Jumat, 08 Januari 2010

Ujian Nasional, perlukah diperdebatkan lagi?

masalah Ujian nasional sampai sekarang maish menjadi polemik tak berujung. Steiap kali mendekati amsa ujian, maka selalu muncul suara genderang perang terhadap eksistensi ujian nasional. Cukup banyak pihak yang kontra terhadap penerapan ujian ini. Hal ini mengingat berbagai hal terkait dengan pelaksanaan ujian akhir-akhir ini, katakan dua tiga tahun sebelumnya, dimana masih banyak cacat yang muncul sebagai konsekuensi dari penerapan ujian ini.
Setidaknya kontra tersebut terkait dengan dipakainya ujian nasional sebagai satu-satunya penentu kelulusan anak didik.Kekontraan ini timbul akibat signifikansi ujian dengan proses pendidikan yang dijalani oleh anak didik. Bahwa anak didik menjalani proses pendidikan selama tiga tahun berturut-turut dan ternyata ketentuan dan penentuan kelulusan hanya selama dua hari saja atau tiga hari saja. Akibatnya, segala hal yang terjadi selama proses pendidikan dan pembelajaran sama sekali tidak mempunyai pengaruh atas keberhasilan anak didik.
Akhirnya, faktor nasib dan keberuntungan serta keberanian anak didik dalam mengiokmenjadi faktor penentu keberhasilan dalam menjalani ujian. Anak-anak yang berani mencari contekan atau bertanya ke kiri dan kekanan ternyata lebih prospek untuk lulus daripada anak-anak yang percaya pada kemampuannya sendiri. Anak-anak yang sering tidak masuk, anak-anak yang nekat seringkali mempunyai kesempatan lulus lebih besar daripada yang jujur.
Dipercaya atau tidak, dengan Ujian nasional kita dapat mengetahui tingkat kualitas ahsil proses pendidikan di setiap daerah dinegeri ini. Dan, memang sebenarnya, ujian nasional adalah untuk mengetahui sampai seberapa tingkat kemampuan anak didik dan guru memahami konsep-konsep materi pembelajarannya jiak diterapkan pada standar kompetensi nasionalnya. Tetapi, ketika ujian nasional dijadikan sebagai satu-satunya penentu kelulusan anak didik, maka tumbuhlah permasalahan sebab hal tersebut berarti menghilangkan peranan guru-guru mata pelajaran yang tidak diuji nasionalkan.
Oleh karena, sebaiknya kita mengembalikan proses ini kepada sekolah dan guru-guru. Merekalah yang lebih mengetahui bagaimana kondisi anak didiknya. Tidka perlu lagi diperdebatkan eksistensi ujian nasional sebab sebenarnya ujian ini hanya untuk mengukur tingkat kemampuan guru dan anak didik dalam memahami konsep yang terkandung dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar yang diterapkan oleh pusat. Sekali lagi, ujian nasional tidak perlu diperdebatkan, justru disyukuri sebab dengan demikian kita dapat mengetahui tingkat kemampuan guru dan anak didik dalam proses pendidikan dan pembelajarannya.

