Selasa, 04 Agustus 2009

Mengajar dengan Sistem Team Teaching

Pendahuluan

Perkembangan teknologi dan pola kehidupan menuju pada globalisasi di segala area kehidupan menuntut setiap manusia untuk dapat menghadapi permasalahan hidupnya. Dan, di dalam dunia pendidikan dan pembelajaran, salah satu aspek yang mulai terasa adalah tanda-tanda over load tenaga pengajar di sekolah. tanda-tanda overload yang terjadi ini dapat kita lihat dari jumlah tenaga pengajar untuk satu bidang studi. Khususnya saat sekarang ini adalah terkumpulnya tenaga pengajar pada disiplin ilmu yang sama di satu sekolah, dalam konteks ini adalah sekolah negeri.
Dengan jumlah personal yang melebihi kebutuhan ideal bagi proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah, tentunya terjadi pembagian tugas mengajar yang tidak seimbang antara guru yang satu dengan guru yang lain. Bahkan seringkali terjadi jatah pembelajaran wajib guru tidak terpenuhi, misalnya di sekolah negeri. Satu pelajaran, yang terbagi atas tiga kelas ternyata tersedia guru sebanyak, misalnya 6 orang guru. Akibatnya setiap tingkat harus dipegang oleh dua orang guru. Seandainya rombongan belajar setiap tingkat ada sepuluh, berarti alokasi jam yang tersedia adalah dua puluh jam. Dengan demikian, maka setiap guru hanya mendapatkan jam sebanyak 10 jam pelajaran, sedangkan jam wajibnya adalah 24 jam.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, maka setiap sekolah menerapkan berbagai trik sehingga kebutuhan dan alokasi pembelajaraan dipadatkan dengan memasang beberapa guru untuk secara berpasangan membina bidang studi dimaksudkan. Dengan demikian, maka setiap guru mencapai jatah atau jam wajib mengajarnya. Dan, di dalam proses pembelajaran setiap guru mendapatkan alokasi tugas sebagaimana mestinya.

