Jumat, 21 Oktober 2022

MEMPERSIAPKAN SISWA UNTUK PROGRAM ASISTENSI

Proses belajar merupakan proses exit dan entry yang dilakukan secara terus menerus secara berkesinambungan sehingga terjadi perubahan kemampuan secara signifikan. Perubahan menjadi muatan utama dalam proses belajar sehingga sekaligus sebagai parameter keberhasilan proses. Oleh karena itu, setiap pembelajar berkewajiban untuk terus berproses. Artinya, tidak boleh ada jeda terlepas dengan tidak belajar. Setiap saat adalah belajar. Dan, hal tersebut sebenarnya sudah kita lakukan setiap saat. Permasalahannya adalah efektivitas proses tersebut. 

SETIAP ORANG ADALAH PEMBELAJAR

Menurut KKBI, pembelajar adalah orang yang sedang mempelajari sesuatu. Berdasarkan pengertian ini, maka kita memang pembelajar. Setiap orang adalah pembelajar sebab kita pasti sedang mempelajari banyak hal. Oleh karena itu kita berkewajiban untuk terus belajar. Berbagai hal harus kita pelajari untuk meningkatkan kemampuan diri kita. Kita sangat menyadari bahwa peningkatan kemampuan hanya dapat dilakukan jika kita melakukan proses penambahan kemampuan. 

Setiap orang berkeinginan untuk mengembangkan kemampuan diri. Hal ini merupakan salah satu bentuk kesadaran atas tanggungjawab dan kewajiban menghadapi dan menyelesaikan permasalahan hidup. Jika, tidak ada penambahan kemampuan, baik kognisi, afeksi, maupun psikomotor, kita akan kesulitan dalam kehidupan. Hal ini karena kehidupan sangatlah dinamis, selalu mengalami perubahan karena perkembangan pola kehidupan. 

Kita hidup untuk menghadapi kehidupan. Kehidupan memberikan dampak langsung terhadap kita. Oleh karena itu, kita harus mempersiapkan diri agar dapat menghadapi dan menyelesaikan yang terbaik untuk diri kita saat dampak menerpa kita. Langkah persiapan tersebut adalah dengan belajar. Setiap kali kita dihantam dampak, maka respon diri adalah berupa proses pengembangan diri. Proses inilah yang kita sebut sebagai proses belajar. Kita belajar dari dampak tersebut sehingga mempunyai kemampuan untuk menghadapi dampak kehidupan. 

Kita dapat melakukan banyak hal sebab kita tidak pernah berhenti belajar sehingga kemampuan kita meningkat secara signifikan. Setiap kali menghadapi kesulitan hidup, kita belajar untuk mampu bertahan terhadap kesulitan tersebut dan keluar sebagai pemenang. Belajar memberikan kita pengalaman untuk menghadapi permasalahan hidup. 

ANAK SEBAGAI ASISTEN PEBELAJAR

Anak sebagai seorang pembelajar sudah pasti mendapatkan pengalaman terkait 3 (tiga) yaitu pengetahuan, karakter, dan keterampilan. Informasi yang disampaikan guru dalam proses pembelajaran dan hasil ramban anak-anak di dunia maya merupakan kompetensi diri yang dapat menjadikannya sebagai pebelajar. Anak-anak dapat menjadi sosok yang mentransfer pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai positif kehidupan. Oleh karena itu, pada saat penyelenggaraan proses pembelajaran, anak dapat menyampaikan pengalaman pelajar kepada teman-temannya. Kegiatan ini dapat kita katakan sebagai asistensi pebelajar.

Anak-anak dengan kemampuan baik dapat mendampingi teman-temannya menjalani proses belajarnya. Artinya, anak-anak akan mendampingi temannya mempelajari materi pelajaran yang mereka kuasai. Interaksi dan komunikasi antar anak merupakan situasi dan kondisi yang kondusif bagi mereka. Mereka berada pada level situasi dan kondisi yang sama sehingga aspek psikis mereka tidak mengalami tekanan. Kita menyebutnya pembelajaran sejawat.

Pembelajaran sejawat memungkinkan anak-anak menjalani proses dengan nyaman. Hal ini karena pola penyampaian materi menggunakan bahasa yang mereka pahami, bahkan mereka berada pada level psikis yang sama. Mereka tidak merasa tertekan karena keseganan ataupun ketakutan pada pembimbing mereka. Jika ada hal yang kurang dipahami, mereka dapat langsung bertanya teman pembimbingnya. Mereka tidak takut untuk bertanya. Dan, cara teman pembinbing menggunakan bahasa yang mereka pahami, bahasa selevel mereka. 

MENINGKATKAN RASA PERCAYA DIRI ANAK

Salah satu hal penting dalam proses pembelajaran adalah meningkatkan rasa percaya diri anak didik. Hal ini merupakan salah satu aspek penting dalam pembelajaran, terkait nilai-nilai positif dalam kehidupan. Bagaimana seorang anak dapat menempatkan diri dalam kehidupannya dengan sebaik-baiknya. Kita membimbing anak-anak untuk menjadi orang-orang berkatakter sehingga siap menghadapi segala hal dalam kehidupan. 

Pembelajaran asistensi memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk dapat mendampingi teman-temannya belajar. Posisi ini menjadikan anak sebagai sosok penting dalam proses pembelajaran. Posisi ini diyakini dapat menumbuhkan rasa percaya diri dalam hati anak-anak. Rasa percaya diri ini akan melahirkan sosok-sosok yang mampu bertahan dalam kehidupan. Mereka akan menjadi sosok yang tangguh dan selalu mampu menghadapi serta menyelesaikan permasalahan hidup. 

Selama ini, permasalahan yang kita hadapi adalah rendahnya peran aktif belajar anak-anak. Anak-anak lebih banyak yang pasif dalam proses pembelajaran. Mereka hanya menerima materi dan informasi yang disampaikan oleh guru dan terdiam saat guru menugaskan untuk pengembangan lebih lanjut materi tersebut. Tetapi, kondisi tersebut dapat dianulir jika mereka sebaya. Anak-anak tidak takut saat harus bertanya terkait kesulitan yang dihadapi dan anak pendamping dapat menyampaikan pengetahuan yang dimilikinya. 

Pembelajaran asistensi memang merupakan salah satu cara untuk menghapus bentangan jarak guru dan siswa. Dengan pembelajaran asistensi, maka anak-anak belajar bersama. Dua manfaat kita dapatkan sekaligus, yaitu peningkatan kemampuan dan membangun kepercayaan diri. 

Begitulah pembelajaran asistensi kita selenggarakan untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran.


Mohammad Saroni
Penulis Orang Miskin Harus Sekolah
Tinggal di 
Gembongan, Gedeg, Mojokerto
Hp. 085784990514
Surel: mohammad_saroni13@yahoo.co.id

Selasa, 18 Oktober 2022

MEMBAKAR SEMANGAT BELAJAR SISWA

Di dalam proses pendidikan dan pembelajaran, siswa bertanggungjawab dan berkewajiban untuk meningkatkan kemampuan dirinya. Peningkatan kemampuan diri dilakukan melalui proses belajar. Seperti kita ketahui, proses belajar adalah proses pengembangan dan peningkatan kemampuan melalui proses pengamatan, pemahaman, penganalisaan, dan implementasi hasil belajar. Konsepnya, jika kita sudah belajar berarti kita dapat menerapkan dalam kehidupan kita. Dengan demikian kita dapat melihat perbedaan antara sebelum belajar dengan sesudah belajar. Jika, setelah belajar menjadi lebih baik, maka proses belajarnya berhasil. Tetapi, jika setelah belajar tidak menjadi lebih baik, bahkan lebih jelek, maka proses belajarnya mengalami kegagalan.