Sabtu, 02 Januari 2010

Belajar Membutuhkan Keberanian

Belajar adalah proses pengadaptasian diri terhadap kondisi di sekitar diri dan selanjutnya menjadikan kondisi tersebut bagai bagian integral diri. Dalam hal ini ada sebuah proses memasukkan konsep dan keterampilan ke dalam diri kita.Tentunya dalam kondisi seperti ini sangat dibutuhkan suatu keberanian sebab kita harus merombak segala hal yang ada di dalam diri kita dan menyisipkan beberapa bagian aspek baru ke dalam diri.
Sama seperti saat kita masih bayi, saat kita belajar untuk berjalan. Pertama kita merangkak, kemudian melangkah satu satu...jatuh satu... dua... bahkan banyak kali, sampai kaki berdarah darah...Tetapi semua itu adalah proses belajar. Coba kita bayangkan seandainya kita tidka mempunyai keberanian untuk melakukan hal tersebut? Mungkin sampai sekarang kita tidak dapat berjalan.
Sama juga ketika kita hendak belajar mengendarai sepeda,jika pada saat itu kita tidak mempunyai keberanian, maka sampai sekarang kita pasti tidak dapat mengendarai sepeda.
Proses belajar memang sangat membutuhkan keberanian agar kita dapat menguasai se gala aspek yang sedang kita pelajari. Tanpa keberanian, tentunya segala hal tersebut menjadi sesuatu yang mengeras, seperti tanah lempung yang menjadi batu cadas.
Oleh karena itulah, maka sebaiknya jika kita sedang dalam proses belajar, maka keberanian harus kita kedepankan sebagai ujung tombak. Seperti peluru, saat pemicu sudah ditekan, maka meluncur deras tanpa melihat kiri ataupun kanan.
Dan, ketika kita belajar kita harus berani meluncur dengan tingkat keberanian tinggi menuju pada sasarabn kita, yaitu keberhasilan!
Hanya yang berani yang dapat berhasil dalam proses belajarnya!

Jumat, 01 Januari 2010

Tahun Baru. POla Baru

Tahun Baru 2010 sudah datang mengganatikan tahun 2009. Tentunya semalanan kita sudha melakukan introspeksi atas segala hal yang susah kita lakukan selama tahun 2009 dan mencoba untuk membuat sebuah perencanaan strategis untuk tahun 2010.
Perencanaan strategis sangat penting mengingat bahwa kehidupan, khususnya dalam dunia pendidikan sangatlah dinamis. Hal ini sangat signifikan dengan pola kehidupan yang memang sangat dinamis. Pendidikan adalah bagian integral dari kehidupan, maka sduah seharusnya selalu mengetahui dan beradaptasi serta mengadaptasi sebagian besar kondisi di kehidupan dan membawanya ke dunia pendidikan sebagai upaya menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan.
Pada tahun 2010 pendidikan memang sudah harus benar-benar all out terhadap kondisi kehidupan, jika tidak tentunya hal tersebut menyebabkan terperangkapnya pendidikan dalam kurungan yang bernama out of date, kadaluwarsa!
Semoga di tahun 2010 seluruh elemen pendidikan benar-benar mampu mewujudkan program yang sudah disusun. Amin...

