Senin, 05 Desember 2022

BERWIRAUSAHA DENGAN KETERAMPILAN LAS

Kegiatan pengelasan telah menjadi pilihan masyarakat untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan. Banyak aspek kehidupan yang menerapkan teknologi pengelasan untuk pengerjaannya. Oleh karena itu, keterampilan mengelas merupakan bekal dan modal untuk menjalani kehidupan. Dengan keterampilan mengelas, maka kita dapat memperoleh penghasilan yang cukup untuk menutup kebutuhan hidup. Penghasilan tersebut berasal dari kegiatan berwirausaha dengan keterampilan las.

Pengelasan adalah proses menyambung 2 (dua) logam atau lebih dengan mempergunakan energi panas dan tekanan. Untuk menyambung logam, maka dapat kita lakukan dengan cara:

1. melunakkan bagian yang akan  disambung dengan proses pemanasan tetapi tidak sampai pada titik cair. Kita cukup memanaskan bahan las hingga memijar, lunak lantas menempelkan satu terhadap yang lain. Kemudian, kita berikan tekanan dengan pukulan, tempaa  sedemikian rupa sehingga bagian yang pijar akan saling menyatu. Langkah ini dilakukan berkali-kali dan melakukan penempaan sehingga menyambung, menyatu. Proses ini sering disebut kerja tempa atau kerja tukang pandai besi.

2. Memanaskan bagian yang dilas dengan melakukan pemanaskan bagian yang akan disambung. Proses pemanasan tidak sampai memijar apalagi mencair. Kita cukup meningkatkan suhu logam yang disambung sehingga pada saat proses penyambungan dapat dengan mudah dilakukan. Bahan yang dilas tidak sampai mencair, tetapi logam penyambung yang dicairkan pada bagian yang dipanaskan. Bahan yang mencair adalah bahan penyambung yang kita kenal dengan nama timah. Timah inilah yang jika dipanaskan akan mencair dan dapat menyambung 2 (dua) logam yang akan disambung. Proses ini disebut penyambungan solder.

3. memanaskan bagian yang disambung hingga mencair bersama baham tambah untuk penyambungan. Bahan kita panaskan hingga suhu cairnya, bersamaan dengan kondisi tersebut bahan tambah juga mencair sehingga dapat menjadi tambahan cairan logam dan menyatu dengan bahan yang disambung.

Untuk proses ini dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara, yaitu:

a. Dengan nyala api gas

     Proses penyambungan dengan nyala api didapatkan dari pembakaran gas asetelin yang dicampur dengan oksigen. Proses pencampuran oksigen dengan asetelin dilakukan dalam alat yang dikenal sebagai pembakar atau brander. Alat ini berfungsi sebagai pencampur atau mixer sedemikian rupa sehingga didapatkan campuran yang seimbang antara oksigen dan gas asetelin.

Untuk dapat melakukan proses pencampuran oksigen dan gas asetelin sehingga pada porsi seimbang, maka pada badan brander terdapat saluran-saluran yang diatur dengan kran-kran. Oksigen dan gas asetelin mengalir pada setiap salurannya dan untuk mencapai bagian ruang pencampuran, maka kran pengatur dapat difungsikan. Dengan memutar-mutar kran pengatur, maka jumlah oksigen atau gas asetelin dapat diatur. Campuran oksigen dan gas asetelin akan mengalir menuju ujung pembakar atau cuncum. Dan, pada cuncum inilah campuran tersebut dibakar. Api pada ujung pembakar atau cuncum ini dapat kita atur melalui kran masing-masing.  Pengaturan kran ini akan menghasilkan nyala api yang berbeda pada ujung pembakar atau cuncum pembakar.

Ada 3 (tiga) kondisi campuran oksigen dan asetelin yang terjadi, yaitu:

1. Nyala Karburasi
Nyala Karburasi didapatkan pada saat kita membuka keran gas oksigen dan gak asetelin dan terdapat kelebihan asetilen. Pada nyala jenis ini terdapat tiga daerah yaitu kerucut nyala, selubung luar dan kurut luar berwarna keputihan. 

Nyala Karburasi sering dipergunakan untuk pengelasan logam berbahan Monel, Nikel, berbagai jenis baja dan bermacam-macam bahan pengerasan permukaan bukan besi (nonferous).

2. Nyala Oksidasi
Nyala oksidasi adalah nyala yang terjada apabila pembukaan keran gas oksigen dan gas asetelinnya terdapat kelebihan pada gas oksigen. Nyala oksidasi mirip dengan nyala netral tetapi kerucut nyala bagian dalam lebih pendek dan selubung luar lebih jelas warnanya.
Nyala oksidasi ini dipergunakan untuk proses pengelasan benda kerja berbahan kuningan dan perunggu.

3. Nyala Inti/Netral 

Nyala Netral ini didapatkan pada saat kita membuka keran gas asetelin dan keran oksigen dengan perbandingan sekitar 1 : 1. Nyala Netral ini dipergunakan untuk mengelas bahan dari Baja, besi cor, baja tahan karat dan tembaga.

Nyala api pembakar ini terjadi jika campurannya berimbang antara jumlah oksigen dan gas asetelinnya. Warna nyala api ini biru dengan posisi sedikit lancip di ujung mulut pembakar. Nyala api inilah yang mempunyai efektivitas pembakaran yang paling tinggi, sempurna sehingga proses pengelasan dapat sempurna. Pengaturannya dilakukan pada keran pengatur saluran oksigen dan gas asetelin. Keberimbangan jumlah oksigen dan gas asetelin menjadikan pemakaian lebih ekonomis 

b. Dengan busur nyala api listrik

Ketika dua kutub listrik dipertemukan, didekatkan, maka akan terjadi loncatan muatan dan menimbulkan percikan api. Hal ini sebagaimana teknis listrik, jika dua kutub dihubungkan, maka muatan listrik akan bergerak di dalam media penghantarnya. Muatan di dalam sistem akan mengalir dari kutub dengan muatan negatif (katoda) lebih banyak ke kutub dengan muatan positif lebih banyak (anoda). Sementara itu, di rangkaian luar sistem, muatan mengalir dari kutub positif ke kutub negatif. Muatan yang mengalir ini kita sebut sebagai arus listrik.

Pada saat proses pengelasan dilakukan, maka ada 2 (dua) posisi yang mungkin diterapkan untuk pengaliran arus listrik. Pola ini disebut polaritas, yaitu:
1. Posisi lurus
Jenis ini jika arus listrik dialirkan secara langsung dengan arus positif pada elektroda dan arus negatif pada benda kerja. Elektroda adalah bagian alat las.yang akan memijarkan busur nyala api listrik. Busur nyala api listrik timbul sebab ujung kawat elektroda ini dihubungkan dengan benda kerja, sedangkan elektrodanya juga dialiri arus listrik. Benda yang bermuatan negatif bertemu dengan ujung elektroda yang bermuatan positif, maka terjadilah loncatan arus listrik yang menimbulkan percikan api. Percikan api inilah yang berfungsi sebagai pembakar sehingga benda kerja mencair dan menyatu ditambah dengan cairan kawat elektrodanya 
2. Posisi terbalik
Posisi ini menempatkan kutub negatif pada elektroda dan kutub positif pada benda kerja. Ujung elektroda yang bermuatan negatif didekatkan pada benda kerja yang bermuatan positif sehingga terjadi loncatan arus listrik dari benda kerja ke elektroda. Kondisi ini menyebabkan terjadinya peningkatan suhu pada elektroda dan menyebabkan pencairan kawat lebih cepat.
Berwirausaha Dengan Keterampilan Las

Keterampilan las merupakan satu kompetensi yang dimiliki oleh seseorang dalam proses penyambungan dua logam dengan proses pemanasan dan pencairan serta pembekuan bersama.

Banyak kebutuhan hidup memanfaatkan prinsip dasar pengelasan, misalnya konstruksi bangunan, kebutuhan rumah tangga, perlengkapan-perlengkapan hidup, dan sebagainya. Dan, ini merupakan peluang usaha bagi setiap orang.