Pengertian Team Teaching

Secara umum team teaching merupakan satu metode pembelajaran yang bertujuan untuk lebih mengefektifkan proses pembelajaran. Dalam hal ini kita berprinsip pada konsep bahwa dengan narasumber belajar yang lebih dari satu, maka mereka dapat saling mengisi celah kekurangan sehingga didapatkan proses seutuhnya.
Team teaching merupakan satu konsep pembelajaran dengan memberikan penugasan pada kelompok guru serumpun untuk menangani proses pembelajaran. Dengan adanya team teaching ini, maka setidaknya kesulitan yang selama ini dihadapi oleh guru dapat diselesaikan bersama-sama. Mereka dapat saling sharing dan mengisi dengan membagi tugas sesuai dengan kompetensi masing-masing.
Dua orang guru atau lebih dapat saling mengisi kekurangan masing-masing pada saat memberikan pembelajaran. Guru yang kompeten secara teori membimbing anak didik dalam aspek teoritis, sedangkan guru yang mempunyai kompetensi praktis membimbing anak pada aspek prakteknya. Hal ini menunjukkan bahwa spesialisasi atau kualifikasi setiap guru adalah satu kekhususan. Kondisi inilah yang dijadikan sebagai dasar penerapan konsep pembelajaran team teaching.
Di dalam setiap proses pembelajaran, anak didik didampingi oleh dua orang guru atau lebih, lazimnya dua orang guru. Satu guru menjelaskan satu bagian materi, guru yang lainnya memberikan bagian lainnya. Jika ada kesulitan dialami oleh guru, maka mereka dapat saling menutupi kekurangan tersebut sehingga dengan demikian, maka anak didik mendapatkan penjelasan yang lebih komplit.
Team teaching memang dianggap sebagai satu konsep pembelajaran kreatif yang inovatif sebab selama ini yang terjadi didalam proses pembelajaran adalah kekuasaan tunggal pada seorang guru. Selama ini guru yang berada di kelas adalah penguasa tunggal sehingga bagaimana kondisi kelas belajar berada di tangan sang guru. Kadangkala guru menerapkan kebijakan yang belum matang sehingga merugikan anak didik. kebijakan yang belum matang adalah kebijakan yang diambil oleh guru tanpa sharing dengan rekan guru yang lain. Bahkan seringkali kebijakan diambil secara spontan saat proses belajar sedang belangsung dan pada saat tersebut timbul satu kejadian.
Tetapi dengan adanya team pada saat melaksanakan proses pembelajaran, maka setidaknya guru mempunyai teman sharing pada saat memutuskan satu hal terkait dengan kondisi yang terjadi dalam kelas pembelajarannya. Setidaknya dengan teman sharing ini, maka kebijakan dan keputusan yang diambil diharapkan lebih matang daripada saat sendirian. Hal ini juga mengajarkan pada anak didik tentang pentingnya kerjasana yang solid di dalam sebuah tim, khususnya tim pembelajar. Tanpa kesolidan, proses pembelajaran semakin tidak terarah dan justru terpecah pada content yang membias.
Pada sisi lainnya, penerapan team teaching memang diarahkan untuk mengatasi kekurangan jam mengajar dari beberapa guru. Kita menyadari bahwa dengan banyaknya guru baru yang dianggap oleh Pemerintah sebagai guru PNS, maka terjadi penumpukkan guru di suatu sekolah, khususnya sekolah negeri. Kondisi ini menjadikan beberapa guru tidak kebagian jatah waktu mengajar sesuai dengan jam wajibnya. Akibatnya pihak sekolah harus mengupayakan sedemikian rupa sehingga setiap gurunya mendapatkan jatah pembelajaran. Dan, salah satu cara yang ditempuh adalah dengan memasang beberapa guru dalam sebuah team pembelajaran. Guru dengan latar belakang mata diklat yang sama dapat dikelompokkan dalam team teaching. Mereka secara kolektif bertanggungjawab pada proses pembelajaran dan keberhasilan anak didiknya.

