Kamis, 31 Juli 2008

PendIDikAn Perlu PerAn Aktif MAsYaraKat

Pendidikan pada dasarnya merupakan upaya sadar untuk memperbaiki kondisi diri, dari kondisi minus menjadi plus atau kondisi berkekurangan menjadi berlebih atau dari kondiis belum dapat menjadi dapat dan seterusnya.
Konsep Ini kita semua sudah memahami betul, apalagi mereka yang berkecimpung dalam bidang peNdidiKan. Wah, itu mah sego jangan! Sudah KebiaSaan!
teTapi baGaimaNa dengan anak-anak sekarang ini? Anaka-anak yang nantinnya menjadi pengharaPAan utaMa negeri InI?
Cukup BanyaK anAk yang kehiLangan semangAT belajar dan keHIlangan motiVasi untuk menggapai masa Depan yang InDah. Mereka leBih mengutamakan masa SekaRang!
Oleh karena itulah, dibutuhkan orang-orang yang benar-benar konsis dengan keinginan meningkatkan kualitas diri anak-anak dan buka sekedar sosok yang ditakuti di depan mata tetapi menjadi bahan guyonan di belakang tengkuk!
Guru yang baik, guru yang benar-benar penuh perhatian pada anak didik dan bukan sekedar melaksanakan tugas kedinasan semata, melainkan memang secara utuh terjun dalam kancah pendadaran generasi masa depan!
Marilah kita bersama-sama, tidak hanya guru, berapa banyak waktu yang dimiliki oleh guru untuk bersama-sama dengan anak didik? masyaraakt juga sangat diperlukan untuk mencapai tujuan pendidikan yang sesungguhnya sebab di masyarakatlah kebanyakan waktu anak-anak dihabiskan!
Ayo, kita bergerak bersama, saling bantu, saling dukung dan tidak saling jegal atau saling tusuk dari belakang!
Ayo, kapan lagi??

Rabu, 30 Juli 2008

Guru harus bersiap

Langkah pertama yang sangat menentukan bagi sebuah proses pendidikan dan pemelajaran adalah mempersiapkan segala kebutuhan untuk kelancaran proses pendidikan dan pemelajaran itu sendiri.
Seorang guru yang baik sealau mempersiapkan segalanya dengan sebaik-baiknya sebab baginya pelayanan terbaik dan tuntas serta pelayanan prima kepada anak didik adalah yang terbaik. Apalagi mengingat bahwa guru adalah fasilitator dalam proses pendidikan dan pemelajaran. Sudah pasti harus bersiap untuk segala hal!

Selasa, 29 Juli 2008

Jangan TiNGGalkan Anak DidiK TerlaLu LaMa

Ya, yang sering kali kita lakukan, tanpa sengaja maupun dengan sengaja, tanpa pamit ataupun tidak adalah meninggalkan ruangan kelas yang menjadi tanggungjawab kita untuk memenuhi kebutuhan kita. Sering kita dengan alasan tertentu mneinggalkan kelas, misalnya ke belakang, minum atau sekedar merokok di ruang guru.
Akibatnya, anak-anak yang ada di kelas menjadi gelisah dan tidak teratur hatinya. Jika sduah demikian, yaitu ketika anak-anak lepas hatinya dan bertindak seenaknya, maka yang disalahkan ya anak-anak lagi. Bukan gurunya yang seenaknya neinggalkan ruangan kelas saat jam mengajarnya!
Kita tidak dapat hanya memandang satu permukaan atau sisi seaja. dalam hal ini kita tidak dapat hanya menyalahkan anak didik semata. Bagaimanapun yang dilakukan oelh anak didik adalah apa yang dilihat dati gurunya, bukankah Guru itu diGugu dan ditiRu. apa yang dilakukan dan dikatakan oleh guru adalah sesuatu yang patut digugu dan ditiru oleh anak didiknya.
Dan, Jika gurunya meninggalkan kelas sebelum saatnya dan anak didik mengikutinya di saat ekmudian, apakah anak didik salah?
Ayp, kita pikirkan bersama dan eveluasi diri apakah kita sudah menghindari hal sepertio itu?
Meninggalkan anak didik untuk keperluan pribadi yang sebenarnya tidak urgen hanya akan membuat masalah bagi proses pemelajaran yang kondusif...... Bagaimana dengan kita semua?

Jumat, 25 Juli 2008

Mendidik Anak Berinteraksi Sosial

Di dalam proses pemelajaran, banyak aspek yang perlu disampaikan, diajarkan kepada anak didik. Aspek-aspek tersebut menjadi tanggungjawab dan kewajiban bagi guru untuk memberikannya saat membimbing anak-anak di setiap saatnya.

Proses pemelajaran memberikan aspek-aspek tersebut bertujuan agar anak didik benar-benar menjadi orang-orang dengan kompetensi yang me-madai, sesuai dengan kebutuhan hidup di masya-rakat. Dan, aspek-aspek tersebut merupakan muatan yang wajib dan harus dimiliki oleh anak didik.

Terkait dengan hal tersebut, maka salah satu aspek yang harus diberikan kepada anak didik agar mempunyai kmpetensi dalam pola pergaulan kemasyarakatan adalah interaksi sosial. Aspek interaksi sosial harus diberikan kepada anak didik agar pada saat berada di lingungannya dapat menyesuaikan diri dengan sebaik-baik dan mempunyai kemampuan untuk memasuki dunia kehidupan sebagaimana mestinya.

Sementara proses pemelajaran di sekolah, dalam hal ini adalah bentuk miniatur dari proses interaksi sosial antar personal, antar individu adalah pergaulan antar teman di sekolah atau di kelasnya masing-masing. Disinilah peran seorang guru benar-benar dibutuh-kan sebagai fasilitator dalam proses inter-aksi sosial anak didiknya.

Guru harus dapat menjadi fasilitator yang baik pada proses interaksi sosial ini sehingga anak tidka mengalami kesulitan ketika harus bertemu dan berkomunikasi dengan anak yang lainnya. Selama ini yang menjadi kendala di dalam peningkatan kemampuan anak dalam proses interaksi sosial adalah fasilitasi yang kurang maksimal dari gurunya.

Diskusi kelas sebagai bentuk penerapan interaksi sosial anak didik.

Di dalam proses pemelajaran, guru mempunyai beberapa metode yang dipercaya dapat meningkatkan pemahaman anak terhadap materi yang diajar-kannya.

Dengan metode yang dimiliki dan diterapkan dalam proses pemelajaran inilah, maka diharapkan agar kemudahan-kemudahaan yang didapatkan oleh anak didik sehingga proses pemahaman menjadi lebih mudah.

Kita harus mengakui bahwa dengan globalisasi yang dihadapi oleh semua bangsa, maka hal tersebut mendatangkan dampak yang positif dan negatif. Dampak positif tentunya tidak perlu dibahas sebab hal tersebut memberikan kesempatan seluas-luasnya pada setiap orang untuk meningkatkan kualitas dirinya. Tetapi, dampak negatif yang kemungkinan muncul dari globaliasi harus dihadapi, diantaisipasi sedemikian rupa sehingga kita mampu menghadapi secara baik dan tidak menghancurkan pola kehidupan yang sduah dibangun sejak para leluhur kita.

Salah satu aspek atau pola kehidupan yang seharusnya kita jaga eksis-tensinya adalah solidaritas dan rasa saling membutuhkan satu terhadap yang lainnya. Rasa ini terutama tumbuh dari kesadaran bahwa manusia itu makhluk sosial yang tidak mungkin dapat hidup sendirian. Manusia membutuhkan orang lain untuk dapat hidup secara normal.

Dan, untuk dapat meningkatkan rasa tersebut, maka harus ada kesadaran untuk dapat berinteraksi secara baik antara manusia. Di dalam proses pemel-ajaran, untuk mengarahkan, membimbing anak didik agar mempunyai kemampuan di dalam interkasi social ini dilakukan dengan setiap saat membimbing anak didik dalam sebuah diskusi terbuka antar anak di kelas bersangkutan atau dengan kelas yang lain-nya.

Dilakukan kolaborasi antar kelas sedemikian rupa sehingga mereka dapat menjadi sebuah tim yang solid dalam peningkatan kemampuan interaksi sosial di antara anak didik. Dengan tim yang solid ini, maka proses interaksi antar personal dapat di-lakukan secara maksimal.

Diskusi memungkinkan setiap personal untuk memberikan gagasan atau sanggahan terhadap sebuah kondisi yang disampaikan oleh anak yang lain dan memberikan solusi atau masukan bagi semua yang mengikuti diskusi tentang berbagai hal terkait dengan aspek yang dibicarakan.

Bukankah di dalam diskusi memungkinan semua orang ikut menyampai-kan pendapat, mendengarkan pendapat orang lain?bukankah di dalam sebuah arena diskusi kita harus dapat menerima penolakan atau ketidaksetujuan orang lai terhadap pendapat kita, pada sisi yang lainnya kita harus dapat menerima atau tidak menerima pendapat orang lain yang berbeda dengan pendapat kita?!

Dengan diskusi, maka anak didik dikondisikan untuk berinteraksi secara langsung dengan anak yang lain dan menyampaikan pendapat secara lesan serta menerima pendapat orang lain dengan hati lapang.

Menjadikan Kelas Sebagai Komunitas Khusus

Kelas pemelajaran sebenarnya merupakan komunitas khusus yang diharapkan dapat memberikan sebuah kondisi yang kondusif untuk proses pemelajaran bagi anakdidik, yang dalam hal ini masih dalam tahap mencari jati diri.

Dan, kelas merupakan wahana yang sangat signifikan terhadap upaya peningkatan kualitas social anak didik. Tentunya guru harus mempunyai kemampuan untuk mengkondisikan kelasnya sebagai sebuah komunitas yang merupakan gambaran miniatur dari sebuah komunitas antar personal, layaknya sebuah masyarakat secara umum.

Dalam hal ini, kelas perlu dilakukan penyesuaian-penyesuaian yang mengarah pada kondisi masyarakat, misalnya adanya tata aturan yang mengatur pola kehidupan kelas, adanya perangkat kelas yang proporsional dan sebagai-nya. Dengan kondisi seperti itu, maka tercipta sebuah masyarakat khusus yang di dalamnya berlaku segala aturan standar.

Guru harus dapat membimbing anak didik untuk bersikap sebagaimana mestinya warga masyarakat bersikap. Guru membimbing setiap aparat kelas untk mengambil sikap dalam menghadapi setiap permasalahan yang muncul setiap harinya. Guru hanya memfasilitasi anak di dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang terjadi di kelasnya.

Dengan memposisikan kelas sebagai komunitas khusus, terkait dengan upaya membimbing anak agar mampu meningkatkan kemampuan interaksi sosialnya, maka guru-pun harus mempunyai pengalaman interaksi sosial yang benar-benar proporsional.

Kelas memang merupakan komunitas khusus. Kita semua menyadari hal tersebut. Tetapi dalam konteks ini yang kita maksudkan dengan komunitas khusus adalah sebuah komunitas yang secara sengaja diciptakan oleh guru untuk menunjang metode pemelajaran yang diterapkannya.

Mendidik anak agar mempunyai kemampuan interaksi sosial yang memang merupakan salah satu aspek yang perlu diajarkan oleh guru didalam proses pemelajarannya. Hal ini selanjutnya diharapkan dapat memberikan pengalaman berorganisasi yang baik bagi anak didik, selain meningkatkan ke-mampuannya dalam berinteraksi sosial sesamanya.

Dan, sekali lagi kemampuan berinteraksi yang dimiliki oleh anak didik merupakan bekal yang tidak terkira nilainya untuk kehidupannya di masya-rakat.

Pendidikan Budi Pekerti

Pendidikan budi pekerti akhir-akhir ini mejadi harapan paling utama untuk lebih mengarahkan anak didik pada kondisi terkontrol secara intern. Seperti kita ketahui bahwa pendidikan budi pekerti lebih menekankan pada upaya untuk membangkitkan kesadaran atas pola kehidupan positif yang berpusat dan mengalir dari diri masing-masing orang.
Dan, sekolah telah menjadi satu-satunya institusi yang sangat diharapkan masyarakat untuk dapat memberikan materi atau proses pemelajaran sikap, budi pekerti pada anak-anak sehingga mampu menerapkan dalan kehidupan nyata. Oleh karena itulah, maka sekolah harus mampu memberikan jawaban yang signifikan dengan keinginan serta kebutuhan tersebut. Diakui atau tidak konsep pemelajaran budi pekerti di dalam hal ini bukanlah sekedar keinginan melainkan telah emjadi sebuah kebutuhan yang harus segera dipenuhi oleh sekolah dan juga para pemerhati pendidikan di negeri ini.
Di setiap saat kita melihat kenyataan bahwa anak-anak kita telah kehilangan jati dirinya sehingga di dalam proses pergaulannya mereka seakan bukan anak-anak kita lagi. Mereka telah menjadi pribadi yang sangat lain dengan pola kehidupan yang selama ini kita terima sebagai warisan nenek moyang, yang kita anggap sangat tepat bagi kita semua.
Tetapi, era globalisasi menjadikan semuanya berantakan. Pola kehidupan positif yang kita didikan pada anak sejak di lingkungan rumah , tak ada lagi di diri anak. Semua itu telah luntur dan terkelupas oleh kondisi kehidupan di masyarakat yang begitu berbeda dengan pola yang diterapkan di lingkungan keluarga.
Dalam hal ini, yang dibutuhkan oleh sekolah adalah komitmen dari masyarakat sedemikian rupa sehingga ikut mendukung langkah konkrit yang dilakukan oleh sekolah di dalam upaya meningkatkan ataupun melaksanakan proses pemelajaran budi pekerti pada anak didik. Hal ini sangat diperlukan oleh sekolah, khususnya oleh para guru agar pada saatnya nanti tidka terjadi kesalahpahaman antara skeolah, guru dengan orangtua anak didik.
Kita melihat, mendengar betapa banyak guru yang diperkarakan oleh orangatua dengan alasan guru telah melakukan tindakan kekerasan pada anak didik. Coba hal ini kita telaah lebih lanjut! Bagaimana enaknya seorang guru saat memberikan pemelajaran budi pekerti pada anak didik, eh ternyata tindakannya untuk mengarahkan anak didik dianggap sebagai pelanggaran hak asasi manusia, pelanggaran kekerasan terhadap anak-anak!
Guru menjadi serba repot jika hal seperti ini terus saja dibiarkan. Jika seseorang memberikan kepercayaan pada sekolah, guru untuk melakukan proses pendidikan dan pemelajaran kepada anak-anaknya, maka seharusnya guru diberikan kesempatan untuk melakukan langkah-langkah konkrit untuk proses tersebut. Bagaimanapun, guru akan bersikap dan mengambil posisi sebagi orangatua anak di sekolah, maka tidak ada guru yang akan mencelakai anak didiknya. Tidak ada hariamu yang memakan anaknya, walaupun harimau termasuk makhluk buas! Apakah guru termasuk makhluk buas?!
Pendidikan Budi pekerti memang sangat perlu diberikan kepada anak didik, khususnya pada jaman seperti ini. Jaman sudah gonjang-ganjing dan membutuhkan orang-orang yang mengerti unggah-ungguh. Sementara unggah-ungguh tersebut hanya dapat diperoleh dari proses pemelajaran budi pekerti!

Selasa, 22 Juli 2008

Ayolah bersama

Berangkat dari keinginan untuk meningkatkan kualitas hasil proses pendidikan, maka setiap pegiat pendidikan mencanangkan berbagai metode dan gagasan.
Rasanya sudah saatnya kita bersama canangkan tekad untuk perbaikan kondisi pendidikan di negeri ini!

Sabtu, 19 Juli 2008

Pendidikan untuk Anak Bangsa

Dunia pendidikan memang telah menjadi harapan utama dari anak didik dan orangtua atau masyarakat secara umum. Mereka berebut untuk dapat masuk ke sekolah-sekolah favorit sehingga berbagai cara dilakukan agar lolos lubang jarum seleksi masuk. Sekolah telah menjadi obor bagi perbaikan kondisi ataupun kompetensi diri. Tetapi, apakah sudah sedemikian rupa atensi positif masyarakat kepada sekolah sebagai institusi penyelenggara proses pendidikan dan pemelajaran?
Coba kita telaah secara teliti, maka setidaknya penentuan pilihan sekolah tempat belajar tidak lepas dari kualitas yang disajikan oleh sekolah bersangkutan. Semakin berkualitas, maka semakin banyak peminatnya. Ini merupakan hukum alam, banyak gula pasti banyak semut!
Yang menjadi permasalahan adalah jika ada sekolah yang ajimumpung! Karena banyak orangtua siswa. siswa yang kepingin berseklah di sekolah tersebut, maka mereka berlakukan sistem uang masuk yang 'berlebihan', di luar kewajaran. Tentunya jika hal tersebut terjadi, maka setitik nila dalam menyebabkan seluruh bagian tercemar!
Oleh karena itulah, maka perlu adanya sebuah sistem yang mengatur proses penerimaan siswa baru dan benar-benar dimonitor dengan sebaik-baiknya agar tidak terlalu banyak terjadi penyimpangan. kalau untuk sekolah saja harus mengeluarkan dana yang sangat besar, lantas bagaimana dengan mereka yang berdana pas-pasan atau bahkan sama sekali tipis?
Sebenarnya, pendidikan itu untuk siapa?
Pemerintah sudah mencanangkan wajar 12 tahun, tetapi masih banyak anak usia sekolah yang berceceran di perempatan jalan atau di temapt-tempat umum, justru pada saat jam-jam belajar dan jika ditanya, ternyata mereka sudah tidak bersekolah lantaran tidak berbiaya. Duh, untuk sekolah saja sulit!
Sekolah itu pada awalnya kan didirikan untuk menampung dan memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi anak bangsa untuk menempuh proses pembelajaran sehingga meningkat kualitas dirinya agar dapat menjawab tantangan jaman yang serba global. tetapi jika kemudian yang berkesempatan hanya yang mempunyai dana besar, lantas yang tidak mampu apakah terus menjadi pecundang?