Untuk kondisi tersebut, maka kita harus melakukan langkah-langkah konkret untuk mengarahkan, membimbing, dan mendampingi anak dalam menjalani proses belajarnya. Permasalahannya adalah belum stabilnya pikiran dan pemikiran anak didik. Anak-anak masih gampang sekali mengalami perubahan pola pemikiran sehingga rentan pada kontinuitas dari proses. Pada saat semangat tinggi, kontinuitasnya mengagumkan. Tetapi, pada saat semangatnya turun, jangan ditanya bagaimana proses belajarnya. 

PENGARUH LINGKUNGAN

Kita adalah bagian integral dari kehidupan sehingga tidak dapat mengabaikan perannya bagi diri kita. Sebenarnya peran kehidupan terhadap diri kita adalah berupa pengaruh sehingga kehidupan kita terkondisikan sesuai hukum alam. Kehidupan itu mengkondisikan hidup kita. Walaupun kita berusaha mengkondisikan hidup, tetapi kekuatan alam jauh lebih berkuasa sehingga keberhasilan upaya kita sangat tergantung pada alam.

Pengaruh alam, dalam hal ini lingkungan hidup kita begitu dekat dengan kita. Setiap yang kita lakukan sesungguhnya merupakan hasil kesepakatan kita dengan alam. Kita merencanakan sesuatu dan alam ikut berperan. Jika alam menyetujui, maka kita berhasil mewujudkan rencana kita. Jika alam tidak berkenan, maka rencana kita mengalami kegagalan. 

Ada 2 (dua) kemungkinan peran alam, lingkungan terhadap diri kita, yaitu:
a. Peran positif
Adalah peran lingkungan yang mendukung rencana kehidupan kita. Pada peran ini, ada kesamaan level atau frekuensi kebutuhan. Alam membutuhkan realisasi sebuah rencana kehidupan yang ada dalam diri kita. Begitu juga halnya dengan diri kita yang menginginkan dan membutuhkan realisasi atau perwujudan rencana. Maka, kita berhasil mewujudkan rencana kita. 

Peran positif lingkungan terhadap kehidupan kita memungkinkan kita dapat berhasil dalam kehidupan kita. Peran positif lingkungan ini akan memuluskan jalan kita menuju keberhasilan. Apapun yang kita lakukan terasa lancar, tidak ada hambatan yang berarti. Kalaupun ada hambatan, kita dengan mudah melewatinya. Tidak ada perlawanan dari alam atas segala upaya yang kita lakukan. Ibarat aliran sungai, kita menuju ke hilir dan air mengalir ke hilir. 

Untuk mendapatkan peran positif sebenarnya kembali pada kesiapan diri kita untuk mewujudkan rencana. Agar alam berperan positif terhadap segala upaya kita, maka kita harus mempersiapkan diri untuk mewujudkan rencana. Dengan persiapan diri yang baik, maka kita dapat menjalankan setiap rencana dengan baik. Persiapan diri merefleksi pada kemampuan diri. Semakin siap, berarti semakin mampu. Itulah sebabnya, kita berhasil mewujudkan rencana dan lingkungan tidak menghalangi setiap langkah kita.

b. Peran negatif
Seringkali kita menemukan seseorang yang gagal mewujudkan rencana hidupnya. Mereka tidak dapat mencapai harapannya. Mereka tidak mempunyai kemampuan untuk menjinakkan alam. Akibatnya, alam melawan segala upaya yang dilakukannya. Mengapa alam melawannya? 

Seperti kita ketahui, kita hidup dalam lingkungan yang tidak mungkin kita tinggalkan sebab jika kita meninggalkannya, berarti mati. Oleh karena itu, kita harus dapat meninggalkan pengaruh lingkungan yang negatif dengan cara meninggalkan lingkungan tersebut atau mengembangkan diri atas hal-hal positif. 

Sejatinya, alam selalu memfasilitasi hidup kita. Setiap kebutuhan hidup kita, alam menyiapkannya. Tetapi, kekuatan alam lebih besar dari kekuatan diri sehingga siapa yang kekuatan dalam dirinya lemah, pasti akan terdesak dan tidak mampu menerimanya. Akibatnya, kita terpuruk. Selanjutnya, kita mengatakan bahwa alam telah bersikap negatif pada kita. Alam tidak bersahabat dengan kita.

Alam atau lingkungan tempat tinggal kita, memang dapat bersikap negatif terhadap kita. Sikap negatif tersebut sesungguhnya merupakan respon alam terhadap pola kehidupan kita sendiri. Alam memberi pengaruh negatif terhadap diri kita sehingga pola kehidupan kita terkonstruksi sebagai sesuatu yang negatif juga. Bagaimana alam, lingkungan dapat mempengaruhi pola kehidupan kita adalah karena ketidakmampuan kita menghadapi hidup. Alam memberikan sesuatu untuk kita, tetapi kita tidak mampu menerimanya sehingga yang nampak adalah alam menyerang kita, memberikan tekanan kepada kita sehingga terkesan bersikap negatif terhadap kita. 

MEMBAKAR SEMANGAT ANAK

Akibat pengaruh alam terhadap diri kita, tidak jarang anak mengalami down, depresi, dan ketakutan sehingga melahirkan rasa tidak percaya diri. Jika anak sudah berada pada dasar ketidakpercayaan diri, maka berakibat pada ketidakmampuan melakukan sesuatu. Anak tidak mrmpunyai kemampuan untuk menjawab dan menyelesaikan permasalahan hidup. Kondisi ini menyebabkan anak kehilangan semangat hidup.

Apa yang terjadi jika anak kehilangan semangat hidup? 

Jika anak telah kehilangan semangat hidup, maka mereka tidak mampu menghadapi kehidupan. Setiap permasalahan yang mereka hadapi tidak akan terselesaikan. Mereka terbentur pada ketiadaan bekal atau modal pengetahuan ataupun keterampilan dalam diri sebab mereka tidak percaya diri.

Dalam kondisi inilah, tugas dan kewajiban guru untuk membangkitkan semangat anak. Kita harus membangkitkan rasa percaya diri pada anak sehingga mereka merasa yakin bahwa mereka mempunyai kemampuan untuk menghadapi masalah kehidupan. Slogan bahwa kita pasti bisa dapat dijadikan sebagai slogan peningkatan kepercayaan diri. Jika rasa percaya diri anak sudah terbangun, maka upaya untuk meningkatkan kemampuan diri bukan masalah lagi. 

Proses belajar harus dilandasi rasa percaya diri yang tinggi. Rasa percaya diri akan menumbuhkan semangat dan dengan semangat, maka kita dapat menjalani kegiatan dengan sebaik-baiknya. Semangat inilah yang sebenarnya merupakan energi terbesar dalam proses belajar. Orang-orang yang menghadapi dan menjalani dengan semangat tinggi merupakan indikasi keberhasilannya. Oleh karena itu, membakar semangat belajar anak merupakan kewajiban kita 

Kita sebagai pendamping belajar anak harus memperhatikan tingkat semangat anak. Dan, kita harus cepat tanggap jika hal tersebut kita temukan pada anak didik kita. Kita harus bereaksi dan beraksi jika melihat ada indikasi kehilangan semangat belajar pada anak didik kita. Jangan dibiarkan berlama-lama mereka berada pada situasi kehilangan semangat belajar. Jika kita biarkan, maka dapat menyebabkan kemalasan untuk belajar. Jika kemalasan sudah mencengkeram hati dan jiwa, maka maka mereka tidak akan mau menjalani proses belajar. 