Caratan: 
a. sumber gambar https://www.pengelasan.com/2014/06/macam-macam-nyala-api-oksigen-asetilen.html?m=1



Penulis:
Mohammad Saroni
Penulis buku: #Orang Miskin Bukan Orang Bodoh
Tinggal di Gembongan, Gedeg, Mojokerto
085784990514

Jumat, 25 November 2022

BELAJAR BERBASIS PROYEK

PROGRAM PEMBEKALAN KETERAMPILAN MELALUI PEMBELAJARAN PROYEK
Mohammad Saroni

Belajar merupakan satu upaya yang dilakukan secara sadar sebagai pertanggungjawaban moral terhadap perkembangan kualitas diri. Oleh karena itu proses belajar merupakan kewajiban semua orang.  Belajar merupakan kegiatan yang harus dilakukan sepanjang hayat dikandung badan. Dan, belajar merupakan konsekuensi atas keberadaan diri dalam kehidupan. Tujuan proses belajar adalah mengkondisikan diri untuk dapat menghadapi dan menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan. Aspek pengkondisiannya adalah 3 (tiga) kompetensi dasar, yaitu afektif, kognitif, dan psikomotor. Berdasarkan 3(tiga) kompetensi dasar tersebut, maka dapat kita kembangkan menjadi kompetensi sesuai kebutuhannya. Jika tujuannya agar dapat membaca, maka aspek belajar kita pada kompetensi membaca. Jika tujuannya agar dapat menghitung, maka aspek belajar kita pada kompetensi berhitungnya. Begitulah, kita belajar sesuai dengan kebutuhan. Dengan, demikian, maka proses belajar harus dijalani atau dilakukan secara optimal. 

Aspek psikomotor sebagai modal aplikatif hidup.

Salah satu aspek penting untuk menghadapi hidup secara langsung adalah kemampuan psikomotor. Kemampuan inilah yang membuat kita berkemampuan untuk menyelesaikan permasalahan hidup. Keterampilan seseorang akan menentukan kualitas hidupnya di masyarakat. Mungkin banyak orang yang mempunyai kualitas kognitif dan afektif yang bagus, tetapi tidak mempunyai keterampilan untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah kehidupan.

Aspek psikomotor merupakan aspek penting yang secara langsung memberikan kemampuan aplikatif kepada anak didik. Dengan kemampuan ini, maka anak didik dapat menangani secara teknis kewajiban-kewajiban hidupnya. Aspek psikomotor ini memungkinkan anak difik untuk melakukan berbagai kegiatan hidup dengan kemampuan yang dimilikinya. 

Di dalam kehidupan, kemampuan seseorang di saat menghadapi dan menyelesaikan masalah sangat penting daripada sekedar pengetahuan tentang masalah. Kita boleh saja menguasai berbagai pengetahuan, tetapi jika hanya penguasaan pengetahuan, maka semua hanya akan menjadi retorika lisan semata. Orang hanya pintar menyampaikan teori-teori semata tetapi pada saat menghadapi permasalahan hidup nyata, mereka tersungkur. Mereka kalah telak. Akan lahir orang-orang banyak omong tetapi kemampuan kerja minim. Apalah artinya orang-orang seperti ini. Mereka akan menjadi pengganggu percepatan gerak perubahan. Mereka menjadi ahli debat yang kelabakan ketika diberikan kepercayaan untuk menangani permasalahan hidup.

Pembekalan aspek psikomotor kepada anak didik merupakan upaya kita untuk menjadikan anak-anak sebagai sumber daya manusia yang aplikatif. Anak-anak yang mempunyai kemampuan paripurna atas permasalahan hidup. Secara pengetahuan mereka mampu dan secara praktik, mereka tidak ada masalah. Kemampuan psikomotor merupakan penopang utama kemampuan kognitif. Pengetahuan yang disempurnakan dengan keterampilan menjadikan seseorang sebagai sumber daya manusia yang unggul. Kita membutuhan orang-orang berpengetahuan yang terampil menyelesaikan masalah. Pengetahuan sebagai modal teori dan keterampilan sebagai modal eksekusi.

Pembelajaran berbasis proyek

Proyek merupakan kegiatan yang dilakukan berdasarkan kesepakatan untuk penyelesaian dalam kurun waktu tertentu dengan konsekuensi yang harus ditanggung oleh penanggungjawab kegiatan. Proses pembelajaran berbadis proyek mengedepankan kegiatan keterampilan secara paripurna. Keterampilan paripurna artinya tidak sekedar dapat menyelesaikan proyek, melainkan termasuk pada kegiatan-kegiatan persiapan. 

Sebagaimana umumnya, ketika sebuah proyek akan dikerjakan, maka harus dilakukan pengajuan proyek, langkah-langkah persiapan,, eksekusi proyek, evaluasi proyek, dan serah terima proyek, bahkan pemasaran hasil pekerjaan. Semua proses harus dilakukan oleh anak didik sehingga mempunyai pengalaman nyata dalam penanganan pekerjaan secara paripurna. Anak didik bukan sekedar tukang atau pekerja. Mereka adalah perencana kegiatan, meliputi membuat gambar kerja, menghitung kebutuhan bahan (kalkulasi biaya), menentukan alat-alat yang dipergunakan, perkiraan waktu yang dibutuhkan untuk penyelesaian, dan bagaimana untuk pemasarannya.

Pembelajaran proyek bukan pembelajaran  personal. Guru tidak memberikan pekerjaan satu siswa satu pekerjaan (sasisapek), melainkan sekelompok siswa untuk satu pekerjaan atau proyek. Ini merupakan team work yang diharapkan solid dan dapat bekerja sama dalam menyelesaikan pekerjaan. Dengan demikian, maka pembelajaran proyek merupakan miniatur dari suasana ataupun kondisi saat bekerja. Bahwa, dimanapun kita bekerja, maka kita adalah bagian dari team work di tempat kerja. Tidak ada seorang pekerja yang dapat bekerja sendirian. Mereka harus bekerjasama, saling membantu agar pekerjaan dapat selesai sesuai perkiraan waktunya serta ditangani secara tepat dan cepat. Dalam hal ini, bukan berarti karena keahlian kita mengelas, maka kita hanya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan pengelasan. Kita tetap harus membantu teman kerja lainnya jika dibutuhkan. 

Pembelajaran proyek mendidik anak didik agar dapat menyadari bahwa dia adalah bagian dari sebuah kelompok kerja yang menangani secara bersama sebuah pekerjaan. Mereka harus membangun suasana kerja yang kondusif sehingga setiap personil dapat melakukan peran masing-masing. Tidak ada yang pekerjaannya terlalu berat. Begitu juga, tidak ada yang pekerjaannya terlalu ringan. Orang bilang, nyolong balunge kancane. Di samping itu, agar tidak terjadi egoisme dalam bekerja. Karena pekerjaannya sudah selesai, maka dia dapat bersantai-santai menunggu pekerjaan untuknya. Sebagai bagian dari tim, maka kinerja seperti ini justru dapat mengganggu kelancaran jalannya penyelesaian proyek. 

Untuk protek yang harus dikerjakan anak didik dapat diperoleh dari masyarakat umum, atau masyarakat sekolah, civitas akademik sekolah, atau anak-anak merencanakan pekerjaan sendiri dan siap memasarkannya. Dalam hal pekerjaan dari masyarakat.umim, pihak sekolah menawarkan kepada masyarakat atas produk benda kerja yang dapat dikerjakan anak didik.

Pentingnya pendidikan vocasional

Kebutuhan sumber daya manusia yang terampil menuntut dunia pendidikan untuk menyesuaikan diri, terutama institusi pendidikan vocasional. Pendidikan vocasional memang diarahkan pada penguasaan keterampilan yang paripurna. Materi dan proses pembelajaran dilakukan dengan mengefektifkan berlatih dan berlatih. Anak didik secara intens diberikan pelatihan sesuai dengan kompetensi yang diinginkannya. Porsi latihan, khususnya latihan kompetensi diberikan dengan dengan prosentase lebih besar daripada yang lainnya. Jika dari tiga aspek dasar pendidikan diberikan, maka proses dibagi menjadi 3 (tiga) bagian dengan prosentase keterampilan lebih banyak. Anak didik memang diarahkan untuk terampil melakukan pekerjaan.
3 (tiga) bagian dasar proses pendidikan afektif, kognitif, dan psikomotor memang harus berikan kepadananak didik secara proporsional. Dengan kondisi tersebut, maka anak didik mendapatkan pembekalan yang lengkap. Anak berkatakter, anak berpengetahuan, dan anak berketerampilan. Kondisi ini memang ideal dan sesuatu yang ideal itu merupakan situasi yang sempurna. Dan, tidak ada yang sempurna dalam hidup ini. Walaupun kita berusaha sekuat tenaga untuk mencapai kondisi ideal (sempurna), tetapi tak akan pernah mencapai kondisi ideal/sempurna. Kesempurnaan hanya milik sang Pencipta alam.

Tetapi, pembelajaran dengan sistem proyek sangat memungkinkan anak didik mendapatkan bekal secara lengkap, afektif, kognitif, dan psikomotornya. Dengan demikian, maka anak didik lebih siap menghadapi berbagai masalah kehidupan. Aspek pengetahuan, teori dapat dikuasai dengan baik. Aspek keterampilan juga dapat dikuasai. Begitu juga halnya denhan aspek karakternya. Ketiga aspek tersebut merupakan aspek penting dalam kehidupan. Memang belum sempurna, tetapi setidaknya anak didik mempunyai bekal untuk menghadapi dan menyelesaikan permasalahannya. 