Selasa, 29 Desember 2009

Peranan Masyarakat dalam proses pendidikan

JIka kita telaah secara mendetail, sebenarnya, selama ini masyarakat di dalam proses pendidikan dan pembelajaran anak-anaknya hanya mengambil posisi sebagai donatur dan evaluator, bahkan kritikus terhadap proses pendidikan. Padahal, jika kita kembalikan pada konsep pembeljaaran, masyarakat adalah stakeholder untuk pelaksanaan proses pendidikan dan pembelajaran.
Oleh karena itulah, ketika permasalahan muncul di sekolah dan kemudian masyarakat menghakimi sekolah sedemikian rupa, seharusnya ita perlu menanyakan kebenaran masyarakat sebagai stakeholder pendidikan dan berarti kita harus membenarkan konsep bahwa amsyarakat adalah sekedar donatur dan evaluator bahkan kritikus untuk proses pendidikan, tanpa memberikan solusi terbaik bagi perkembangan ke depan yang lebih baik.
Masyarakat menghujat pendidikan sebenarnya menunjukkan bahwa tingkat pendidkan yang rendah. Jika mereka merasa kurang cocok dengan kegiatan yang ada di sekolah atau kejadian yan ada di sekolah, seharusnya mereka menyelesaikannya sebaik-baiknya, dengan mendatangi sekolah dan melakukan proses mediasi sehingga masalah tersebut kelar. Bukan malah mengompori sehingga masalah menajdi tambah panas.
Peranan masyarakat sangat penting bagi proses pendidikan dan bukan hanya sekolah yang bertangungjawab selanjutnya menjadi kambing hitam untuk setiap permasalahan yang timbul pada anak-anak dan proses pendidikannya.
Jika mengingat peranan masyarkat di dalam proses pendidikan,seharusnya sejak awal dan di dalam proses perjalanan pendidikan anak, masyarakat harus mengambil peran aktif. Tetapi yang selama ini adalah sikap masyarakat yang begitu acuh terhadap pola laku anak sekolah di dalam lingkungan masyarakat. Bagaimanapun, dampak yang ditimbulkan oleh lingkungan masyarakat terhadap anak didik adalah jauh lebih besar dibandingkan pengaruh di sekolah. Waktu yang dimiliki anak didik maish banyak di lingkungan masyarakat daripada di sekolah. Tetapi yang kita dapati adalah masyarakat yang acuh terhadap tugas dan perannya, tetapi pada saat ada masalah mereka yang berteriak paling lantang.
Coba kita telusuri, pada saat anak harus mengikuti proses pendidikan dan ternyata mereka berada di lingkungan amsyarakat, ternyata masyarakat sama sekali tidak melakukan tindakan yang proporsional untuk mengkondisikan anak didik agar belajar lebih baik.
Ketika anak-anak banyak yang mangkir di lingkungan masyarakat saat jam-jam belajar, masyarakat diam saja, bahkan sebagian amsyarakat melengkapinyay dengan memberikan fasilitas seperti play station ataupun game online... Begitulah... masyarakat hanya menghakimi pihak sekolah...

Jumat, 25 Desember 2009

Introspeksi Diri

Manusia adalah makhluk sosial, yaitu makhluk yang senantiasa membutuhkan eksistensi makhluk yang lainnya, khususnya sesama manusia. Sementara setiap manusia mempunyai sikap dan sifat dasar yang berbeda. Padahal mereka harus berinteraksi antar sesama sehingga kehidupan berjalan lancar.Akibatnya, setiap kali mereka berinteraksi terbuka peluang untuk terjadinya friksi antar personal. Friksi ini jika tidak segera diselesaikan secara bijak, tentunya membuahkan benturan yang dapat merusak pondamen interaksi tersebut.
