Rabu, 03 Mei 2023

Menyoal Karakter Anak Didik

Pendidikan merupakan sebuah proses panjang yang harus dilakukan untuk mengembangkan ataupun memperbaiki kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik. Proses ini berdampingan erat dengan proses pembelajaran yang tidak dapat dilepaskan peranannya dalam kehidupan. Sepanjang hidup, proses belajar adalah niscaya. Tidak ada seorangpun yang tidak belajar sepanjang hidupnya. Hal ini karena sebenarnya hidup adalah belajar. 

Setiap saat kita harus belajar sebab setiap saat selalu ada hal baru yang kita hadapi dan membutuhkan penyelesaian. Permasalahan hidup tidak pernah berhenti menyerang kita. Dan, kewajiban kita adalah menghadapi dan menyelesaikan setiap permasalahan sehingga hidup tidak mengalami kesulitan. Sementara itu, permasalahan hidup setiap saat berbeda. Oleh karena itu, kita harus dapat mengembangkan diri sehingga mampu menghadapi dan menyelesaikan masalah tersebut. Proses pengembangan diri dapat dilakukan dalam sebuah proses belajar. Sebab, belajar adalah sebuah proses untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan diri untuk menghadapi dan menyelessikan permasalahan hidup yang terus menerus menerjang.

Perubahan pola kehidupan berdampak pada pola karakter kita. Hal ini karena adanya aspek gesekan dan adaptasi. Setiap kehadiran pola baru dalam kehidupan, maka untuk dapat menghadapi dan menyelesaikan permasalahan yang timbul, diri kita secara otomatis melakukan penyesuaian. Ini merupakan kemampuan dasar setiap makhluk hidup, beradaptasi.

Perubahan Pola Tanggap Orangtua

Salah satu perubahan yang sangat esensial tetapi krusial adalah respon orangtua terhadap proses pembelajaran. Banyak orangtua yang masih setengah hati menyerahkan dan mempercayakan proses pendidikan dan pembelajarannnya ke sekolah, guru. Mereka kurang mendukung langkah pendidikan dan pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Tidak jarang mereka bertentangan dan memprotes langkah pendidikan pembelajaran yang diterapkan dan menyalahkan guru.

Selasa, 02 Mei 2023

Mengajar ataukah Mendidik?

Seorang guru adalah sosok yang diharapkan dapat menjadi panutan orang banyak, terkhusus anak didiknya. Tentunya hal tersebut bukan sesuatu yang ringan bagi seseorang yang memutuskan berprofesi sebagai guru. Sebab, profesi merupakan pekerjaan yang dilandasi oleh profesionalisme tinggi dan berbekal kemampuan yang didapat dari pendidikan khusus serta pelatihan-pelatihan terkait pekerjaan. Seseorang yang memutuskan menjadi guru harus mengembangkan kemampuan dirinya dengan kompetensi-kompetensi khusus terkait pekerjaan sebagai guru. Hal ini karena tidak semua orang yang pandai dapat menjadi guru. Guru tidak hanya mengajar,  melainkan juga mendidik. Seseorang dapat saja menjadi guru, tetapi terbatas pada proses mengajar, sementara proses mendidik dibutuhkan kompetensi khusus.

Urgensi Mengajar dan Mendidik

Mengajar dan mendidik adalah dua kegiatan yang berbeda. Tetapi, meskipun demikian, keduanya harus bersinergi untuk mencapai proses secara optimal. Kita harus melakukan perseimbangan antara mengajar dan mendidik karena tuntutan profesi. Hal ini karena tujuan kita adalah mencetak sumber daya manusia yang berpengetahuan, berketerampilan, dan berkarakter sesuai kondisi masyarakat. Kita ingin sumber daya manusia yang seutuhnya, jasmani dan ruhani. Keutuhan ini akan melahirkan manusia-manusia pandai, terampil, dan beradab. 

Mengajar adalah proses transfer pengetahuan yang dilakukan secara terstruktur, terencana, dengan tujuan yang jelas. 

Proses ini dilakukan berdasarkan tingkat kemampuan peserta didik. Hal ini ini karena tingkat kemampuan setiap peserta didik tidak sama untuk setiap level usia dan kemampuan logikanya. Oleh karena itu, proses dilakukan secara terstruktur dan berjenjang. 

Jenjang ini menentukan isi yang harus ditransfer ke peserta didik. Kita tidak dapat memaksakan diri untuk mengkondisikan peserta didik menerima isi yang belum saatnya diterima. Jenjang level yang kita maksudkan diwujudkan dalam bentuk tingkat pembelajaran, misalnya SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi. Bahkan, saat sekarang, anak-anak USIA dini sudah dipersiapkan untuk memasuki proses pembelajaran, terutama pada aspek bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain. 

Jadi mengajar itu terutama terkait dengan pengetahuan, baik umum maupun khusus. Seorang guru harus dapat melakukan proses ini sehingga kemampuan prosesnya sesuai dengan kebutuhan. 

 Mendidik merupakan proses pengkondisian diri peserta didik, khususnya pada aspek karakter diri. Seorang guru harus dapat memberikan bimbingan, teladan, dan panutan kepada peserta didik sehingga dapat menjadi sosok yang berkarakter. 

Dalam konteks ini, seorang guru harus dapat memposisikan diri sebagaimana orang tua peserta didik. Seorang guru harus dapat memberikan arahan positif kepada peserta didik. Sebagaimana orang tua, maka seorang guru harus mampu membentuk karakter peserta didik sehingga dapat memposisikan diri dalam kehidupan bermasyarakat sebagai sosok yang bermartabat.

Aspek ini membutuhkan waktu proses yang sangat lama, bahkan sepanjang hayat. Hal ini terkait dengan modal dasar mental atau karakter yang dimiliki peserta didik sebelum mengikuti proses pendidikan. Modal dasar ini terkait dengan kondisi lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat asalnya. 

Oleh karena itu, kita harus ekstra kerja keras untuk melakukan proses pendidikan ini. Seringkali, transfer nilai-nilai positif kehidupan berbenturan dengan modal dasar yang sudah dimiliki oleh peserta didik. Contoh sederhana dan konkret adalah sikap saat berinteraksi dengan orang lain. Tidak sedikit peserta didik berasal dari lingkungan keluarga yang keras dan didukung lingkungan masyarakat yang tidak tahu unggah ungguh, yang akhirnya bertentangan dengan nilai-nilai yang akan ditanamkan oleh guru.

Mendidik itu lebih berat daripada mengajar. Seseorang boleh jadi dapat mengajar, tetapi tidak selalu dapat mendidik. Hal ini karena mendidik sangat terkait dengan  kondisi mental seseorang. Pertentangan - pertentangan nilai sering menjadi pemicu kegagalan proses pendidikan. Ada pengalaman seorang guru yang mencoba untuk menanamkan nilai bahwa merokok itu tidak sehat. Maka, dibuatlah peraturan yang melarang peserta didik untuk merokok dengan segala konsekuensinya jika melanggar. Dan, ketika ada peserta didik yang melanggar dan diproses sesuai ketentuan, dengan mendatangkan orang tua ke sekolah. Ternyata dari pembicaraan dengan orang tua, peserta didik tersebut berbagi rokok dengan ayahnya. Artinya, di lingkungan rumah tidak ada peraturan yang melarang anak untuk merokok. Kondisi ini merupakan tantangan bagi guru. 

Tantangan Dinamisasi Kondisi

Proses mengajar dan mendidik sangat terpengaruh oleh kondisi yang ada di lingkungan masyarakat, terutama  proses mendidik. Pengaruh kondisi lingkungan sangat besar terhadap proses secara keseluruhan sebab selalu terjadi perubahan pola. 

Pola-pola kehidupan selalu mengalami perubahan yang sangat signifikan terhadap proses pendidikan dan pembelajaran. Hal ini karena tingkat kebutuhan dan ragam kehidupan masyarakat yang mengalami peningkatan dan penyesuaian terhadap kondisi global.

Perubahan pola kehidupan berdampak pada pola proses pendidikan dan pembelajaran. Hal ini karena proses pendidikan merupakan upaya sadar untuk melakukan perubahan kemampuan pada peserta didik. Akibatnya, teknik dan metode proses pendidikan dan pembelajaran juga harus menyesuaikan diri dengan proses yang terjadi dalam kehidupan di masyarakat. 

Aspek pengetahuan kemungkinan perubahan kecil, tetapi aspek pendidikan perubahannya sangat besar. Perubahan isi materi pembelajaran mungkin sedikit sebab perubahan  pengetahuan sangat lambat. Penemuan-penemuan terkait pengetahuan membutuhkan proses yang _njelimet_ sehingga membutuhkan waktu yang lama. Jika pun terjadi perubahan, secara cepat kita mengadaptasikan diri terhadap perubahan tersebut. Misalnya perubahan pengetahuan tentang bidang otomotif, kita dapat segera beradaptasi sehingga segera dapat menguasai teknologi terbaru tersebut.   Tetapi, perubahan terhadap karakter tidaklah mudah untuk mengadaptasikannya. Pembentukan karakter membutuhkan waktu yang lama.

Kondisi ini merupakan tantangan terhadap proses pendidikan. Setiap saat karakter personal dan global selalu mengalami perubahan. Akibat perubahan tersebut, maka kita harus beradaptasi agar proses dapat berlangsung optimal. Tetapi, kita menyadari bahwa perubahan karakter bukanlah hal yang mudah. Karakter dasar setiap orang sangat berbeda sehingga jika kita berusaha untuk mengarahkan, maka dapat terjadi benturan, friksi, bahkan pertentangan.  Oleh karena itu, proses.pendidikan lebih sulit dibandingkan proses.pembelajaran.

Mana yang lebih dahulu, pendidikan ataukah pembelajaran?

Dalam kehidupan ini, ada 2 (dua) aspek penting yang harus kita kondisikan sehingga dapat.menjadi sosok yang seutuhnya. Kedua aspek tersebut adalah fisik dan psikis. Pengetahuan dan karakter diri anak didik.

Lantas, mana yang harus kita dahulukan? Apakah kita mengajar terus mendidik ataukan kebalikannya, mendidik terus mengajar?

Mari kita simak kelanjutannya di tulisan berikutnya!


Gembongan, 2 Mei 2023
Refleksi Hari Pendidikan Nasional

Mohammad Ssroni
Tinggal di Gembongan, Gedeg, Mojokerto
CP. 085784990514
Penulis buku Orang Miskin Harus Sekolah

Rabu, 26 April 2023

BERSEMANGAT DALAM BERWIRAUSAHA

Wirausaha adalah kegiatan usaha yang dilakukan sebagai manifestasi semangat usaha untuk mendapatkan sumber penghasil diri berbasis kemampuan diri. 


Senin, 05 Desember 2022

BERWIRAUSAHA DENGAN KETERAMPILAN LAS

Kegiatan pengelasan telah menjadi pilihan masyarakat untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan. Banyak aspek kehidupan yang menerapkan teknologi pengelasan untuk pengerjaannya. Oleh karena itu, keterampilan mengelas merupakan bekal dan modal untuk menjalani kehidupan. Dengan keterampilan mengelas, maka kita dapat memperoleh penghasilan yang cukup untuk menutup kebutuhan hidup. Penghasilan tersebut berasal dari kegiatan berwirausaha dengan keterampilan las.

Pengelasan adalah proses menyambung 2 (dua) logam atau lebih dengan mempergunakan energi panas dan tekanan. Untuk menyambung logam, maka dapat kita lakukan dengan cara:

1. melunakkan bagian yang akan  disambung dengan proses pemanasan tetapi tidak sampai pada titik cair. Kita cukup memanaskan bahan las hingga memijar, lunak lantas menempelkan satu terhadap yang lain. Kemudian, kita berikan tekanan dengan pukulan, tempaa  sedemikian rupa sehingga bagian yang pijar akan saling menyatu. Langkah ini dilakukan berkali-kali dan melakukan penempaan sehingga menyambung, menyatu. Proses ini sering disebut kerja tempa atau kerja tukang pandai besi.

2. Memanaskan bagian yang dilas dengan melakukan pemanaskan bagian yang akan disambung. Proses pemanasan tidak sampai memijar apalagi mencair. Kita cukup meningkatkan suhu logam yang disambung sehingga pada saat proses penyambungan dapat dengan mudah dilakukan. Bahan yang dilas tidak sampai mencair, tetapi logam penyambung yang dicairkan pada bagian yang dipanaskan. Bahan yang mencair adalah bahan penyambung yang kita kenal dengan nama timah. Timah inilah yang jika dipanaskan akan mencair dan dapat menyambung 2 (dua) logam yang akan disambung. Proses ini disebut penyambungan solder.

3. memanaskan bagian yang disambung hingga mencair bersama baham tambah untuk penyambungan. Bahan kita panaskan hingga suhu cairnya, bersamaan dengan kondisi tersebut bahan tambah juga mencair sehingga dapat menjadi tambahan cairan logam dan menyatu dengan bahan yang disambung.

Untuk proses ini dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara, yaitu:

a. Dengan nyala api gas

     Proses penyambungan dengan nyala api didapatkan dari pembakaran gas asetelin yang dicampur dengan oksigen. Proses pencampuran oksigen dengan asetelin dilakukan dalam alat yang dikenal sebagai pembakar atau brander. Alat ini berfungsi sebagai pencampur atau mixer sedemikian rupa sehingga didapatkan campuran yang seimbang antara oksigen dan gas asetelin.

Untuk dapat melakukan proses pencampuran oksigen dan gas asetelin sehingga pada porsi seimbang, maka pada badan brander terdapat saluran-saluran yang diatur dengan kran-kran. Oksigen dan gas asetelin mengalir pada setiap salurannya dan untuk mencapai bagian ruang pencampuran, maka kran pengatur dapat difungsikan. Dengan memutar-mutar kran pengatur, maka jumlah oksigen atau gas asetelin dapat diatur. Campuran oksigen dan gas asetelin akan mengalir menuju ujung pembakar atau cuncum. Dan, pada cuncum inilah campuran tersebut dibakar. Api pada ujung pembakar atau cuncum ini dapat kita atur melalui kran masing-masing.  Pengaturan kran ini akan menghasilkan nyala api yang berbeda pada ujung pembakar atau cuncum pembakar.

Ada 3 (tiga) kondisi campuran oksigen dan asetelin yang terjadi, yaitu:

1. Nyala Karburasi
Nyala Karburasi didapatkan pada saat kita membuka keran gas oksigen dan gak asetelin dan terdapat kelebihan asetilen. Pada nyala jenis ini terdapat tiga daerah yaitu kerucut nyala, selubung luar dan kurut luar berwarna keputihan. 

Nyala Karburasi sering dipergunakan untuk pengelasan logam berbahan Monel, Nikel, berbagai jenis baja dan bermacam-macam bahan pengerasan permukaan bukan besi (nonferous).

2. Nyala Oksidasi
Nyala oksidasi adalah nyala yang terjada apabila pembukaan keran gas oksigen dan gas asetelinnya terdapat kelebihan pada gas oksigen. Nyala oksidasi mirip dengan nyala netral tetapi kerucut nyala bagian dalam lebih pendek dan selubung luar lebih jelas warnanya.
Nyala oksidasi ini dipergunakan untuk proses pengelasan benda kerja berbahan kuningan dan perunggu.

3. Nyala Inti/Netral 

Nyala Netral ini didapatkan pada saat kita membuka keran gas asetelin dan keran oksigen dengan perbandingan sekitar 1 : 1. Nyala Netral ini dipergunakan untuk mengelas bahan dari Baja, besi cor, baja tahan karat dan tembaga.

Nyala api pembakar ini terjadi jika campurannya berimbang antara jumlah oksigen dan gas asetelinnya. Warna nyala api ini biru dengan posisi sedikit lancip di ujung mulut pembakar. Nyala api inilah yang mempunyai efektivitas pembakaran yang paling tinggi, sempurna sehingga proses pengelasan dapat sempurna. Pengaturannya dilakukan pada keran pengatur saluran oksigen dan gas asetelin. Keberimbangan jumlah oksigen dan gas asetelin menjadikan pemakaian lebih ekonomis 

b. Dengan busur nyala api listrik

Ketika dua kutub listrik dipertemukan, didekatkan, maka akan terjadi loncatan muatan dan menimbulkan percikan api. Hal ini sebagaimana teknis listrik, jika dua kutub dihubungkan, maka muatan listrik akan bergerak di dalam media penghantarnya. Muatan di dalam sistem akan mengalir dari kutub dengan muatan negatif (katoda) lebih banyak ke kutub dengan muatan positif lebih banyak (anoda). Sementara itu, di rangkaian luar sistem, muatan mengalir dari kutub positif ke kutub negatif. Muatan yang mengalir ini kita sebut sebagai arus listrik.

Pada saat proses pengelasan dilakukan, maka ada 2 (dua) posisi yang mungkin diterapkan untuk pengaliran arus listrik. Pola ini disebut polaritas, yaitu:
1. Posisi lurus
Jenis ini jika arus listrik dialirkan secara langsung dengan arus positif pada elektroda dan arus negatif pada benda kerja. Elektroda adalah bagian alat las.yang akan memijarkan busur nyala api listrik. Busur nyala api listrik timbul sebab ujung kawat elektroda ini dihubungkan dengan benda kerja, sedangkan elektrodanya juga dialiri arus listrik. Benda yang bermuatan negatif bertemu dengan ujung elektroda yang bermuatan positif, maka terjadilah loncatan arus listrik yang menimbulkan percikan api. Percikan api inilah yang berfungsi sebagai pembakar sehingga benda kerja mencair dan menyatu ditambah dengan cairan kawat elektrodanya 
2. Posisi terbalik
Posisi ini menempatkan kutub negatif pada elektroda dan kutub positif pada benda kerja. Ujung elektroda yang bermuatan negatif didekatkan pada benda kerja yang bermuatan positif sehingga terjadi loncatan arus listrik dari benda kerja ke elektroda. Kondisi ini menyebabkan terjadinya peningkatan suhu pada elektroda dan menyebabkan pencairan kawat lebih cepat.
Berwirausaha Dengan Keterampilan Las

Keterampilan las merupakan satu kompetensi yang dimiliki oleh seseorang dalam proses penyambungan dua logam dengan proses pemanasan dan pencairan serta pembekuan bersama.

Banyak kebutuhan hidup memanfaatkan prinsip dasar pengelasan, misalnya konstruksi bangunan, kebutuhan rumah tangga, perlengkapan-perlengkapan hidup, dan sebagainya. Dan, ini merupakan peluang usaha bagi setiap orang.