Pembelajaran vocasional merupakan salah satu program pembelajaran berbasis keterampilan. Anak didik diberikan proses yang mengedepankan pembekalan keterampilan. Pembekalan keterampilan mendapatkan porsi lebih banyak di dalam proses pembelajarannya. Artinya, anak didik dikonsentrasikan untuk lebih pada pembelajaran keterampilan yang mendukung kompetensinya ataupun yang aplikatif dalam kehidupan masyarakat. Kompetensi aplikatif yang diberikan kepada anak didik adalah sebuah keterampilan yang siap terapkan. Anak didik tidak perlu lagi mengikuti dilat-diklat kompetensinya. Dengan pembekalan keterampilan aplikatif ini, anak didik tidak lagi sebagai tenaga kasar melainkan adalah seorang tenaga ahli kerja. Dia sudah mempunya kompetensi yang paripurna untuk mengerjakan berbagai pekerjaan. 

Jika kita rujukan dengan pola kehidupan bangsa yang sangat dinamis, dimana perkembangan teknologi yang sangat pesat serta kebutuhan teknologi yang terus mendesak, maka pembelajaran vocasional menjadi sangan relevan. Anak sisik dipacu untuk menjalani proses pembelajaran yang  identik dengan pola kerja di dunia kerja. Anak didik dihadapkan situasi nyata dalam pekerjaan. Lingkungan sekolah disulap menjadi semacam workshop dari sebuah perusahaan dimana semua pekerjaan dilakukan di tempat itu. Dengan demikian, tidak hanya keterampilan anak didik yang dikembangkan, melainkan juga pola kerja dan kinerja mereka. Anak didik terbiasa berada di lingkungan kerja dan tidak kaget ketika dihadapkan berbagai macam pekerjaan dan ragam orang yang datang, pelanggan. 

Pembelajaran berbasis proyek memang merupakan proses pembekalan kemampuan yang prospektif di negeri kita. Kita harus membuat gebrakan proses yang menyadarkan anak didik tentang pentingnya keterampilan aplikatif untuk menghadapi kehidupan yang semakin ketat persaingannya. Jika tidak, maka kita akan terjegal dan tersingkir dari lingkaran kehidupan yang efektif. Bekal keterampilan merupakan nilai tambah yang dimiliki seseorang sehingga mudah memasuki lapangan pekerjaan dalam kehidupan. 

Selama ini, proses pembelajaran dilakukan dalam upaya untuk memberikan dan mendapatkan pengetahuan. Pengetahuan dianggap sebagai modal penting dalam menghadapi kehidupan. Pengetahuan memungkinkan seseorang untuk menyelesaikan setiap permasalahan hidup yang dihadapinya. Mereka beranggapan bahwa teori merupakan dasar dari setiap keteranpilan. Dengan mempunyai pengetahuan dasar ini, maka kita sudah mempunyai kunci untuk menguraikan atau menyelesaikan masalah. Kita dapat mengetahui kunci permasalahan yang kita hadapi. Dengan demikian, maka kita lebih mudah menghadapi permasalahan. Kita tidak akan kesulitan. Tetapi, kenyataan yang kita temukan dalam kehidupan ini adalah bahwa tanpa keterampilan dasar, maka kita tetap akan mengalami kesulitan dalam menghadapi hidup. Keterampilan dasar inilah yang sesungguhnya merupakan modal dasar hidup. 

Kamis, 03 November 2022

MENGEMBANGKAN POTENSI GURU

Guru adalah sosok yang bertanggungjawab secara langsung pada proses pendidikan. Tanggungjawab yang dimaksud terkait dengan persiapan, pelaksanaan, dan hasil proses pendidikan. Guru adalah ujung tombak keberhasilan ataupun kegagalan proses pendidikan. Oleh karena itu, seorang guru harus mempunyai kemampuan untuk mencapai keberhasilan proses. 

Peranan guru dalam proses pendidikan dan pembelajaran mendampingi anak didik melakukan proses pengembangan kompetensi diri dalam 3 (tiga) aspek, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Ketiga aspek ini merupakan modal untuk menghadapi kehidupan. Oleh karena itu, ketiga aspek tersebut harus menjadi bagian integral dalam diri setiap orang. 

Guru sebagai sosok pengembang kemampuan anak didik, masyarakat pada umumnya, maka harus mengembangkan kemampuan dirinya. Pengembangan kemampuan diri dapat dilakukan dengan berbagai cara. Setiap guru harus menyadari bahwa hal ini sebagai pertanggung jawaban moral. Guru itu digugu dan ditiru, artinya segala omongan dan tindakannya harus dapat digugu dan ditiru oleh anak didik dan masyarakat di lingkungannya. 

Banyak cara yang dapat diterapkan untuk pengembangan kemampuan atau potensi guru. Pengembangan kemampuan guru merupakan langkah konkret untuk menjadikan guru selalu siap menghadapi setiap permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan. Cara pengembangjan kemampuan dan potensi guru adalah:

1. Pendidikan

Upaya pengembangan kemampuan dan potensi guru dapat dilakukan dengan pendidikan berkelanjutan. Guru harus terus melakukan proses pendidikan dirinya agar kemampuan dirinya meningkat.  Pendidikan itu seumur hidup, setiap saat kita menjalani proses pendidikan agar modal diri kita dapat menjawab dan menyelesaikan permasalahan hidup. 

Guru adalah agen pendidikan sehingga merupakan keharusan untuk secara terus menerus mengembangkan kemampuan dirinya. Pengembangan kemampuan diri ini bertujuan agar selalu ada persediaan kompetensi diri yang disampaikan untuk anak didik. 

Pada sisi lain, ada yang mengatakan bahwa pendidikan itu terkait pada upaya pengembangan kualitas katakter. Seseorang yang mengikuti proses pendidikan bertujuan untuk mengembangkan karakter dirinya sehingga menjadi lebih baik. Oleh karena itu peranan guru harus lebih efektif sebagai agen pendidikan, bahkan agen perubahan. Perubahan yang dimaksud dalam hal ini adalah perubahan karakter buruk menjadi karakter baik. Keberhasilan proses pendidikan dapat kita lihat dari perubahan karakter ini. 

Seorang guru harus mengembangkan kemampuan dirinya meningkatkan pendidikannya. Seorang guru tidak boleh merasa nyaman dengan kompetensi yang sudah dimilikinya. Hal ini karena kehidupan ini sangat dinamis sehingga setiap saat mengalami perubahan. Perubahan yang terjadi adalah semakin baik dan tentunya semakin maju. Kondisi ini menuntut setiap orang untuk mampu menghadapi dan menyelesaikan setiap kondisi. Jika tidak, maka akan tergilas oleh putaran roda kehidupan. 

Dan, guru sebagai agen pendidikan, pembelajaran, dan agen perubahan, maka peningkatan kemampuan diri sangat penting dan menjadi kewajiban.

b. Pelatihan

Kemampuan dan potensi seorang guru dapat dikembangkan dengan mengikuti pelatihan-pelatihan. Pelatihan ini diyakini dapat mengembangkan kemampuan seseorang, dalam hal ini guru. 

Oleh karena itu, banyak pelatihan yang ditujukan untuk para guru. Mereka mengikuti berbagai pelatihan untuk meningkatkan kemampuan diri. Mereka melatih diri pada berbagai kompetensi. Kita harus meyakini bahwa sesungguhnya kemampuan yang kita miliki merupakan hasil dari pelatihan-pelatihan yang kita ikuti.

Saat sekarang ini berbagai pelatihan diselenggarakan, baik institusi terkait maupun komunitas-komunitas peduli pendidikan, pengembangan kompetensi kognitif, afektif, maupun psikomotor. Ada pelatihan yang berbayar, tetapi tidak sedikit elatihan yang diselenggarakan secara gratis. Dengan mengikuti pelatihan-pelatihan, maka kompetensi dan potensi guru dapat meningkat secara signifikan. Peningkatan kompetendi dan potensi ini membawa peningkatan pada proses pendidikan dan pembelajaran yang diselenggarakannya.

Seorang guru harus menyadari kenyataan bahwa kemampuan yang dimiliki masihkah sedikit dan perlu ditingkatkan terus. Dan, pelatihan-pelatihan merupakan langkah konkret untuk hal tersebut. Jangan engganuntuk mengikuti proses pelatihan sebab proses tersebut untuk meningkatkan kemampuan diri dan selanjutnya dapat meningkatkan proses pendifikan dan pembelajaran, serta mampu meningkatkan kualitas hasil prosesnya.

c. Belajar

Belajar merupakan proses pengkondidian diri sehingga terjadi pengembangan kompetensi dan potensi. Setiap orang berkewajiban untuk belajar. Belajar adalah tanggungjawab pribadi yang mrlrkat pada diri setiap orang sampai mereka meninggal. Oleh karena itu dikatakan bahwa proses belajar itu seumur hidup. Selama kita masih hidup, maka selama itu pula kita harus belajar.