Tujuan Team Teaching

Selama ini proses pembelajaran diarahkan agar anak didik dapat memperoleh pembelajaran maksimal. Bahwa, anak didik mengikuti proses pembelajaran adalah untuk mengubah kompetensi dirinya dengan mengadopsi kompetensi yang dimiliki oleh guru. Dengan mengikuti proses pembelajaran, maka diharapkan terjadi pengaliran kompetensi dari guru ke anak didik.
Tetapi, kenyataan yang terjadi di lapangan sungguh sangat berbeda dengan tujuan seharusnya. Diakui atau tidak cukup banyak proses pembelajaran yang mengalami kegagalan. Semua program yang dibuat guru, melalui program pembelajaran, rencana pembelajaran dan sebagainya, belum dapat mencapai tujuannya. Dan, rata-rata hal tersebut terjadi karena proses pembelajaran yang kurang sesuai dengan tujuan. Cukup banyak proses belajar yang berlangsung begitu saja walaupun sudah dibuatkan rencana pembelajaran, skenario pembelajaran. Tetapi, ternyata skenario tersebut hanyalah formalitas sebagai kelengkapan pembelajaran. Sementara pada saat pelaksanaan, mereka mengalir demikian saja. Bahkan, ada yang melaksanakan pembelajaran sekedaran saja.
Proses pembelajaran yang selama ini dilaksanakan adalah menerapkan satu guru untuk satu mata pelajaran sehingga seringkali terkondisikan suatu kekuasaan tertinggi pada guru pengajar. Hal ini sebenarnya cukup efektif di dalam proses pemantauan dan penilaian atas proses belajar sebab terpusat pada satu titik untuk seluruh siswa, peserta didik. Dengan pola seperti ini, maka tercipta satu sikap profesionalitas guru atas segala tugas dan kewajibannya.
Sementara itu, jika kita telaah tujuan penerapan team teaching, maka seharusnya kita membuang jauh-jauh tujuan untuk mendistribusi guru sebab jatah jam mengajar yang kurang dari ketentuan. Hal ini sungguh tidak realistis. Kalau sekedar hanya untuk memenuhi jatah mengajar guru, maka selanjutnya hal tersebut dapat menyebabkan turunnya sikap profesionalitas guru terhadap tugas dan kewajibannya.
Sebenarnya, secara implisit tujuan pelaksanaan team teaching adalah untuk mengefektifkan hasil proses belajar. Hal ini didasarkan pada konsep dan anggapan bahwa jika proses pembelajaran dipandu oleh sebuah team, tidak hanya satu orang guru, maka pendampingan belajar anak lebih maksimal. Satu orang guru memberikan bimbingan teknis dan guru yang lainnya memberikan aspek lainnya. Pada sisi lainnya, masing-masing guru dapat saling melengkapi kemampuan masing-masing. Inilah sisi kebaikan yang diharapkan.
Tujuan utama penerapan team teaching tidak lain adalah untuk peningkatan kualitas hasil proses pembelajaran. Dan, untuk mencapai keberhasilan tersebut, maka harus ada pengembangan manajemen ataupun prosesnya. Dengan sistem manajemen yang disesuaikan dengan kondisi saat anak belajar dan kebutuhan masyarakat atas hasil proses pembelajaran, maka setidaknya dapat ditumbuhkan kesadaran atas tujuan pembelajarannya.

