Minggu, 06 Februari 2022

MEMBANGUN KOMUNITAS BACA TULIS

Kemampuan membaca dan menulis adalah kemampuan dasar. Setiap orang, sejatinya mempunyai dasar kemampuan ini. Tetapi, mengapa banyak orang mengatakan bahwa mereka hanya dapat membaca tetapi tidak dapat menulis? Kondisi ini merupakan permasalahan yang sangat genting. Tanpa kemampuan membaca dan menulis, kehidupan kita akan mengalami kesulitan 

Bahkan, untuk menyelesaikan permasalahan rendahnya kemampuan ini, pemerintah mencanangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Gerakan ini merupakan upaya untuk membangkitkan semangat literasi, walau sesungguhnya lingkungan sekolah merupakan lingkungan yang literat. Semua kegiatan yang dilakukan di lingkungan sekolah dan pendamping anak melaksanakan kegiatan adalah kaum literat, pada bidangnya 

Tetapi, gerakan ini difokuskan ke lingkungan sekolah memang mendasarkan pada konsep pikiran tersebut. Kegiatan literasi akan semakin mudah dilakukan jika lingkungan dan sumber daya manusianya sudah literat. Tentunya, pemolesannya tidak terlalu sulit. Situasi dan personal sudah mendukung sehingga, seharusnya tingkat keberhasilannya tinggi. 

Sumber daya manusia dan infrastruktur di lingkungan sekolah yang kondusif akan mempermudah anak-anak mengikuti kegiatan. Para guru dengan kepiawaian dan kemampuan yang dimiliki dapat optimal mendampingi anak-anak. Oleh karena itu, gerakan ini dinamakan gerakan literasi sekolah. Aspek kemudahan dalam proses dan akses menjadi pertimbangan utama.

Sejatinya, gerakan literasi tidak terbatas di lingkungan sekolah. Setiap lingkungan tempat kita beraktifitas dapat dijadikan sebagai ajang gerakan literasi. Misalkan gerakan literasi pasar, gerakan literasi terminal, gerakan literasi masyarakat, dan sebagainya. Dengan pengertian seperti itu, maka upaya menggerakkan kegiatan literasi dapat optimal dan menyeluruh. Masyarakat diajak secara aktif untuk bergiat. Masyarakat bukanlah obyek kegiatan. Mereka adalah subyek kegiatan. Masyarakat yang secara langsung menjadi pelaku kegiatan.

Upaya menggerakkan masyarakat sebagai tempat kegiatan literasi dapat langsung ke ulu hati. Hal ini karena masyarakat merupakan tempat semua kegiatan. Anak-anak yang mengikuti proses pendidikan dan pembelajaran akan mengaplikasikan ilmu dan pengetahuan, serta keterampilannya di masyarakat. Tentunya, kegiatan literasi yang diterapkan di masyarakat dapat langsung mengena dan masyarakat siap menerima anak-anak yang sudah melek literasi. 

Salah satu langkah penting bagi masyarakat agar siap menjadi wadah kegiatan literasi adalah dibentuknya komunitas-komunitas yang intens dalam kegiatan literasi, khusunya baca tulis. Mereka yang akan menebarkan virus literasi ke masyarakatnya. Kegiatan ini akan lebih efektif sebab langsung ke masyarakat. 

Oleh karena itu, perlu dibangkitkan semangat membentuk komunitas. Komunitas-komunitas literasi harus ditumbuh kembangkan di setiap daerah. Untuk hal tersebut, perlu ada peran serta pemerintah untuk mendukung kelahiran setiap komunitas. Walau sesungguhnya, sekumpulan orang saat membentuk komunitas yang dimaksudkan. Komunitas itu dapat hidup karena tingkat kepedulian anggotanya yang sangat tinggi. Rasa andarbeni sangat besar sehingga semua penuh perhatian terhadap komunitasnya. Dan, jika pemerintah ikut memperhatikan perkembangan komunitas, tentunya perkembangannya dapat semakin cepat. 

Kita memang harus membangun banyak komunitas di masyarakat. Komunitas merupakan wadah orang-orang yang mempunyai atensi bidang sama. Dengan komunitas ini, maka kita dapat mengembangkan berbagai program untuk percepatan pencapaian target. Kekuatan komunitas dalam.upaya membangun dan mengembangkan kegiatan sudah tidak dapat dipungkiri lagi. Banyak komunitas yang berperan aktif dalam kegiatan, baik kegiatan komunitas maupun sebagai pendukung kegiatan pemerintah.

Kita dapat mengambil contoh Taman Bacaan Masyarakat adalah komunitas konkret yang ikut secara aktif dalam mempercepat program kegiatan literasi. Hal ini karena jangkauan pemerintah, melalui perpustakaan belum dapat menjangkau hingga masyarakat pedesaan, apalagi untuk wilayah terpencil.  Kalaupun, di sebuah desa ada perpustakaan, sejatinya tidak mengambil peran aktif. Buku-buku hanya dipajang di raknya. Hal.ini karena orang yang dipasang sebagai pengelola perpustakaan bukanlah pecinta buku atau pustakawan, melainkan pegawai kantor. Mereka berada di perpustakaan hanya sekedar untuk menggugurkan tugas dan kewajiban yang tertera di SK kepegawaian. Akibatnya, perpustakaan hanya berfungsi sebagai gudang buku.