Mengapa kita harus belajar seumur hidup? Selama kita hidup, kehidupan memberikan permasalahan yang tiada henti, tiada habis. Selalu ada permasalahan yang harus kita hadapi dan selesaikan agar tidak mengalami kesulitan. Jika kita hanya mengandalkan kemampuan yang sudah kita miliki, maka kita akan mengalami kesulitan. Permasalahan hidup semakin lama semakin berat dan sulit sehingga kemampuan yang kita miliki akan menjadi kemampuan usang,kemampuan yang tidak mempunyai kemampuan untuk menghadapi spalagi menyelesaikan permasalahan baru. Oleh karena itu, kita harus belajar!

Untuk melakukan proses belajar dapat kita lakukan secara mandiri, nonformal (autodidak) atau secara formal ( terbimbing dan terdampingi). Kemajuan teknologi yang sedemikian pesat merupakan satu keuntungan bagi kita, khususnya teknologi informasi. Kita dapat melakukan proses belajar secara daring (dalam jaringan). Banyak aplikasi dan laman yang siap memberikan bantak informasi kognitif, afektif, dan psikomotor untuk kita. Kita tinggal klik laman yang kita inginkan dan mengetikkan materi informasi yang kita butuhkan. Maka, kita dapat menemukan banyak kemungkinan laman yang sisp memberikan informasi kepada kita. Pilih saja salah satu laman tersebut, maka muncullah informasi yang kita buyuhkan. Dan, kita dapat belajar dari laman tersebut. 

Seorang guru tidak boleh berhenti belajar sebab dia harus mengupdate pengetahuan yang dimilikinya. Dia harus merefresh kompetensinya sesuai dengan kondisi di kehidupan masyarakat. Guru itu digugu dan ditiru. Setiap perkataannya selalu digugu, dipercaya orang dan setiap tindakannya akan ditiru oleh masyarakatnya. Bagaimana jadinya jika pengetahuan guru tidak mampu menjawab permasalahan hidup yang terjadi di kehidupan masyarakat?

d. Mengajar

Untuk mengembangkan kemampuan dan potensinya, maka guru harus intens melakuksn proses mengajar. Mengajar adalah proses transfer pengetahuan dalam dirinya ke orang lain, anak didik. Guru harus terus mengajar agar kompetensi dan potensi 8 semakin meningkat. Pada saat1 melakukan kegiatan mengajar sebenarnya terjadi proses refreshing dan pembaruan kemampuan serta potensi guru.

Seorang guru harus mengajar. Jika tidak, maka eksistensinya sebagai guru perlu dipertanyakan. Bagaimana seseorang yang memposisikan dirinya sebagai guru tetapi tidak mengajar? 

Sebenarnya, proses mengajar itu adalah proses pengasahan kemampuan dan potensi guru. Pada saat mengajar, maka seorang guru harus memeras kemampuan dan potensi dirinya sehingga informasi yang tersimpan dalam memori otaknya dapat ditransfer ke anak didik. Semakin intens mengajar,maka semakin tajam daya ingat guru. Hal ini mengisyaratkan bahwa kompetensi dan potensi guru semakin bagus. Bukankah jika kita melakukan proses mengajar berarti kita mengulang hal yang sama pada waktu yang berbeda? Jika kita terus-terusan melakukan pengulangan, maka kita akan hafal dengan materi yang kita ajarkan. Semakin hafal, maka semakin mudah melksanakan kewajiban mengajar. 

e. Berinteraksi aktif dengan anak didik.

Di dalam proses pendidikan dan pembelajaran, ada 2 (dua) pihak penting yang berperan, yaitu pendidik dan pedidik. Dua pihak ini berinteraksi dan berkomunikasi dalam koridor pendidikan. Dengan pola seperti ini, proses dapat dilakukan secara formal, informal, bahkan nonformal di lingkungan sekolah. Hal ini karena kemampuan guru memposisikan diri sebagai guru, sebagai orangtua, sebagai teman, bahkan sebagai orang-orang penting lainnya dalam kehidupan anak di masyarakatnya.

Seorang guru harus berinteraksi aktif dengan anak digiknya. Interaksi ini tidak hanya terbatas pada interaksi belajar formal, tetapi dapat dilakukan dalam interaksi personal secara umum, informal maupun nonformal. Dalam interaksi ini, guru tidak terbatas pada interaksi dan komunikasi tentang pendidikan dan pembelajaran. 

Guru dapat saja melakukan interaksi dan komunikasi sebagai pribadi. Interaksi dan komunikasi pribadi ini memungkinkan situasinya lebih kondusif. Guru berperan sebagai teman, saudara, tokoh masyarakat, dan yang lainnya. Dengan kondisi tersebut, maka komunikasi dan interaksi lebih fleksibel. Anak difok dapat mengkomunikasi hal-hal private yang mungkin sulit disampaikan ke orang lain. Dan, guru bersikap arif untuk mendengarkan hal-hal tersebut dan menyimpannya sebagai informasi yang bersifat private. 

Pengembangan kompetensi dan potensi seharusnya merupakan kebutuhan, bukan sekedar tuntutan profesi. Hal ini karena kompetensi dan potensi diri merupakan modal guru menjalankan kewajibdnnya sebagai agen pendidikan pembelajaran dan perubahan. Dengan menjadikannya sebagai kebutuhan, maka kesadaran jntuk hal tersebut bukan sekedar untuk menutupi ketakutan karena tuntutan profesi melsinkan kebutuhan diri.

Semoga coretan ini dapat memberi pencerahan bagi kita sehingga dapat menjalankan tugas dan kewajiban secara optimal. Semangat!!


Mohammad Saroni
Penulis buku Personal Branding Guru
Domisili Gembongan, Gedeg, Mojokerto
CP 085784990514

Jumat, 21 Oktober 2022

MEMPERSIAPKAN SISWA UNTUK PROGRAM ASISTENSI

Proses belajar merupakan proses exit dan entry yang dilakukan secara terus menerus secara berkesinambungan sehingga terjadi perubahan kemampuan secara signifikan. Perubahan menjadi muatan utama dalam proses belajar sehingga sekaligus sebagai parameter keberhasilan proses. Oleh karena itu, setiap pembelajar berkewajiban untuk terus berproses. Artinya, tidak boleh ada jeda terlepas dengan tidak belajar. Setiap saat adalah belajar. Dan, hal tersebut sebenarnya sudah kita lakukan setiap saat. Permasalahannya adalah efektivitas proses tersebut. 

SETIAP ORANG ADALAH PEMBELAJAR

Menurut KKBI, pembelajar adalah orang yang sedang mempelajari sesuatu. Berdasarkan pengertian ini, maka kita memang pembelajar. Setiap orang adalah pembelajar sebab kita pasti sedang mempelajari banyak hal. Oleh karena itu kita berkewajiban untuk terus belajar. Berbagai hal harus kita pelajari untuk meningkatkan kemampuan diri kita. Kita sangat menyadari bahwa peningkatan kemampuan hanya dapat dilakukan jika kita melakukan proses penambahan kemampuan. 

Setiap orang berkeinginan untuk mengembangkan kemampuan diri. Hal ini merupakan salah satu bentuk kesadaran atas tanggungjawab dan kewajiban menghadapi dan menyelesaikan permasalahan hidup. Jika, tidak ada penambahan kemampuan, baik kognisi, afeksi, maupun psikomotor, kita akan kesulitan dalam kehidupan. Hal ini karena kehidupan sangatlah dinamis, selalu mengalami perubahan karena perkembangan pola kehidupan. 

Kita hidup untuk menghadapi kehidupan. Kehidupan memberikan dampak langsung terhadap kita. Oleh karena itu, kita harus mempersiapkan diri agar dapat menghadapi dan menyelesaikan yang terbaik untuk diri kita saat dampak menerpa kita. Langkah persiapan tersebut adalah dengan belajar. Setiap kali kita dihantam dampak, maka respon diri adalah berupa proses pengembangan diri. Proses inilah yang kita sebut sebagai proses belajar. Kita belajar dari dampak tersebut sehingga mempunyai kemampuan untuk menghadapi dampak kehidupan. 

Kita dapat melakukan banyak hal sebab kita tidak pernah berhenti belajar sehingga kemampuan kita meningkat secara signifikan. Setiap kali menghadapi kesulitan hidup, kita belajar untuk mampu bertahan terhadap kesulitan tersebut dan keluar sebagai pemenang. Belajar memberikan kita pengalaman untuk menghadapi permasalahan hidup. 