Efektivitas Team Teaching

Berbicara mengenai efektivitas pembelajaran dengan menerapkan sistem team teaching pada dasarnya sangat tergantung pada konsep yang dimiliki oleh masing-masing guru. Konsep dasar (mindset) sangat penting sebab unsur ini merupakan hal pokok untuk keterlaksanaan program. Secara umum, kondisi ini merupakan prasyarat agar setiap program dapat terlaksana.
Ketika kita berbicara mengenai satu hal, maka yang harus diperhatikan adalah konsep dasar yang dimiliki oleh masing-masing peserta pembicaraan. Semesta pembicaraan harus benar-benar dikuasai agar pembicaraan ‘nyambung’ antara peserta satu dengan peserta lainnya. Dapat kita bayangkan hal yang terjadi jika dalam suatu pembicaraan konsep pembicaraan sama sekali tidak dikuasai oleh peserta pembicaraan.
Proses pembelajaran adalah kegiatan berkelanjutan yang membutuhkan konsistensi tehadap segala hal yang diberikan atau diajarkan oleh guru. Konsistensi ini terkait dengan konsep materi pelajaran yang bersangkutan. Guru harus benar-benar menguasai konsep dasar materi pelajaran agar konsistensinya terjaga. Jika hal tersbeut dilaksanakan oleh seorang guru, maka kemungkinan konsistensi sangat besar sebab guru menjadi satu-satunya decision maker untuk proses pembelajaran. Tetapi, ketika pembelajaran dilaksanakan secara team, maka ada banyak orang yang menanganinya dan setiap orang mempunyai dasar pemahaman konsep yang berbeda sehingga kemungkinan terjadi perbedaan besar sekali.
Oleh karena itulah, maka jika kita menerapkan konsep team teaching di dalam proses pembelajaran, setidaknya kita harus benar-benar menekankan pemahaman konsep dasar pembelajaran team teaching. Hal ini untuk mengindari terjadinya penyalahgunaan kondisi. Kita tidak menutup mata jika masih banyak guru yang belum memahami konsep dasar pembelajaran team teaching. Hal tersebut berdasarkan pengalaman banyak guru yang menganggap bahwa pembelajaran team merupakan satu pembelajaran yang ‘dapat digantikan’ oleh teman yang tergabung dalam team teaching tersebut.
Pola seperti ini harus diluruskan sehingga team teaching yang seharusnya proses pembelajaran dengan banyak narasumber dan pembimbing ternyata dijadikan sebagai kesempatan untuk mangkir sebab adanya rekan yang mengisi pembelajaran. Ada banyak guru yang memanfaatkan konsep pembelajaran ini sebagai kesempatan pribadi. Mereka membuat jadwal tersendiri dibalik jadwal yang sudah disusun oleh kurikulum ataupun Ketua Program Keahlian. Hal inilah yang sangat membahayakan proses pembelajaran.
Tetapi, jika memang pelaksanaan team teaching benar-benar sesuai dengan konsep tentunya hal tersebut sangat efektif sebab anak didik mendapatkan materi yang benar-benar lengkap. Setiap guru yang membimbing proses pembelajaran memberikan materi pelajaran sesuai dengan kompetensi masing-masing dan hal tersebut berarti ada saling mengisi hal-hal yang mungkin menjadi sesuatu yang blank dan kosong.
Efektivitas program pembelajaran dengan sistem team teaching tergantung pada bagaimana kinerja para guru yang terlibat dalam team teaching. Guru-guru harus melaksanakan tugas mengajar secara maksimal dan tersistematis sebagaimana tugas dna kewajibannya. Setiap guru harus saling mendukung dan mengisi setiap celah yang memungkinkan terciptanya black hole di dalam proses belajar. Black hole yang tercipta akibat sikap dan kompetensi guru yang tidak sesuai dengan pola pembelajaran menjadikan proses terputus. Seperti tatanan batubata di sebuah gedung, jika tukang tidak mempunyai kompetensi yang sama, maka ada kemungkinan dinding yang dibuat tidak utuh. Akan tercipta lubang-lubang di dinding dan hal tersebut sangat berbahaya bagi kondisi bangunan secara keseluruhan. Atau dinding yang tidak lurus melainkan meliuk-liuk seperti ilar yang melata.