Disamping hal tersebut diatas, interaksi antar personal menjadikan setiap person harus dapat menahan diri dan dapat segera melakukan introspeksi terhadap setiap hal yang sudah, sedang dan akan dilakukan dalama kehidupannya. menahan diri dan introspeksi diri merupakan satu sikap positif yang harus dikembangkan oleh setiap personal sehingga berhasil dalam membina hubungan antar pribadi dalam masyarakat.
Terkait dengan dunia pendidikan,menahan diri dan introspeksi menjadi bagian penting dan kegiatan penting sebab segala yang diajarkan dalam proses pendidikan dan pembelajaran adalah hal-hal positif yang menuntut setiap orang untuk berlapang hati dan berbesar jiwa setiap kali menghadapi kondisi yang terjadi dalam kehidupan. Kegiatan pendidikan dan pembelajaran adalah kegiatan positif, artinya mengarahkan seluruh aktivitas pelakunya dalam koridor nilai positif kehidupan.
Untuk hal tersebut, maka dunia pendidikan membutuhkan sikap tegas dan tegar agar dapat menumbuh kembangkan kedisiplinan kepada anak didik. Kedisiplinan dipercaya merupakan satu-satunya jalan agar kehidupan kita dapat mengalir pada jalur positif.Sementara, salah satu metode yang efektif untuk proses pendisiplinan adalah pemaksaan agar terbiasa bersikap sebagaimana yang diharapkan. Untuk dapat disiplin, pada awalnya memang harus dipaksakan, setelah hal tersebut terjadi, maka dapat menajdi satu kebiasaan dan pola hidup.
Disiplin adalah pola hidup dan semua itu harus dikondisikan.
Sebagai institusi penyelenggara pendidikan, yang salah satunya mendisiplinkan anak didik, maka setidaknya ada dua hal yang dapat dilakukan yaitu memberi reward dan punnishment terhadap segala hal yang dilakukan oleh anak didik. Reward dan punnishment merupakan metode efektif untuk dapat mendisiplinkan anak didik.Hal ini untuk mengimbangi kebiasaan yang diberlakukan di lingkungan keluarga dan masyarakat. dan, memang reward dan punnishment harus diberikan sebagai konsekuensi tindakan setiap orang. Reward adalah hadiah yang diberikan kepada seseorang yang dianggap telah melakukan sesuatu yang berarti bagi komunitasnya, sedangkan punnishment merupakan hukuman yang diberikan karena seseorang telah melakukan kesalahan atau pelanggaran terhadap tata aturan yang berlaku. Hal ini merupakan sesuatu yang wajar.
Oleh karena itulah, maka seharusnya kita selalu melakukan introspeksi terhadap diri sendiri jika menghadapi permasalahan terkait dengan upaya pendisiplinan diri. Jadi disiplin tidak dapat tercipta tanpa adanya pemaksaan, pada awalnya dan menjadikannya sebagai sebuah kebiasaan. Dan reward dan punnishment adalah hal biasa dalam proses pendisiplinan. Yang terpenting adalah kita harus memahami situasi yang sesungguhnya sedang terjadi. Setidaknya, jika kita ingin menciptakan suatu kondisi penuh kedisiplinan, maka kita perlu mendukung segala langkah untuk itu. Sangatlah tidak bijak jika kita memojokkan seseorang yang berupaya mendisiplinkan karena memberi punnishment kepada orang dekatnya,justru membombong orang dekatnya sebagai sosok positif jika di lingkungannya, di rumah. Ini hanyalah sebuah aroganisme,harusnya jika kita sudah mempercayai seseorang untuk membimbing anak kita menjadi disiplin dan bersikap positif dalam hidupnya, maka kita dukung semua langkah yang diambil untuk mewujudkan hal tersebut.
Mari kita introspeksi terhadap segala hal......Jangan termakan oleh gembosan yang tidak bertanggungjawab...

Senin, 21 Desember 2009

Perlu Peranan Aktif dan POsitif Orangtua

Dalam proses pendidikan dan pembelajaran, ada 3 (tiga) elemen utama yang bertanggungjawab atas kesuksesan program dan pelaksanaan kegiatan. Ketiga elemen utama ini harus bersinergi jika mengingnikan hasil maksimal dari proses pendidikan dan pembelajaran. Tanpa kemauan dan kemampuan bersinergi, tentunya akan terjadi silang pendapat, bahkan perbedaan pesrepsi yang memungkinkan terjadinya friksi dan benturan yang seharusnya tidak perlu terjadi. ketiga elemen tersebut adalah pemerintah (sekolah), Orangtua, dan masyarakat. Ketiga elemen ini harus menjadi satu bagian yang integral agar tujuan pendidikan dan pembelajaran tercapai.
Bahwa, ketiga elemen tersebut bertanggungjawab atas proses, tetapi terbatas oleh kapasitas dan waktu yang dimilikinya. Proses pendidikan secara formal memang diselenggarakan di sekolah, selanjutnya harus ditopang secara aktif dan positif oleh orangtua dan masyarakat. Artinya, kita tidak boleh hanya mengandalkan proses yang dilaksankaan di sekolah sebab proses tersebut hanya berlangsung selama 5 (lima) jam saja setiap harinya, sementara sisanya, yaitu sekitar 19 jam anak ada di lingkungan keluarga dan masyarakat. Tentunya hal ini perlu mendapatkan perhatian dari ketiga elemen terkait proses pendidikan.
Walaupun sekolah sebagai institusi formal pendidikan, tetapi kenyataan waktu yang tersedia sangatlah terbatas dan terkalahkan oleh lingkungan keluarga dan masyarakat. Boleh jadi sekolah sudah mengarahkan, membimbing anak agar berlaku positif dan mempunyai pengetahuan serta keterampilan, tetapi jika tidak didukung oleh orangtua dan masyarakat tentunya semua yang dilakukan oleh sekolah sama sekali tidak bermanfaat. Percuma saja semua hal positif yang sudah diberikan oleh sekolah jika ternyata anak didik tidak mendapatkan hal yang sama saat berada di lingkungan keluarga, apalagi dimasyarakat.
Sementara kita sangat menyadari bahwa peranan lingkungan keluarga dan masyarakat sangatlah menentukan keberhasilan dalam membimbing anak untuk menjadi sosok-sosok yang berkepribadian positif serta mampu survive dalam hidupnya.
Selanjutnya yang menjadi permasalahan, dan seringkali hal ini terjadi sehingga sangat menyudutkan eksistensi sekolah sebagai lembaga menyelenggara pendidikan, nilai-nilai positif untuk kehidupan adalah peranan orangtua yang tidak mendukung program dan proses pendidikan anak-anaknya, justru menyudutkan sekolah sebagai institusi yang negatif.
Seringkali kita mendengar berita bahwa ada guru yang memberikan penanganan kepada anak didiknya karena telah melakukan sebuah kesalahan atau beberapa kesalahan, tetapi selanjutnya ornagtua tidak melihat hal ini sebagai upaya positif untuk mengarahkan anaknya menjadi sosok positif, mala memojokkan sekolah sebagai institusi negatif sebab melakukan hal yang salah.
Pada saat sekarang eksistensi guru dalam proses pendidikan memang sangat riskan, bahwa apa yang dilakukan oleh guru tidak pernah keluar dari program pendidikan anak-anak, termasuk dalam hal ini ketika guru menangani anak-anak bermasalah. Mereka melihat hal tersebut sebagai penganiayaan, bahkan mereka tega memberitakan secara besar-besaran di media massa, yang lucu lagi media massa tidak menanggapi secara imbang, malah membuat kejadian kecil menjadi sangat besar, bombamtis!
Peranan orangtua di dalam proses pendidikan anak memang sangat diharapkan sebagai sebuah kerjasama mutualisme sehingga anak merasa benar-benar mendapatkan proses yang benar. Oleh karena itulah, maka bentuk kerja sama atau peran aktif dan positif orangtua adalah mendukung setiap kegiatan yang dilakukan oleh sekolah dan bukan mementahkannya, apalagi sampai menyerang sekolah hanya karena sekolah atau oknum guru memberikan penanganan atas pelanggaran yangd ilakukan oleh anak-anak.
Bagaimanapun, setiap yang dilakukan oleh sekolah adalah amsih berada di dalam koridor pendidikan dan pembelajaran, oleh karena itulah, setidaknya perlu konfirmasi dan hati dingin saat menghadapi persoalan seperti ini. Kita tidak boleh mengedepankan emosi.
Oleh karean itulah, perlu peran aktif dan positif orangtua saat menghadapi permasalahan anak di sekolah. TUjuan kita adalah mengarahkan agar anak kita emnajdi sosok-sosok yang mengerti tanggungjawab dan kewajiban hidupnya, kita tidak perlu membombong anak sebagai sosok yang mengerti dans ebagainya. Ketika kita mendapati anak kita bermasalah, maka dalam hal ini kita tetapkan tujuan agar anak dapat lebih baik. Kita tdiak perlu membesar-besarkan masalah melainkan memahami masalah dengan bijak dan kebijakan yang tinggi.
Guru di sekolah adalah sebagaimana ibu dan bapak di rumah, tidak ada yang berlaku diluar kendali saat menangani anak bermasalah. Yang dilakukan oleh guru adalah standar perlakuan terhadap anak-anak.
Di masa ke depan, peran aktif dan positif orangtua sangat menentukan keberhasilan anak-anak kita,dukung kegiatan sekolah selama semua itu sesuai dengan koridor pendidikan yang diselenggarakan olehs ekolah.
semoga semua ebrjalan lancar. Amin

Kamis, 10 Desember 2009

Meningkatkan Brandingself dengan Keterampilan Aplikatif

Sekolah kejuruan merupakan sekolah yang diharapkan dapat memberikan bekal kepada anak didik sehingga setelah menyelesikan masa belajarnya, mereka dapat bekerja. Tentunya hal ini merupakan sesuatu yang ideal sebab sekolah kejuruan itu sekolah lanjutan, setingkat SMA yang dalam hal ini lulusannya masih belum cukup dewasa untuk langsung bekerja. Kita harus mengakui bahwa anak-anak lulusan SLTA sebenarnya belum layak terjun ke dunia kerja. Mereka memang masuk dalam masa transisi,diam sudah gak pantas tetapi bekerja juga masih kecil. Tetapi, bagaimanapun mereka harus siap untuk melakukan hal tersebut.Hal ini karena tujuan bersekolah di sekolah kejuruan memang agar siap bekerja setelah selesai masa belajar.
Sementara kita mengetahui bahwa tingkat persaingan di dunia kerja sangatlah ketat. Setiap orang yang memutuskan untuk memasuki dunia kerja harus siap berhadapan, bersaing dengan sekian banyak pesaing dengan kemampuan yang mungkin sama, bahkan lebih dari mereka. Oleh karena itulah, agar anak didik dapat memenuhi kebutuhannya, yaitu memasuki dunia kerja setelah menyelesaikan masa pendidikan, belajarnya, maka sekolah harus benar-benar dapat menyelenggarakan pembelajaran yang benar-benar mamapu mengkontribusi kebutuhan anak didik.
Sekolah harus dapat menyelenggarakan proses pendidikan yang memungkinkan anak didik mendapatkan bekal yang langsung dapat diterapkan dalam kehidupannya. Dan, proses yang memungkinkan untuk kondisi tersebut adalah pada sisi keterampilan, artinya anak didik harus diberikan keterampilan yang benar-benar merupakan refleksi atas kebutuhan masyarakat atas tenaga-tenaga kerja yang mempunyai kompetensi pada bidang kerjanya. Dan, kebutuhan masyarakat sangatlah banyak. Setiap saat selalu ada bertambah atau mengalami perubahan tingkat kualiats dan kuantitasnya.
Proses pembelajaran yang dibutuhkan adalah pembelajaran aplikatif terhadap dunia kehidupan, masyarakat. Sekolah yang mampu menyelenggarakan proses pendidikan yang aplikatif sehingga anak didiknya mempunyai keterampilan aplikatif pada akhirnya menjadi rebutan amsyarakat dan hal ini tentunya sangat menguntungkan sebab brandingself sekolah naik dan hal tersebut membuat masyarakat banyak menyekolahkan anak-anaknya di sekolah tersebut.
JIka, anak-anak dapat diserap maksimal oleh kehidupan masyarakat, berarti outcome sekolah sangat bagus. Dan, tanpa promosi apapun,masyarakat datang mempercayakan anak-anaknya dididik di sekolah tersebut. Tentunya,jika sebuah sekolah sudah pada taraf seperti itu, maka keberlanjutan sekolah tersebut tetap eksis.
Memang, sudah saatnya sekolah meningkatkan kualitas proses pembelajaran, pelayanan kepada masyarakat sehingga mampu meningkatkan brandingself sekolah dan sekaligus meningkatkan kualitas lulusannya.
Ayo, kita mulai sejak sekarang, jangan sampai ketinggalan sebab kereta tidak kembali untuk menjemput lagi, sekali kita tertinggal, maka kita hancur. Sekolah yang tidak mampu meningkatkan brandingselfnya pasti ditinggalkan amsyarakat dan pada akhirnya hancur....