Caratan: 
a. sumber gambar https://www.pengelasan.com/2014/06/macam-macam-nyala-api-oksigen-asetilen.html?m=1



Penulis:
Mohammad Saroni
Penulis buku: #Orang Miskin Bukan Orang Bodoh
Tinggal di Gembongan, Gedeg, Mojokerto
085784990514

Jumat, 25 November 2022

BELAJAR BERBASIS PROYEK

PROGRAM PEMBEKALAN KETERAMPILAN MELALUI PEMBELAJARAN PROYEK
Mohammad Saroni

Belajar merupakan satu upaya yang dilakukan secara sadar sebagai pertanggungjawaban moral terhadap perkembangan kualitas diri. Oleh karena itu proses belajar merupakan kewajiban semua orang.  Belajar merupakan kegiatan yang harus dilakukan sepanjang hayat dikandung badan. Dan, belajar merupakan konsekuensi atas keberadaan diri dalam kehidupan. Tujuan proses belajar adalah mengkondisikan diri untuk dapat menghadapi dan menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan. Aspek pengkondisiannya adalah 3 (tiga) kompetensi dasar, yaitu afektif, kognitif, dan psikomotor. Berdasarkan 3(tiga) kompetensi dasar tersebut, maka dapat kita kembangkan menjadi kompetensi sesuai kebutuhannya. Jika tujuannya agar dapat membaca, maka aspek belajar kita pada kompetensi membaca. Jika tujuannya agar dapat menghitung, maka aspek belajar kita pada kompetensi berhitungnya. Begitulah, kita belajar sesuai dengan kebutuhan. Dengan, demikian, maka proses belajar harus dijalani atau dilakukan secara optimal. 

Aspek psikomotor sebagai modal aplikatif hidup.

Salah satu aspek penting untuk menghadapi hidup secara langsung adalah kemampuan psikomotor. Kemampuan inilah yang membuat kita berkemampuan untuk menyelesaikan permasalahan hidup. Keterampilan seseorang akan menentukan kualitas hidupnya di masyarakat. Mungkin banyak orang yang mempunyai kualitas kognitif dan afektif yang bagus, tetapi tidak mempunyai keterampilan untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah kehidupan.

Aspek psikomotor merupakan aspek penting yang secara langsung memberikan kemampuan aplikatif kepada anak didik. Dengan kemampuan ini, maka anak didik dapat menangani secara teknis kewajiban-kewajiban hidupnya. Aspek psikomotor ini memungkinkan anak difik untuk melakukan berbagai kegiatan hidup dengan kemampuan yang dimilikinya. 

Di dalam kehidupan, kemampuan seseorang di saat menghadapi dan menyelesaikan masalah sangat penting daripada sekedar pengetahuan tentang masalah. Kita boleh saja menguasai berbagai pengetahuan, tetapi jika hanya penguasaan pengetahuan, maka semua hanya akan menjadi retorika lisan semata. Orang hanya pintar menyampaikan teori-teori semata tetapi pada saat menghadapi permasalahan hidup nyata, mereka tersungkur. Mereka kalah telak. Akan lahir orang-orang banyak omong tetapi kemampuan kerja minim. Apalah artinya orang-orang seperti ini. Mereka akan menjadi pengganggu percepatan gerak perubahan. Mereka menjadi ahli debat yang kelabakan ketika diberikan kepercayaan untuk menangani permasalahan hidup.

Pembekalan aspek psikomotor kepada anak didik merupakan upaya kita untuk menjadikan anak-anak sebagai sumber daya manusia yang aplikatif. Anak-anak yang mempunyai kemampuan paripurna atas permasalahan hidup. Secara pengetahuan mereka mampu dan secara praktik, mereka tidak ada masalah. Kemampuan psikomotor merupakan penopang utama kemampuan kognitif. Pengetahuan yang disempurnakan dengan keterampilan menjadikan seseorang sebagai sumber daya manusia yang unggul. Kita membutuhan orang-orang berpengetahuan yang terampil menyelesaikan masalah. Pengetahuan sebagai modal teori dan keterampilan sebagai modal eksekusi.

Pembelajaran berbasis proyek

Proyek merupakan kegiatan yang dilakukan berdasarkan kesepakatan untuk penyelesaian dalam kurun waktu tertentu dengan konsekuensi yang harus ditanggung oleh penanggungjawab kegiatan. Proses pembelajaran berbadis proyek mengedepankan kegiatan keterampilan secara paripurna. Keterampilan paripurna artinya tidak sekedar dapat menyelesaikan proyek, melainkan termasuk pada kegiatan-kegiatan persiapan. 

Sebagaimana umumnya, ketika sebuah proyek akan dikerjakan, maka harus dilakukan pengajuan proyek, langkah-langkah persiapan,, eksekusi proyek, evaluasi proyek, dan serah terima proyek, bahkan pemasaran hasil pekerjaan. Semua proses harus dilakukan oleh anak didik sehingga mempunyai pengalaman nyata dalam penanganan pekerjaan secara paripurna. Anak didik bukan sekedar tukang atau pekerja. Mereka adalah perencana kegiatan, meliputi membuat gambar kerja, menghitung kebutuhan bahan (kalkulasi biaya), menentukan alat-alat yang dipergunakan, perkiraan waktu yang dibutuhkan untuk penyelesaian, dan bagaimana untuk pemasarannya.

Pembelajaran proyek bukan pembelajaran  personal. Guru tidak memberikan pekerjaan satu siswa satu pekerjaan (sasisapek), melainkan sekelompok siswa untuk satu pekerjaan atau proyek. Ini merupakan team work yang diharapkan solid dan dapat bekerja sama dalam menyelesaikan pekerjaan. Dengan demikian, maka pembelajaran proyek merupakan miniatur dari suasana ataupun kondisi saat bekerja. Bahwa, dimanapun kita bekerja, maka kita adalah bagian dari team work di tempat kerja. Tidak ada seorang pekerja yang dapat bekerja sendirian. Mereka harus bekerjasama, saling membantu agar pekerjaan dapat selesai sesuai perkiraan waktunya serta ditangani secara tepat dan cepat. Dalam hal ini, bukan berarti karena keahlian kita mengelas, maka kita hanya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan pengelasan. Kita tetap harus membantu teman kerja lainnya jika dibutuhkan. 