ANAK SEBAGAI ASISTEN PEBELAJAR

Anak sebagai seorang pembelajar sudah pasti mendapatkan pengalaman terkait 3 (tiga) yaitu pengetahuan, karakter, dan keterampilan. Informasi yang disampaikan guru dalam proses pembelajaran dan hasil ramban anak-anak di dunia maya merupakan kompetensi diri yang dapat menjadikannya sebagai pebelajar. Anak-anak dapat menjadi sosok yang mentransfer pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai positif kehidupan. Oleh karena itu, pada saat penyelenggaraan proses pembelajaran, anak dapat menyampaikan pengalaman pelajar kepada teman-temannya. Kegiatan ini dapat kita katakan sebagai asistensi pebelajar.

Anak-anak dengan kemampuan baik dapat mendampingi teman-temannya menjalani proses belajarnya. Artinya, anak-anak akan mendampingi temannya mempelajari materi pelajaran yang mereka kuasai. Interaksi dan komunikasi antar anak merupakan situasi dan kondisi yang kondusif bagi mereka. Mereka berada pada level situasi dan kondisi yang sama sehingga aspek psikis mereka tidak mengalami tekanan. Kita menyebutnya pembelajaran sejawat.

Pembelajaran sejawat memungkinkan anak-anak menjalani proses dengan nyaman. Hal ini karena pola penyampaian materi menggunakan bahasa yang mereka pahami, bahkan mereka berada pada level psikis yang sama. Mereka tidak merasa tertekan karena keseganan ataupun ketakutan pada pembimbing mereka. Jika ada hal yang kurang dipahami, mereka dapat langsung bertanya teman pembimbingnya. Mereka tidak takut untuk bertanya. Dan, cara teman pembinbing menggunakan bahasa yang mereka pahami, bahasa selevel mereka. 

MENINGKATKAN RASA PERCAYA DIRI ANAK

Salah satu hal penting dalam proses pembelajaran adalah meningkatkan rasa percaya diri anak didik. Hal ini merupakan salah satu aspek penting dalam pembelajaran, terkait nilai-nilai positif dalam kehidupan. Bagaimana seorang anak dapat menempatkan diri dalam kehidupannya dengan sebaik-baiknya. Kita membimbing anak-anak untuk menjadi orang-orang berkatakter sehingga siap menghadapi segala hal dalam kehidupan. 

Pembelajaran asistensi memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk dapat mendampingi teman-temannya belajar. Posisi ini menjadikan anak sebagai sosok penting dalam proses pembelajaran. Posisi ini diyakini dapat menumbuhkan rasa percaya diri dalam hati anak-anak. Rasa percaya diri ini akan melahirkan sosok-sosok yang mampu bertahan dalam kehidupan. Mereka akan menjadi sosok yang tangguh dan selalu mampu menghadapi serta menyelesaikan permasalahan hidup. 

Selama ini, permasalahan yang kita hadapi adalah rendahnya peran aktif belajar anak-anak. Anak-anak lebih banyak yang pasif dalam proses pembelajaran. Mereka hanya menerima materi dan informasi yang disampaikan oleh guru dan terdiam saat guru menugaskan untuk pengembangan lebih lanjut materi tersebut. Tetapi, kondisi tersebut dapat dianulir jika mereka sebaya. Anak-anak tidak takut saat harus bertanya terkait kesulitan yang dihadapi dan anak pendamping dapat menyampaikan pengetahuan yang dimilikinya. 

Pembelajaran asistensi memang merupakan salah satu cara untuk menghapus bentangan jarak guru dan siswa. Dengan pembelajaran asistensi, maka anak-anak belajar bersama. Dua manfaat kita dapatkan sekaligus, yaitu peningkatan kemampuan dan membangun kepercayaan diri. 

Begitulah pembelajaran asistensi kita selenggarakan untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran.


Mohammad Saroni
Penulis Orang Miskin Harus Sekolah
Tinggal di 
Gembongan, Gedeg, Mojokerto
Hp. 085784990514
Surel: mohammad_saroni13@yahoo.co.id

Selasa, 18 Oktober 2022

MEMBAKAR SEMANGAT BELAJAR SISWA

Di dalam proses pendidikan dan pembelajaran, siswa bertanggungjawab dan berkewajiban untuk meningkatkan kemampuan dirinya. Peningkatan kemampuan diri dilakukan melalui proses belajar. Seperti kita ketahui, proses belajar adalah proses pengembangan dan peningkatan kemampuan melalui proses pengamatan, pemahaman, penganalisaan, dan implementasi hasil belajar. Konsepnya, jika kita sudah belajar berarti kita dapat menerapkan dalam kehidupan kita. Dengan demikian kita dapat melihat perbedaan antara sebelum belajar dengan sesudah belajar. Jika, setelah belajar menjadi lebih baik, maka proses belajarnya berhasil. Tetapi, jika setelah belajar tidak menjadi lebih baik, bahkan lebih jelek, maka proses belajarnya mengalami kegagalan.

Untuk kondisi tersebut, maka kita harus melakukan langkah-langkah konkret untuk mengarahkan, membimbing, dan mendampingi anak dalam menjalani proses belajarnya. Permasalahannya adalah belum stabilnya pikiran dan pemikiran anak didik. Anak-anak masih gampang sekali mengalami perubahan pola pemikiran sehingga rentan pada kontinuitas dari proses. Pada saat semangat tinggi, kontinuitasnya mengagumkan. Tetapi, pada saat semangatnya turun, jangan ditanya bagaimana proses belajarnya. 

PENGARUH LINGKUNGAN

Kita adalah bagian integral dari kehidupan sehingga tidak dapat mengabaikan perannya bagi diri kita. Sebenarnya peran kehidupan terhadap diri kita adalah berupa pengaruh sehingga kehidupan kita terkondisikan sesuai hukum alam. Kehidupan itu mengkondisikan hidup kita. Walaupun kita berusaha mengkondisikan hidup, tetapi kekuatan alam jauh lebih berkuasa sehingga keberhasilan upaya kita sangat tergantung pada alam.

Pengaruh alam, dalam hal ini lingkungan hidup kita begitu dekat dengan kita. Setiap yang kita lakukan sesungguhnya merupakan hasil kesepakatan kita dengan alam. Kita merencanakan sesuatu dan alam ikut berperan. Jika alam menyetujui, maka kita berhasil mewujudkan rencana kita. Jika alam tidak berkenan, maka rencana kita mengalami kegagalan. 

Ada 2 (dua) kemungkinan peran alam, lingkungan terhadap diri kita, yaitu:
a. Peran positif
Adalah peran lingkungan yang mendukung rencana kehidupan kita. Pada peran ini, ada kesamaan level atau frekuensi kebutuhan. Alam membutuhkan realisasi sebuah rencana kehidupan yang ada dalam diri kita. Begitu juga halnya dengan diri kita yang menginginkan dan membutuhkan realisasi atau perwujudan rencana. Maka, kita berhasil mewujudkan rencana kita. 

Peran positif lingkungan terhadap kehidupan kita memungkinkan kita dapat berhasil dalam kehidupan kita. Peran positif lingkungan ini akan memuluskan jalan kita menuju keberhasilan. Apapun yang kita lakukan terasa lancar, tidak ada hambatan yang berarti. Kalaupun ada hambatan, kita dengan mudah melewatinya. Tidak ada perlawanan dari alam atas segala upaya yang kita lakukan. Ibarat aliran sungai, kita menuju ke hilir dan air mengalir ke hilir. 

Untuk mendapatkan peran positif sebenarnya kembali pada kesiapan diri kita untuk mewujudkan rencana. Agar alam berperan positif terhadap segala upaya kita, maka kita harus mempersiapkan diri untuk mewujudkan rencana. Dengan persiapan diri yang baik, maka kita dapat menjalankan setiap rencana dengan baik. Persiapan diri merefleksi pada kemampuan diri. Semakin siap, berarti semakin mampu. Itulah sebabnya, kita berhasil mewujudkan rencana dan lingkungan tidak menghalangi setiap langkah kita.

b. Peran negatif
Seringkali kita menemukan seseorang yang gagal mewujudkan rencana hidupnya. Mereka tidak dapat mencapai harapannya. Mereka tidak mempunyai kemampuan untuk menjinakkan alam. Akibatnya, alam melawan segala upaya yang dilakukannya. Mengapa alam melawannya? 

Seperti kita ketahui, kita hidup dalam lingkungan yang tidak mungkin kita tinggalkan sebab jika kita meninggalkannya, berarti mati. Oleh karena itu, kita harus dapat meninggalkan pengaruh lingkungan yang negatif dengan cara meninggalkan lingkungan tersebut atau mengembangkan diri atas hal-hal positif. 