Realitas di Lapangan

Program merupakan konsep yang disusun secara sistematis dan sistemik untuk dapat mencapai tujuan dengan memakai beberapa cara dan personal yang berkompeten. Program inilah yang secara teknis dijadikan sebagai jalur untuk menerapkan konsep ataupun langkah konkrit yang dialokasikan dalam penerapannya. Program sangat penting bagi satu kegiatan agar tidak terjadi penyimpangan antara harapan dan kenyataan yang didapatkan dalam proses kegiatan.
Dan, salah satu aspek penting yang harus diperhatikan dalam hal ini adalah personal dan proses yang berperan dalam kegiatan belajar. Keberhasilan proses adalah tergantung pada personal yang melaksanakan proses dan proses itu sendiri. Siapa yang melaksanakan proses dan bagaimana proses tersebut dilaksanakan? Proses dan personal memang memegang peranan penting sebab baik buruknya kegiatan tergantung pada kedua hal tersebut. Bukan lagi jamannya bergantung pada input siswa, the best input, tetapi lebih diarahkan pada proses, the best process.
Dalam hal ini, kita tidak dapat memungkiri bahwa personal,dalam hal ini guru memegang peranan penting dalam kegiatan belajar. Peranan penting guru dalam hal ini adalah sebagai pembimbing, pendamping, pengarah dan fasilitator pembeljaaran bagi anak didik. jika gurunya berpotensi dan mempunyai kemampuan dalammenjalankan tugasnya, maka proses pembeljaaran dapat dijalankan secara efektif. Begitu juga halnya dengan proses pembeljaaran yang berlangsung. Proses ini juga menentukan keberhasilan kegiatan belajar.
Sementara itu, penerapan sistem team teaching merupakan satu perkembangan dalam pengefektifan personal dan proses pembelajaran. ada keinginan agar kualitas hasil pembelajaran meningkat sehingga sumber daya manusia (SDM) yang dihasilkan benar-benar berkualitas. SDM merupakan hasil yang diharapkan dari proses pembelajaran. Bagaimana dari proses belajar dapat dihasilkan SDM sesuai dengan kebutuhan masyarakat, yaitu SDM yang berkualitas dan mampu menjawab tantangan kehidupan global di masyarakat.
Dalam team teaching, kombinasi personal dan proses dilaksanakan sedemikian rupa sehingga personal pelaksana pembelajaran dapat melaksanakan proses sebaik-baiknya agar hasil dapat maksimal. Dengan memasang atau menugaskan dua orang atau lebih di dalam proses pembelajaran, tentunya proses dapat berlangsung maksimal sebab anak-anak lebih mudah mendapatkan bimbingan ataupun fasilitasi pembelajaran dari guru.
Tetapi, kenyataan berbicara lain. Di lapangan tetap saja terjadi penyimpangan yang seharusnya tidak boleh terjadi. Bahwa teamteaching telah dijadikan sebagai satu kesempatan dari beberapa guru untuk bertindak secara pribadi. Anggapan bahwa teamteaching dengan sejumlah guru yang dijadwalkan mengajar di satu ruang memberikan kesempatan untuk membuat jadwal tersendiri. Ada beberapa guru yang menerapkan sistem shift pada saat melaksanakan, baik shift jam maupun hari. Ada guru yang membuat kesepakatan dengan teman satu teamnya di dalam pelaksanaan pembelajaran pada jam-jam tertentu, misalnya jam pertama sampai jam kedua dan seterusnya. Ada guru yang bersepakat untuk melaksanakan pembelajaran seminggu sekali. Minggu ini guru A, maka minggu depannya adalah guru B. demikian seterusnya. Jadi mereka bergiliran dalam melaksanakan proses pembelajaranya. Jam-jam yang mereka alokasikan tersebut dipergunakan untuk melakukan kegiatan-kegiatan pribadi mereka atau tugas-tugas dari tempat lainnya. Ini merupakan pengabaian tugas utama untuk memenuhi tugas sampingan. Orang bilang pekerjaan utama dikalahkan oleh pekerjaan sambilan.
Penyimpangan ini dilakukan dengan merekayasa pelaksanaan pembelajaran teamteaching. Pada jam pertama guru A mengajar, sedangkan guru B meninggalkan ruangan untuk kegiatan lainnya. Pada jam ketiga guru B mengganti guru A untuk mengajar dan guru A meninggalkan ruangan belajar. Sehingga, praktis yang melaksanakan proses pembelajaran Cuma satu guru saja. Berarti kondisi ini tidak berbeda pada saat satu ruangan belajar dipandu oleh seorang guru mata diklat. Arti yang lebih jauh, pemerintah telah mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk honor guru yang sebenarnya tidak efektif.
Kondisi seperti ini sering kita lihat dan ketahui, khususnya pada guru-guru yang komitmennya terhadap program sedemikian tipisnya. Mereka merasa senang dengan program tersebut karena memberikan kesempatan bagi mereka untuk merekayasa kondisi sesuai dengan keinginan mereka.