Langkah-langkah pembakaran semangat belajar dapat kita lskukan, yaitu:
a. Pendekatan Personal
Guru sebagai pendamping belajar anak didik mempunyai hubungan emosional yang sangat dekat. Guru juga mempunyai hubungan personal yang luar biasa sehingga dapat kita jadikan sebagai modal melakukan proses pembajaran semangat belajar anak didik. 

Salah satu penyebab padamnya semangat belajar anak didik adalah ketidak nyamannya mengikuti proses belajar karena ketidakmampuannya menguasai materi pelajaran. Mereka merasa kesulitan mengikuti dan memahami materi pelajaran sehingga malas untuk mengikuti proses sebagaimana mestinya. Dan, dia malu menyadari bahwa tidak mampu, tidak pintar, tidak memahami materi pelajaran. Akhirnya, anak-anak tidak mempunyai perhatian terhadap materi pelajaran yang diajarkan guru. Akibatnya, semakin tidak mampu pada penguasaan materi pelajaran.

Kita harus melakukan pendekatan personal untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi anak didik. Pendekatan personal sangat memungkinkan hal tersebut sebab kita hanya bertemu dan berkomunikasi dengan anak didik, tanpa adanya orang lain. Diharapkan, pada saat berkomunikasi berdua, anak-anak tidak malu untuk mengungkapkan kesulitannya mengikuti dan menyerap materi pelajaran. Komunikasi personal memungkinkan anak lebih terbuka kepada guru dan guru dapat memberikan solusi yang cepat dan tepat untuk mengurai kesulitan anak didik.

b. Pendekatan Edukatif

Sebagai proses pendidikan, maka setiap permasalahan yang timbul dalam proses pendidikan harus diselesaikan dengan pendekatan pendifikan atau pendekatan edukatif. Pendekatan edukatif ini memposisikan guru sebagai pendidik dan anak sebagai pedidik sehingga guru selalu langsung mrmberikan penjelasan terkait materi pelajaran yang dirasa sulit oleh anak didik.

Dalam konteks ini, kita dapat melakukan secara individual ataupun klasikal.  Kita menanyakan kesulitan yang dialami oleh anak didik dalam proses pembelajaran. Kita memberikan pertanyaan kepada anak secara klasikal terkait pembelajaran. Kemungkinan, kesulitan anak pada metode pembelajaran yang kita terapkan atau yang lsinnya.

Dengan pendekatan edukatif, maka kita dapat memberikan pelayanan secara klasikal. Baik mereka yang sudah mampu ataupun yang kesulitan mendapatkan penjelasan ulang materi yang dianggap sulit. 

c. Pendekatan Sosiologis

Pada pendekatan ini, kita lakukan dengan mrncari informasi terkait kehidupan anak di masyarakat dan keluarganya. Kita mencari tahu kondisi interaksi sosial anak di masyarakat dan keluarganya. Dengan cara seperti ini, maka berharap dapat menemukan akar permasalahan yang dialami anak.

Kemungkinan terjadinya kondisi yang mengganggu semangat belajar bersumber pada kondisi keluarga atau masyarakat tempat anak berinteraksi sosial. Kita dapat mengetahui situasi keluarga dan lingkungan anak, orang-orang yang bergaul dengannya, dan dapat menentukan langkah solusinya.

Pergaulan anak di masyarakat, keluarga, dan lingkungan sekolah dapat menjadi sumber padamnya semangat belajar anak. Pembullyan, pengancaman, dan semacamnya daoat menjadi sumber kemalasan yang melahirkan hilangnya semangat belajar. Hal-hal seperti ini harus kita selesaikan agar semangar belajar tumbuh dan berkembang lagi. 

Kita harus membakar semangat belajar anak sebab hanya dengan semangat belajar yang tinggi, maka keberhasilan belajar dapat dicapai. Dalam segala hal, kita membutuhkan semangat sebab merupakan energi kehidupan. Semakin besar semangat kita, maka semakin besar kemungkinan ketercapaian tujuan belajar atau kegiatan hidup kita. 

Semoga bermanfaat.


Mohammad Saroni
Penulis buku Sertifikasi Keahlian Siswa
Gembongan, Gedeg, Mojokerto

Hp. 085784990514

Minggu, 16 Oktober 2022

KEBINGUNGAN MASSAL DALAM PENDIDIKAN

Kebingungan dalam proses belajar adalah hal yang lumrah. Setiap orang pasti pernah mengalami kebingungan saat menjalani proses belajar. Hal ini karena adalah proses replikasi, duplikasi, analogi dan penyimpulan secara berurutan, bahkan dalam waktu bersamaan. Hal ini memaksa otak otak bekerja bersamaan dalam satu waktu.  Akibatnya, seperti lampu traffict yang menyala bersamaan. Orang-orang akan kebingungan. Akibatnya, semua diam ditempat.
 
Proses pendidikan kita juga mengalami kebingungan massal. Dalam waktu yang sama, banyak orang yang mengalami kebingungan sebab pola yang terus mengalami perubahan. Pola yang selalu, bahkan terus mengalami perubahan dirasa bukan sekedar bukti dinamisasi proses. Dinamisasi proses akan menunjukkan kepada kita bagaimana yang kita tangani mengalami perubahan untuk penyesuaian kondisi. Kondisi ini milik orang-orang yang dinamis dalam hidupnya. Hanya orang-orang dinamis yang dapat menjalani kehidupan dinamis. Mereka yang kurang dinamis, bahkan tidak dinamis akan tergulung atau terlempar dari jalur kehidupan. Setidaknya, akan mengalami kesulitan dan hambatan dalam menjalankan tugas dan kewajibannya. 

Lantas, apa yang harus kita lakukan untuk menghadapi kebingungan pendidikan di negeri ini? 

Sejatinya, kebingungan dapat  terjadi karena banyak hal. Hal-hal tersebut tidak jauh-jauh dari pola kita memahami dan mengaplikasikan dalam kegiatan. Bagaimana kita mengapresiasi dan menginterpretasi setiap kondisi untuk menghadapi setiap perubahan kondisi. Selanjutnya,bagaimana kita mengaplikasi hasil pemahaman dalam hidup dan kehidupan kita, khususnya bidang pendidikan.

Pemahaman yang kurang holistik

Hidup ini akan terasa nyaman, indah, mudah, dan yang lainnya jika kita memahami konsep dasar dari kehidupan. Tanpa pemahaman terhadap konsep dasarnya, kita akan mengalami kesulitan saat menghadapi permasalahan. Hal ini karena simpanan informasi yang ada dalam memori kita tidak tersedia. Sementara itu, memori. Informasi dalam otak adalah semacam bank pensuplay informasi. Apa yang akan disuplay jika ternyata tidak ada isinya?

Memang tidak semua orang dapat melakukan pemahaman secara holistik. Hal ini karena kemampuan tiap orang berbeda. Tingkat apresiasi dan interpretasi tidaklah sama. Oleh karena itu, harus ada kesadaran untuk menerima segala hal secara proporsional. Dan, menindaklanjuti dengan upaya meningkatkan kemampuan secara berkelanjutan. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman terhadap permasalahan. 

Pemahaman yang meningkat secara signifikan akan mengurangi tingkat kebingungan yang dialami seseorang. Dengan pemahaman yang sudah meningkat, maka kemampuan untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah akan lebih tinggi. Mereka tidak akan kesulitan untuk menyelesaikan sehingga tidak ada kebingungan atas.kondisi. 

Penerapan yang sekedarnya

Hal terpenting dalam pendidikan adalah bagaimana proses tersebut dilakukan. Bagaimana seseorang melakukan aktivitas sangat terkait dengan hasilnya. Semakin bagus proses yang dilakukan, maka semakin bagus hasil yang didapatkan. Hal ini merupakan hukum kausalik dalam kehidupan, dalam hal ini pendidikan. 

Hidup tidak dapat melepaskan  diri dari kausalistik alam. Hal ini karena kita adalah bagian integral dari kehidupan. Kita hidup dalam lingkaran kehidupan. Bagaimana kita dapat mengabaikan kehidupan jika kita adalah bagian dari kehidupan itu sendiri. Kita ada karena adanya kehidupan, jika tidak mengikuti ketentuan hidup, maka itu artinya kita keluar dari kehidupan. 

Tetapi hal tersebut akan menjadi sesuatu yang membingungkan jika proses penerapannya tidak optimal. Ketika seseorang yang tidak memahami akar masalah harus memberikan pendampingan, arahan dan informasi, maka kemungkinan yang terjadi adalah kebingungan. Sedangkan, informasi yang berkompeten saja dapat menyebabkan kebingungan. Oleh karena itu, saat kita menerapkan hasil belajar haruslah seutuhnya. Walau sudah bukan rahasia bahwa selalu ada distorsi, pengurangan kuota materi ilmu dan pengetahuan. Sebagaimana seorang guru silat, selalu ada jurus pamungkas yang hanya dimiliki sendiri dan tidak diberikan kepada murid-muridnya. 

Selama ini, yang terjadi dalam proses pendidikan adalah materi yang diberikan tidak sesuai dengan jatahnya. Seperti kita ketahui, kurikulum yang diturunkan ke sekolah-sekolah bersifat minimal, artinya sekolah mempunyai peluang untuk mengembangkan kurikulum berdasarkan program masih-masing. 

Pola yang terus berganti dan berganti

Untuk dapat memahami sebuah
 konsep.pola, maka kita harus 1menguasai konsep tersebut sebaik-baiknya. Tetapi, jika konsep tersebut selalu saja berubah, sebelum pemahami betul-betul kita kuasai, bagaimana kita tidak kebingungan?

Dalam proses pendidikan, kita menerapkan pola-pola tertentu agar dapat mencapai keberhasilan. Pola-pola tersebut akan menjadi pola dasar dan menjadi acuan pada proses-proses selanjutnya. Jika, berhasil, maka pola tersebut akan menjadi patron umum. Jika belum berhasil, maka kita jadikan acuan untuk menciptakan pola baru yang meningkatkan, mengembangkan pola tersebut.  Jadi, pola-pola tersebut tidak secara ujug-ujug diganti dengan pola baru yang belum.dikuasai guru. Bahkan, seringkali guru mencari dan menemukan polanya sendiri sehingga berhasil dalam.proses pembelajarannya. 

Pola yang berubah-ubah membawa dampak kebingungan pada setiap orang. Ketika tiba-tiba harus meninggalkan dan menanggalkan pola yang selama ini berhasil dan menggantinya dengan pola baru yang belum dikenali, tentunya kerepotan alias kebingungan. Oleh karena itu, perubahan-perubahan tersebut biarkanlah menjadi wacana bagi guru. Wacana tersebut akan didampingkan dengan pola yang sudah diterapkannya. Sedikit demi sedikit dan bukan seketika harus diterapkan. 

Perubahan dalam kehidupan memang sebuah keniscayaan yang tidak dapat kita pungkiri. Selalu ada perubahan dalam setiap aspek kehidupan. Perubahan tersebut merupakan proses adaptasi terhadap perkembangan pola kehidupan. 


Kebingungan dalam proses pendidikan sebenarnya sebuah  kepastian. Hal ini karena pendidikan itu untuk melayani kehidupan dan kehidupan tidak pernah berhenti berubah. Oleh karena itu, setiap orang seharusnya selalu siap dalam kehidupannya. 


Mohammad Saroni
Penulis buku Orang Miskin harus Sekolah
Cp. 085784990514

Jumat, 14 Oktober 2022

PERAN GURU DALAM PROSES PENDIDIKAN

Proses pendidikan dan pembelajaran dilakukan secara sadar untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan diri. Proses ini merupakan sebuah kesadaran terhadap kemampuan diri. Kesadaran ini merupakan langkah antisipasi terhadap kondisi diri dikaitkan dengan kemampuan menghadapi dan menyelesaikan masalah hidup dan kehidupan. Setiap orang berkewajiban untuk proses pendidikan terhadap dirinya sendiri. Dan, merupakan "kejahatan" jika mengabaikan proses pendidikan yang harus dilakukan. 

Untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan diri, maka salah satu kegiatan yang harus dilakukan adalah belajar, selain berlatih. Setiap orang harus belajar agar dapat memiliki kemampuan yang diharapkan. Tanpa belajar, tidak ada kemampuan. Bagaimana kita dapat memiliki sesuatu jika kita tidak pernah berusaha untuk memilikinya. Belajar merupakan sebuah usaha untuk memiliki kemampuan, baik kognitif, afektif, maupun psikomotor. 

Sementara itu, untuk dapat menjalani proses belajar, maka kehadiran sosok yang mampu memberikan semangat dan informasi, serta pelatihan bagi peserta didik. Sosok yang dimaksudkan adalah guru, yaitu tenaga profesional dalam kegiaran Pendidikan dan pembelajaran. Dengan bimbingan dan pendampingan oleh guru, maka proses penyerapan 3 (tiga) aspek dasar pendidikan dapat lebih mudah. Proses belajar akan terasa lebih mudah dan efektif jika dalam pembimbingan dan pendampingan seseorang yang ahli dalam proses tersebut. Seperti saat kita belajar mengemudikan kendaraan, keberadaan instruktur memudahkan kita menguasai kemampuan mengendarai kendaraan. Sangat berbeda jika dibandingkan dengan belajar tanpa pembimbingan dan pendampingan.

Peran guru dari tahun ke tahun, dahulu hingga sekarang

Kita menyadari dan mengakui bahwa kemampuan seorang guru melebihi orang awam. Bahkan, guru dianggap sebagaimana dewa. Kondisi tersebut menyebabkan masyarakat merasa nyaman jika ada guru. 

Posisi guru dalam kehidupan masyarakat sangatlah penting dan mulia. Begitu pentingnya sehingga selalu berperan dalam setiap kegiatan yang dilakukan dalam kehidupan masyarakat. Pada banyak kegiatan kemasyarakatan dan sosial, maka sosok guru pasti diberdayakan sebagai bagian pelaksana ataupun pengelolanya. Jika tidak sebagai ketua, maka sosok guru akan berperan sebagai sekretarisnya. 