Sejatinya, alam selalu memfasilitasi hidup kita. Setiap kebutuhan hidup kita, alam menyiapkannya. Tetapi, kekuatan alam lebih besar dari kekuatan diri sehingga siapa yang kekuatan dalam dirinya lemah, pasti akan terdesak dan tidak mampu menerimanya. Akibatnya, kita terpuruk. Selanjutnya, kita mengatakan bahwa alam telah bersikap negatif pada kita. Alam tidak bersahabat dengan kita.

Alam atau lingkungan tempat tinggal kita, memang dapat bersikap negatif terhadap kita. Sikap negatif tersebut sesungguhnya merupakan respon alam terhadap pola kehidupan kita sendiri. Alam memberi pengaruh negatif terhadap diri kita sehingga pola kehidupan kita terkonstruksi sebagai sesuatu yang negatif juga. Bagaimana alam, lingkungan dapat mempengaruhi pola kehidupan kita adalah karena ketidakmampuan kita menghadapi hidup. Alam memberikan sesuatu untuk kita, tetapi kita tidak mampu menerimanya sehingga yang nampak adalah alam menyerang kita, memberikan tekanan kepada kita sehingga terkesan bersikap negatif terhadap kita. 

MEMBAKAR SEMANGAT ANAK

Akibat pengaruh alam terhadap diri kita, tidak jarang anak mengalami down, depresi, dan ketakutan sehingga melahirkan rasa tidak percaya diri. Jika anak sudah berada pada dasar ketidakpercayaan diri, maka berakibat pada ketidakmampuan melakukan sesuatu. Anak tidak mrmpunyai kemampuan untuk menjawab dan menyelesaikan permasalahan hidup. Kondisi ini menyebabkan anak kehilangan semangat hidup.

Apa yang terjadi jika anak kehilangan semangat hidup? 

Jika anak telah kehilangan semangat hidup, maka mereka tidak mampu menghadapi kehidupan. Setiap permasalahan yang mereka hadapi tidak akan terselesaikan. Mereka terbentur pada ketiadaan bekal atau modal pengetahuan ataupun keterampilan dalam diri sebab mereka tidak percaya diri.

Dalam kondisi inilah, tugas dan kewajiban guru untuk membangkitkan semangat anak. Kita harus membangkitkan rasa percaya diri pada anak sehingga mereka merasa yakin bahwa mereka mempunyai kemampuan untuk menghadapi masalah kehidupan. Slogan bahwa kita pasti bisa dapat dijadikan sebagai slogan peningkatan kepercayaan diri. Jika rasa percaya diri anak sudah terbangun, maka upaya untuk meningkatkan kemampuan diri bukan masalah lagi. 

Proses belajar harus dilandasi rasa percaya diri yang tinggi. Rasa percaya diri akan menumbuhkan semangat dan dengan semangat, maka kita dapat menjalani kegiatan dengan sebaik-baiknya. Semangat inilah yang sebenarnya merupakan energi terbesar dalam proses belajar. Orang-orang yang menghadapi dan menjalani dengan semangat tinggi merupakan indikasi keberhasilannya. Oleh karena itu, membakar semangat belajar anak merupakan kewajiban kita 

Kita sebagai pendamping belajar anak harus memperhatikan tingkat semangat anak. Dan, kita harus cepat tanggap jika hal tersebut kita temukan pada anak didik kita. Kita harus bereaksi dan beraksi jika melihat ada indikasi kehilangan semangat belajar pada anak didik kita. Jangan dibiarkan berlama-lama mereka berada pada situasi kehilangan semangat belajar. Jika kita biarkan, maka dapat menyebabkan kemalasan untuk belajar. Jika kemalasan sudah mencengkeram hati dan jiwa, maka maka mereka tidak akan mau menjalani proses belajar. 

Langkah-langkah pembakaran semangat belajar dapat kita lskukan, yaitu:
a. Pendekatan Personal
Guru sebagai pendamping belajar anak didik mempunyai hubungan emosional yang sangat dekat. Guru juga mempunyai hubungan personal yang luar biasa sehingga dapat kita jadikan sebagai modal melakukan proses pembajaran semangat belajar anak didik. 

Salah satu penyebab padamnya semangat belajar anak didik adalah ketidak nyamannya mengikuti proses belajar karena ketidakmampuannya menguasai materi pelajaran. Mereka merasa kesulitan mengikuti dan memahami materi pelajaran sehingga malas untuk mengikuti proses sebagaimana mestinya. Dan, dia malu menyadari bahwa tidak mampu, tidak pintar, tidak memahami materi pelajaran. Akhirnya, anak-anak tidak mempunyai perhatian terhadap materi pelajaran yang diajarkan guru. Akibatnya, semakin tidak mampu pada penguasaan materi pelajaran.

Kita harus melakukan pendekatan personal untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi anak didik. Pendekatan personal sangat memungkinkan hal tersebut sebab kita hanya bertemu dan berkomunikasi dengan anak didik, tanpa adanya orang lain. Diharapkan, pada saat berkomunikasi berdua, anak-anak tidak malu untuk mengungkapkan kesulitannya mengikuti dan menyerap materi pelajaran. Komunikasi personal memungkinkan anak lebih terbuka kepada guru dan guru dapat memberikan solusi yang cepat dan tepat untuk mengurai kesulitan anak didik.

b. Pendekatan Edukatif

Sebagai proses pendidikan, maka setiap permasalahan yang timbul dalam proses pendidikan harus diselesaikan dengan pendekatan pendifikan atau pendekatan edukatif. Pendekatan edukatif ini memposisikan guru sebagai pendidik dan anak sebagai pedidik sehingga guru selalu langsung mrmberikan penjelasan terkait materi pelajaran yang dirasa sulit oleh anak didik.

Dalam konteks ini, kita dapat melakukan secara individual ataupun klasikal.  Kita menanyakan kesulitan yang dialami oleh anak didik dalam proses pembelajaran. Kita memberikan pertanyaan kepada anak secara klasikal terkait pembelajaran. Kemungkinan, kesulitan anak pada metode pembelajaran yang kita terapkan atau yang lsinnya.

Dengan pendekatan edukatif, maka kita dapat memberikan pelayanan secara klasikal. Baik mereka yang sudah mampu ataupun yang kesulitan mendapatkan penjelasan ulang materi yang dianggap sulit. 

c. Pendekatan Sosiologis

Pada pendekatan ini, kita lakukan dengan mrncari informasi terkait kehidupan anak di masyarakat dan keluarganya. Kita mencari tahu kondisi interaksi sosial anak di masyarakat dan keluarganya. Dengan cara seperti ini, maka berharap dapat menemukan akar permasalahan yang dialami anak.

Kemungkinan terjadinya kondisi yang mengganggu semangat belajar bersumber pada kondisi keluarga atau masyarakat tempat anak berinteraksi sosial. Kita dapat mengetahui situasi keluarga dan lingkungan anak, orang-orang yang bergaul dengannya, dan dapat menentukan langkah solusinya.

Pergaulan anak di masyarakat, keluarga, dan lingkungan sekolah dapat menjadi sumber padamnya semangat belajar anak. Pembullyan, pengancaman, dan semacamnya daoat menjadi sumber kemalasan yang melahirkan hilangnya semangat belajar. Hal-hal seperti ini harus kita selesaikan agar semangar belajar tumbuh dan berkembang lagi. 

Kita harus membakar semangat belajar anak sebab hanya dengan semangat belajar yang tinggi, maka keberhasilan belajar dapat dicapai. Dalam segala hal, kita membutuhkan semangat sebab merupakan energi kehidupan. Semakin besar semangat kita, maka semakin besar kemungkinan ketercapaian tujuan belajar atau kegiatan hidup kita. 

Semoga bermanfaat.


Mohammad Saroni
Penulis buku Sertifikasi Keahlian Siswa
Gembongan, Gedeg, Mojokerto

Hp. 085784990514

Minggu, 16 Oktober 2022

KEBINGUNGAN MASSAL DALAM PENDIDIKAN

Kebingungan dalam proses belajar adalah hal yang lumrah. Setiap orang pasti pernah mengalami kebingungan saat menjalani proses belajar. Hal ini karena adalah proses replikasi, duplikasi, analogi dan penyimpulan secara berurutan, bahkan dalam waktu bersamaan. Hal ini memaksa otak otak bekerja bersamaan dalam satu waktu.  Akibatnya, seperti lampu traffict yang menyala bersamaan. Orang-orang akan kebingungan. Akibatnya, semua diam ditempat.
 
Proses pendidikan kita juga mengalami kebingungan massal. Dalam waktu yang sama, banyak orang yang mengalami kebingungan sebab pola yang terus mengalami perubahan. Pola yang selalu, bahkan terus mengalami perubahan dirasa bukan sekedar bukti dinamisasi proses. Dinamisasi proses akan menunjukkan kepada kita bagaimana yang kita tangani mengalami perubahan untuk penyesuaian kondisi. Kondisi ini milik orang-orang yang dinamis dalam hidupnya. Hanya orang-orang dinamis yang dapat menjalani kehidupan dinamis. Mereka yang kurang dinamis, bahkan tidak dinamis akan tergulung atau terlempar dari jalur kehidupan. Setidaknya, akan mengalami kesulitan dan hambatan dalam menjalankan tugas dan kewajibannya. 

Lantas, apa yang harus kita lakukan untuk menghadapi kebingungan pendidikan di negeri ini? 

Sejatinya, kebingungan dapat  terjadi karena banyak hal. Hal-hal tersebut tidak jauh-jauh dari pola kita memahami dan mengaplikasikan dalam kegiatan. Bagaimana kita mengapresiasi dan menginterpretasi setiap kondisi untuk menghadapi setiap perubahan kondisi. Selanjutnya,bagaimana kita mengaplikasi hasil pemahaman dalam hidup dan kehidupan kita, khususnya bidang pendidikan.

Pemahaman yang kurang holistik

Hidup ini akan terasa nyaman, indah, mudah, dan yang lainnya jika kita memahami konsep dasar dari kehidupan. Tanpa pemahaman terhadap konsep dasarnya, kita akan mengalami kesulitan saat menghadapi permasalahan. Hal ini karena simpanan informasi yang ada dalam memori kita tidak tersedia. Sementara itu, memori. Informasi dalam otak adalah semacam bank pensuplay informasi. Apa yang akan disuplay jika ternyata tidak ada isinya?

Memang tidak semua orang dapat melakukan pemahaman secara holistik. Hal ini karena kemampuan tiap orang berbeda. Tingkat apresiasi dan interpretasi tidaklah sama. Oleh karena itu, harus ada kesadaran untuk menerima segala hal secara proporsional. Dan, menindaklanjuti dengan upaya meningkatkan kemampuan secara berkelanjutan. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman terhadap permasalahan. 

Pemahaman yang meningkat secara signifikan akan mengurangi tingkat kebingungan yang dialami seseorang. Dengan pemahaman yang sudah meningkat, maka kemampuan untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah akan lebih tinggi. Mereka tidak akan kesulitan untuk menyelesaikan sehingga tidak ada kebingungan atas.kondisi. 

Penerapan yang sekedarnya

Hal terpenting dalam pendidikan adalah bagaimana proses tersebut dilakukan. Bagaimana seseorang melakukan aktivitas sangat terkait dengan hasilnya. Semakin bagus proses yang dilakukan, maka semakin bagus hasil yang didapatkan. Hal ini merupakan hukum kausalik dalam kehidupan, dalam hal ini pendidikan. 

Hidup tidak dapat melepaskan  diri dari kausalistik alam. Hal ini karena kita adalah bagian integral dari kehidupan. Kita hidup dalam lingkaran kehidupan. Bagaimana kita dapat mengabaikan kehidupan jika kita adalah bagian dari kehidupan itu sendiri. Kita ada karena adanya kehidupan, jika tidak mengikuti ketentuan hidup, maka itu artinya kita keluar dari kehidupan. 

Tetapi hal tersebut akan menjadi sesuatu yang membingungkan jika proses penerapannya tidak optimal. Ketika seseorang yang tidak memahami akar masalah harus memberikan pendampingan, arahan dan informasi, maka kemungkinan yang terjadi adalah kebingungan. Sedangkan, informasi yang berkompeten saja dapat menyebabkan kebingungan. Oleh karena itu, saat kita menerapkan hasil belajar haruslah seutuhnya. Walau sudah bukan rahasia bahwa selalu ada distorsi, pengurangan kuota materi ilmu dan pengetahuan. Sebagaimana seorang guru silat, selalu ada jurus pamungkas yang hanya dimiliki sendiri dan tidak diberikan kepada murid-muridnya. 

Selama ini, yang terjadi dalam proses pendidikan adalah materi yang diberikan tidak sesuai dengan jatahnya. Seperti kita ketahui, kurikulum yang diturunkan ke sekolah-sekolah bersifat minimal, artinya sekolah mempunyai peluang untuk mengembangkan kurikulum berdasarkan program masih-masing. 

Pola yang terus berganti dan berganti

Untuk dapat memahami sebuah
 konsep.pola, maka kita harus 1menguasai konsep tersebut sebaik-baiknya. Tetapi, jika konsep tersebut selalu saja berubah, sebelum pemahami betul-betul kita kuasai, bagaimana kita tidak kebingungan?

Dalam proses pendidikan, kita menerapkan pola-pola tertentu agar dapat mencapai keberhasilan. Pola-pola tersebut akan menjadi pola dasar dan menjadi acuan pada proses-proses selanjutnya. Jika, berhasil, maka pola tersebut akan menjadi patron umum. Jika belum berhasil, maka kita jadikan acuan untuk menciptakan pola baru yang meningkatkan, mengembangkan pola tersebut.  Jadi, pola-pola tersebut tidak secara ujug-ujug diganti dengan pola baru yang belum.dikuasai guru. Bahkan, seringkali guru mencari dan menemukan polanya sendiri sehingga berhasil dalam.proses pembelajarannya. 

Pola yang berubah-ubah membawa dampak kebingungan pada setiap orang. Ketika tiba-tiba harus meninggalkan dan menanggalkan pola yang selama ini berhasil dan menggantinya dengan pola baru yang belum dikenali, tentunya kerepotan alias kebingungan. Oleh karena itu, perubahan-perubahan tersebut biarkanlah menjadi wacana bagi guru. Wacana tersebut akan didampingkan dengan pola yang sudah diterapkannya. Sedikit demi sedikit dan bukan seketika harus diterapkan. 

Perubahan dalam kehidupan memang sebuah keniscayaan yang tidak dapat kita pungkiri. Selalu ada perubahan dalam setiap aspek kehidupan. Perubahan tersebut merupakan proses adaptasi terhadap perkembangan pola kehidupan. 


Kebingungan dalam proses pendidikan sebenarnya sebuah  kepastian. Hal ini karena pendidikan itu untuk melayani kehidupan dan kehidupan tidak pernah berhenti berubah. Oleh karena itu, setiap orang seharusnya selalu siap dalam kehidupannya. 


Mohammad Saroni
Penulis buku Orang Miskin harus Sekolah
Cp. 085784990514

Jumat, 14 Oktober 2022

PERAN GURU DALAM PROSES PENDIDIKAN

Proses pendidikan dan pembelajaran dilakukan secara sadar untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan diri. Proses ini merupakan sebuah kesadaran terhadap kemampuan diri. Kesadaran ini merupakan langkah antisipasi terhadap kondisi diri dikaitkan dengan kemampuan menghadapi dan menyelesaikan masalah hidup dan kehidupan. Setiap orang berkewajiban untuk proses pendidikan terhadap dirinya sendiri. Dan, merupakan "kejahatan" jika mengabaikan proses pendidikan yang harus dilakukan. 

Untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan diri, maka salah satu kegiatan yang harus dilakukan adalah belajar, selain berlatih. Setiap orang harus belajar agar dapat memiliki kemampuan yang diharapkan. Tanpa belajar, tidak ada kemampuan. Bagaimana kita dapat memiliki sesuatu jika kita tidak pernah berusaha untuk memilikinya. Belajar merupakan sebuah usaha untuk memiliki kemampuan, baik kognitif, afektif, maupun psikomotor. 

Sementara itu, untuk dapat menjalani proses belajar, maka kehadiran sosok yang mampu memberikan semangat dan informasi, serta pelatihan bagi peserta didik. Sosok yang dimaksudkan adalah guru, yaitu tenaga profesional dalam kegiaran Pendidikan dan pembelajaran. Dengan bimbingan dan pendampingan oleh guru, maka proses penyerapan 3 (tiga) aspek dasar pendidikan dapat lebih mudah. Proses belajar akan terasa lebih mudah dan efektif jika dalam pembimbingan dan pendampingan seseorang yang ahli dalam proses tersebut. Seperti saat kita belajar mengemudikan kendaraan, keberadaan instruktur memudahkan kita menguasai kemampuan mengendarai kendaraan. Sangat berbeda jika dibandingkan dengan belajar tanpa pembimbingan dan pendampingan.

Peran guru dari tahun ke tahun, dahulu hingga sekarang

Kita menyadari dan mengakui bahwa kemampuan seorang guru melebihi orang awam. Bahkan, guru dianggap sebagaimana dewa. Kondisi tersebut menyebabkan masyarakat merasa nyaman jika ada guru. 

