Kamis, 11 September 2008

Langkah SMART Merumuskan Tujuan Belajar

Di dalam proses pembelajaran, seorang guru ber-pegang teguh pada program kerja yang disusun secara sistematis dan terencana dengan baik. Program ini merupa-kan garis-garis besar yang menuntun kita menuju kondisi yang kita harapkan. Program kerja ini disusun oleh guru maupun oleh sekolah untuk dilaksanakan dalam proses pembelajaran, baik yang sesuai dengan isi kurikulum maupun sebagai muatan lokal dari pembelajarannya.
Seorang guru harus benar-benar mampu dan mau melakukan berbagai hal sehingga kondisi ideal yang diharapkan dapat tercapai sesuai dengan program kerjanya. Setiap guru harus berpedoman pada program yang telah disusun sehingga setiap langkahnya merupakan pengejahwantaan dari pro-gramnya.
Untuk hal tersebut, maka setidaknya seorang guru harus memahami benar program yang telah disusunnya, baik program pribadi maupun program sekolah secara menyeluruh. pemahaman atas program pribadi memungkinkan seorang guru dapat merealisasi segala programnya sebagaimana yang diharap-kan. Sementara pemahaman terhadap program sekolah diharapkan dapat menjadi pendorong semangat bagi setiap guru untuk selalu berupaya meng-kondisikan prosesnyas sebaik-baiknya.
Beberapa ahli mengutarakan bahwa sebenarnya agar sebuah program dapat mencapai kondisi ideal yang diharapkan, maka program tersebut harus mempunyai gambaran tujuan, sarana, pendanaan dan sebagainya secara baik dan jelas. Dengan demikian, maka proses pelaksanaan program dapat sesuai dengan keinginan.
Untuk kondisi tersebut, maka setidaknya tujuan dari program yang disusun haruslah SMART, sehingga memudahkan langkah pencapaian program. Smart yang kita maksudkan dalam hal ini, sesuai dengan pernyataan An Ubaedya dalam How to Manage Your Life (2005:64) adalah:
1. Specific
Artinya tujuan yang hendak dicapai haruslah jelas, utuh dan merupakan rangkuman dari sekian kondisi. Program yang kita susun haruslah mempunyai kekhususan sehingga setiap elemen yang terkait melihatnya sebagai sesuatu yang paling istimewa. Dengan demikian, maka tingkat kepedulian elemen terhadap program sangat tinggi dan hal tersebut berdampak pada tingkat pencapaian program secara maksimal.
Jika kita ibaratkan bermain sepak bola, maka tujuan kita bermain sangatlah jelas, yaitu memasukkan bola ke gawang lawan. Tidak ada tujuan yang lainnya. Kondisi inilah yang seharunya mejadi acuan saat seorang pimpinan merumuskan tujuan, khususnya dalam hal ini adalah tujuan pembelajaran kita. Apalah jadinya proses pembelajaran jika ternyata tujuan yang hendak dicapai saja masih rancu dan tidak jelas atau tidak spesifik?
2. Measurable
Tujuan dari program yang kita susun haruslah memiliki ukuran yang jelas terhadap hasil atau pencapaiannya. Hal ini terkait dengan upaya untuk mengetahui secara pasti tentang segala upaya yang telah kita lakukan. Kita memang harus mengetahui secara pasti segala upaya kita berkaitan dengan pencapaian program kerja atau tujuan dari program agar tidak mengalami pembiasan saat pelaksanaan program.
Segala upaya untuk mencapai tujuan harus diukur secara proporsional sehingga kita dapat mengetahui tingkat keseriusan kita dalam mewujudkan tujuan atau program kerja, khususnya program pembelajaran.
3. Attainable
Di dalam proses penyusunan tujuan program, hal yang perlu mendapatkan perhatian adalah kelayakan rasional dari tujuannya. Kelayakan rasional ini berkaitan dengan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan atau program.