Di dalam pola pendidikan era lama, peran guru adalah sebagai orangtua anak didik. Posisi ini memungkinkan guru mengambil langkah-langkah konkrit proses pendidikan. Guru berwenang untuk mengambil langkah efektif dalam proses mendidik anak didik. 

Salah satu prasyarat agar proses pendidikan berhasil adalah disiplin. Kita harus mengkondisikan anak didik agar disiplin sehingga pada saat belajar dapat lebih konsentrasi. Kedisiplinan merupakan kondisi yang harus diterapkan oleh seseorang, sehingga apa yang dilakukannya tidak menyimpang dari yang seharusnya dilakukan. Orang-orang disiplin sangat menghargai efektivitas dan efisiensi.

Pada pola pembelajaran lama, tujuan pendisiplinan anak dilakukan dengan pengkondisian, salah satunya adalah pemaksaan dan penerapan reward juga punnishment.  Kedua aspek ini terbukti telah menjadi sarana yang tepat mendisiplinkan anak didik. Bukankah setiap orang menginginkan mendapat reward dan berusaha menghindari punnishment

Pada pola pendidikan lama, pemaksaan anak untuk berdisiplin dilakukan secara ketat dan keras. Anak dikondisikan untuk menyesuaikan diri terhadap 'pengkondisian' yang diciptakan guru sesuai dengan koridor pendidikan. Hukuman fisik bukan hal yang aneh. Tetapi, hukuman tersebut tidak melahirkan sakit hati. Bahkan hukuman fisik tidak mengurangi semangat belajar anak didik. Mereka tetap belajar meskipun seringkali mendapatkan hukuman fisik. Hingga akhirnya, hal yang menyebabkan menerima hukuman pun dikuasai sehingga tidak lagi mendapat hukumanbahkan mendapatkan reward, hadiah dan pujian.

Jika anak didik mengalami perubahan kemampuan, menjadi lebih baik, positif, maka berarti proses pendidikannya berhasil. Tetapi, jika kondisinya tetap bahkan semakin buruk, berarti proses pendidikan gagal. Oleh karena itu, setiap guru menerapkan metode aplikatif. Dengan metode pembelajaran, guru berharap dapat menemukan spesifikasi pola belajar anak-anak. Hal ini karena pola dan cara belajar setiap anak adalah berbeda.

Guru sebagai pendamping

Guru ada pendamping belajar bagi anak-anak. Keberadaan guru pada saat proses belajar memungkinkan anak-anak mempelajari materi belajar yang pas, sesuai dengan kebutuhannya. Guru akan memberikan pendamping agar anak-anak mengetahui dan memahami setiap aspek materi pelajaran. Anak tidak belajar asal-asalan.

Jika pada proses belajar mengalami kesulitan, maka anak dapat meminta bantuan guru untuk memberinya pencerahan atas materi yang tidak dipahami tersebut. Dengan demikian, maka proses belajarnya dapat lancar sebab setiap ada kesulitan dapat segera diselesaikan. Kesulitan tidak ada waktu untuk bersemayam dalam diri anak-anak. Kita mengetahui dan menyadari bahwa sedikit saja anak mengalami kesulitan, maka akan melahirkan kemalasan. Anak akan malas melanjutkan proses belajarnya sebab terhalang oleh kesulitan dan setiap kesulitan itu akan berkelanjutan ke depannya. Misalnya, kita kesulitan belajar matematika, maka akan berdampak pada pelajaran ilmu pasti dan perhitungan lainnya. Jika anak merasa kesulitan dan tidak menemukan jalan keluar, akan putus asa dan akhirnya malas untuk belajar lebih lanjut.

Berbeda jika ada sosok yang mendampingi dan memberikan solusi setiap menghadapi kesulitan, anak akan merasa nyaman dalam menjalani proses belajarnya. Mereka tidak akan malas belajar, apalagi memberi mata pelajaran hanya karena merasa tidak mampu, mengalami kesulitan di mata pelajaran tersebut.

Sebagai seorang pendamping, guru mempunyai tugas, wewenang, dan kewajiban. Semua aspek tersebut terkait dengan proses pendampingan belajar anak didik. Oleh karena itu, seorang guru harus bersikap profesional agar tugas, wewenang, dan kewajibannya dapat berhasil.

Guru sebagai pembimbing

Kita hidup tidak dapat berjalan sendiri. Dalam konteks ini, kita membutuhkan orang lain agar langkah hidup kita tidak mengalami kesulitan dan hambatan. Orang lain ini peranannya adalah membimbing langkah kita pada jalur yang benar. 

Orang yang membimbing langkah hidup kita adalah seorang pembimbing. Salah satu sosok yang seringkali berperan sebagai pembimbing hidup kita adalah guru. Guru membimbing kita dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan yang membuat kita pintar dan pandai. Guru yang membimbing kita mempelajari berbagai ilmu sehingga kita dapat menguasai ilmu-ilmu tersebut.

Oleh karena itu, seorang guru harus menguasai ilmu yang menjadi kompetensinya, di samping itu secara umum adalah ilmu-ilmu penunjangnya. Guru sebaiknya membekali banyak ilmu dan pengetahuan serta keterampilan aplikatif untuk kehidupan. Pada dasarnya, sebagai pembimbing, seorang guru harus dapat melakukan pembimbingan untuk anak didiknya. Bukan sekedar mentransfer disiplin ilmunya saja.

Guru sebagai sumber informasi

Kondisi ini pernah terjadi dalam dunia pendidikan kita. Dalam proses pembelajaran kita. Seorang guru dianggap sebagai orang istimewa dengan multi ilmu dan pengetahuan serta keterampilan. Seorang guru dianggap sebagai sosok serba tahu dan serba bisa. Padahal, sebenarnya guru juga manusia. Tetapi, guru sudah belajar tentang banyak hal sehingga hal tersebut menjadikannya serba tahu.

Ruang lingkup kehidupan guru adalah ilmu dan pengetahuan. Setiap hari selalu bergelimang ilmu dan pengetahuan. Berbagai ilmu dibaca dan dipelajari. Dengan demikian, otak dan pemikirannya terus bekerja. Orang mengatakan dalam kondisi seperti itu, otaknya menjadi encer dan tidak beku. Oleh karena itu, jika ada permasalahan, apalagi terkait materi pelajaran, maka bukan masalah bagi seorang guru. 

Bahkan, dalam kehidupan kemasyarakatan, para guru dijadikan tokoh masyarakat. Beberapa posisi diserahkan kepada guru untuk ditangani. Misalnya ketua RT, ketua RW, dan yang lainnya. Di samping itu, banyak warga masyarakat yang datang bertanya kepada guru saat menghadapi permasalahan dalam hidupnya. 

Dalam kaitan dengan proses pendidikan, maka peran guru sebagai sumber informasi adalah keniscayaan. Dengan bekal ilmu pengetahuan yang dimilikinya, seorang guru dapat menyampaikan berbagai informasi kepada anak didiknya. Dengan demikian, maka anak didiknya pun dapat memiliki ilmu dan pengetahuan, bahkan keterampilan yang dimiliki oleh guru. Tentunya dalam hal ini, anak didik harus konsentrasi dan belajar giat. 

Dan, peranan guru sebagai sumber informasi bagi anak didik dan masyarakat secara umum merupakan keuntungan besar bagi masyarakat. Menurut buku atau informasi yang pernah penulis baca, sesaat setelah kota Nagasaki dan Hiroshima dibombardir oleh sekutu hingga hancur, Kaisar hanya menanyakan satu hal, "Berapa jumlah guru yang masih hidup?" Hal ini mengisyaratkan betapa pentingnya seorang guru. Kota boleh hancur, tetapi selama masih ada guru, maka semua dapat dibangun lagi!

Peran guru memang sangat penting dalam hidup dan kehidupan kita. Hal ini karena, sebenarnya semua orang adalah guru dalam kehidupannya. Tetapi, tidak semua orang dapat memerankan perannya sebagai guru. 

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Tidak akan hidup dan kehidupan ini maju jika tidak ada guru!!


Gembongan, 16 Oktober 2022


Mohammad Saroni
Penulis buku Orang Miskin Harus Sekolah.
Tinggal di Gembongan, Gedeg, Mojokerto, Jawa Timur

Kamis, 13 Oktober 2022

MENDIDIK DAHULU, LANTAS MENGAJAR, ATAU SEBALIKNYA??

Berdasar apakah kita menilai diri seseorang? Pertanyaan ini merupakan upaya untuk mengetahui secara pasti eksistensi seseorang. Eksistensi seseorang dalam kehidupan sangat bergantung pada peran sertanya dalam kegiatan hidupnya. Semakin banyak perannya, maka semakin eksis dalam kehidupan. Tetapi, apakah cukup berdasarkan hal tersebut?

Peranan seseorang dalam kehidupan sangat terkait dengan kemampuan dirinya. Hal ini karena setiap peran membutuhkan kemampuan masing-masing. Meskipun seringkali kita dituntut untuk memerankan diri tidak sesuai dengan kemampuan yang ada. Lintas kompetensi sering menyebabkan seseorang harus secara cepat beradaptasi.

Ada 3 (tiga) hal pokok yang harus diketahui untuk dapat mengefektifkan peran kita dalam kehidupan. Tiga hal ini melekat dalam diri seseorang sebagai hasil dari proses pendidikan. Semakin lengkap kemampuan seseorang, maka semakin efektif peran sertanya dalam kehidupan. Tiga hal tersebut adalah pengetahuan, keterampilan, dan karakternya. Memang tidak mudah bagi seseorang untuk mampu menguasai atau memiliki ketiga aspek tersebut. Hal tersebut terkait dengan pribadi setiap orang. Adalah kesempurnaan jika seseorang menguasai 3 (tiga) kemampuan tersebut. 

Berdasarkan pemahaman penulis, maka 3 (tiga) aspek dasar tersebut merupakan hasil dari 3 (tiga) proses, yaitu pembelajaran, pendidikan, dan pelatihan. Ketiga proses tersebut dapat dilakukan dalam satu paket atau satu-satu. Kita sering menyebut 3 (tiga) aspek tersebut sebagai aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. 

Aspek kognitif

Adalah aspek pendidikan yang dilakukan untuk melakukan perubahan anak didik terkait ilmu pengetahuannya. Pada aspek ini, para guru mempunyai kewajiban untuk membimbing anak didik sehingga tingkat pengetahuannya bertambah. Perubahan tingkatan tersebut dapat berupa ketidaktahuan menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa, dan sebagainya.

Pada aspek ini, seorang guru berperan sebagai pendamping belajar, pembimbing belajar, dan sumber materi pelajaran. Peran guru memang sedemikian rupa sehingga anak didik secara aktif berposisi sebagai subyek belajar, bukan obyek belajar. Dan, sebagai subyek belajar, maka sudah seharusnya anak didik secara aktif menjalani prosesnya. Anak didik harus proaktif untuk mempelajari bahasan materi pelajaran yang diberikan oleh guru. 

Aspek kognitif diatur oleh pemerintah dalam bentuk mata pelajaran, jumlah jamnya, dan tingkatan penyampaiannya. Dengan regulasi seperti ini, maka perkembangan pengetahuan anak didik terjadi secara terstruktur dan berkesinambungan. Informasi pengetahuan diberikan dan diterima anak didik sesuai dengan tingkat kejiwaannya. Misalnya, anak kelas satu tidak mungkin diberikan materi matematika  yang rumit. Begitu juga dengan materi membaca dan menulis adalah materi yang sederhana dengan level rendah.

Dengan aspek kognitif ini.maka anak didik dapat mengetahui berbagai hal dalam kehidupannya dan yang ada di sekitarnya, baik yang dekat maupun yang jauh. Kita belum pernah mengetahui Jakarta, tetapi kita sudah diberikan informasi dasar mengenai Jakarta sehingga kita menjadi tahu Jakarta. Begitulah aspek kognitif memerankan diri dalam kehidupan kita. 
Dan, guru mendampingi, membimbing, dan melatih serta memberi banyak informasi kepada anak didik. Hasil dari upaya guru tersebut adalah anak didik menjadi tahu bahwa Jakarta adalah ibukota negeri, anak didik menjadi tahu bahwa di Jakarta ada monumen yang besar bernama Monas. Dan, semakin banyak informasi yang di dapat dari guru. 

Aspek afektif

Aspek afektif berkaitan dengan psikologi anak didik yang di dalamnya, terutama adalah karakter anak didik. Seorang guru mempunyai kewajiban secara profesional sebagai psikolog bagi anak didik. Guru memberikan pembimbingan, pendampingan, dan berbagai informasi terkait karakter. Karakter itu adalah warna dasar setiap orang, anak didik. Dalam hal ini kita hanya dapat memberi saran, arahan, dan bimbingan tentang bagaimana mengelola warna dasar tersebut sehingga menjadi warna yang istimewa, berbeda dengan warna orang lain dan menjadi daya tarik bagi orang lain.

Peran guru dalam kaitan dengan aspek afektif adalah sebagai orangtua bagi anak didik. Aspek afektif inilah yang sesungguhnya intisari dari proses pendidikan. Dan, sesungguhnya yang berperan sebagai pembentukan karakter adalah orangtua. Orangtua, ayah dan ibu adalah guru pertama bagi anak didik. Ayah dan ibu yang berkewajiban nggulo wentah anak sehingga mempunyai karakter baik untuk kehidupan. Tetapi, dengan berbagai kondisi kehidupan, orangtua mendeledasikan tugas dan kewajiban tersebut kepada guru. 

Dengan demikian, posisi guru dalam aspek afektif adalah sebagai orangtua bagi anak didik. Para guru.yang membimbing, mendampingi, dan memberikan banyak informasi terkait pembentukan karakter. Oleh karena itu, sejatinya, anak didik mengikuti segala arahan, bimbingan, dan pendamping yang diberikan guru. Dengan kata lain, anak didik harus nurut dengan para gurunya. Anak didik harus hormat, sopan, santun, dan berbakti pada gurunya.

Satu hal yang perlu ditekankan dalam hal ini, perlu diberikan hak prerogatif pada guru untuk melakukan pendidikan pada anak didik. Guru harusnya diberi keluasan untuk melakukan hal-hal yang bersifat pendidikan kepada anak didik. Salah satunya adalah adanya reward dan punnishment untuk anak didik. Akhir-akhir ini yang terjadi adalah banyaknya tuntutan agar guru lebih banyak memberikan reward kepada anak didik dan mengurangi atau sebisanya meniadakan punnishment untuk anak didik. Artinya, bagaimanapun kondisinya, maka anak didik harus diberi reward, baik positif maupun negatif. Guru tidak boleh memberikan punnishment, bahkan jika tetap dilakukan, maka diancam dengan pelanggaran HAM ataupun pembullyan anak, kekerasan pada anak, dan sebagainya. 

Dan, guru tidak berkutik. Guru tidak mampu lagi melakukan punnishment kepada anak didiknya walaupun sang anak telah melakukan sesuatu yang bertentangan dengan intisari proses pendidikan.  Guru hanya berhak memberi nasehat semata, dipakai atau tidak, bukan lagi masalah bagi guru. Jika nasehat guru dipakai, maka karakter anak menjadi baik. Jika tidak dipakai, karakter anak tentunya tidak sesuai harapan. 

Guru telah kehilangan hak prerogatif ya untuk ikut membentuk karakter anak didik. Guru kehilangan haknya untuk mendidik anak-anak sebab telah terjadi pemangkasan terhadap kreasi edukatif para guru. Guru diharapkan pada sejuta larangan hal yang dilakukan kepada anak didik. Akhirnya, guru hanya mampu memberi saran, pendidikan secara verbal. Dan, materi yang disampaikan secara verbal seringkali gampang terlupakan. Akhirnya, semua kembali pada peran tangan takdir Tuhan terhadap kehidupan anak dan guru hanya mengambil kewajiban mengajarnya.

Aspek psikomotor

Aspek psikomotor adalah aspek yang terkait dengan keterampilan anak didik. Aspek ini merupakan materi dasar yang harus dikuasai oleh anak didik agar proses pendidikan dan pembelajarannya utuh, holistik. Apalah artinya pengetahuan jika tidak didukung keterampilan aplikatif yang terkait kemampuan kognitif yang dimilikinya. 

Keterampilan pada awalnya berposisi sebagai pelengkap kemampuan kognitif anak didik. Anak-anak diarahkan untuk membekali diri dengan keterampilan. Keterampilan inilah yang selanjutnya menjadi ujung tombak saat mencari pekerjaan. Ada tuntutan agar anak tidak sekedar mempunyai kemampuan kognitif saja. Kemampuan ini mempunyai kecenderungan untuk berada pada ambang teori semata. 

Aspek psikomotor merupakan salah satu aspek kompetensi yang terkait dengan kemampuan melakukan sesuatu. Aspek ini berkaitan olah raga, yaitu bagaimana fisik melakukan kegiatan untuk dapat menciptakan, olah karya, setelah melakukan olah rasa. Dan, aspek ini didapat dari proses pelatihan yang terstruktur, berulang dan berkelanjutan.

Aspek psikomotor didapatkan dari proses belajar in action, artinya anak didik harus dikondisikan untuk belajar sambil melakukan kegiatan-kegiatan teknis. Berbagai kegiatan teknis dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan teknis. Untuk kegiatan ini, dapat dilakukan di dalam lingkungan sekolah atau di masyarakat. Anak didik dapat berlatih di lingkungan sekolah atau memanfaatkan fasilitas yang disediakan masyarakat.

Lantas, mendidik atau mengajar yang lebih dahulu?

Beragam jawaban akan terlontar untuk pertanyaan tersebut. Dan, semua jawaban dapat kita jadikan sebagai acuan untuk melakukan proses secara optimal. Jawaban-jawaban yang diberikan dapat menjadi acuan pengambil dan pengambilan kebijaksanaan pendidikan dan pembelajaran. 

Di negeri kita yang kita temukan adalah departemen pendidikan dan bukan departemen pembelajaran. Apakah ini isyarat bahwa.yang perlu dilakukan peningkatan terlebih dahulu adalah pendidikan, sedangkan pembelajaran merupakan konsekuensi logis dari pendidikan tersebut. 

Apakah kita harus mendidik terlebih dahulu, lantas dilakukan pembelajaran? Ataukah kita ajar dulu.lantas kita didik? Apakah kita mempersiapkan mentalnya terlebih dahulu ataukah meningkatkan pengetahuannya? Apakah karakter dapat mengembangkan pengetahuan ataukah pengetahuan akan membentuk karakter seseorang?

Sementara di dalam salah satu bait, syair lagu kebangsaan dituliskan.....bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya.

Selamat memikirkan dan mengambil keputusan untuk menerapkannya secara nyata!!


Mohammad Saroni
Penulis buku: Orang Miskin Harus Sekolah, dll

Gembongan, 15 Oktober 2022

MENGAJAR DI ERA MERDEKA BELAJAR

Tuntutan kehidupan terhadap output dari lembaga pendidikan semakin tinggi. Ada banyak aspek terkait tuntutan tersebut. Tetapi, semua tuntutan tersebut merupakan hasil dari evaluasi masyarakat terhadap proses pendidikan dan hasilnya. Evaluasi ini adalah respon positif terhadap dunia pendidikan. Tidak peduli bagaimana cara masyarakat menyampaikan hasil evaluasinya tersebut. Ada yang menyampaikannya secara santun, tetapi ada juga yang menyampaikannya dengan sikap arogan dan tidak menggambarkan masyarakat berbudaya.dan beradab, Pancasila. Tetapi, satu tujuan mereka yaitu menginginkan kualitas pendidikan meningkat. 

Proses pendidikan dan pengajaran di negeri ini, sebenarnya sudah ada sejak sebelum kita merdeka. Walaupun proses tersebut masih diskriminasi, tetapi setidaknya anak bangsa ini telah mengenyam proses pendidikan sehingga kualitas dirinya meningkat. Beberapa anak muda dari bangsa ini telah menjadi bagian cendekiawan muda. Pola pemikiran mereka tidak sempit, bahkan cenderung global. Dengan pola pemikiran seperti itu, maka masyarakat dunia mulai memperhitungkan bangsa ini sebagai sebuah bangsa yang berpengaruh. Kita dapat sebut Budi Utomo, HOS Cokro Aminoto,  Sutan Sjahrir, bung Karno, Bung Hatta, dan yang lainnya, yang tidak dapat disebutkan satu persatu. 

Dengan kecendekiaan yang mereka miliki, maka mereka berusaha untuk membebaskan bangsa dan negerinya dari kungkungan penjajah. Mereka mengefektifkan kemampuan diplomasi untuk menyampaikan pada masyarakat dunia bahwa Indonesia 

Kebutuhan belajar di jaman penjajahan

Negara akan menjadi besar jika warganya mempunyai kemampuan diri yang tinggi. Kemampuan yang tinggi dalam hal ini adalah berkualitas. Berkualitas yang kita maksudkan adalah berpengetahuan, berketerampilan, dan berkarakter baik. Tiga hal ini merupakan modal dasar untuk membangun bangsa dan negara. Dan, ketiga aspek tersebut dapat dimiliki dengan mengikuti proses pendidikan dan pembelajaran.

Kebutuhan pendidikan pada jaman penjajahan sangatlah tinggi, tetapi kesempatan untuk mengikuti proses tersebut tidaklah gampang. Ada diskriminasi kesempatan mengikuti proses pendidikan. Bahkan, kesempatan mengikuti proses pendidikan dibatasi tingkatannya sehingga kebanyakan anak pribumi hanya sampai pada tingkatan sekolah rendahan.

Selain itu, untuk dapat mengikuti proses pendidikan, latar belakang keluarga juga menentukan. Jika orangtua tidak mampu, maka tidak mungkin dapat mengikuti proses pendidikan. Mereka hanya diberi kesempatan mengikuti pendidikan tingkatan terendah. Hal ini karena penjajah tidak ingin anak pribumi menjadi pandai, cakap, dan sebangsanya. Kalaupun ada anak pribumi yang mengikuti proses pendidikan tinggi, gerak merekapun dibatasi.

Kebutuhan pendidikan di masa penjajahan adalah untuk melepaskan bangsa dan negara dari cengkeraman penjajah. Mereka menyadari bahwa pembodohan yang dialami anak pribumi oleh penjajah memperpuruk kondisi bangsa dan negara. Orang-orang pribumi menjadi gedibal orang penjajah. Orang pribumi menjadi jongos, orang penjajah menjadi juragan. Dapat dikatakan bahwa anak pribumi menempati kasta terendah dalam tingk atan kehidupan sosial masyarakat. 

Kondisi itulah yang menjadi dasar pemikiran para cendekia.untuk meningkatkan kualitas anak e  GG   pribumi dengan mengikuti proses pendidikan. Mereka berkeyakinan bahwa pendidikan akan membawa peningkatan kualitas kehidupan anak-anak pribumi. Mereka butuh melepaskan diri dari cengkeraman kuku penjajah. Dan, dengan pendidikan yang cukup, maka anak pribumi akan memiliki pengetahuan, keterampilan, dan karakter yang dibutuhkan untuk mewujudkan harapan. Manusia-manusia berkualitas hanya dapat dilahirkan oleh proses.pendidikan, pembelajaran dan pelatihan.

Kebutuhan pendidikan saat telah merdeka

Merdeka mengisyaratkan bahwa ada kebebasan yang kita miliki untuk melakukan banyak hal dalam kehidupan. Tidak ada lagi yang melarang kita untuk mengikuti proses pendidikan dan pembelajaran. Selama persyaratani

Pada masa merdeka, kesempatan untuk mengikuti proses pendidikan terbuka luas untuk anak bangsa. Tingkatan pendidikan pun disiapkan untuk semua. Semua anak bangsa dapat mengikuti pendidikan sesuai kebutuhannya. Bahkan, berbagai ragam kompetensi diajarkan pada berbagai jenis sekolah, khususnya sekolah kejuruan. 

Pada jaman merdeka, tuntutan untuk mengisi ruang merdeka merupakan hal utama. Kita harus melakukan banyak hal terkait memberdayakan diri, alam, peluang sehingga tidak menjadi sesuatu yang sia-sia perjuangan para pahlawan. Kita harus mengisi ruang merdeka sehingga kehidupan menjadi lebih baik. Ruang merdeka yang kita maksudkan adalah perkembangan pola kehidupan. 

Kehidupan ini sangat dinamis. Setiap saat mengalami perubahan yang sangat signifikan terhadap upaya survival setiap orang. Perubahan-perubahan itu membawa konsekuensi bagi setiap orang sebagai pelaku aktif kegiatan hidup. Konsekuensi tersebut adalah keharusan untuk mengembangkan diri agar dapat menghadapi dan menyelesaikan tuntutan kehidupan. Dan, untuk proses pengembangan diri, maka proses pendidikan menjadi harapan utama. 

Artinya, proses pendidikan di jaman merdeka adalah untuk menghadapi kehidupan sehingga tingkat survival diri meningkat. Jika tingkat survival meningkat, maka kita dapat bertahan dan mempertahankan eksistensi kita sebagai pelaku kehidupan. Kualitas diri yang terus berkembang sebagai hasil proses pendidikan menyebabkan kita dapat melewati seleksi alam kehidupan. 

a. Kebutuhan Peningkatan Kualitas Diri

Proses pendidikan meningkatkan kualitas diri. Hal ini karena proses pendidikan merupakan upaya sadar yang kita lakukan untuk menjadi lebih baik. Pendidikan membawa perubahan signifikan atas kompetensi seseorang. Perubahan yang kita maksudkan adalah dari kondisi minus menjadi surplus, dari tidak dapat menjadi dapat, dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak beradab menjadi beradab, dan sebagainya. 

Kita selalu berharap agar kualitas diri kita meningkat, bahkan terbaik dari yang baik. Hal ini sangat manusiawi sebab setiap orang menginginkan hal terbaik bagi dirinya. Ini merupakan satu sisi karakter setiap orang, yaitu egois. Pemenuhan kebutuhan diri sendiri merupakan hal utama dalam kehidupan. Tidak ada orang yang tidak egois, kecuali mereka yang berkualitas diri.

Proses pendidikan yang diikuti dan dijalani adalah wujud dari egoisme diri yang kita kenal dengan sebutan ambisi. Egoisme seseorang merangsang naluri bertahannya untuk mewujudkan harapannya. Naluri itu kita katakan sebagai ambisi diri. Ambisi inilah yang sesungguhnya merupakan energi dalam diri dan selanjutnya kita sebut sebagai semangat.

Bahwa proses pendidikan merupakan upaya untuk memenuhi kebutuhan Peningkatan Kualitas diri. Proses dilakukan secara bertahap dari tingkatan dasar hingga tingkatan tinggi, bahkan terus dilakukan sepanjang hayat dikandung badan. Kita mengikuti proses pendidikan karena kita ingin kualitas diri kita meningkat secara signifikan dan proporsional.

b. Kebutuhan Pengakuan Eksistensi Diri

Proses pendidikan akan meningkatkan kualitas diri seseorang. Saat kualitas diri sudah meningkat, maka keberadaan seseorang dalam lingkungannya juga meningkat. Peningkatan keberadaan ini dapat dilihat dari peran serta seseorang dalam kehidupan masyarakatnya. Semakin berkualitas seseorang, semakin penting perannya dalam kehidupan masyarakatnya. 

Setelah mengikuti proses pendidikan, membawa konsekuensi pada perannya di masyarakat, maka ini merupakan pengakuan terhadap kualitas dirinya. Dan, semua orang mempunyai keinginan tersebut. Setiap orang berkeinginan agar masyarakat mengakui keberadaannya dalam kehidupan dengan memberdayakan kualitas dirinya. 

Semakin tinggi pendidikan seseorang, maka semakin berkualitas. Itu logisnya. Oleh karena itu, para orangtua berusaha untuk menyekolahkan anak-anaknya hingga tingkat tertinggi. Hal ini secara implisit merupakan harapan agar keberadaannya diperhatikan orang lain. Hal ini merupakan kebutuhan setiap orang. Pengakuan ini memungkinkan mereka mendapatkan respon positif, misalnya lapangan kerja dan yang lainnya.

Pendidikan memang sangat dibutuhkan oleh setiap orang. Bahkan, merupakan kewajiban bagi kita untuk mengikuti proses pendidikan atau menuntut ilmu. Hal ini karena kita adalah bagian integral dari kehidupan yang terus mengalami perubahan. Dan, setiap perubahan membawa konsekuensi yang berupa tuntutan untuk beradaptasi.  Untuk dapat beradaptasi, maka kemampuan diri harus ditingkatkan sesuai tingkat kebutuhan. Proses peningkatan dapat dilakukan dengan belajar. Sementara itu, proses belajar dapat dilakukan dalam bingkai proses pendidikan.

Selamat menikmati proses pendidikan, pembelajaran, dan pelatihan untuk mempersiapkan diri menghadapi dinamika kehidupan. Jangan kalah pada kehidupan, sebab sesungguhnya kita yang menentukan kondisi kehidupan.

Semangat!!


Mohammad Saroni
Gembongan, 14 Oktober 2022