan mendatangi masyarakat untuk memperkenalkan dan mengajak mencintai literasi, membaca. Komunitas akan berusaha untuk mendekatkan bahan bacaan ataupun kegiatan membaca kepada masyarakat bukan sebaliknya. 

Kita membutuhkan kesadaran masyarakat dalam kegiatan literasi, baca dan tulis. Oleh karena itu, kita yang harus mendekati mereka. Kita harus menjemput bola, tidak menunggu bola mendatangi kita. Dengan cara seperti ini, maka masyarakat lebih mudah mengenal kita dan kegiatan kita. Bukankah ada pepatah tak kenal maka tak sayang?

Oleh karena itu, kita harus menghidupkan banyak komunitas agar program kegiatan dapat berjalan optimal. Semoga.

BANGKITKAN SEMANGAT LITERASI

Semangat literasi adalah semangat perubahan. Semangat ini merupakan wujud dari kesadaran atas keterbatasan diri. Kita harus jujur dan berlapang hati terhadap kekurangan ini. Dan, tidak mungkin kita secara terus menerus terpuruk dalam kekurangan tersebut. Bahkan, UNESCO mengeluarkan pernyataan bahwa bangsa Indonesia untuk dapat maju, harus membiasakan kegiatan literasi, membaca 3 (tiga) buku dalam setahun.

Kegiatan literasi memang banyak ragam, kita batasi pada literasi baca dan tulis. Kedua macam literasi ini merupakan pondasi kegiatan literasi lainnya. Oleh karena itu, kita konsentrasikan diri pada literasi baca tulis. Dengan kegiatan membaca, maka kualitas diri dapat meningkat secara signifikan. Kita dapat memperoleh banyak pengetahuan dengan kegiatan membaca. Pengetahuan itulah yang akan mengangkat harkat dan martabat kita.

Sementara itu, kegiatan menulis merupakan tindak lanjut dari kegiatan membaca. Pada saat kita membaca, maka berbagai ilmu dan pengetahuan tersimpan dalam memori otak kita. Simpanan ilmu dan pengetahuan akan menjadi pemecah masalah hidup kita. Kita dapat menyelesaikan setiap permasalahan hidup karena kita mempunyai ilmu dan pengetahuan tentang masalah tersebut. Dalam konteks inilah, menulis merupakan tindak lanjut dari kegiatan membaca.

Ilmu dan pengetahuan yang kita simpan dalam memori otak, karena keterbatasan daya ingat dan semakin banyaknya persoalan hidup, dapat hilang karena lupa. Oleh karena itu, kita mengabadikan ilmu dan pengetahuan dalam bentuk tulisan. Ilmu dan pengetahuan yang kita tulis akan tetap abadi dan mudah menjadi ilmu dan pengetahuan orang lain, jika dalam bentuk tulisan. 

Ibarat makan dan buang kotoran, maka membaca dan menulis adalah kegiatan tersebut. Pada saat kita membaca, berarti saat itu kita sedang makan. Setelah kenyang dan dipertahankan dalam waktu tertentu, maka kita harus membuang sisa pencernaan, BAB ataupun BAK.  Tetapi dalam hal ini, kegiatan menulis justru mengeluarkan sari-sari ilmu dan pengetahuan yang tersimpan dalam memori otak. 

Pada saat membaca, otak kita mencernah setiap informasi dari segala bacaan kita. Sari-sari tersebut kita simpan dalam memori otak. Sari-sari ini dapat hilang karena lupa. Untuk mengantisipasinya, maka kita mengikatnya dalam bentuk tulisan. Kita tuliskan sari bacaan sedemikian rupa sehingga orang lain mudah memahaminya.

Kegiatan literasi, khususnya kegiatan membaca dan menulis harus kita tingkatkan. Peningkatannya tidak hanya terbatas untuk diri sendiri, melainkan untuk orang lain juga. Kita harus dapat mempengaruhi orang lain agar tidak kesulitan dalam mengembangkan kemampuan literasinya, terutama literasi baca dan tulis. Para penulis dan akademis yang mempunyai kemampuan baca dan tulis melebihi orang kebanyakan memikul tugas ini. Merekalah barisan sosok literat di negeri ini. 

Sedangkan, orang-orang yang ingin mengembangkan kemampuan literasinya tidak boleh pasif. Mereka harus merapat ke tokoh-tokoh literasi dan belajar. Sebuah pisau dapat tajam jika selalu diasah. Proses asah berarti menggesekkan pisau pada permukaan batu asah. Begitu juga dengan kita, harus merapat pada orang-orang yang kompetensi literasinya tinggi. Hidup perlu bergesek dengan yang lain agar lebih mampu. Untuk dapat terampil menulis, maka membaca lah lebih banyak, berinteraksilah dengan kaum literat, dan teruslah menulis. 

Sesungguhnya menulis itu mengikat kata hati dalam bentuk tulisan.

Ayo kita bangkitkan semangat literasi, untuk masa depan yang lebih baik.


Gembongan, 7 Februari 2022

Sabtu, 13 Juni 2020

Komunitas Baca Tulis MoSar

Komunitas baca tulis Mosar merupakan salah satu komunitas yang berkonsentrasi pada kegiatan membaca danumenulis.  Komunitas ini bermarkas di Gembongan, tepatnya di Jalan Sarengah Rt 27 Rw 07 Gembongan, Gedeg, Mojokerto. 
Kegiatannya sesuai dengan namanya adalah mengajak masyarakat bergiat dalam membaca dan menulis. Koleksi buku yang dimiliki komunitas ini cukup untuk mengobati kehausan bacaan. 
Di Rumah Kebon yang posisinya tersembunyi, Komunitas Baca Tulis MoSar mencoba untuk iju berkontribusi dalam membumikan gerakan literasi. Bagaimanapun, Kobatu MoSar menyadari bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia dapat dilakukan melalui kegiatan Literasi. 
Semoga dapat bermanfaat bagi semua. 

Kamis, 11 Juni 2020

MENULIS UNTUK PENYEGARAN JIWA

Kehidupan semakin menjepit sehingga seringkali kita menemukan orang-orang dengan tingkat stress tinggi. Mereka mempunyai kesulitan menghadapi persoalan hidup. Akibatnya, terjadi penumpukan masalah dalam. diri dan pikiran yang berakibat timbulnya tekanan. Tekanan inilah yang menyebabkan ketegangan dan berdampak pada kelabilan jiwa. Oleh karena itu, dibutuhkan satu pola kehidupan yang lebih tertata dan benar-benar mampu menyegarkan pikiran. Dan, salah satu kegiatan hidup yang mampu menyegarkan adalah menulis. 
Seringkali, orang-orang yang mengalami ketegangan jiwa membutuhkan penyaluran dan pengaliran agar mereda. Kita menghadapi dan menjalani kehidupan sebagaimana sebuah bejana yang secara terus menerus kita isi. Setiap kali menghadapi dan menjalani kehidupan, berarti kita menambah isi diri kita. Dan, kapasitas diri kita bukanlah tidak terbatas sehingga pada saatnya dapat penuh. Pada saat penuh tersebut,  maka energi potensial dalam diri semakin meningkat. Peningkatan energi potensial ini melahirkan ketegangan. Ketegangan ini jika dibiarkan, maka. dapat menyebabkan tekanan. Tekanan inilah yang menyebabkan kita tergoncang. Untuk hal tersebut, maka kita harus mengeluarkannya. Salah satu cara mengeluarkannya adalah dengan curhat, baik secara. lisan maupun tertulis. Curhat. secara lisan seringkali kesulitan sebab seringkali kita sulit untuk menyampaikannya. Untuk hal tersebut, maka menulis merupakan solusi yang tepat. Dengan menulis, maka kita mengalirkan isi memori otak ke bentuk tulisan. Maka, beban pikiran dapat tersalurkan dan tekanan berkurang. Oleh karena itu, menulislah agar tekanan dalam otak kita berkurang. 
Semangat!!