Pembelajaran proyek mendidik anak didik agar dapat menyadari bahwa dia adalah bagian dari sebuah kelompok kerja yang menangani secara bersama sebuah pekerjaan. Mereka harus membangun suasana kerja yang kondusif sehingga setiap personil dapat melakukan peran masing-masing. Tidak ada yang pekerjaannya terlalu berat. Begitu juga, tidak ada yang pekerjaannya terlalu ringan. Orang bilang, nyolong balunge kancane. Di samping itu, agar tidak terjadi egoisme dalam bekerja. Karena pekerjaannya sudah selesai, maka dia dapat bersantai-santai menunggu pekerjaan untuknya. Sebagai bagian dari tim, maka kinerja seperti ini justru dapat mengganggu kelancaran jalannya penyelesaian proyek. 

Untuk protek yang harus dikerjakan anak didik dapat diperoleh dari masyarakat umum, atau masyarakat sekolah, civitas akademik sekolah, atau anak-anak merencanakan pekerjaan sendiri dan siap memasarkannya. Dalam hal pekerjaan dari masyarakat.umim, pihak sekolah menawarkan kepada masyarakat atas produk benda kerja yang dapat dikerjakan anak didik.

Pentingnya pendidikan vocasional

Kebutuhan sumber daya manusia yang terampil menuntut dunia pendidikan untuk menyesuaikan diri, terutama institusi pendidikan vocasional. Pendidikan vocasional memang diarahkan pada penguasaan keterampilan yang paripurna. Materi dan proses pembelajaran dilakukan dengan mengefektifkan berlatih dan berlatih. Anak didik secara intens diberikan pelatihan sesuai dengan kompetensi yang diinginkannya. Porsi latihan, khususnya latihan kompetensi diberikan dengan dengan prosentase lebih besar daripada yang lainnya. Jika dari tiga aspek dasar pendidikan diberikan, maka proses dibagi menjadi 3 (tiga) bagian dengan prosentase keterampilan lebih banyak. Anak didik memang diarahkan untuk terampil melakukan pekerjaan.
3 (tiga) bagian dasar proses pendidikan afektif, kognitif, dan psikomotor memang harus berikan kepadananak didik secara proporsional. Dengan kondisi tersebut, maka anak didik mendapatkan pembekalan yang lengkap. Anak berkatakter, anak berpengetahuan, dan anak berketerampilan. Kondisi ini memang ideal dan sesuatu yang ideal itu merupakan situasi yang sempurna. Dan, tidak ada yang sempurna dalam hidup ini. Walaupun kita berusaha sekuat tenaga untuk mencapai kondisi ideal (sempurna), tetapi tak akan pernah mencapai kondisi ideal/sempurna. Kesempurnaan hanya milik sang Pencipta alam.

Tetapi, pembelajaran dengan sistem proyek sangat memungkinkan anak didik mendapatkan bekal secara lengkap, afektif, kognitif, dan psikomotornya. Dengan demikian, maka anak didik lebih siap menghadapi berbagai masalah kehidupan. Aspek pengetahuan, teori dapat dikuasai dengan baik. Aspek keterampilan juga dapat dikuasai. Begitu juga halnya denhan aspek karakternya. Ketiga aspek tersebut merupakan aspek penting dalam kehidupan. Memang belum sempurna, tetapi setidaknya anak didik mempunyai bekal untuk menghadapi dan menyelesaikan permasalahannya. 

Pembelajaran vocasional merupakan salah satu program pembelajaran berbasis keterampilan. Anak didik diberikan proses yang mengedepankan pembekalan keterampilan. Pembekalan keterampilan mendapatkan porsi lebih banyak di dalam proses pembelajarannya. Artinya, anak didik dikonsentrasikan untuk lebih pada pembelajaran keterampilan yang mendukung kompetensinya ataupun yang aplikatif dalam kehidupan masyarakat. Kompetensi aplikatif yang diberikan kepada anak didik adalah sebuah keterampilan yang siap terapkan. Anak didik tidak perlu lagi mengikuti dilat-diklat kompetensinya. Dengan pembekalan keterampilan aplikatif ini, anak didik tidak lagi sebagai tenaga kasar melainkan adalah seorang tenaga ahli kerja. Dia sudah mempunya kompetensi yang paripurna untuk mengerjakan berbagai pekerjaan. 

Jika kita rujukan dengan pola kehidupan bangsa yang sangat dinamis, dimana perkembangan teknologi yang sangat pesat serta kebutuhan teknologi yang terus mendesak, maka pembelajaran vocasional menjadi sangan relevan. Anak sisik dipacu untuk menjalani proses pembelajaran yang  identik dengan pola kerja di dunia kerja. Anak didik dihadapkan situasi nyata dalam pekerjaan. Lingkungan sekolah disulap menjadi semacam workshop dari sebuah perusahaan dimana semua pekerjaan dilakukan di tempat itu. Dengan demikian, tidak hanya keterampilan anak didik yang dikembangkan, melainkan juga pola kerja dan kinerja mereka. Anak didik terbiasa berada di lingkungan kerja dan tidak kaget ketika dihadapkan berbagai macam pekerjaan dan ragam orang yang datang, pelanggan. 

Pembelajaran berbasis proyek memang merupakan proses pembekalan kemampuan yang prospektif di negeri kita. Kita harus membuat gebrakan proses yang menyadarkan anak didik tentang pentingnya keterampilan aplikatif untuk menghadapi kehidupan yang semakin ketat persaingannya. Jika tidak, maka kita akan terjegal dan tersingkir dari lingkaran kehidupan yang efektif. Bekal keterampilan merupakan nilai tambah yang dimiliki seseorang sehingga mudah memasuki lapangan pekerjaan dalam kehidupan. 

Selama ini, proses pembelajaran dilakukan dalam upaya untuk memberikan dan mendapatkan pengetahuan. Pengetahuan dianggap sebagai modal penting dalam menghadapi kehidupan. Pengetahuan memungkinkan seseorang untuk menyelesaikan setiap permasalahan hidup yang dihadapinya. Mereka beranggapan bahwa teori merupakan dasar dari setiap keteranpilan. Dengan mempunyai pengetahuan dasar ini, maka kita sudah mempunyai kunci untuk menguraikan atau menyelesaikan masalah. Kita dapat mengetahui kunci permasalahan yang kita hadapi. Dengan demikian, maka kita lebih mudah menghadapi permasalahan. Kita tidak akan kesulitan. Tetapi, kenyataan yang kita temukan dalam kehidupan ini adalah bahwa tanpa keterampilan dasar, maka kita tetap akan mengalami kesulitan dalam menghadapi hidup. Keterampilan dasar inilah yang sesungguhnya merupakan modal dasar hidup. 

Kamis, 03 November 2022

MENGEMBANGKAN POTENSI GURU

Guru adalah sosok yang bertanggungjawab secara langsung pada proses pendidikan. Tanggungjawab yang dimaksud terkait dengan persiapan, pelaksanaan, dan hasil proses pendidikan. Guru adalah ujung tombak keberhasilan ataupun kegagalan proses pendidikan. Oleh karena itu, seorang guru harus mempunyai kemampuan untuk mencapai keberhasilan proses. 

Peranan guru dalam proses pendidikan dan pembelajaran mendampingi anak didik melakukan proses pengembangan kompetensi diri dalam 3 (tiga) aspek, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Ketiga aspek ini merupakan modal untuk menghadapi kehidupan. Oleh karena itu, ketiga aspek tersebut harus menjadi bagian integral dalam diri setiap orang. 

Guru sebagai sosok pengembang kemampuan anak didik, masyarakat pada umumnya, maka harus mengembangkan kemampuan dirinya. Pengembangan kemampuan diri dapat dilakukan dengan berbagai cara. Setiap guru harus menyadari bahwa hal ini sebagai pertanggung jawaban moral. Guru itu digugu dan ditiru, artinya segala omongan dan tindakannya harus dapat digugu dan ditiru oleh anak didik dan masyarakat di lingkungannya. 

Banyak cara yang dapat diterapkan untuk pengembangan kemampuan atau potensi guru. Pengembangan kemampuan guru merupakan langkah konkret untuk menjadikan guru selalu siap menghadapi setiap permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan. Cara pengembangjan kemampuan dan potensi guru adalah:

1. Pendidikan

Upaya pengembangan kemampuan dan potensi guru dapat dilakukan dengan pendidikan berkelanjutan. Guru harus terus melakukan proses pendidikan dirinya agar kemampuan dirinya meningkat.  Pendidikan itu seumur hidup, setiap saat kita menjalani proses pendidikan agar modal diri kita dapat menjawab dan menyelesaikan permasalahan hidup. 

Guru adalah agen pendidikan sehingga merupakan keharusan untuk secara terus menerus mengembangkan kemampuan dirinya. Pengembangan kemampuan diri ini bertujuan agar selalu ada persediaan kompetensi diri yang disampaikan untuk anak didik. 

Pada sisi lain, ada yang mengatakan bahwa pendidikan itu terkait pada upaya pengembangan kualitas katakter. Seseorang yang mengikuti proses pendidikan bertujuan untuk mengembangkan karakter dirinya sehingga menjadi lebih baik. Oleh karena itu peranan guru harus lebih efektif sebagai agen pendidikan, bahkan agen perubahan. Perubahan yang dimaksud dalam hal ini adalah perubahan karakter buruk menjadi karakter baik. Keberhasilan proses pendidikan dapat kita lihat dari perubahan karakter ini. 

Seorang guru harus mengembangkan kemampuan dirinya meningkatkan pendidikannya. Seorang guru tidak boleh merasa nyaman dengan kompetensi yang sudah dimilikinya. Hal ini karena kehidupan ini sangat dinamis sehingga setiap saat mengalami perubahan. Perubahan yang terjadi adalah semakin baik dan tentunya semakin maju. Kondisi ini menuntut setiap orang untuk mampu menghadapi dan menyelesaikan setiap kondisi. Jika tidak, maka akan tergilas oleh putaran roda kehidupan. 

Dan, guru sebagai agen pendidikan, pembelajaran, dan agen perubahan, maka peningkatan kemampuan diri sangat penting dan menjadi kewajiban.

b. Pelatihan

Kemampuan dan potensi seorang guru dapat dikembangkan dengan mengikuti pelatihan-pelatihan. Pelatihan ini diyakini dapat mengembangkan kemampuan seseorang, dalam hal ini guru. 

Oleh karena itu, banyak pelatihan yang ditujukan untuk para guru. Mereka mengikuti berbagai pelatihan untuk meningkatkan kemampuan diri. Mereka melatih diri pada berbagai kompetensi. Kita harus meyakini bahwa sesungguhnya kemampuan yang kita miliki merupakan hasil dari pelatihan-pelatihan yang kita ikuti.

Saat sekarang ini berbagai pelatihan diselenggarakan, baik institusi terkait maupun komunitas-komunitas peduli pendidikan, pengembangan kompetensi kognitif, afektif, maupun psikomotor. Ada pelatihan yang berbayar, tetapi tidak sedikit elatihan yang diselenggarakan secara gratis. Dengan mengikuti pelatihan-pelatihan, maka kompetensi dan potensi guru dapat meningkat secara signifikan. Peningkatan kompetendi dan potensi ini membawa peningkatan pada proses pendidikan dan pembelajaran yang diselenggarakannya.

Seorang guru harus menyadari kenyataan bahwa kemampuan yang dimiliki masihkah sedikit dan perlu ditingkatkan terus. Dan, pelatihan-pelatihan merupakan langkah konkret untuk hal tersebut. Jangan engganuntuk mengikuti proses pelatihan sebab proses tersebut untuk meningkatkan kemampuan diri dan selanjutnya dapat meningkatkan proses pendifikan dan pembelajaran, serta mampu meningkatkan kualitas hasil prosesnya.

c. Belajar

Belajar merupakan proses pengkondidian diri sehingga terjadi pengembangan kompetensi dan potensi. Setiap orang berkewajiban untuk belajar. Belajar adalah tanggungjawab pribadi yang mrlrkat pada diri setiap orang sampai mereka meninggal. Oleh karena itu dikatakan bahwa proses belajar itu seumur hidup. Selama kita masih hidup, maka selama itu pula kita harus belajar.

Mengapa kita harus belajar seumur hidup? Selama kita hidup, kehidupan memberikan permasalahan yang tiada henti, tiada habis. Selalu ada permasalahan yang harus kita hadapi dan selesaikan agar tidak mengalami kesulitan. Jika kita hanya mengandalkan kemampuan yang sudah kita miliki, maka kita akan mengalami kesulitan. Permasalahan hidup semakin lama semakin berat dan sulit sehingga kemampuan yang kita miliki akan menjadi kemampuan usang,kemampuan yang tidak mempunyai kemampuan untuk menghadapi spalagi menyelesaikan permasalahan baru. Oleh karena itu, kita harus belajar!

Untuk melakukan proses belajar dapat kita lakukan secara mandiri, nonformal (autodidak) atau secara formal ( terbimbing dan terdampingi). Kemajuan teknologi yang sedemikian pesat merupakan satu keuntungan bagi kita, khususnya teknologi informasi. Kita dapat melakukan proses belajar secara daring (dalam jaringan). Banyak aplikasi dan laman yang siap memberikan bantak informasi kognitif, afektif, dan psikomotor untuk kita. Kita tinggal klik laman yang kita inginkan dan mengetikkan materi informasi yang kita butuhkan. Maka, kita dapat menemukan banyak kemungkinan laman yang sisp memberikan informasi kepada kita. Pilih saja salah satu laman tersebut, maka muncullah informasi yang kita buyuhkan. Dan, kita dapat belajar dari laman tersebut. 

Seorang guru tidak boleh berhenti belajar sebab dia harus mengupdate pengetahuan yang dimilikinya. Dia harus merefresh kompetensinya sesuai dengan kondisi di kehidupan masyarakat. Guru itu digugu dan ditiru. Setiap perkataannya selalu digugu, dipercaya orang dan setiap tindakannya akan ditiru oleh masyarakatnya. Bagaimana jadinya jika pengetahuan guru tidak mampu menjawab permasalahan hidup yang terjadi di kehidupan masyarakat?

d. Mengajar

Untuk mengembangkan kemampuan dan potensinya, maka guru harus intens melakuksn proses mengajar. Mengajar adalah proses transfer pengetahuan dalam dirinya ke orang lain, anak didik. Guru harus terus mengajar agar kompetensi dan potensi 8 semakin meningkat. Pada saat1 melakukan kegiatan mengajar sebenarnya terjadi proses refreshing dan pembaruan kemampuan serta potensi guru.

Seorang guru harus mengajar. Jika tidak, maka eksistensinya sebagai guru perlu dipertanyakan. Bagaimana seseorang yang memposisikan dirinya sebagai guru tetapi tidak mengajar? 

Sebenarnya, proses mengajar itu adalah proses pengasahan kemampuan dan potensi guru. Pada saat mengajar, maka seorang guru harus memeras kemampuan dan potensi dirinya sehingga informasi yang tersimpan dalam memori otaknya dapat ditransfer ke anak didik. Semakin intens mengajar,maka semakin tajam daya ingat guru. Hal ini mengisyaratkan bahwa kompetensi dan potensi guru semakin bagus. Bukankah jika kita melakukan proses mengajar berarti kita mengulang hal yang sama pada waktu yang berbeda? Jika kita terus-terusan melakukan pengulangan, maka kita akan hafal dengan materi yang kita ajarkan. Semakin hafal, maka semakin mudah melksanakan kewajiban mengajar. 

e. Berinteraksi aktif dengan anak didik.

Di dalam proses pendidikan dan pembelajaran, ada 2 (dua) pihak penting yang berperan, yaitu pendidik dan pedidik. Dua pihak ini berinteraksi dan berkomunikasi dalam koridor pendidikan. Dengan pola seperti ini, proses dapat dilakukan secara formal, informal, bahkan nonformal di lingkungan sekolah. Hal ini karena kemampuan guru memposisikan diri sebagai guru, sebagai orangtua, sebagai teman, bahkan sebagai orang-orang penting lainnya dalam kehidupan anak di masyarakatnya.

Seorang guru harus berinteraksi aktif dengan anak digiknya. Interaksi ini tidak hanya terbatas pada interaksi belajar formal, tetapi dapat dilakukan dalam interaksi personal secara umum, informal maupun nonformal. Dalam interaksi ini, guru tidak terbatas pada interaksi dan komunikasi tentang pendidikan dan pembelajaran. 

Guru dapat saja melakukan interaksi dan komunikasi sebagai pribadi. Interaksi dan komunikasi pribadi ini memungkinkan situasinya lebih kondusif. Guru berperan sebagai teman, saudara, tokoh masyarakat, dan yang lainnya. Dengan kondisi tersebut, maka komunikasi dan interaksi lebih fleksibel. Anak difok dapat mengkomunikasi hal-hal private yang mungkin sulit disampaikan ke orang lain. Dan, guru bersikap arif untuk mendengarkan hal-hal tersebut dan menyimpannya sebagai informasi yang bersifat private. 

Pengembangan kompetensi dan potensi seharusnya merupakan kebutuhan, bukan sekedar tuntutan profesi. Hal ini karena kompetensi dan potensi diri merupakan modal guru menjalankan kewajibdnnya sebagai agen pendidikan pembelajaran dan perubahan. Dengan menjadikannya sebagai kebutuhan, maka kesadaran jntuk hal tersebut bukan sekedar untuk menutupi ketakutan karena tuntutan profesi melsinkan kebutuhan diri.

Semoga coretan ini dapat memberi pencerahan bagi kita sehingga dapat menjalankan tugas dan kewajiban secara optimal. Semangat!!


Mohammad Saroni
Penulis buku Personal Branding Guru
Domisili Gembongan, Gedeg, Mojokerto
CP 085784990514

Jumat, 21 Oktober 2022

MEMPERSIAPKAN SISWA UNTUK PROGRAM ASISTENSI

Proses belajar merupakan proses exit dan entry yang dilakukan secara terus menerus secara berkesinambungan sehingga terjadi perubahan kemampuan secara signifikan. Perubahan menjadi muatan utama dalam proses belajar sehingga sekaligus sebagai parameter keberhasilan proses. Oleh karena itu, setiap pembelajar berkewajiban untuk terus berproses. Artinya, tidak boleh ada jeda terlepas dengan tidak belajar. Setiap saat adalah belajar. Dan, hal tersebut sebenarnya sudah kita lakukan setiap saat. Permasalahannya adalah efektivitas proses tersebut. 

SETIAP ORANG ADALAH PEMBELAJAR

Menurut KKBI, pembelajar adalah orang yang sedang mempelajari sesuatu. Berdasarkan pengertian ini, maka kita memang pembelajar. Setiap orang adalah pembelajar sebab kita pasti sedang mempelajari banyak hal. Oleh karena itu kita berkewajiban untuk terus belajar. Berbagai hal harus kita pelajari untuk meningkatkan kemampuan diri kita. Kita sangat menyadari bahwa peningkatan kemampuan hanya dapat dilakukan jika kita melakukan proses penambahan kemampuan. 

Setiap orang berkeinginan untuk mengembangkan kemampuan diri. Hal ini merupakan salah satu bentuk kesadaran atas tanggungjawab dan kewajiban menghadapi dan menyelesaikan permasalahan hidup. Jika, tidak ada penambahan kemampuan, baik kognisi, afeksi, maupun psikomotor, kita akan kesulitan dalam kehidupan. Hal ini karena kehidupan sangatlah dinamis, selalu mengalami perubahan karena perkembangan pola kehidupan. 

Kita hidup untuk menghadapi kehidupan. Kehidupan memberikan dampak langsung terhadap kita. Oleh karena itu, kita harus mempersiapkan diri agar dapat menghadapi dan menyelesaikan yang terbaik untuk diri kita saat dampak menerpa kita. Langkah persiapan tersebut adalah dengan belajar. Setiap kali kita dihantam dampak, maka respon diri adalah berupa proses pengembangan diri. Proses inilah yang kita sebut sebagai proses belajar. Kita belajar dari dampak tersebut sehingga mempunyai kemampuan untuk menghadapi dampak kehidupan. 

Kita dapat melakukan banyak hal sebab kita tidak pernah berhenti belajar sehingga kemampuan kita meningkat secara signifikan. Setiap kali menghadapi kesulitan hidup, kita belajar untuk mampu bertahan terhadap kesulitan tersebut dan keluar sebagai pemenang. Belajar memberikan kita pengalaman untuk menghadapi permasalahan hidup. 

ANAK SEBAGAI ASISTEN PEBELAJAR

Anak sebagai seorang pembelajar sudah pasti mendapatkan pengalaman terkait 3 (tiga) yaitu pengetahuan, karakter, dan keterampilan. Informasi yang disampaikan guru dalam proses pembelajaran dan hasil ramban anak-anak di dunia maya merupakan kompetensi diri yang dapat menjadikannya sebagai pebelajar. Anak-anak dapat menjadi sosok yang mentransfer pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai positif kehidupan. Oleh karena itu, pada saat penyelenggaraan proses pembelajaran, anak dapat menyampaikan pengalaman pelajar kepada teman-temannya. Kegiatan ini dapat kita katakan sebagai asistensi pebelajar.

Anak-anak dengan kemampuan baik dapat mendampingi teman-temannya menjalani proses belajarnya. Artinya, anak-anak akan mendampingi temannya mempelajari materi pelajaran yang mereka kuasai. Interaksi dan komunikasi antar anak merupakan situasi dan kondisi yang kondusif bagi mereka. Mereka berada pada level situasi dan kondisi yang sama sehingga aspek psikis mereka tidak mengalami tekanan. Kita menyebutnya pembelajaran sejawat.

Pembelajaran sejawat memungkinkan anak-anak menjalani proses dengan nyaman. Hal ini karena pola penyampaian materi menggunakan bahasa yang mereka pahami, bahkan mereka berada pada level psikis yang sama. Mereka tidak merasa tertekan karena keseganan ataupun ketakutan pada pembimbing mereka. Jika ada hal yang kurang dipahami, mereka dapat langsung bertanya teman pembimbingnya. Mereka tidak takut untuk bertanya. Dan, cara teman pembinbing menggunakan bahasa yang mereka pahami, bahasa selevel mereka. 

MENINGKATKAN RASA PERCAYA DIRI ANAK

Salah satu hal penting dalam proses pembelajaran adalah meningkatkan rasa percaya diri anak didik. Hal ini merupakan salah satu aspek penting dalam pembelajaran, terkait nilai-nilai positif dalam kehidupan. Bagaimana seorang anak dapat menempatkan diri dalam kehidupannya dengan sebaik-baiknya. Kita membimbing anak-anak untuk menjadi orang-orang berkatakter sehingga siap menghadapi segala hal dalam kehidupan. 

Pembelajaran asistensi memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk dapat mendampingi teman-temannya belajar. Posisi ini menjadikan anak sebagai sosok penting dalam proses pembelajaran. Posisi ini diyakini dapat menumbuhkan rasa percaya diri dalam hati anak-anak. Rasa percaya diri ini akan melahirkan sosok-sosok yang mampu bertahan dalam kehidupan. Mereka akan menjadi sosok yang tangguh dan selalu mampu menghadapi serta menyelesaikan permasalahan hidup. 

Selama ini, permasalahan yang kita hadapi adalah rendahnya peran aktif belajar anak-anak. Anak-anak lebih banyak yang pasif dalam proses pembelajaran. Mereka hanya menerima materi dan informasi yang disampaikan oleh guru dan terdiam saat guru menugaskan untuk pengembangan lebih lanjut materi tersebut. Tetapi, kondisi tersebut dapat dianulir jika mereka sebaya. Anak-anak tidak takut saat harus bertanya terkait kesulitan yang dihadapi dan anak pendamping dapat menyampaikan pengetahuan yang dimilikinya. 

Pembelajaran asistensi memang merupakan salah satu cara untuk menghapus bentangan jarak guru dan siswa. Dengan pembelajaran asistensi, maka anak-anak belajar bersama. Dua manfaat kita dapatkan sekaligus, yaitu peningkatan kemampuan dan membangun kepercayaan diri. 

Begitulah pembelajaran asistensi kita selenggarakan untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran.


Mohammad Saroni
Penulis Orang Miskin Harus Sekolah
Tinggal di 
Gembongan, Gedeg, Mojokerto
Hp. 085784990514
Surel: mohammad_saroni13@yahoo.co.id