Posisi guru dalam kehidupan masyarakat sangatlah penting dan mulia. Begitu pentingnya sehingga selalu berperan dalam setiap kegiatan yang dilakukan dalam kehidupan masyarakat. Pada banyak kegiatan kemasyarakatan dan sosial, maka sosok guru pasti diberdayakan sebagai bagian pelaksana ataupun pengelolanya. Jika tidak sebagai ketua, maka sosok guru akan berperan sebagai sekretarisnya. 

Di dalam pola pendidikan era lama, peran guru adalah sebagai orangtua anak didik. Posisi ini memungkinkan guru mengambil langkah-langkah konkrit proses pendidikan. Guru berwenang untuk mengambil langkah efektif dalam proses mendidik anak didik. 

Salah satu prasyarat agar proses pendidikan berhasil adalah disiplin. Kita harus mengkondisikan anak didik agar disiplin sehingga pada saat belajar dapat lebih konsentrasi. Kedisiplinan merupakan kondisi yang harus diterapkan oleh seseorang, sehingga apa yang dilakukannya tidak menyimpang dari yang seharusnya dilakukan. Orang-orang disiplin sangat menghargai efektivitas dan efisiensi.

Pada pola pembelajaran lama, tujuan pendisiplinan anak dilakukan dengan pengkondisian, salah satunya adalah pemaksaan dan penerapan reward juga punnishment.  Kedua aspek ini terbukti telah menjadi sarana yang tepat mendisiplinkan anak didik. Bukankah setiap orang menginginkan mendapat reward dan berusaha menghindari punnishment? 

Pada pola pendidikan lama, pemaksaan anak untuk berdisiplin dilakukan secara ketat dan keras. Anak dikondisikan untuk menyesuaikan diri terhadap 'pengkondisian' yang diciptakan guru sesuai dengan koridor pendidikan. Hukuman fisik bukan hal yang aneh. Tetapi, hukuman tersebut tidak melahirkan sakit hati. Bahkan hukuman fisik tidak mengurangi semangat belajar anak didik. Mereka tetap belajar meskipun seringkali mendapatkan hukuman fisik. Hingga akhirnya, hal yang menyebabkan menerima hukuman pun dikuasai sehingga tidak lagi mendapat hukumanbahkan mendapatkan reward, hadiah dan pujian.

Jika anak didik mengalami perubahan kemampuan, menjadi lebih baik, positif, maka berarti proses pendidikannya berhasil. Tetapi, jika kondisinya tetap bahkan semakin buruk, berarti proses pendidikan gagal. Oleh karena itu, setiap guru menerapkan metode aplikatif. Dengan metode pembelajaran, guru berharap dapat menemukan spesifikasi pola belajar anak-anak. Hal ini karena pola dan cara belajar setiap anak adalah berbeda.

Guru sebagai pendamping

Guru ada pendamping belajar bagi anak-anak. Keberadaan guru pada saat proses belajar memungkinkan anak-anak mempelajari materi belajar yang pas, sesuai dengan kebutuhannya. Guru akan memberikan pendamping agar anak-anak mengetahui dan memahami setiap aspek materi pelajaran. Anak tidak belajar asal-asalan.

Jika pada proses belajar mengalami kesulitan, maka anak dapat meminta bantuan guru untuk memberinya pencerahan atas materi yang tidak dipahami tersebut. Dengan demikian, maka proses belajarnya dapat lancar sebab setiap ada kesulitan dapat segera diselesaikan. Kesulitan tidak ada waktu untuk bersemayam dalam diri anak-anak. Kita mengetahui dan menyadari bahwa sedikit saja anak mengalami kesulitan, maka akan melahirkan kemalasan. Anak akan malas melanjutkan proses belajarnya sebab terhalang oleh kesulitan dan setiap kesulitan itu akan berkelanjutan ke depannya. Misalnya, kita kesulitan belajar matematika, maka akan berdampak pada pelajaran ilmu pasti dan perhitungan lainnya. Jika anak merasa kesulitan dan tidak menemukan jalan keluar, akan putus asa dan akhirnya malas untuk belajar lebih lanjut.

Berbeda jika ada sosok yang mendampingi dan memberikan solusi setiap menghadapi kesulitan, anak akan merasa nyaman dalam menjalani proses belajarnya. Mereka tidak akan malas belajar, apalagi memberi mata pelajaran hanya karena merasa tidak mampu, mengalami kesulitan di mata pelajaran tersebut.

Sebagai seorang pendamping, guru mempunyai tugas, wewenang, dan kewajiban. Semua aspek tersebut terkait dengan proses pendampingan belajar anak didik. Oleh karena itu, seorang guru harus bersikap profesional agar tugas, wewenang, dan kewajibannya dapat berhasil.

Guru sebagai pembimbing

Kita hidup tidak dapat berjalan sendiri. Dalam konteks ini, kita membutuhkan orang lain agar langkah hidup kita tidak mengalami kesulitan dan hambatan. Orang lain ini peranannya adalah membimbing langkah kita pada jalur yang benar. 

Orang yang membimbing langkah hidup kita adalah seorang pembimbing. Salah satu sosok yang seringkali berperan sebagai pembimbing hidup kita adalah guru. Guru membimbing kita dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan yang membuat kita pintar dan pandai. Guru yang membimbing kita mempelajari berbagai ilmu sehingga kita dapat menguasai ilmu-ilmu tersebut.

Oleh karena itu, seorang guru harus menguasai ilmu yang menjadi kompetensinya, di samping itu secara umum adalah ilmu-ilmu penunjangnya. Guru sebaiknya membekali banyak ilmu dan pengetahuan serta keterampilan aplikatif untuk kehidupan. Pada dasarnya, sebagai pembimbing, seorang guru harus dapat melakukan pembimbingan untuk anak didiknya. Bukan sekedar mentransfer disiplin ilmunya saja.

Guru sebagai sumber informasi

Kondisi ini pernah terjadi dalam dunia pendidikan kita. Dalam proses pembelajaran kita. Seorang guru dianggap sebagai orang istimewa dengan multi ilmu dan pengetahuan serta keterampilan. Seorang guru dianggap sebagai sosok serba tahu dan serba bisa. Padahal, sebenarnya guru juga manusia. Tetapi, guru sudah belajar tentang banyak hal sehingga hal tersebut menjadikannya serba tahu.

Ruang lingkup kehidupan guru adalah ilmu dan pengetahuan. Setiap hari selalu bergelimang ilmu dan pengetahuan. Berbagai ilmu dibaca dan dipelajari. Dengan demikian, otak dan pemikirannya terus bekerja. Orang mengatakan dalam kondisi seperti itu, otaknya menjadi encer dan tidak beku. Oleh karena itu, jika ada permasalahan, apalagi terkait materi pelajaran, maka bukan masalah bagi seorang guru. 

Bahkan, dalam kehidupan kemasyarakatan, para guru dijadikan tokoh masyarakat. Beberapa posisi diserahkan kepada guru untuk ditangani. Misalnya ketua RT, ketua RW, dan yang lainnya. Di samping itu, banyak warga masyarakat yang datang bertanya kepada guru saat menghadapi permasalahan dalam hidupnya. 

Dalam kaitan dengan proses pendidikan, maka peran guru sebagai sumber informasi adalah keniscayaan. Dengan bekal ilmu pengetahuan yang dimilikinya, seorang guru dapat menyampaikan berbagai informasi kepada anak didiknya. Dengan demikian, maka anak didiknya pun dapat memiliki ilmu dan pengetahuan, bahkan keterampilan yang dimiliki oleh guru. Tentunya dalam hal ini, anak didik harus konsentrasi dan belajar giat. 

Dan, peranan guru sebagai sumber informasi bagi anak didik dan masyarakat secara umum merupakan keuntungan besar bagi masyarakat. Menurut buku atau informasi yang pernah penulis baca, sesaat setelah kota Nagasaki dan Hiroshima dibombardir oleh sekutu hingga hancur, Kaisar hanya menanyakan satu hal, "Berapa jumlah guru yang masih hidup?" Hal ini mengisyaratkan betapa pentingnya seorang guru. Kota boleh hancur, tetapi selama masih ada guru, maka semua dapat dibangun lagi!

Peran guru memang sangat penting dalam hidup dan kehidupan kita. Hal ini karena, sebenarnya semua orang adalah guru dalam kehidupannya. Tetapi, tidak semua orang dapat memerankan perannya sebagai guru. 

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Tidak akan hidup dan kehidupan ini maju jika tidak ada guru!!


Gembongan, 16 Oktober 2022


Mohammad Saroni
Penulis buku Orang Miskin Harus Sekolah.
Tinggal di Gembongan, Gedeg, Mojokerto, Jawa Timur