Harapan Akhir

Sebagai bentuk upaya untuk meningkatkan kualitas hasil proses pembelajaran, maka setidaknya program pembelajaran dengan sistem team teaching dapat tercapai hasil maksimal bagi anak didik. Bahwa segala upaya yang dilakukan oleh guru dan sekolah adalah untuk mengkondisikan proses efektif dalam mencapai hasil belajarnya. Salah satu upaya tersebut adalah penerapan program teamteaching untuk mata diklat serumpun. Dengan program ini setidaknya dapat diciptakan suasana pembelajaran yang kondusif.
Oleh karena itulah, setidaknya jika sudah diprogramkan untuk pembelajaran dengan sistem team teaching, maka semua pihak harus memahami konsep dasarnya dan selanjutnya melaksanakan sebaik-baiknya. Hanya dengan cara seperti itulah, maka keterpurukan yang selama ini mengkungkung dunia pendidikan kita dapat diuraikan dan meningkat menjadi satu kondisi yang mampu melambungkan eksistensi dunia pendidikan negeri ini.
Bahkan seharusnya semua pihak bersama-sama mendukung program ini sehingga masyarakat belajar yang tercipta dalam lingkungan sekolah benar-benar menyadari bahwa proses belajar merupakan bentuk kesadaran menyeluruh pada setiap orang. Setiap guru akan tumbuh kesadaran bahwa sebenarnya di dalam proses pembelajaran, mereka adalah sebuah team yang solid dan mampu menjalankan tugas secara efektif.
Dengan teamteaching ini, setidaknya terbangun mindset kebersamaan, keselarasan dan keseimbangan di antara guru- guru serumpun di dalam menjalankan tugas pembelajarannya. Kita dapat menghindarkan komunitas sekolah dari sikap pasif, apalagi antipati dan apatis terhadap proses yang berjalan. Kita juga dapat menghindarkan komunitas dari tumbuhnya sikap ‘ paling penting‘ dalam proses, sebab proses yang terjadi merupakan hasil kerja bersama, pekerjaan team! Bahwa di dalam proses belajar, tidak ada yang lebih penting daripada yang lainnya. Satu dengan lainnya saling mengisi untuk mencapai hal-hal secara maksimal.
Setiap tahun, pola pembelajaran di negeri ini memang terus mengalami inovasi untuk mencari pola terbaik dan tersesuai dengan kondisi anak didik dan lingkungannya. Inovasi ini sangat penting sebab setiap anak didik mempunyai pola belajar masing-masing sehingga perlu dikondisikan lingkungan yang benar-benar kondusif untuk belajar. Perkembangan dan peningkatan pola pelayanan pembelajaran memberikan bukti bahwa setiap aktivis pendidikan memberikan pelayanan maksimal untuk peserta didik. Selalu dan selalu dicari metode, pola pembelajaran yang efektif bagi anak didik sehingga proses belajar dapat memberikan hasil maksimal, tanpa memperhatikan bagaimana kondisi inputnya.
Bahwa, sebenarnya tingkat keberhasilan proses pendidikan dan pembelajaran ataupun kegiatan lainnya bukan semata-mata tergantung pada bahan mentahnya. Kalau bahan mentahnya bagus dan diperoleh hasil bagus, maka hal tersebut tidaklah istimewa. Hal tersebut sudah lazim dan memang harus mencapai kondisi tersebut. Tetapi, jika bahan mentahnya jelek dan memberikan hasil baik, maka inilah prestasi yang sebenarnya.
Begitu juga halnya dengan pelaksanaan pola pembelajaran team teaching, yaitu memberikan pola pelayanan pembelajaran maksimal pada anak didik sehingga didapatkan hasil terbaik. Pengelola sekolah berharap bahwa dengan team teaching ini, maka proses pembelajaran tidak lagi ada alasan kekurangan waktu untuk pemberian jatah belajar bagi anak didik, bahkan waktu semakin banyak untuk proses tersebut. Anak didik mempunyai banyak waktu untuk belajar sebab narasumbernya semakin banyak, dua kali lipat. Mereka dapat menanyakan segala hal pada masing-masing narasumber. Mereka tidak perlu menunggu giliran atau kesempatan bertanya kepada narasumber sebab ada dua narasumber yang dapat memberikan bimbingan ataupun jawaban atas pertanyaan mereka.
Harapan terakhir dari penerapan team teaching di dalam proses pembelajaran adalah terciptanya pola pembelajaran yang dapat saling mengisi dan menciptakan komunitas belajar (community learning) yang secara jelas menumbuhkan kesadaran untuk terus belajar. Memang begitu ideal tujuan program belajar, tapi itulah sebenarnya yang sedang kita butuhkan dalam hidup kita.
Semoga segala konsep untuk pengembangan dan peningkatan kualitas proses pembelajaran pada akhirnya memberikan hasil terbaik dari dunia pendidikan untuk kehidupan bangsa yan besar ini.


Gembongan, Juli 2009

1 komentar:

indria-mustika mengatakan...

membaca uraian anda bisa saya usulkan untuk memakai alat atau instrumen yang dapat menilai kinerja team teaching, sehingga dapat dipantau pelaksanaan pembelajarnnya.