Sungguh berbeda dengan komunitas yang mengelola perpustakaan atau taman bacaan. Mereka akan mengelola sepenuh hati. Bahkan, mereka tidak sekedar menunggu bola datang, pengunjung datang. Mereka yang akan mendatangi masyarakat untuk memperkenalkan dan mengajak mencintai literasi, membaca. Komunitas akan berusaha untuk mendekatkan bahan bacaan ataupun kegiatan membaca kepada masyarakat bukan sebaliknya. 

Kita membutuhkan kesadaran masyarakat dalam kegiatan literasi, baca dan tulis. Oleh karena itu, kita yang harus mendekati mereka. Kita harus menjemput bola, tidak menunggu bola mendatangi kita. Dengan cara seperti ini, maka masyarakat lebih mudah mengenal kita dan kegiatan kita. Bukankah ada pepatah tak kenal maka tak sayang?

Oleh karena itu, kita harus menghidupkan banyak komunitas agar program kegiatan dapat berjalan optimal. Semoga.

BANGKITKAN SEMANGAT LITERASI

Semangat literasi adalah semangat perubahan. Semangat ini merupakan wujud dari kesadaran atas keterbatasan diri. Kita harus jujur dan berlapang hati terhadap kekurangan ini. Dan, tidak mungkin kita secara terus menerus terpuruk dalam kekurangan tersebut. Bahkan, UNESCO mengeluarkan pernyataan bahwa bangsa Indonesia untuk dapat maju, harus membiasakan kegiatan literasi, membaca 3 (tiga) buku dalam setahun.

Kegiatan literasi memang banyak ragam, kita batasi pada literasi baca dan tulis. Kedua macam literasi ini merupakan pondasi kegiatan literasi lainnya. Oleh karena itu, kita konsentrasikan diri pada literasi baca tulis. Dengan kegiatan membaca, maka kualitas diri dapat meningkat secara signifikan. Kita dapat memperoleh banyak pengetahuan dengan kegiatan membaca. Pengetahuan itulah yang akan mengangkat harkat dan martabat kita.

Sementara itu, kegiatan menulis merupakan tindak lanjut dari kegiatan membaca. Pada saat kita membaca, maka berbagai ilmu dan pengetahuan tersimpan dalam memori otak kita. Simpanan ilmu dan pengetahuan akan menjadi pemecah masalah hidup kita. Kita dapat menyelesaikan setiap permasalahan hidup karena kita mempunyai ilmu dan pengetahuan tentang masalah tersebut. Dalam konteks inilah, menulis merupakan tindak lanjut dari kegiatan membaca.

Ilmu dan pengetahuan yang kita simpan dalam memori otak, karena keterbatasan daya ingat dan semakin banyaknya persoalan hidup, dapat hilang karena lupa. Oleh karena itu, kita mengabadikan ilmu dan pengetahuan dalam bentuk tulisan. Ilmu dan pengetahuan yang kita tulis akan tetap abadi dan mudah menjadi ilmu dan pengetahuan orang lain, jika dalam bentuk tulisan. 

Ibarat makan dan buang kotoran, maka membaca dan menulis adalah kegiatan tersebut. Pada saat kita membaca, berarti saat itu kita sedang makan. Setelah kenyang dan dipertahankan dalam waktu tertentu, maka kita harus membuang sisa pencernaan, BAB ataupun BAK.  Tetapi dalam hal ini, kegiatan menulis justru mengeluarkan sari-sari ilmu dan pengetahuan yang tersimpan dalam memori otak. 

Pada saat membaca, otak kita mencernah setiap informasi dari segala bacaan kita. Sari-sari tersebut kita simpan dalam memori otak. Sari-sari ini dapat hilang karena lupa. Untuk mengantisipasinya, maka kita mengikatnya dalam bentuk tulisan. Kita tuliskan sari bacaan sedemikian rupa sehingga orang lain mudah memahaminya.

Kegiatan literasi, khususnya kegiatan membaca dan menulis harus kita tingkatkan. Peningkatannya tidak hanya terbatas untuk diri sendiri, melainkan untuk orang lain juga. Kita harus dapat mempengaruhi orang lain agar tidak kesulitan dalam mengembangkan kemampuan literasinya, terutama literasi baca dan tulis. Para penulis dan akademis yang mempunyai kemampuan baca dan tulis melebihi orang kebanyakan memikul tugas ini. Merekalah barisan sosok literat di negeri ini. 

Sedangkan, orang-orang yang ingin mengembangkan kemampuan literasinya tidak boleh pasif. Mereka harus merapat ke tokoh-tokoh literasi dan belajar. Sebuah pisau dapat tajam jika selalu diasah. Proses asah berarti menggesekkan pisau pada permukaan batu asah. Begitu juga dengan kita, harus merapat pada orang-orang yang kompetensi literasinya tinggi. Hidup perlu bergesek dengan yang lain agar lebih mampu. Untuk dapat terampil menulis, maka membaca lah lebih banyak, berinteraksilah dengan kaum literat, dan teruslah menulis. 

Sesungguhnya menulis itu mengikat kata hati dalam bentuk tulisan.

Ayo kita bangkitkan semangat literasi, untuk masa depan yang lebih baik.


Gembongan, 7 Februari 2022