Dalam hal ini kita berpegang pada konsep bahwa segala kegiatan yang kita lakukan seharusnya dapat diterima logika atau nalar kita. Jika memang tidak dapat diterima rasio, maka sejak awal kita sudah dapat memprediksi keter-capaian dari tujuan yang kita susun. Jika sudah dalam kondisi tersebut, maka sebaiknya kita tidak melaksanakan sebab percuma.
Rasionalitas menjadi landasan untuk memberikan gambaran awal pada kita atas prosentase keterlaksanaan tujuan yang kita susun. Dengan dasar rasio-nalitas inilah, maka kita dapat menyusun langkah-langkah konkrit dalam pencapaiannya. Artinya, jika kita melakukan sesuatu, maka sudah selayak-nya dimulai dari langkah pertama. Kita tidak dapat langsung pada langkah kedua! Ibarat kita berjalan pada sebuah tangga menuju tujuan kita, maka langkah pertama adalah anak tangga pertama, bukan anak tangga ke empat! inilah kelayakan rasional yang kita maksudkan sebagai upaya menyusun tujuan pembelajaran.
4. Relevan
Bahwa, pada saat kita menyusun sebuah program, maka tujuan yang telah kita patok tidak akan menyimpang dari keadaan diri kita. Relevansi atau kesesuaian inilah selanjutnya diharapkan dapat menjadi motivator bagi kebangkitan kita untuk mencapai tujuan.
Tujuan yang kita susun merupakan pengejahwantaan dari arah kegiatan yang kita lakukan, sehingga untuk hal tersebut harus ada kesesuaian dengan kondisi yang kita butuhkan. jika tujuan yang kita susun ternyata tidak mampu mewadahi kebutuhan kita, tentunya hal tersebut tidak sesuai dengan keinginan kita. Ibaratnya, kita membutuhkan beras, tetapi kita menanam pohon jati, tentunya hal tersebut tidak relevan!
5. Time Scale
Time Scale atau dapat kita katakan sebagai jenjang waktu dalam pencapaian tujuan yang kita susun. Ya, program yang kita susun harus mempunyai jenjang waktu/tahapan di dalam proses pencapaiannya. Tujuan harus ada skala prioritas di dalam pencapaiannya.
Program yang baik adalah program yang jelas tentang waktu yang dibutuh-kan, dijatahkan untuk dapat mencapai tujuan atau program. Dengan kejelas-an waktu tersebut, maka kita dapat menyusun tahapan-tahapan langkah yang sesuai dengan program dan kebutuhannya.
Time scale sangat diperlukan sebagai patokan untuk waktu ketercapaian atau pencapaian tujuan sehingga tidak terjadi program yang terbengkalai atau tidak sesuai dengan waktu yang ada. Jika lebih cepat mungkin tidak banyak masalah, tetapi jika terlambat?! Tentunya hal tersebut menjadikan program yang lain juga terlambat.
Sebenarnya, di dalam proses pembelajaran, hal terpenting yang harus diperhatikan adalah tujuannya. Tujuan pembelajaran menjadi titik acuan dari proses, sasaran tembaknya. Dengan demikian, maka setiap kegiatan yang di-lakukan adalah sudah terpetakan secara jelas.
Proses pembelajaran adalah kegiatan yang jelas, sehingga untuk mencapai keberhasilannya, maka kita harus menentukan tujuannya secara jelas pula. hal ini terkait dari konsekuensi akhir dari kegiatan pembelajaran adalah tingkat keberhasilannya, maka perlu ada pertanggungjawaban yang nyata untuk hal tersebut.
Dengan menerapkan SMART (specific, measurable, attainable, relevan, dan time scale), maka tujuan pembelajaran yang menjadi kewajiban guru menjadi semakin jelas dan terarah. Dan, para guru tentunya semakin mantap melaksana-kan tugas-tugasnya sebab ada sesuatu yang harus mereka capai pada pem-belajaran.
Semoga saja, sedikit tulisan ini dapat menjadi motivasi dan penyadaran atas tugas dan kewajiban kita untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran di negeri ini. selanjutnya negeri ini tidak lagi menjadi ‘pecundang’ dalam dunia pendidikan.

Tidak ada komentar: